Design Market (Open Submission)

Layout Stand

Reminder for all brand owner out there.

We have a good news for you who haven’t submit your brand yet.
Yes! Our submission still open until 14 august 2016.
You can register your brand in : Bit.ly/JoinDesignMarket2016/
For further information please reach us at:

Bella: 0853 1600 0078

Ami: 0856 47207402
See you in Design Market 2016!

Thank you.

Mengingat kembali tentang Ergonomi

Pembahasan tentang Ergonomi merupakan salah satu bidang perkuliahan dalam ilmu Desain Produk yang dahulu saya dapatkan dari salah satu guru besar Desain Produk yaitu Bapak Yannes Martinus Pasaribu, Dr., M.Sn. Yang kini menjabat sebagai salah satu Senat Akademik di Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada masa tersebut sebagai mahasiswa, saya masih belum begitu menyadari betapa pentingnya pemahaman tentang ergonomi dalam mendesain sebuah produk, namun saat ini setiap kali melakukan perancangan desain, saya menyadari betapa ergonomi tidak dapat dipisahkan dalam aspek perancangan desain produk, sehingga saya dapat menyimpulkan bahwa produk tanpa ergonomi merupakan sebuah keniscayaan, dia bisa jadi hanya sebuah estetika seperti karya seni, atau mesin tanpa memperhatikan bagaimana dia akan berinteraksi dengan user.
Ergonomi pada prinsipnya membahas bagaimana mencapai tingkat respon dan output yang positif dan maksimal bagi manusia dengan produk dan area kerja nya. Fokus ergonomi adalah manusia, bagaimana produk, sistem dan area kerja dapat mendukung aktifitasnya secara maksimal, aman dan nyaman selamanya atau dalam kurun waktu tertentu, didalam perancangan hal ini dikenal dengan istilah Human Centered Design. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan informasi, standarisasi dan pendekatan yang komprehensif. Dalam kesehariannya manusia berinteraksi dengan produk, ruang dan sistem tertentu, Interaksi ini menghasilkan output yang positif maupun negatif, output tersebut menjadi acuan keberhasilan komponen tadi dalam berinteraksi dengan manusia, keberhasilan kinerja dan impact dari interaksi ini dikenal dengan Human Factor. Produk, system dan ruang yang ergonomis memenuhi kriteria ENASE (Efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien).
Dalam mendesain produk, ergonomi berperan penting dalam penentuan standar antropometri, fisiologi, anatomi, psikologi dan teknologi yang digunakan pada produk yang didesain. Beberapa standar yang telah disepakati secara internasional menjadi syarat export, import, SNI dan ISO sebagai kelayakan produk beredar dikalangan masyarakat terutama pada negara-negara maju. Standar-standar kuantitatif dan kualitatif yang banyak digunakan di Indonesia saat ini masih banyak menggunakan teori dan penelitian yang dilakukan diluar Indonesia, data studi antropometri yang digunakan dari buku-buku Human Factor, antropometri dsb hasil karya barat, eropa atau Jepang masih menjadi acuan yang kadang kurang merepresentasikan fisik dan polah laku orang Indonesia untuk produk-produk yang di jual di Indonesia.

Selain komponen-komponen yang diperlukan dalam penerapan ergonomi pada perancangan produk tadi, ergonomi juga mengkaji poin penting lainnya seperti

  1. DisplayInterface yang menampilkan informasi tertentu bagi manusia dengan simbol-simbol. Display pada ergonomi terkait erat dengan pembahasan tentang semantika dan semiotika.
  2. Kekuatan fisik manusia – Interaksi manusia dengan produk dapat menguras tenaga, secara default Kekuatan fisik manusia terus menurun dalam satu kurun waktu, tetapi tidak menutup kemungkinan ada pada kurva yang dinamis dan di satu titik waktu berada pada kondisi puncak Kekuatan fisiknya setelah melalui proses pemanasan.
  3. Dimensi ruang – kegiatan manusia membutuhkan area tertentu, dengan Dimensi dan antropometri manusia, kegiatan tertentu perlu diukur kebutuhan standarnya untuk bergerak, pada luas berapa kegiatan dapat terlaksana dengan maksimal.
  4. Lingkungan dan area beraktifitas – Selain Dimensi area kerja, kondisi fisik ruangan melingkupi pencahayaan, warna, kebisingan, temperatur, getaran dan lainnya juga menjadi kajian ergonomi untuk menciptakan ke optimalan aktifitas yang terjadi didalamnya.

Pada perancangan desain produk aplikasi ergonomi dilihat dari dua sudut, dari produsen dan konsumen dan dapat dijelaskan sebagai berikut ;

  1. Produsen – Dalam proses produksi, desain berpangaruh besar terhadap kemudahan dan kesulitan proses hingga total waktu proses produksi. Efesiensi waktu produksi sebaliknya dapat memberikan input saran modifikasi pada desain agar produksi menjadi realistis.
  2. Konsumen – Bauran pemasaran sebagai input external yang terdiri dari 5P (product, place, price, people, promotion) memberikan insight yang juga tidak kalah penting dalam pengambilan keputusan diperancangan.

Didalam perusahaan atau industri ergonomi dan  K3 berkolaborasi menciptakan produktifitas dan kualitas hasil pekerjaan melalui peningkatan kualitas ruangan, safety, mesin dan sistem yang memperhatikan segala aspek manusia didalamnya secara fisik dan non fisik.

Perhatian terhadap penggarapan sisi ergonomis pada produk, ruang dan sistem yang maksimal merupakan keharusan agar perancangan menjadi komprehensif. Ergonomi merupakan aspek teknis yang terukur dan dapat dievaluasi melalui kinerja dan interaksi yang dihasilkan dengan usernya.

Sumber ;

Wikipedia, Ergo Biologi Blog, Dunia Iptek, Sobat Baru, Ergonomi Fit, Arief Nyak, Nafilatul Fitri, Iwan Irawan, Crazy Dylus

Image

16 Jenis kayu Indonesia yang perlu kita ketahui

Butuh material kayu untuk furniture, bangunan, produk atau kerajinan, tidak salah lagi Indonesia adalah gudang dari berbagai kayu-kayu yang kelasnya mendunia. Iklim dan tanah nya yang mendukung untuk tumbuh suburnya berbagai vegetasi menyediakan banyak varian kayu kuat dan berurat bagus. Kita sudah sering mendengar tentang kekayaan alam ini secara turun temurun, dan kenyataannya exploitasi kayu di Indonesia sudah berlangsung bahkan jauh sebelum kemerdekaan dan menyisakan lahan-lahan yang kini sudah rusak karna kayu nya sudah dijarah. Meskipun demikian masih banyak kayu-kayu yang saat ini masih dapat kita temukan karna terus dibudidayakan atau distribusinya dikendalikan oleh pemerintah melalui peraturan-peraturan yang ketat, kayu-kayu tersebut dipergunakan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan dan sebagian dapat kita beli ditoko material kayu diberbagai tempat. Berikut adalah kayu-kayu asli Indonesia yang mungkin sering ada disekitar kamu dan wajib kamu ketahui ;

1. Jati

kayu-jati-di-banjarmasinSiapa orang Indonesia yang tidak pernah mendengar nama Kayu Jati? Kayu yang memiliki predikat kayu kuat ini sering kali menjadi patokan bahan kayu yang berkualitas bagi banyak orang. Kayu yang memiliki warna umum coklat ini memiliki urat bewarna coklat gelap yang berjarak antara satu dengan yang lainnya sedikit jarang. Kayu Jati sebenarnya dibawa ke Indonesia sekitar tahun 1800 oleh Belanda ke Indonesia dan tumbuh subur di beberapa daerah panas di pulau Jawa, dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Kayu Jati yang berkualitas tinggi biasanya di supply oleh daerah yang memiliki temperatur panas dan tanah yang berkapur seperti di Jawa Tengah.

Kayu Jati terkenal akan kekuatan dan kepadatannya, yang mempengaruhi durabilitas kayu ini. Minyak didalam Kayu Jati dianggap membuatnya menjadi lebih tahan rayap, dan pori-pori nya yang kecil menyebabkan kayu ini dapat di finishing sangat halus. Kepadatan Kayu Jati membuatnya menjadi kayu favorit untuk dibuat ukiran.

Kayu jati memiliki kekerasan antara 630-720 Kgs/M3

Kayu Jati saat ini juga sering diburu bekas-nya untuk menghasilkan produk berkesan rustic, dan dengan berbagai karakter yang disebutkan tadi Kayu Jati sangat cocok untuk di jadikan furniture berkelas dan bahan bahan ukiran.

2. Meranti

35

Kayu Meranti atau sering juga disebut Kayu Kalimantan merupakan kayu yang sering dipergunakan untuk membuat kusen, furniture dan panel. Mendapat julukan Kayu Kalimantan karna meskipun dapat tumbuh diberbagai daerah di Indonesia sebagai negara tropis, Kayu Meranti tumbuh paling baik di daerah Kalimantan. Batang Kayu Meranti dapat tumbuh hingga 70 meter dengan diameter bisa mencapai 4 meter lebih. Kayu Meranti yang bahasa latinnya Mahoni Philipina sering kita temui berwarna coklat kemerahan dan tanpa urat (grain), dijual di toko material sebagai papan atau kaso.

Kayu Meranti memiliki tingkat kekerasan antara 580-770 Kgs/m

Selain sebagai bahan bangunan dan furniture, Kayu Meranti juga dapat di jadikan Pulp untuk kertas dan buah Tangkawang dari beberapa jenis Meranti dapat dijadikan bahan baku untuk kosmetik.

Berdasarkan karakteristik dari Kayu Meranti, Kayu ini lebih cocok digunakan untuk bahan bangunan atau furniture yang finishingnya menggunakan cat.

3. Merbau

merbauflooring41

Kayu yang berasal dari Maluku dan Papua ini merupakan jenis kayu keras dan memiliki julukan sebagai Kayu Besi. Kayu Merbau telah menjadi primadona lokal dan eksport sejak lama karna kualitasnya yang superior. Kayu Merbau berwarna coklat abu gelap atau merah coklat gelap dengan arah serat yang hampir lurus. Kayu ini dapat tumbuh menjulang hingga 50 meter dengan diameter hingga 2 meter. Karna kekerasan dan durabilitasnya, Kayu Merbau banyak dijadikan sebagai parkit untuk lantai, tiang bangunan, bak truk hingga digunakan sebagai bahan konstruksi jembatan. Saat ini harga Kayu Merbau cukup bersaing dengan harga Kayu Jati.

Daya tahan Kayu Merbau yang tinggi juga dapat diaplikasikan sebagai material konstruksi laut. Dalam pengolahannya, Merbau tidak sulit untuk dipotong dan di finishing, tapi cukup sulit untuk dibubut dan di paku karna meskipun keras memiliki sifat getas karna serat-seratnya yang pendek.

Dengan karakteristiknya tersebut, Kayu Merbau dapat dijadikan andalan sebagai bahan bangunan dan konstruksi.

4. Albasia

sengon1Kayu Sengon atau Albasia merupakan kayu khas daerah tropis dan dapat dengan mudah ditemui diberbagai toko material dalam bentuk kaso atau papan. Kayu Albasia termasuk kayu yang lunak dan sulit untuk langsung di finishing, karakternya yang berbulu dan berpori-pori besar dan mudah patah membuat Kayu ini tidak dapat langsung dijadikan material pembuat produk. Meskipun demikian permintaan Albasia yang meningkat dari tahun ketahun memberikan bukti bahwa penggunaan dan manfaat yang disadari produsen atas kayu ini juga semakin luas. Kenyataannya kayu yang mudah untuk di oleh ini dipergunakan sebagai bahan utama pembuatan kayu olahan seperti triplex dan blockboard, stick ice cream, pensil, korek api hingga bahan baku untuk kertas.

Papan dan balok Kayu Albasia sering kita temukan menjadi material bangunan penyangga dan sementara, digunakan untuk packing pada shipping atau pallet untuk barang. Warna nya putih kotor bercampur coklat tampa urat, berpori-pori besar dan lunak.

5. Cendana

kayu-cendana

Wangi, itulah kesan pertama yang anda dapatkan pada kayu Cendana. Kayu yang sering digunakan sebagai bahan baku dupa dan produk-produk kerajinan ini sebenarnya bukan merupakan golongan pohon yang tinggi bahkan bisa disebut sebagai parasit. Pohon Cendana hanya tumbuh hingga 15 meter dengan diameter batang hanya 30 cm, sulit dibudidayakan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat dipanen namun sangat diminati dipasaran menjadikan kayu ini relatif cukup mahal, bahkan dijual dengan takaran kilogram. di Indonesia Kayu Cendana putih dapat tumbuh subur di daerah NTT (Nusa Tenggara Timur) dan telah menjadi komoditas eksport sejak lama.

Kayu Cendana yang diubah menjadi produk kerajinan dan furniture sebaiknya tidak di coating, tapi justru dibiarkan polos agar wangi dari Kayu Cendana ini dapat dinikmati saat berinteraksi dengan produk tersebut. Kayu ini sangat baik dan kokoh untuk dijadikan furniture dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi baik didalam maupun diluar negeri.

6. Ulin

Kayu-Ulin-komoditas-kayu-terbaik-di-Nusantara

Kayu Ulin merupakan salah satu kayu yang dapat dijadikan sebagai material pembuat kapal yang berasal dari Kalimantan dan Sumatra bagian selatan. Kayu Ulin dapat tumbuh hingga 50cm dengan diameter hingga lebih dari 1 meter. Kayu Ulin terkenal sangat tahan perubahan suhu, kelembaban, tidak mudah dimakan rayap dan pengaruh air karna bersifat berat dan keras.

Kayu Ulin dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan terutama konstruksi. Di daerah tempat ditemukannya banyak Kayu Ulin yaitu Kalimantan, kayu ini sejak dahulu kala dipergunakan sebagai bahan pembuat rumah panggung bagi penduduk lokal. Selain itu Kayu Ulin juga sering dimanfaatkan oleh penduduk lokal untuk digunakan sebagai bahan kerajinan seperti patung hingga perhiasan.

Kayu Ulin termasuk Kelas Kuat I dan Kelas Awet I dengan berat jenis 1.04.

7. Eboni

2204781_photostockkayuebony_page_3_upd

Kayu yang memiliki nama latin Diospyros Celebica ini, kini sudah cukup langka. Perpaduan warna hitam dan coklat dengan urat yang kontras pada kayu yang terkenal dengan nama Macassar Ebony dan Black Ebony ini membuatnya menjadi kayu yang sangat diburu oleh bangsa Jepang, Eropa dan Amerika. Kegiatan eksport kayu ini mencapai puncaknya pada tahun 1973 dengan jumlah mencapai 26.000 m3 dan terus menurun hingga kini ditetapkan oleh IUCN dan 2000 WCN (World Conservation Union) Red List of Threatened Species sebagai kayu yang dilindungi.

Pohon Kayu Eboni dapat tumbuh hingga 40m dengan diameter hingga 1 meter dan merupakan kayu kelas awet 1 dan kelas kuat 1 dengan berat jenis rata-rata 1.05 (0.90-1.14), dengan berat jenis ini kayu Eboni tergolong berat dan tidak dapat mengapung di air.

Kayu dengan urat yang eksotis ini kerap dijadikan bahan baku pembuatan alat musik seperti gitar, piano hingga biola. Kayu ini juga digunakan sebagai tongkat, ukir-ukiran, patung dan juga perhiasan.

8. Trembesi

3604992_tmpksmpiinga1

Beberapa waktu yang lalu, sebuah perusahaan rokok membuat program CSR dengan penanaman ribuan bibit pohon Trembesi, alasannya pohon Trembesi merupakan salah satu jenis pohon yang dapat menyerap hingga 28.5 ton gas CO2. Selain manfaatnya sebagai penyerap gas CO2 yang baik, Kayu Trembesi kini juga semakin diminati oleh pasar lokal dan Asia untuk dijadikan bahan baku furnitur, ukiran dan patung. Hal ini disebabkan oleh urat Kayu yang dimiliki Kayu Trembesi yang menawan.

Kayu Trembesi mudah tumbuh diberbagai daerah Tropis dan curah hujan yang tinggi mulai dari Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Maluku hingga Nusa Tenggara. Kayu Trembesi dapat tumbuh hingga mencapai 40m dengan diameter hingga 4.5 meter. Kayu Trembesi yang juga disebut Kayu Meh di daerah Jawa yang berarti “hampir menyerupai Kayu Jati ini sering diubah menjadi furniture indoor yang tebal-tebal dan lebar hingga 1.5meter, hal ini disebabakan kekuatannya yang kurang dan cukup lentur sehingga pengolahan kayu ini lebih condong dipotong lebih besar. Kepadatan atau Density Kayu Trembesi yang kurang membuatnya kurang cocok dijadikan bahan baku furniture outdoor. Selain menjadi bahan baku Furniture, Kayu Trembesi juga sering digunakan sebagai bahan pembuat veneer.

Kayu Trembesi memiliki berat jenis 0.60 dengan tingkat keawetan kelas IV dan Kelas Kuat III. Pohon Kayu. Kayu Trembesi kurang awet karna menghasilkan minyak kayu yang membuatnya tahan terhadap serangan rayap lebih sedikit dibandingkan dengan Kayu Jati.

9. Bangkirai

reywoodindonesia_woodtypes_Kayu-Bengkirai_002Kayu yang memiliki nama lain Yellow Balau atau Balau ini banyak ditemukan di Indonesia, Malaysia dan Filipina. Di Indonesia, Kayu ini banyak dipasok dari hutan Kalimantan. Kayu Bangkirai dapat tumbuh hingga 40 meter dengan diameter hingga 120 cm. Kayu ini bewarna kuning kecoklatan dengan kekerasan antara 880-990 kg/m3 hingga 1050 kg/m3 pada kekeringan 12%. Pada suhu normal Kayu Bangkirai dapat kering dalam waktu 12 hingga 1 bulan. Ikatan antar serat yang kuat dan mudah diolah menjadikan kayu ini cocok untuk decking, outdoor furniture, dan berbagai keperluan konstruksi lainnya namun pada beberapa jenis bangkirai seratnya cenderung mudah terbuka dam mudah melintir sehingga tidak disarankan dipergunakan pada konstruksi yang membutuhkan kestabilan tinggi.

Kayu Bangkirai cukup terkenal didunia perkayuan dengan tingkat keawetan dari kelas I hingga kelas III dan Kelas Kuat I dan II. Kayu Bangkirai memiliki berat jenis rata-rata 0.91.

10. Kamper

jual-kayu-kamper-singkil-oven-pd-harapan-bersamaDahulu kala penggunaan getah beberapa jenis Kayu Kamper menjadi kapur barus merupakan kegiatan bisnis primadona yang membuat Sumatera menjadi terkenal. Penggunaan kapur barus dapat ditemui pada buku History of Sumatera (1783) yang ditulis oleh William Marsden, Kimiya’Al-‘Ltr (Abad ke-9) yang ditulis oleh Al-Kindi dan Actius dari Amida (502-578) serta berbagai tulisan lainnya yang mempropagandakan penggunakan kamper/kapur barus, bahkan disebutkan pula bahwa pada abad ke 2 masehi terdapat bandar dagang yang terkenal menjual kapur barus bernama Barosai. Kini penggunaan kapur barus semakin meluas dan dibuat pula sintetisnya dengan terpentin. Selain wangi, kapur barus juga dipergunakan untuk mengawetkan mayat dan tidak disukai oleh hama. Demikian pula kayu kamper, kayu ini termasuk kayu yang tahan hama sehingga banyak diminati banyak orang.

Kayu Kamper berwarna coklat muda hingga coklat kemerahan dan hampir mirip dengan Kayu Mahoni. Kayu Kamper termasuk Kayu berkelas awet II, III dengan kelas kuat I dan II, Meskipun Kamper dapat ditemui diberbagai daerah, Kayu Kamper yang berasal dari Samarinda terkenal halus dibandingkan dengan daerah yang lain. Selain Kamper Samarinda, dipasaran dikenal juga Kamper Singkil, Kamper Kapur dan Kamper Banjar.

11. Sonokeling

dscn6293

Ini dia Rosewood-nya Indonesia, Sonokeling, Sonobrit, Sonosungu atau Sanakeling merupakan kayu yang memiliki corak yang indah, bewarna coklat gelap dengan alur-alur berwarna hitam membuat kayu ini terlihat sangat eksotis. Pohon Kayu Sonokeling dapat tumbuh hingga 40 meter dengan diameter mencapai 2 meter. Pohon ini dapat ditemui di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur terutama didaerah-daerah yang berbatu dan agak kering.

Kayu Sonokeling dimanfaatkan untuk membuat berbagai jenis produk, mulai dari furniture, alat musik, hingga alat-alat olah raga. Dengan Berat jenis 0.77-0.86 dengan kadar air 15%, Kayu ini juga termasuk kayu indah kelas 1, kelas awet I dan kelas kuat II. Karna Sonokeling termasuk kayu keras, maka kayu ini dahulunya sering digunakan sebagai bahan konstruksi dan bahan pembuat kusen-kusen mewah yang kuat. Kayu Sonokeling yang juga memiliki kadar air yang rendah serta cukup menghasilkan minyak kayu juga terkenal tahan akan serangan rayap dan jamur pembusuk kayu.

12. Sungkai

plinsungkai04

Kayu berwarna terang ini merupakan material Kayu yang sering digunakan oleh pengrajin untuk membuat furniture indoor. Kayu Sungkai juga diolah oleh industri menjadi veneer yang warna dan coraknya banyak diminati oleh pasar. Dengan corak Kayu perpaduan antri warna kuning, coklat muda dan kuning setelah kuning, Kayu Sungkai dapat mempertegas kesan segar dan compact pada furniture indoor.

Dipasaran harga Kayu Sungkai jelasnya lebih murah di bandingkan harga Kayu Jati atau Sonokeling, oleh karna itu pemakaiannya juga lebih luas dibandingkan Kayu Jati, Sonokeling atau Ulin yang kelasnya lebih tinggi. Dari segi kualitas, meskipun coraknya cukup menawan, kayu ini hanya termasuk kayu Kelas Kuat II dan III dan Kelas Awet II dan III juga. Massa jenis dan bobot Kayu Sungkai apalagi jika telah melalui proses Kiln atau pengeringan akan lebih berat sedikit di bandingkan Kayu Pinus, Oleh karna itu, penggunaannya disarankan bukan untuk keperluan outdoor kecuali dengan treatment khusus.

13. Pinus dan Cemara

spruce-316002_1280

Dari beberapa artikel yang saya baca, pada dasarnya Pohon Pinus dan Cemara memiliki ciri fisik dan nama latin yang berbeda pula, namun corak kayu nya tidak berbeda terlalu signifikan. Kayu Cemara memiliki warna yang lebih menonjol dibandingkan Kayu Pinus, Kayu Cemara terkesan lebih merah dan pekat dibandingkan warna Kayu Pinus yang lebih kuning dan terang. Selain itu Kayu Cemara memiliki banyak (mata) karna lebih banyak ranting dan cabang dibandingkan Kayu Pinus.

Pinus dan Cemara memiliki banyak manfaat, mulai dari segi religius (sering digunakan sebagai pohon natal) hingga kesehatan. Selain itu, Kayu nya juga dapat dimanfaatkan untuk banyak hal. Kayu Pinus dan Cemara terkenal lembek dan mudah rusak, kepadatan kayunya yang kurang justru dimanfaatkan untuk produk-produk kayu yang membutuhkan pengolahan ringan, disposable dan flamabelity yang tinggi seperti korek api dan palet kayu untuk shipping. Kayu Pinus dan Cemara termasuk Kayu dengan Kelas Awet dan Kuat level III. Kayu Pinus dan Cemara memiliki densitas/kepadatan 480-520 kg/m3 dan kadar air MC 12% dan butuh waktu 12-15 hari untuk pengeringan.

Meskipun Kayu Pinus dan Cemara kini sering digunakan untuk  furniture, sebaiknya perlu diingat bahwa kayu ini merupakan kayu dengan kekuatan dan keawetan rendah, warnanya mudah berubah dibawah sinar matahari. Disarankan jika dipergunakan sebagai furniture sebaiknya menggunakan ukuran yang tebal dan tidak terkena air.

14. Kelapa

93-thickbox_default

Diberbagai belahan dunia, kayu kelapa telah dipergunakan sebagai material untuk berbagai keperluan karna keberlimpahannya di alam. Mulai dari kerajinan hingga furniture, Kayu Kelapa menjadi Kayu yang hampir semua orang kenali. Kayu Kelapa telah digunakan sebagai tiang-tiang bangunan hingga jembatan karna kekuatannya. Kayu ini memiliki corak yang unik, perpaduan coklat tua dan coklat muda yang kontras yang berbentuk lurus-lurus. Serat-serat kayu kelapa cukup pendek sehingga pada papan olahan dari kayu kelapa terlihat seperti goresan-goresan pendek. Serat berwarna gelap merupakan serat yang lebih keras dibandingkan serat yang lebih terang.

Kayu Kelapa tergolong kayu Kelas Kuat II dan III dengan berat jenis dari 0,5 hingga 0,9 tergantung umur dari pohon tersebut. Densitas Kayu Kelapa rata-rata 400 kg/m3 dengan diameter batang hingga 50cm dan hampir lurus keatas.

Salah satu  produk akhir dari Kayu Kelapa yang saat ini menjadi produk andalan ekspor adalah parket Kayu Kelapa. Parket Kayu Kelapa saat ini menjadi primadona dipasar Eropa karna menjadi salah satu produk olahan Kayu yang mendapat predikat Eco Labelling.

Kayu ini dapat diolah dengan baik menggunakan mesin-mesin namun sulit untuk diberi bahan pengawet karna termasuk kayu yang padat. Kayu Sonokeling sejak tahun 1998 dicatat sebagai kayu yang dilindungi karna sudah terancam punah, oleh karna itu bijak menggunakannya dan memanfaatkannya secara efektif dan efisien adalah keharusan bagi pengguna nya.

15. Mahoni

kayu-mahogany

Butuh kayu untuk di bengkok-kan (bend) dan mampu bertahan lama dalam bentuk tertentu serta sangat baik difinishing duco atau alami maka Kayu Mahoni merupakan kayu yang tepat. Baik secara vertikal maupun secara horizontal Kayu Mahoni cukup baik dalam uji tekan sehingga dapat diaplikasikan penggergajian dari berbagai arah dengan baik. Karna kayu ini lebih lunak dibandingkan Kayu Jati, Kayu ini cukup mudah untuk di ukir dan dibentuk sesuai keinginan.

Kayu Mahoni cukup tahan terhadap serangan hama kayu, dan ketika di proses seperti pemotongan atau dipaku tidak mudah retak, dan cukup mudah untuk diampelas. Kayu ini tahan terhadap keretakan saat di steam pada proses pembengkokan. Kayu Mahoni memiliki ciri fisik berwarna merah pada bagian dalamnya, berpori-pori kecil dan plain (coraknya tidak terlalu kelihatan).

Pohon Kayu Mahoni dapat dipanen pada umur 7 hingga 15 tahun, dan dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis. Penggunaan Kayu Mahoni cukup luas karna kekuatan dan ketersediaanya yang cukup banyak sehingga banyak digunakan didunia konstruksi dan pertukangan. Pohon Kayu Mahoni dapat tumbuh hingga berdiameter 125cm dengan tinggi 35-45 m. Pohon ini sering ditanam dipinggir jalan karna ditengari dapat mengurangi polusi udara hingga 69% dan membantu penangkapan air serta berdaun lebat sehingga menjadi peneduh dipinggir jalan.

16. Kayu Aren

lodor dari kayu aren

Orang yang sakti dan punya ilmu kebal, jika ditusuk dengan ruyung tetap akan mati. Kepercayaan orang Sunda terhadap pepatah ini dapat ditemukan logikanya, Kayu Aren atau Ruyung terhitung keras dan jika disabet pinggirannya setajam sembilu.  Pengolahan Kayu Aren dapat merusak mesin pengolah seperti ketam mesin dan gergaji lebih cepat dibandingkan kayu yang lain, hal ini disebabkan Kayu Aren memiliki urat kayu yang berwarna hitam yang sangat keras. Karna masih dalam keluarga Palma, Kayu Aren memiliki corak seperti Kayu Kelapa, namun perbedaan yang kontras dapat terlihat dari warna-nya yang jauh lebih gelap dibandingkan Kayu Kelapa.

Aren, Enau, Hanau, Peluluk, Moka dan banyak lagi sebutan untuk tumbuhan aren ini memiliki pohon yang dapat tumbuh hingga 25 m dengan diameter hingga 65cm. Bagian batang Aren yang dapat digunakan sebagai papan adalah bagian agak luar hingga 10cm kearah dalam. Sedangkan bagian dalamnya lebih mudah rusak karna lebih lunak. Selain batang, Kayu Aren kita kenal sebagai penghasil gula merah, aren atau enau, dan penghasil kolang-kaling. Tidak sedikit yang mengubah air enau menjadi tuak diberbagai daerah di Indonesia karna air nira cepat terfementasi di udara.

Di negara Jepang, parket Kayu Aren yang berwarna hitam cukup disukai meskipun eksportir mengatakan bahwa biasanya mereka lebih meyukai warna-warna kayu yang terang. Di daerah seperti Sulawesi, Kayu Aren biasanya digunakan sebagai papan, gagang pisau, gagang cangkul dan empulurnya dijadikan untuk penyaluran air.

Selain berbagai jenis kayu yang sudah disebutkan tadi, Indonesia memiliki banyak jenis kayu endemik dan kayu-kayu yang berkualitas tinggi lainnya yang harus kita jaga keberlangsungan supplynya serta dapat kita manfaatkan untuk berkarya. Untuk itu yuk kita tingkatkan pengetahuan dan skill kita dalam memahami material ini agar kita dapat menghasilkan nilai tambah dari berbagai material mentah yang disediakan oleh alam seperti kayu.

Mau tau lebih banyak soal finishing kayu, lihat dulu artikel ini. 

Sumber ;

Wikipedia, Manfaat, Info Mebel Furniture, Rimba Kita, VEDC Malang, Blog Kayu Indonesia, Sari Jati, Kampuz Sipil, Investasi Duniamu, Kayu Albasia, Rumah Cahaya, Sekilas Web, CV. Maju Bersama, Taman Nasional Kutai, Kidnesia, Mebel Trembesi, Peluang Usaha, Baron Y, Tentang Kayu, O2 Indonesia, Alam Endah, Imania Desain, Fabelio, Duta Rimba, Kayu Pinus, Kayu Pinus Bandung, Kelapa Balok, Produk Kelapa, Sarana Bangunan, Kayu Aren

Menghaluskan hasil 3D Print

Kini 3D printing merupakan salah satu cara paling mudah, cepat dan murah untuk Rapid Prototyping, brand 3D printer pun semakin banyak dan berkembang sangat pesat termasuk di Indonesia. Meskipun penggunaan 3D printer di Indonesia belum sebanyak di Eropa, Amerika, Jepang dan China perkembangan teknologi ini pelan tapi pasti terus tumbuh seiring kebutuhan industri lokal kita.

3D Printing dapat digunakan untuk membuat model 1:1 maupun skala yang dapat digunakan sebagai referensi visual, ergonomi bahkan untuk cetakan untuk model selanjutnya. Kualitas printer 3D secara garis besar dapat dilihat dari beberapa hal berikut ;

  1. Kepresisian hasil cetakannya
  2. Besar atau kecil nozzle injeksi materialnya
  3. Kecepatan cetaknya
  4. Density terapat yang bisa di buatnya
  5. Dan panjang waktu beroperasi-nya

Sewajarnya semakin bagus 3D printernya, semakin mahal pula harganya.

3D printer mencetak model dengan cara membuat layer (lapisan) dari model pada axis environment CAD, oleh karna itu hasil cetaknya memperlihatkan tumpukan dari lapisan-lapisan tersebut, kerapatan (density) dari lapisan tersebut dapat di atur pada software printer 3D, meskipun demikian hasil dari kebanyakan printer 3D dipasaran dapat dipastikan tetap memperlihatkan lapisan-lapisan tersebut.

Pada presentasi produk lapisan ini dapat menjadi gap yang membedakan produk akhir dengan produk hasil 3D print. Produk akhir, terutama produk yang terbuat dari plastik memiliki output yang mulus karna dihasilkan dari injection pada dice atau mold. Agar presentasi dari print 3D dapat benar-benar terlihat seperti produk akhir atau lebih mendekati produk akhirnya perlu dilakukan treatment tertentu, treatment tersebut di antaranya adalah :

Sanding (Pengampelasan)

LF-1-HandSand

Metode ini sangat awam digunakan untuk menghaluskan berbagai permukaan termasuk permukaan hasil cetak 3D. Biaya pengampelasan termasuk murah dan sudah terbukti berhasil. Meskipun demikian metode pengampelasan terutama pada hasil cetakan 3D dapat menyebabkan pengurangan massal hasil cetakan, pada pembuatan yang membutuhkan tingkat kepresisian tinggi, metode ini kurang tepat untuk dilakukan, selain itu mengampelas memakan waktu semakin banyak jika model yang dikerjakan terdiri atas banyak detail. Pengampelasan sebaiknya menjadi tahap awal untuk melakukan penghalusan model dan dilanjutkan dengan metode yang lainnya.

Bead Blasting (Penyemprotan partikel)

LF-2-Blasted

Metode blasting atau penyemprotan partikel dilakukan pada chamber khusus dengan material tertentu atau material yang serupa dengan material model yang dikerjakan. Metode ini dapat dimulai dengan mengampelas permukaan model. Kekurangan dari metode ini adalah sulit mengendalikan volume hasil semprotan karna dilakukan pada chamber yang relatif kecil dan dilakukan secara manual. Akibat dari menyemprot (blasting) model, model menjadi lebih tebal. Preview metode Bead Blasting dapat dilihat pada contoh dibawah ini :

Vapor Smoothing (Penghalusan dengan uap dingin)

Smoothed-with-Vapor

Dari beberapa metode yang lain, penghalusan dengan metode pengupan merupakan metode favorit yang banyak digunakan oleh model maker di dunia. Metode ini menghasilkan model yang memiliki permukaan halus dengan cara meletakkan model diatas jig pada chamber yang sudah di isi cairan (biasanya aseton) kemudian cairan aseton di biarkan melelehkan permukaan model tanpa dipanaskan hingga kurun waktu tertentu untuk mencapai kehalusan tertentu. Penghalusan dengan metode ini juga dapat dilihat pada video dibawah ini :

Vapor Bath (Penghalusan dengan uap panas)

20130718-The-Touch-Up-3D-Printing

Metode ini mirip dengan metode Vapor Smoothing, perbedaannya terletak pada intensitas uap yang dihasilkan karna proses pemanasan. Pada Vapor Bath (mandi uap) model diletakkan pada chamber yang asetonnya dipanaskan, sehingga intensitas uap dan temperaturnya melelehkan permukaan model lebih cepat seperti yang diperagakan pada video berikut :

Penguapan dapat menggunakan berbagai cairan seperti Aseton atau Limonene

Coatings (pelapisan)

PartSnap-VeroWhitePlus-Recessed-Swatch_Polished-Chrome-Featured

Model 3D yang sudah dihaluskan dengan diampelas sebelumnya dapat diperhalus dengan menyemprot cat primer yang dilanjutkan dengan cat yang diinginkan (misal epoxy) serta di akhiri dengan lapisan pelindung cat tertentu. Metode ini juga memiliki kekurangan yang sama dengan metode Bead Blasting, ditambah, cat hasil pelapisan hanya dapat digunakan sebagai preview visual, tapi tidak sebagai preview teknis seperti gesekan.

Brushing (Penguasan)

Reynolds-Advanced-Materials-3d-printing-smooth-finish-2

Metode ini seperti halnya coating (pelapisan) hanya saja dengan menggunakan kuas menggunakan cairan tertentu, brand yang cukup intens memasarkan produk untuk metode ini adalah XTC-3D. Coating ini melumerkan sekaligus melapisi model sehingga memberikan hasil yang halus pada permukaannya seperti yang dapat kita lihat pada video berikut :

Berbagai metode tersebut muncul untuk mendapatkan hasil Rapid Prototyping yang sesempurna mungkin. Model yang sempurna memberikan preview yang baik saat presentasi, dan presentasi yang baik membuka peluang keberhasilan yang lebih besar.

Selamat mencoba

IKKON – Inovatif dan Kreatif Melalui Kolaborasi Nusantara

Desain merupakan kegiatan yang pada hakikatnya harus berintegrasi dengan banyak komponen. Produk yang dihasilkan desainer sejatinya hadir dari riset dan pengembangan yang matang yang pada akhirnya mampu menjawab kebutuhan pasar. Pada ranah nasional dan aplikasinya dalam meningkatkan daya saing produk berbasis budaya Skenario tersebut berlangsung karena kontribusi berbagai resource.

Atas dasar kesadaran tersebut BEKRAF dipimpin oleh ibu Poppy Savitri, Direktur Edukasi pada Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan menyelenggarakan IKKON 2016

Program yang diselenggarakan beberapa bulan ini menempatkan desainer, antropolog hingga dokumentator yang bekerja sama dengan 5 pemerintah daerah di Indonesia untuk mengembangkan dan mempublikasikan produk hasil kolaborasi tim yang ditempatkan oleh BEKRAF tersebut dengan masyarakat dan pengrajin setempat.
Program ini dimulai dengan pembekalan yang komprehensif oleh Pemateri dari berbagai spesialisasi bagi tim-tim sebelum dikirim ke daerah-daerah tersebut hingga pameran yang akan diselenggarakan di daerah hingga internasional.

“Tantangan tim-tim ini cukup berat, dalam waktu yang terbatas mereka harus benar-benar mampu Men decode artefak kebudayaan lokal dari daerah tersebut kemudian me-re-code nya menjadi produk-produk yang berdaya saing ekspor” kata pak Hastjarjo salah satu Steering Comittee program IKKON ini.

Salah satu keunikan dari program ini adalah mengikut sertakan antroplog didalam tim untuk benar-benar memahami karakteristik dari masyarakat pada daerah yang direncanakan, antropolog memiliki peran penting dalam menggali potensi tersembunyi dari struktur masyarakat dan kearifan lokal untuk kemudian di transformasikan menjadi produk-produk yang kaya akan konsep dan Value. Kemudian produk-produk tersebut juga ditinjau ulang bersama-sama untuk memenuni berbagai kriteria penting dalam rangka memastikan tercapainya goal yang di inginkan.

Daerah-daerah yang akan menjadi tuan rumah program ini meliputi ; Sawahlunto (Sumatra Barat), Pesawaran (Lampung), Lasem-Rembang (Jawa Tengah), Brebes (Jawa Tengah), serta Ngada (Flores). Daerah-daerah tersebut merupakan daerah-daerah yang terkenal akan produk textile nya, kekayaan budaya tersebut diharapkan menjadi salah satu inspirasi penting terhadap pengembangan produk baru yang akan di inisiasi oleh tim-tim yang di terjunkan didaerah tersebut. Agar pengembangan produk ini lebih fokus, Steering Comittee membatasi pengembangan desain pada produk-produk hospitality saja. Produk-produk hospitalitiy akan disinergikan dengan program pariwisata didaerah-daerah tersebut.

Keterangan Program :

Penyelenggara Badan Ekonomi Kreatif – BEKRAF
Deputi Abdur Rohim Boy Berawi
Riset, Edukasi dan Pengembangan
Direktur Poppy Savitri
Steering Comittee Hastjarjo B. Wibowo, Budi Pradono, Felix, Abdi Hasan
Pemateri Dwinita Larasati, Kandi Windoe, Lea Aziz, John Kudos, Tri Anugrah, Yuswohadi, Ari Juliano, Adhi Nugraha, Idham Bachtiar, Arbein Rambey, Rizky Adiwilaga, Tantyo Bangun, Beni Kadar, Eka Sofyan Rizal, Abdi Hasan, Nukman Luthfi, Erie Sudewo, Yusuf Kurniadi
Mentor Lenny Agustin, Asyraaf  Ahmadi, Hagung Kuntjara, Handoko Hendroyono, Arif Budiman
Tim Sawahlunto Sugeng Untung, M. Imam Tobroni, Atria, RR Bunga, Muhammad Alfatha, Evelyn Zhang, Lintang Maraya
Lampung Ratih Mahardika, Gugus Riyono, Chyntia, Febri Ichsan, Indah Amalia, Unira Daranca
Brebes Sylvie Arizkany Salim, Arif PSA, Nadia Mahatmi, Hanny Meiwita, Hanifa, Jowien Tyas N, Yohannes Mauritz, Dika Gusti Nugraha
Rembang Sarah Monica, Anton, Haris Satria, Yayak Suryo B, Alyza Bachmid, Yovitha Adeline, Dinna, Esther Prawira
Ngada Ni Nyoman Sri Ratih, Ika Yulianti, Siti Chadijah, Yoga, Savira LR, Sofia Sari, Dominggo Subandrio,

Konsep Kreativitas

Kreatifitas merupakan kemampuan dan tindakan dalam menyediakan solusi yang variatif dan unik untuk memecahkan masalah

Kemampuan dan tindakan sejatinya muncul dari beberapa poin utama seperti;

  1. Knowledge (pengetahuan)
    • Pengetahuan merupakan resource/sumber daya/referensi berfikir merupakan modal dari perspektif. Luasnya pengetahuan menentukan banyak nya input pertimbangan dan opsi yang muncul dalam pembibitan sebuah keputusan. Pengetahuan juga berkontribusi dalam keberanian atas pengambilan keputusan serta habit yang dimiliki personal atau kelompok.
  2. Pengalaman
    • Tindakan yang pernah dilakukan melahirkan pembelajaran yang baik maupun buruk. Hasil tindakan dimasa lalu menjadi referensi atas tindakan yang diambil seseorang dimasa yang akan datang. Meskipun dihadapkan atas keputusan untuk melakukan pengulangan, keadaan dimasa lalu tersebut dapat dijadikan dapat dijadikan patokan kemampuan yang sudah dicapai saat ini.
  3. IQ, EQ dan SQ
    • Secara singkat IQ didefenisikan sebagai kemampuan otak personal, EQ tingkat emosional secara psikis dan SQ atau Spritual sebagai kepercayaan teguh yang dimilikinya
  4. Responsifitas
    • Dalam hal ini responsifitas dikaitkan pada akselerasi berpikir dan bertindak dalam moment yang dihadapi subjek
  5. Fokus
    • Sebuah masalah merupakan koridor dari tepat atau tidaknya opsi yang muncul dalam bentuk kemampuan atau tindakan untuk memecahkannya.
  6. Timing
    • Opsi yang muncul untuk solusi tertentu dapat terapkan pada moment tertentu atau sustain menghadapi rentang waktu tertentu. Pada range waktu tertentu opsi dapat dinilai sebagai kreatifitas, sedangkan pada waktu yang lain, opsi tersebut dapat berubah menjadi pembanding dari perspektif positif, kadaluarsa atau duplikasi dalam bentuk klaim dalam koridor negatif.

Poin-poin tersebut pada dasarnya bisa dimulai dari wacana, namun wacana tersebut baru dapat dikatakan kreatif bilamana terjadi implementasi. Wacana dalam bentuk imajinasi yang tidak terpublikasikan baik secara verbal atau tindakan tidak dapat diukur sebagai tindak kreatif bilamana orang lain tidak dapat menilainya. Penilaian terhadap kreatifitas baru dapat dilakukan bila orang lain memberikan pernyataan terhadap orang yang dinilai kreatif, sedangkan skalanya muncul akibat impact dan penilaian kelompok penilai yang lebih luas.