Kedik – Sebagai Alat Perkebunan di Bangka Belitung

Kedik adalah senjata tajam yang biasa digunakan masyarakat Bangka Belitung sebagai alat pertanian. Masyarakat di sini biasanya menggunakan Kedik terutama dalam perkebunan. Adapun jenis tanaman perkebunannya adalah Lada.

Sebagai senjata tradisional, Kedik pada umumnya hampir sama seperti senjata tradisional lainnya yang berada di pulau Sumatra. Banyak dipengaruhi oleh kebudayaan melayu. Hal tersebut tidaklah heran pasalnya mayoritas penduduk dari pulau Bangka dan Belitung ialah masyarakat melayu.

https://2.bp.blogspot.com/-J6ymaeXCZ7U/WnFv8FjrK6I/AAAAAAAAAWM/S28Zqw2qxjA56Vy3OSdWw64maFvE4ClmACLcBGAs/s1600/parang%2Bbangka%2Bsenjata%2Btradisional%2Bbangka%2Bbelitung.gif

Kedik sebagai alat pertanian

Senjata tradisional ini selain digunakan sebagai alat untuk mempertahankan diri dari serangan musuh dan sebagai pelengkap untuk acara adat, namun juga biasa digunakan sebagai senjata atau alat perkebunan. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk meringankan beban masyarakat dalam berkebun.

Bagi masyarakat Bangka ataupun Belitung, senjata tradisional Kedik ini lebih di kenal dengan sebutan Parang Bingkok, khususnya bagi masyarakat Belitung. Kedik sendiri biasa digunakan untuk membantu masyarakat dalam merawat perkebunan Lada. Mengingat perkebunan Lada yang ada di sana sangat banyak dan begitu luas, sehingga wajar jika banyak tumbuh ilalang atau rumput liar lainnya.

Alat ini digunakan dengan cara seperti meletakan di tanah dan memangkas berbagai jenis rumput liar atau ilalang yang tumbuh di kebun. Dalam penggunaannya, si pemilik atau pengguna harus menggunakannya dengan cara berjongkok dan bergerak mundur atau pun menyamping. Hal ini tentunya sangat efektif untuk membersihkan rumput-rumput liar di halaman perkebunan.

Terlebih pada zaman dahulu, belum ada mesin rumput yang bisa digunakan, sehingga dengan adanya Kedik ini sangat membantu pekerjaan masyarakat setempat. Dengan menggunakan Kedik masyarakat yang memiliki perkebunan lada sangatlah terbantu, sebab banyak rumput liar yang menjadi pengganggu pertumbuhan lada.

Bentuk Kedik

Kedik memiliki bentuk seperti Parang atau Golok. Namun Kedik memiliki bilah yang melengkung, atau bengkok. Oleh karena itu beberapa daerah di Bangka Belitung  lebih mengenal alat tersebut dengan sebutan Parang Bingkok. Bingkok sendiri memiliki arti yakni Bengkok.

Dilihat dari segi ukuran, alat ini tidak memiliki ukuran yang terlalu besar. Kedik memiliki panjang sekitar 38cm hingga 50cm, dan masa yang tidak terlalu berat, biasanya tidak lebih dari 2kg.

Bahan baku Kedik

Bahan Baku kedik sendiri tidak terlalu sulit dan mudah untuk di temukan. Pasalnya pembuatan Kedik sendiri sama seperti senjata tradisional lainnya yaitu Parang. Hanya membutuhkan besi sebagai bahan pembuatan mata pisaunya dan kayu sebagai hulunya. Hanya saja besi yang digunakan harus dibengkokan atau di bentuk sedikit melengkung pada bagian atasnya.

Sumber: Tradisi kita.

Keris Bujak Beliung – Senjata Tikam Asal Kalimantan Selatan

Keris Bujak Beliung adalah senjata tradisional dari Kalimantan selatan. Senjata tradisional jenis ini berupa senjata tikam yang digunakan dengan cara ditikamkan atau ditusukan pada musuh dengan jarak yang sangat dekat.

Kalimantan sendiri merupakan pulau terbesar di Indonesia dengan berbagai suku dan budaya dari masyarakat setempat. Suku yang terkenal sebagai penghuni pulau ini ialah suku Dayak. Seperti yang sudah banyak di ketahui bahwa suku dayak sendiri memiliki banyak sekali senjata khas  yang di yakini memiliki kekuatan magis atau kekuatan supranatural.

Keris Bujak Beliung sendiri merupakan salah satu senjata di Kalimantan Selatan yang di percaya dan diyakini oleh masyarakat setempat memiliki kekuatan magis. Sebagai senjata yang dianggap memiliki kekuatan magis, Keris Bujak Beliung ini dipercaya dapat memberikan manfaat tersendiri bagi si pengguna ataupun bagi orang yang memilikinya.

Pada masanya, Keris Bujak Beliung memang biasa digunakan sebagai salah satu senjata untuk melawan musuh dari dekat, atau sebagai bentuk pertahanan diri. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu kegunaan Keris ini sudah tidak lagi sebagai senjata untuk membunuh, namun banyak digunakan sebagai  pelengkap di berbagai upacara adat Kalimantan selatan.

Bentuk Keris Bujak Beliung

Bentuk senjata ini sama halnya seperti Keris pada umumnya yang ada di pulau Sumatera ataupun pulau Jawa. Namun luk yang dimiliki oleh Keris bujak Beliung ini tidak begitu banyak. maka tidak heran jika ukuran dari senjata ini ialah sekitar 30 cm.

Keris Bujak Beliung mempunyai ciri khas atau pembeda dengan keris lainnya yaitu terletak pada motif dan ukiran yang ada di bagian keris. Motif atau ukiran yang digunakan biasanya menceritakan tentang sejarah atau filosofi yang terkandung di dalamnya.

Bahan Baku Keris Bujak Beliung

Bahan baku untuk pembuatan Keris Bujak Beliung ini sama saja seperti bahan pembuatan Keris pada umumnya, yaitu terbuat dari logam mulia, besi atau bahkan emas. Namun, dalam hal ini Keris Bujak Beliung biasanya terbuat dari campuran besi dan logam. Dilihat dari segi ukuran, senjata ini memiliki panjang kurang lebih 30 cm.

Dalam proses pembuatannya tidaklah sembarangan. Terlebih jika Keris itu digunakan sebagai benda pusaka yang dianggap memiliki kekuatan magis. Besi atau logam yang digunakan untuk menjadi bahan baku pembuatannya, akan diberi petuah terlebih dahulu oleh sang empuh. Sehingga Keris tersebut dipercaya memiliki petuah bagi pengguna ataupun sang pemilik.

Di Kalimantan Keris Bujak Beliung juga dianggap memiliki petuah atau kekuatan magis. Sehingga untuk memiliki dan menggunakannya tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Begitupun untuk mendapatkannya tidak bisa secara gambang.

Keris Bujak Beliung yang asli oleh masyarakat setempat dianggap memiliki kekuatan spiritual. Namun, jika Keris Bujak Beliung itu palsu biasanya hanya digunakan sebagai bentuk hiasan semata.

Sumber: Bangtresna

Keris dan Tombak Tiworo Liya

Keris dan Tombak Tiworo liya merupakan senjata tajam tradisional yang berasal dari Sulawesi Tenggara. Kedua senjata ini juga merupakan senjata yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, dan juga menjadi salah satu senjata yang sangat bersejarah bagi Pulau Sulawesi.

Sulawesi tenggara sendiri merupakan pulau di Indonesia yang memiliki banyak tempat bersejarah seperti Benteng keraton Buton yang bahkan menjadi benteng terluas di dunia, selain itu masih banyak tempat bersejarah lainnya, salah satunya ialah benteng Liya yang berokasi di Desa Liya Togo, beberapa tempat bersejarah di Sulawesi Tenggara tersebut merupakan saksi bisu dari kejayaan kerajaan pada zaman dahulu. Para kerajaan yang mempengaruhi senjata tradisional yang ada di Sulawesi Tenggara ini, sebab beberapa senjata tradisional yang ada di Sulawesi Tenggara ini merupakan peninggalan dari zaman kerajaan. Sebab kebudayaan yang ada pada masa lampaulah yang memberikan pengaruh erat akan bentuk dan kegunaan senjata tradisional tersebut, baik itu senjata yang di gunakan sebagai peralatan bercocok tanam, berburu bahkan untuk berperang melawan para musuh.

Lihat Juga : Alamang, Senjata Khas Sulawesi Selatan

Keris Meantu’u Tiworo Liya

Keris memang merupakan senjata tradisional yang sudah ada sejak dahulu kala, bahkan tidak hanya di Sulawesi Tenggara saja, kehadiran Keris sudah lama ada di beberapa pulau lainnya di Indonesia, misalnya di Pulau Jawa ataupun Sumatra, namun senjata tersebut tetap memiliki perbedaan yang di diwujudkan dari bentuk senjata tersebut, baik itu dari ukiran maupun motif yang terdapat pada keris tersebut, namun bukan hanya itu, sejarah atau pengaruh kerajaan menjadi perbedaan yang sangat mencolok dari setiap senjata tradisional, sebab dibalik bentuk senjata tersebut terdapat banyak cerita yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai asal usul dari senjata itu, bahkan tak jarang beberapa dari cerita tersebut membuat masyarakat percaya akan kekuatan magis yang terkandung dalam senjata tradisional tersebut.

Lihat Juga : Gayang – Benda Hidup yang Harus Dijaga Tuannya

Keris Triwolo Liya atau Keris Meantu’u Liya ialah senjata tajam yang digunakan untuk menikam atau menusuk musuh dari jarak dekat, keris ini sendiri digunakan sebagai senjata perang yang digunakan oleh para prajurit atau pun rakyat kerajaan pada masa pemerintahan Raja Liya. Pada masanya, keris ini merupakan keris yang dimiliki oleh Raja Liya atau Lakina Liya, keris ini dipercaya memiliki kekuatan yang sangat sakti. Raja Liya sendiri bertugas untuk mengamankan dan mengatur semua hasil panen rakyat pada masa kerajaannya.

Bentuk dan bahan baku Keris Tiworo

Keris Triwoloyo berbentuk tidak memiliki Luk layaknya keris yang banyak di kenal oleh masyarakat, keris ini memiliki panjang kurang lebih 30cm. dengan terbuat dari besi dan logam mulia.

Tombak Tiworo Liya

Jika Keris Tiworo Liya merupakan senjata tajam yang digunakan untuk menyerang musuh dengan jarak dekat, Tombak Tiworo Liya kebalikannya, senjata tradisional ini digunakan sebagai senjata berperang dari jarak jauh. Senjata ini juga sama seperti keris Tiworo Liya, yang juga dimiliki oleh petinggi kerajaan di masa pemerintahan raja Liya.

Bentuk dan Bahan Baku Tombak Tiworo Liya

Tombak Tiworo Liya ini berbentuk sama seperti tombak pada umumnya, hanya saja mata tombak yang terbuat dari besi, berukuran seperti segitia dengan ujung yang sangat runcing dan tajam. Tangkai atau tongkat tombak sendiri terbuat dari kayu yang sangat kuat.

Sejarah yang mempengaruhi senjata Keris dan Tombak Tiworo Liya

Sesuai dengan nama senjata ini, yakni Tiworo Liya, yang berasal dari nama salah satu pembesar pada masa Kerajaan Liya yakni Meantu’u Tiworo. Meantu’u Tiworo ialah salah satu pembesar yang berkuasa untuk mengamankan atau mengatur semua hasil tenanaman rakyat yang berada di pesisir pantai pada masa pemerintahan Raya Liya. Beliau adalah orang yang sangat sakti pada masanya, dan kesaktiannya sendiri salah satunya terdapat pada keris dan tombaknya. Tidak tanggung-tanggung kesaktian yang ada pada keris dan tombaknya ini bisa membunuh semua orang jahat yang ada di perairan laut Liya, seperti para bajak laut yang hendak menghampiri pantai Liya atau berada di kawasan perairan Liya. Senjata keris dan Tombak tersebut hanya di tancapkan pada Laut, dan semua orang jahat yang ada di sekitaran laut Liya akan meninggal dunia. Sehingga pada masa itu, setiap kapal atau perahu yang ada di tengah perairan laut Liya, selalu ditemukan banyak mayat yang ada di kapal tersebut. Cerita tentang kesaktian Meantu’u Tiworo ini deceritakan oleh salah satu keturunan beliau sendiri yang bernaa Haji Muhammad, beliau meninggal pada 18 Maret 2010 lalu di desa Wote’a lingkungan Benteng Keraton Liya. Tombak dan Keris Meatu’u Tiworo Liya sendiri masih ada hingga saat ini bahkan lengkap dengan Gendang (Tamburu)nya..

Sumber : Kerajaan Tiworo

Keris Aru Palaka Peninggalan Kerajaan Bone

Sesuai dengan namanya, Keris Pusaka Emas Aru palaka ini adalah salah satu senjata tradisional yang dianggap sebagai benda pusaka bagi masyarakat setempat. Keris ini sudah ada sejak masa kerajaan Buton dan juga merupakan senjata pusaka dari raja-raja di kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara.

Senjata keris ini, digunakan sebagai senjata untuk melawan musuh dengan cara ditikam atau di tusukkan dengan jarak yang dekat. Keris pusaka ini hanya dimiliki oleh anggota kerajaan saja, atau lebih tepatnya raja-raja di Kerajaan Buton. Bahkan kembaran daripada keris Pusaka ini pernah di berikan kepada Sulton Buton yang ke sembilan yakni Sultan Qaimuddin Malik sirullah Khalifatul Khamis oleh Aru Palaka pada tahun 1660, tepatnya di Bulan Oktober.

Lihat Juga : Alamang Senjata Tradisional Sulawesi Selatan

Keris Pusaka Emas Aru Palaka ini sangat memiliki nilai sejarah dan leluhur yang tinggi, sebab ia juga merupakan saksi bisu dari masa kerajaan sejak dahulu kala, selain itu nilai materi yang terkandung pada keris ini juga sangat tinggi, sebab sesuai dengan namanya, keris ini memang berlapiskan emas, wajar saja karena yang memiliki keris ini pada zaman dahulu hanya para raja di kerajaan Buton.

Bentuk Keris Pusaka Emas Aru Palaka

Keris ini memiliki bentuk seperti keris pusaka pada umumnya dengan luk yang ada pada bagian kerisnya, pada bagian hulu keris berlapis emas dengan dilengkapi permata yang menghiasi bagian dari keris pusaka itu. Lapisan emas dan permata juga terdapat pada sarung keris.

Lihat Juga :  Badik Lompo Battang

Bahan Baku Pembuatan Keris

Berbeda dengan keris biasanya, keris ini dibuat dengan bahan baku yang sangat mewah yakni dengan di lapisi emas dan batu permata di bagian sarung dan hulu keris.

Keris Pusaka Emas Aru Palaka, Peninggalan Pusaka Raja Arung Palaka

Banyak cerita tentang kejayaan Raja Aru Palaka atau Arung Palaka, yang mana merupakan Sultan Bone. Beliau ialah sosok raya yang sangat dihormati oleh rakyatnya, karena beliau sangat berpengaruh dalam kekuatan Maritim besar yang dimiliki suku Bugis di abad ke 17. Banyak sekali kisah menarik yang dimiliki oleh Aru Palaka. Begitu juga dengan peninggalan yang di tinggalkan oleh beliau yang dianggap sebagai senjata dan benda pusaka oleh masyarakat. Benda dan senjata pusaka yang ditinggalkan oleh beliau selalu di lapisi emas dan batu permata yang menghiasi tampilannya, salah satunya seperti Keris Pusaka Emas Aru Palaka. Keris ini menjadi senjata peninggalan dari kerajaan Buton, sebab di berikan oleh Aru Palaka sendiri kepada kekerajaan Buton, bahkan kembaran dari keris ini yang mana di serahkan lansung oleh Aru Palaka kepada Sultan Buton pada tahun 1660, yang di dampingi oleh istrinya yaitu Imangkawani Daeng Talele dan para sahabatnya yaitu Arung Apanang, Arung Belo, Arung Bila, Arung Kaju dan Arung Pattojo.

Selain dari Bentuk dan kemewahan yang dimiliki oleh Keris Pusaka Emas Aru Palaka, yakni dengan lapisan emas yang melapisi sarung dan hulu keris pusaka ini, kesaktian dari senjata pusaka yang dimiliki raja ini juga sangat mengagumkan. Konon katanya pada zaman dahulu, keris pusaka ini mampu memunuh lawannya hanya dengan sedikit goresan. Oleh karena itu, Keris ini sangat disayangi oleh sang raja, dan juga menjadi senjata andalan yang selalu di bawa oleh raja dalam setiap perperangan kerajaan. Bentuknya yang mewah juga menjadikan keris ini sebagai simbol kekayaan dari kerajaan di Sulawesi Tenggara.

Sumber : Tradisi Kita

Keris Bali

Keris bali adalah senjata tajam yang juga merupakan senjata tradisional Bali. Keris memang banyak berasal dari berbagai daerah di nusantara dan senjata tradisional ini sering dianggap sebagai benda pusaka yang di keramatkan karena di percaya memiliki kekuatan magis. Di Bali sendiri keris memiliki fungsi sebaga alat untuk pertahanan diri dari musuh dan juga sering menjadi senjata pelengkap untuk setiap upacara adat Bali.

Bagi masyarakat Bali, senjata tradisional seperti keris dianggap memiliki nilai spiritual yang tinggi, sehingga tak heran jika masyarakat Bali sendiri sangat mengagungkan senjata tradisional tersebut. Keris dianggap sebagai sebuah lambang akan perlawanan terhadap roh jahat.

Lihat Juga : Arit Senjata dan Alat Pertanian di Bali

Keris Bali juga biasa digunakan sebagai senjata pelengkap untuk upacara agama umat hindu. Maka dari itu fungsi Keris bagi masyarakt hindu di Bali sangat lah bermacam-macam seperti misalnya sebagai senjata untuk melindungi diri dari kejahatan musuh, gangguan roh-roh jahat karena sebagian masyarakat mempercayai bahwa keris memiliki kekuatan yang magis dan bahkan dianggap berfungsi untuk memberikan keberuntungan bagi pemilik atau penggunanya. Di Bali keris digunakan dalam upacara keagaaman untuk melakukan upacara Panca Yadya dan juga sebagai pelengkap tari-tarian.

Makna Keris Bali bagi Umat Hindu Bali

Keris sendiri memiliki banyak makna untuk umat hindu Bali, makna keris dapat dipengaruhi oleh banyak hal, seperti misalnya ukuran keris yang bisa memberikan dampak yang baik maupun buruk kepada pemiliknya, nama ukuran keris yakni Jana, Mreta, Raksa dan Wisia.

Pada Keris sendiri memiliki makna Pengiderider yang berarti Dewana Nawa Sanga atau dewanya dalam agama hindu di Bali. Luk 3 atau 3 lengkukan pada keris melambangkan mencipta Dewa Brahma arah selatan dan dewa Wisnu pada arah utara dan biasanya Luk pada keris memiliki jumlah Ganjil. Selain itu, menurut kepercayaan masyarakat setempat Pamor pada bagian keris Bali juga memiliki makna yang sangat penting, karena menurut keyakinan mereka pamor tersebut memiliki kekuatan magis yang sangat besar bahkan dapat mempengaruhi kehidupan sang pemiliki.

Lihat Juga : Tiuk Senjata yang juga digunakan oleh Ibu-ibu

Adalagi yang terdapat pada keris Bali, biasa dikenal dengan sebutan Ganja. Ganja sekar Nglela biasanya Ganja dengan pamor yang berada di kiri dan kanan, dan Ganja Maskumambang ialah Ganja dengan Pamor. Ganja Tinatah adalah Ganja yang di beri hiasan tambahan baik dari emas maupun mata intan. Dan jika Ganja tanpa pamor biasaya Ganja tersebut merupakan Ganja baru atau Ganja pengganti Ganja asli yang hilang maka biasa disebut Ganjang wulung. Ganja sendiri berarti ukuran dasar keris.

Bentuk Keris Bali

Bentuk keris bali memang tidak jauh berbeda pada bentuk keris pada umumnya, hanya saja ukiran yang ada pada setiap bagian keris Bali yang mana mencirikan dan menceritakan masyarakat pulau dewata tersebut dan di pengaruhi oleh sejarah kerajaan . walaupun detilnya keris bali tidak sama persis dengan keris jawa namun hampir sama dengan keris jawa, begitu pula dengan penamaan pamor yang tidak jauh berbeda dengan nama pamor keris Jawa.

Lihat Juga : Kandik – Kampak Khas Bali

Dimensi Keris Bali

Bobot keris Bali umumnya hanya berkisaran 2 hingga 3 kg. Keris Bali lebih lebar dan lebih panjang dari keris Jawa pada umumnya, yakni dengan panjang rata-rata keris Bali sekitar 39 hingga 45 cm dan lebar kurang lebih 12cm.

Bahan baku Keris Bali

Sama dengan bahan baku keris pada umumnya, keris bali juga biasa terbuat dari besi ataupun logam mulia, dengan hulu yang bisa terbuat dari besi ataupun kayu tertentu.

Jika zaman dahulu pembuatan keris hanya untuk pesanan dari pada anggota kerajaan, namun kini pembuatan keris sendiri di Bali, sudah menjadi salah satu mata pencaharian, pasalnya banyak kolektor benda antik yang rela memesan hulu atau pun keris khas Bali. Hulu keris bali biasa di sebut Danganan yang memiliki banyak sekali bentuk.

Sumber : PHDI, Cakepane

Kampak Nusa Tenggara Timur, Senjata Favorit Museum Rote

Kampak atau yang kita kenal pula dengan Kapak adalah alat sekaligus senjata tajam yang merupakan senjata tradisional dari Nusa Tenggara Timur, senjata tradisional ini tidak difungsikan sebagai senjata melainkan sebagai alat yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk membantu mengurangi atau meringankan pekerjaan mereka.

Kampak Sebagai Alat Pemotong Kayu

Salah satu kegunaan Kampak ialah untuk memotong kayu, masyarakat banyak menggunakan kampak sebagai alat pemotong kayu tradisional, mata kampak yang tajam dan kuat membuat alat ini bisa dengan mudah untuk memotong batang kayu atau pohon yang besar. Dengan menggunakan alat ini juga bisa dengan mudah untuk memotong benda lainnya yang terbuat dari kayu yang tebal.

Pada zaman dahulu kegunaan Kampak sudah biasa digunakan sebagai alat pemotong kayu yang besar, namun tak jarang juga Kampak digunakan sebagai alat atau senjata perang tradisional yang digunakan oleh masyarakat untuk melawan musuh, terlebih di zaman perperangan khususnya zaman sejarah, senjata kapak mudah untuk di buat dan digunakan. Cara pengunaan kampak, hanya di ayunkan dengan keras pada benda atau kayu yang ingin di potong.

lihat juga : Mengingat kembali senjata-senjata tradisional Indonesia

Bentuk Kampak

Kampak berbentuk seperti huruf T dan juga L, pasalnya saat ini banyak sekali variasi dari bentuk kapak. Mata Kampak sendiri umumnya berbentuk seperti trapesium ataupun persegi., Kampak bermata dua, yang mana kayu yang digunakan sebagai pegangan kampak, akan di letakan ditengah-tengah, sementara mata kampak memiliki 2 bagian yang tajam, dibagian kiri dan kanan, sehingga penggunaan kampak bisa dengan membolak balik mata kampak saat memotong kayu, dan hal itu akan memudahkan pekerjaan. Dan untuk kampak yang terlihat berbentuk seperti huruf L, biasanya kampak tersebut hanya memiliki satu mata kampak, sehingga tongkat kampak berada di salah satu sisi kampak saja. Panjang kampak kurang lebih 80 cm dengan lebar mata kampak kurang lebih 10 hingga 20 cm. panjang mata kampak pun tidak lebih dari 17cm. berat kampak sendiri bervariasi, tergantung dari bahan yang digunakan,semakin kuat dan tebal besi yang digunakan sebagai mata kampak maka semakin berat pula masa kampak. Umumnya untuk kampak yang digunakan sebagai alat pemotong kayu atau alat perkebunan, kurang lebih 2 hingga 3 kilogram.

Bahan Baku Kampak

Kampak biasanya terbuat dari kayu dan besi , yang terdiri dari bagian tangkai dan mata kampak . mata kampak bisa terbuat dari besi maupun logam. Mata kampak tersebut di ikatkan atau di satukan dengan kayu yang digunakan sebagai tangkai kampak, dan menjadi tempat untuk memegang alat tersebut. Kayu yang digunakan sebagai tangkai kampak haruslah kayu yang kuat. Di zaman yang sudah modern ini, bahan kampak dibuat sebagus dan senyaman mungkin untuk digunakan, misalnya dengan tangkai kampak yang halus, sehingga sangat mudah untuk digunakan.

Akan tapi, pada zaman dahulu, pembuatan kampak sangat lah sederhana, bahkan bahan dasar kampak pada zaman dahulu, hanya terbuat dari kayu dan batu yang diasah dengan tajam untuk menjadi mata kampaknya, lalu diikatkan dengan tali yang terbuat dari akar kayu pada batang kayu yang kuat sebagai tangkainya.

Oleh karena itu,selain sebagai senjata tradisional, kampak juga merupakan senjata tajam yang memiliki usia yang sangat tua, yakni sudah ada sejak zaman pra sejarah. Sehingga penggunaan kampak sangat multifungsi, mulai dari senjata perang, hingga pekakas perkebunan. Bagi masyarakt Nusa Tenggara Timur sendiri, kampak banyak digunakan untuk membantu mereka berkebun.

Sejarah Kapak di Nusa Tenggara Timur

Keberadaan Kampak di Indonesia bagian timur sudah sangat lama, bahkan sudah sejak ratusan tahun yang lalu, hal ini dibuktikan dengan adanya 2 kampak yang tebuat dari perunggu yang disebut sebagai Kapak Upacara. Kampak tersebut di percaya oleh masyarakat setempat memiliki kekuatan spiritual dan dianggap sebagai benda pusaka yang sakral. Kampak yang pertama di temukan di pulau Rote pada tahun 1875 dan yang satunya di temukan di pulau Sabo pada tahun 1971. Saat ini kampak tersebut menjadi salah satu koleksi dari Museum NTT.

Teknik pembuatan kapak berbeda dengan pembuatan pisau atau pedang. Teknik ini berkembang sejak jaman Perundagian dan telah berkembang sejak 3000 SM di wilayah Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Teknik pembuatan kapak dikenal pada saat ini dengan teknik Cor. Secara umum Teknik pencetakan logam ada dua yaitu Bivalve dan Lilin (A Cire Perdue) Pada masa awal penggunaan perunggu yang merupakan kombinasi antara Timah dan Tembaga teknik Cor yang digunakan diasumsikan adalah teknik Bivalve. Teknik Bivalve menggunakan dua buah cetakan dengan rongga pada bagian tengahnya, sedangkan teknik lilin biasanya digunakan untuk jenis cor-an logam yang lebih detail.

Penggunaan logam oleh bangsa Indonesia menurut Wikipedia menjadi pertanda intensifnya perdagangan antara pulau-pulau Nusantara sejak zaman dahulu. Dengan perdagangan dapat disimpulkan bahwa terjadi berbagai distribusi seperti material, pengetahuan serta barang dagangan jadi (produk). Namun pendapat Wikipedia bahwa intensitas perdagangan yang terjadi pada awal-awal masehi masih perlu dilakukan berbagai penelitian, karena yang diklaim sebagai kerajaan pertama di Indonesia baru muncul pada abad ke 10. Hal ini menjadi kontradiksi karena penggunaan perunggu di wilayah Indonesia dalam artikel yang sama sudah rama pada abad 500 SM.

Kapak yang ditemukan di Landu kepulauan Rote pada tahun 1875 dibuat dengan detail dan artistik namun tidak memenuhi prinsip ergonomi sebagai alat yang digunakan sehari-hari maupun senjata perang. Ukiran figur manusia, tulang ikan, spiral dan pola geometris yang mirip dengan kepulauan Pasifik Selatan diasumsikan lebih banyak digunakan untuk kegiatan upacara.

Sumber : Wikipedia, Kompas, Meneketehe

Keris Riau Sebagai Simbol Kehormatan bangsawan Pada Masa Silam

Keris memang banyak dianggap sebagai senjata pusaka yang berasal dari pulau Jawa. Namun, tak hanya suku Jawa, suku Melayu pun memilikinya seperti di Riau ada Keris Riau. Keris sudah ditemukan sejak berabad-abad lalu, digunakan oleh anggota kerjaan Melayu sebagai senjata kerajaan. Pada masanya Keris bukan hanya digunakan sebagai senjata tradisional tetapi juga digunakan sebagai bentuk simbol kehormatan. Maka dari itu bentuk dan nilai Keris sendiri bisa menentukan tinggi atau rendahnya derajat seorang bangsawan pada masanya.

Seseorang yang memiliki keahlian dalam membuat Keris biasanya dinamakan empu. Di Nusantara ini ada ratusan empu, maka tak heran jika banyak dijumpai bermacam-macam Keris dengan nama yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, Keris Riau, Keris Jawa ataupun Keris lainnya pasti memiliki perbedaan.

Keris Riau sebagai Simbol Kehormatan

Bagi masyakat Melayu di Riau, Keris sebagai salah satu senjata adat yang tak hanya digunakan untuk memberikan perlindungan diri, namun juga sebagai simbol kehormatan bagi pemiliknya. Menurut kepercayaan mereka, si pemilik atau pemakai Keris akan mendapat kemulian atau kehormatan dari sebagian masyarakat yang melihat atau mengetahuinya.

Masyarakat Melayu di Riau menganggap bahwa Keris merupakan senjata tajam yang memiliki petuah atau kekuatam magis. Bertuah sendiri mempunyai arti yakni memiliki nilai kehormatan. Semakin lama waktu pembuatan keris, maka nilai sejarahnya semakin tinggi.

Selain sebagai benda pusaka, Keris juga digunakan untuk upacara adat. Hingga saat ini, masyarakat melayu di Riau selalu membawa keris Riau dalam setiap upacara adat, khususnya upacara adat pernikahan. Biasanya keris ini akan dijadikan pelengkap untuk busa pengantin pria. Hal ini terbukti dari beberapa dokumentasi para raja-raja di Riau yang membawa Keris Riau pada busana yang mereka kenakan.

Walaupun masa kerajaan sudah tidak lagi terkenal seperti dulu, namun tradisi harus tetap dilestarikan. Maka dari itu, sampai saat ini tradisi penggunaakan Keris sebagai simbol kehormatan masyarakat Melayu tetap melekat bagi masyarakat di Riau. Hal ini terlihat pada pakaian pengantin pria dalam upacara pernikahan. Tingginya nilai kehormatan yang terkandung dalam senjata ini juga tersimpan dalam cerita legenda Hang Tuah yang merupakan salah satu laksamana satria Melayu di Riau.

Penggunaan Keris Riau

Sebagai sebuah senjata tradisional, penggunakan Keris Riau sama saja seperti penggunakan Keris lainnya, yakni sebagai alat penusuk atau tikam ketika melawan  musuh dari jarak yang sangat dekat. Namun dalam penggunaan Keris sebagai senjata pelangkap untuk busana pengantin pria, biasanya Keris diselipkan pada pinggang bagian depan. Sementara dalam adat Jawa, Keris  selalu di bawa oleh mempelai pria di belakang pinggang.

Bentuk Keris Riau

Keris Riau sendiri memiliki bentuk dan ukuran yang hampir sama dengan keris lainnya. Namun tentu saja ada perbedaaanya, seperti Keris Riau memiliki jumlah lekukan yang sedikit. Ukiran pada gagang dan sarungnya lebih banyak menonjolkan motif flora.

Sumber : Adat Tradisional, Bukdeinfo.