Dokumentasi Pelatihan Dasar Kerajinan Rotan dan Kayu

Desain Produk adalah salah satu solusi dari beberapa solusi yang kita butuhkan agar dapat bersaing ditengah pasar global saat ini terutama MEA (Masyarakat Ekonomi Asia). Dengan desain produk dapat dihasilkan produk-produk yang berorientasikan pasar serta sesuai dengan kaidah-kaidah kebutuhannya. Hal ini bukan hanya berlaku pada produsen-produsen dengan skala manufacturing atau besar, tetapi juga pada produk-produk kerajinan.
Penerapan desain produk pada kerajinan dapat memberikan solusi yang dibutuhkan oleh para pengrajin, perpaduan antara skill dan pengalaman produksi para pengrajin dengan desain yang baik memberikan harapan agar produk hasil kerajinan mempenetrasi pasar didalam dan luar negri.
Pelatihan dasar kerajinan dan furniture rotan di Kalimantan Timur bersama UPTD P3UKM dibawah Desperindagkop (Departemen Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi) merupakan langkah awal yang tepat dari aplikasi solusi yang kita butuhkan dalam kondisi persaingan yang ada saat ini. Dengan pelatihan ini desainer produk dan pengrajin dapat bertukar pikiran dan membukan wawasan para pengrajin bagaimana caranya menentukan pasar yang akan dituju untuk produk-produk yang dihasilkan serta bagaimana menghasilkan produk-produk yang berkualitas dari berbagai hal.
Pendampingan para pengrajin pada pelatihan ini membuktikan bahwa input desain dan integrasi antara desainer produk dan pengrajin dapat menghasilkan wacana produk yang lebih luas dan output yang maksimal dari material yang digunakan yaitu rotan. Pelatihan ini perlu terus digiatkan dan dirancang sedemikan rupa agar memenuhi tahap-tahap tertentu agar tercipta hubungan yang langgeng antara desainer produk dengan pengrajin sehingga mendapatkan hasil yang diharapkan.
Pelatihan awal ini tentunya membutuhkan berbagai evaluasi yang nantinya dapat mendapatkan kualitas pelatihan yang lebih maksimal dikemudian hari. Beberapa evaluasi tentang pelatihan ini adalah sebagai berikut ;

  1. Koordinasi yang baik dan maksimal baik dari segi materi maupun waktu antara pembuat program pelatihan dengan pemberi materi pelatihan hingga instruktur pelatihannya.
  2. Mengetahui sasaran pelatihan dengan tepat dengan melakukan penelitian dan pendataan sehingga pelatihan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh peserta pelatihan.
  3. Mengetahui dengan tepat permasalahan yang dihadapi oleh para peserta pelatihan sehingga pelatihan dapat menjadi salah satu solusi yang dibutuhkan oleh para peserta pelatihan.
  4. Mengetahui dengan tepat kapabilitas dan capaian calon peserta pelatihan sehingga dapat dijadikan benchmarking untuk pengembangan yang dilakukan pada pelatihan.
  5. Khususnya pada pelatihan-pelatihan seperti ini, perlu adanya rancangan awal yang diberikan oleh para pelatih dan dikoordinasikan dengan pihak penyelenggara pelatihan sehingga penyediaan kelengkapan yang dibutuhkan saat pelatihan cukup lengkap seperti alat, mesin dan material yang dibutuhkan pada saat pelatihan
  6. Perlu adanya profil para peserta pelatihan dan pemberi pelatihan yang dikompilasikan pada sebuah dokumen untuk interaksi lebih lanjut setelah pelatihan selesai antara kedua-nya.
  7. Perlu adanya koordinasi lebih lanjut antara pemberi pelatihan dengan pelaksana pelatihan tentang tahap selanjutnya tentang pengembangan lebih lanjut setelah program yang dilakukan selesai.

Dengan interaksi, kerjasama serta hubungan yang baik dengan berbagai pihak, tujuan yang diharapkan dari pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh pemerintah seperti ini tentunya membuat kita dapat melihat masa depan yang lebih baik bagi perkembangan pengetahuan serta motivasi yang berimplikasi pada peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia.

Cacat pada Rotan

PENDAHULUAN

Dengan semakin ketatnya pemanfaatan hasil hutan baik kayu maupun bukan kayu dimana rotan termasuk didalamnya maka diperlukan pengawasan yang lebih intensif. Dari segi dunia usaha , bahan baku dan biaya biaya-biaya lain yang harus ditekan, antara lain pajak dalam rangka menekan biaya tentunya memerlukan pemikiran efisiensi bahan dan angkutan.Untuk menunjang kemampuan bersaing di bidang pemasaran, maka diperlukan adanya peningkatan pemahaman terhadap beberapa prinsip dasar antara lain :

  1. Ketepatan kegunaan
  2. Pelayanan yang baik
  3. Mutu yang mantap
  4. Harga yang wajar

Unsur penunjang terhadap ketepatan kegunaan adalah pemahaman terhadap selera konsumen, kejelian memanfaatkan rotan menurut jenis/mutu dan kemampuan dalam menerapkan teknologi desain produk. Pelayanan yang baik ditentukan antara lain kemampuan menyerahkan produk tepat waktu dan kontinyu sesuai perjanjian dan kemampuan memberikan jaminan kepercayaan bagi konsumen terhadap kemantapan mutu. Mutu yang mantap ditentukan dengan kemampuan menilai pengaruh cacat terhadap daya kegunaan produk dan kemampuan menetapkan mutu secara tepat berdasarkan peraturan pengujian yang merupakan titik temu antara produsen dan konsumen. Harga yang wajar ditentukan dengan penerimaan yang wajar dari setiap institusi sesuai dengan pengorbanan yang diberikan baik berupa barang dan jasa . Dengan pemahaman pengenalan cacat maka dapat dipastikan bahwa keberhasilan pembinaan dan peningkatan mutu tidak terlepas dari ketrampilan menetapkan nilai dan pengaruh cacat terhadap daya guna dan hasil guna produk dalam pemanfaatannya oleh konsumen. Dalam pengenalan cacat rotan lebih mendalam perlu dipelajari tentang penyebab cacat, variasi cacat, pencegahan cacat, nilai cacat dan pengaruh cacat. Tujuan dari Pengenalan cacat rotan adalah peserta diharapkan mampu: menjelaskan cacat rotan mengidentifikasi, mengukur dan menilai cacat rotan.

PENYEBAB CACAT ROTAN

  1. Faktor Genetis
    1. Batang tidak lurus – Pada umumnya batang rotan berbentuk silindris atau hampir silindris. Bila terjadi penyimpangan dari bentuk tersebut maka dinyatakan sebagai cacat. Batang yang bentuk batangnya tidak silindris dapat berupa tidak silindri sepanjang badan, atau hanya pada sebagian atau pada beberapa ruas saja. Contoh rotan yang bentuknya tidak silindris sepanjang batang adalah Rotan : Semambu, Tabu-tabu, Wilatung, Tanah dan Cemeti. Sedang yang tidak silindris dalam beberapa ruas adalah Rotan Mawi, Tarumpu dan Dahan.
    2. Buku menonjol – Pada umumnya rotan yang tidak silindris mempunyai buku yang menonjol sehingga ukuran diameter tiap ruas sepanjang batang tidak sama. Selain itu terdapat jenis rotan yang bentuk bukunya agak menonjol adalah Rotan : Batang, Manuk, dan Ampar bungkus.
    3. Ruas Pendek – Panjang ruas rotan sekitar 15 Cm atau lebih, bahkan ada yang mencapai 60 atau 100 Cm. Rotan yang mempunyai ruas kurang dari 15 Cm dikategorikan sebagai rotan yang cacat. Rotan tersebut meliputi Rotan : Batu, Tapah, dan Kooboo.
    4. Kulit mudah mengelupas – Rotan mempunyai kulit yang cukup kuat dan keras apabila dipanen telah masak tebang, tetapi Rotan Umbulu mempunyai kulit yang mudah mengelupas
    5. Ketebalan ruas yang berbeda – Ketebalan ruas semua rotan hampir berbeda, tetapi Rotan Irit dan Tohiti mempunyai ketebalan ruas yang perbedaanya menyolok.
    6. Panjang ruas yang berbeda – Rotan yang panjang ruasnya tidak sama sepanjang batang adalah Rotan Irit, sedangkan rotan lainnya hampir sama.
  2. Faktor Alami
    1. Keriput – Rotan yang dipanen setelah masak tebang akan menghasilkan rotan yang elastis, cerah dan keras, tetapi rotan yang ditebang selagi masih muda akan menghasilkan rotan yang lunak dan keriput. Hal ini disebabkan pada rotan muda batang rotan belum terisi zat infiltrasi dan ekstraksi yang berfungsi sebagai penunjang keteguhan serat dan elastisitas
    2. Ketemu buku – Cacat ketemu buku merupakan cacat yang spesifik dan justru mempunyai nilai dekoratif dan nilai jual yang cukup tinggi. Buku-buku yang berdempetan memberikan kesan bahwa ruas-ruas tidak ada. Penyebab terjadinya cacat ketemu buku ini diperkirakan karena adanya tekanan pada pertumbuhannya dan karena jumlahnya yang sedikit maka cacat ini banyak dicari.
  3. Faktor Biologis
    1. Salah warna – Penyebab salah warna yang utama adalah adanya serangan jamur biru ( blue stain ), yaitu dengan adanya perubahan warna dari warna aslinya menjadi kebiru-biruan dan jika dibiarkan akan menyerap air sehingga menyebabkan pelapukan atau rapuh/busuk.
    2. Lubang gerek kecil – Lubang gerek kecil disebabkan karena serangan serangga Ambrosia beetle. Serangan ini mudah terjadi pada rotan yang masih segar, baik yang masih dalam bentuk tegakan atau setelah ditebang dalam tumpukan.
    3. Mata pecah – Mata pecah adalah bentuk cacat yang disebabkan oleh serangan cacing ketika tanaman rotan masih hidup, dan ini merupakan ciri dari Rotan Manau.
  4. Faktor Mekanis
    1. Parut buaya – Parut buaya nerupakan cacat yang disebabkan karena batang rotan yang terlalu lama ditekuk saat panen sampai mencapai kering udara. Parut buaya banyak terjadi pada rotan diameter kecil ( Sega dan Roti) dan juga Rotan Tohiti.
    2. Hangus – Cacat hangus terjadi pada rotan yang mengalami penggorengan dalam rangka pengawetan dan pengeringan. Rotan diameter besar rata-rata memerlukan proses penggorengan, dan rotan diameter kecil yang biasa dilakukan penggorengan adalah Rotan Getah Putih dan Getah Merah. Penggorengan yang terlalu lama, atau yang kurang dibalik dapat menyebabkan hangus.
    3. Kulit tergores – Kulit tergores dapat disebabkan karena terjadi pada saat proses penebangan dan penarikan batang, pembersihan yang kurang hati hati, penumpukan yang kasar.
    4. Pecah buku – Pecah buku adalah pecah yang terjadi disekitar buku akibat kurang hati-hati dalam pembersihan atau perlakuan kikis buku. Kikis buku tidak menjadi persyaratan dalam proses pengolahan, sebab beberapa konsumen untuk jenis rotan tertentu justru mengharapkan tidak dilakukan kikis buku agar jenis rotannya tetap dikenali dan juga memberi nilai dekoratif yang lebih tinggi.
    5. Cacat ukuran Cacat ukuran dibedakan menjadi 2 yaitu :
      1. Bontos tidakiku Bontos tidak siku disebabkan karena kesalahan dalam memotong bontos sehingga bentuknya tidak siku. Hal ini akan mengakibatkan kesulitan dalam pengukuran panjang dan pengepakan.
      2. Salah potong Cacat salah potong disebabkan karena kesalahan memotong sehingga rotan mempunyai ukuran panjang kurang dari panjang bakunya. Akibat salah potong dapat menyebabkan turunnya mutu, karena mutu rotan juga dibatasi dengan ukuran panjangnya.

VARIASI CACAT

Cacat rotan berdasarkan penyebaran dan kombinasi cacat yang ada dibedakan menjadi 4 variasi, yaitu :

  1. Catat Tersebar – Cacat tersebar adalah cacat yang kadarnya kecil dan keberadaanya/eksistensinya sendiri-sendiri. Cacat ini dapat terdiri dari cacat-cacat ringan seperti :
    1. Cacat salah warna
    2. Cacat lubang gerek kecil
    3. Cacat kulit tergores
    4. Cacat mata pecah (khusus pada Rotan Manau)
    5. Cacat hangus
    6. Cacat parut buaya (rotan diameter kecil dan Tohiti)
  2. Cacat Mengelompok Cacat yang berada dalam beberapa ruas dan terdiri dari bermacam-macam jenis cacat.
  3. Cacat Menyeluruh Cacat yang terdiri dari satu macam atau lebih jenis cacat yang tedapat pada seluruh ruas sepanjang batang.
  4. Cacat Tidak Diperkenankan Cacat yang tidak diperkenankan meliputi cacat keriput dan cacat rapuh/busuk.

PENCEGAHAN CACAT

Untuk mencegah beberapa cacat yang diakibatkan oleh selain genetis dapat diupayakan dengan beberapa perlakukan.

  1. Faktor Alami
    1. Keriput
      • Pencegahan : Larangan pembelian rotan tebangan muda (prematur) dan tidak menebang rotan muda.
      • Penanggulangan : Rotan muda ditolak uji, dan pengusaha yang membeli rotan muda dikenakan sanksi.
    2. Ketemu buku
      • Pencegahan : Karena jumlahnya yang sedikit dan cacat ini banyak dicari maka tidak perlu ada pencegahan.
      • Penanggulangan : Rotan ketemu buku digunakan sebagai bahan baku pembuatan perabotan dengan nilai dekoratif yang tinggi
  2. Faktor Biologis
    1. Salah warna
      • Pencegahan : Hindari penumpukan ditempat yang lembab, segera di keringkan/dijemur, diawetkan/fumigasi. Jika setelah ditebang rotan tidak dapat segera diangkut maka rotan sebelum kadar air berkurang segera direndam di sungai untuk menunggu pengangkutan.
      • Penanggulangan : Cacat warna menyebar dihilangkan dengan menggosok, sedangkan cacat warna mengelompok dan menyeluruh yang digoreng, dikeringkan, atau difumigasi dapat dikurangi daya efektifitas cacatnya.
    2. Lubang gerek kecil
      • Pencegahan : Hindari penumpukan di tempat tebangan terlalu lama, segera bersihkan dari pelepah daun, kelopak batang, dan kotoran lainnya dan segera keringkan/diawetkan.
      • Penanggulangan : Rotan segera digoreng dan fumigasi agar serangga/kumbang yang ada didalamnya mati.
    3. Mata pecah
      • Pencegahan : Serangan cacing pada tanaman rotan budidaya lebih mudah dilakukan penyemprotan dengan pestisida, tetapi untuk rotan dari hutan/alam yang tumbuh dilereng-lereng sulit untuk dicegah.
      • Penanggulangan : Tidak diperlukan perlakuan khusus, sebab cacing akan pergi/menghindar saat rotan ditebang.
  3. Faktor Mekanis
    1. Parut buaya
      • Pencegahan : Jangan biarkan rotan sampai kering udara, segera diluruskan, dan rotan segera dipotong sesuai dengan ukuran yang dikehendaki.
    2. Hangus
      • Pencegahan : Lama penggorengan untuk setiap jenis rotan disesuaikan dengan lama optimal, jadwal penggorengan diletakkan disekitar tempat penggorengan, diperlukan ketrampilan tenaga penggoreng. Alat penggorengan memenuhi persyaratan, adanya penelitian komposisi minyak penggoreng, rotan dicuci terlebih dahulu.
      • Penanggulangan : Rotan gosong/ hangus tetap dinilai sebagai cacat dan nilainya sesuai dengan cacat yang melekat padanya.
    3. Kulit tergores
      • Pencegahan : Pelatihan ketrampilan dan menyediaan peralatan bagi para pengumpul.
      • Penanggulangan : Diolah menjadi rotan kupas halus untuk meningkatkan nilai ( dekoratif ).
    4. Pecah buku
      • Pencegahan : Pemberian ketrampilan bagi pengolah untuk menentukan perlu dilakukan kikis buku atau tidak.
      • Penganggulangan : Diolah menjadi rotan kupas/poles halus untuk meningkatkan nilai ( dekoratif ).
    5. Cacat ukuran
      • Pencegahan : Pemberian ketrampilan, pengetahuan tentang standarisasi, dan pemberian peralatan yang memadahi bagi tenaga kerja di bidang pembagi batang.
      • Penanggulangan : Rotan salah potong mutunya tetap disesuaikan dengan ukuran yang telah ditentukan/standar.

MACAM-MACAM CACAT PER SORTIMEN DAN PENGUKURANNYA

Cacat yang mungkin terjadi untuk setiap sortimen/tingkat pengolahan berbeda-beda. Cara pengukuran cacat adalah sebagai berikut.

  1. Rotan Asalan – Rotan asalan adalah batang rotan yang telah mengalami pembersihan dan peruntian, tetapi belum mengalami pencucian dan perlakukan pengolahan lebih lanjut. Jenis cacat dan cara pengukuran yang mungkin terdapat saat pengujian adalah :
    1. Cacat Ringan, terdiri dari alur kulit, lubang gerek kecil, kulit mengelupas, retak kulit, kulit tergores, parut buaya, dan jamur pewarna. Pengukuran :
      1. Cacat rotan yang termasuk cacat ringan masing-masing diukur panjangnya
      2. Jumlahkan panjang masing-masing cacat yang telah diukur.
      3. Persentase cacat ditetapkan dengan membandingkan panjang cacat dengan panjang rotan kali 100 prosen.
    2. Cacat Berat, terdiri dari keriput, lapuk, kulit mengelupas, mata pecah, pecah, dan patah. Pengukuran :
      1. Cacat rotan yang termasuk cacat berat masing-masing diukur panjangnya
      2. Jumlahkan panjang masing-masing cacat yang telah diukur.
      3. Persentase cacat ditetapkan dengan membandingkan panjang cacat dengan panjang rotan kali 100 prosen.
    3. Panjang ruas, panjang ruas diukur dengan satuan Cm penuh.
    4. Pengukuran ketebalan ruas, dilakukan dengan menghitung perbedaan diameter ruas pangkal dan ruas ujung. ( khusus Rotan bulat Sega mutu utama)
    5. Kesilindrisan, dipersyaratkan untuk rotan kupasan. Perbedaan diameter terkecil dengan terbesar dalam prosentase.
    6. Kekerasan/elastisitas, diukur dengan membengkokan salah satu ruasnya. Jika dibengkokkan rotan tidak retak, maka dikatakan rotan elastis, dan jika dibengkokkan retak maka dikategorikan rotan setengan elastis, dan jika dibengkokkan patah maka rotan masuk kategori lunak.
    7. Kecerahan diukur secara okuler, rotan dikatakan cerah apabila rotan mampu memantulkan cahaya dan jika tidak memantulkan maka dikategorikan sebagai rotan tidak cerah.
  2. Rotan Bulat – Rotan bulat adalah batangan rotan yang telah dibersihkan dan sudah mengalami proses pencucian dan pengawetan dengan asap belerang ( Washed & Sulfurized ) yang disebut Rotan Bulat W & S. Jenis cacat dan cara pengukuran yang mungkin terdapat saat pengujian adalah :
    1. Cacat Ringan, terdiri dari salah warna, lubang gerek kecil, serat terlepas, parut buaya, kulit mengelupas, pecah kulit, bekas mata pecah, gosong, kulit tergores, cerah tidak merata.
    2. Cacat Berat, terdiri dari mata pecah, keriput, pecah ujung, pecah tengah, pecah buku, alur kulit busuk, lapuk, patah, kulit mengelupas (selain R. Umbulu) , bontos tidak siku. Cara pengukuran sama dengan dalam pengukuran Rotan Asalan.
  3. Rotan Iratan Kulit Rotan iratan kulit adalah hasil proses pengiratan rotan bagian kulit berbentuk pipih dengan tebal dan panjang tertentu. Jenis cacat dan cara pengukuran yang mungkin terdapat saat pengujian adalah :
    1. Bercak/ Noda Warna – Ukur panjang bagian cacat yang disebabkan oleh noda warna abu-abu, hitam, atau coklat. – Bandingkan jumlah panjang bagian cacat dari contoh uji dengan panjang contoh uji dikalikan 100 prosen.
    2. Saluran Penggerek – Ukur panjang bagian cacat yang disebabkan oleh serangga penggerek. – Bandingkan jumlah panjang bagian cacat dari contoh uji dengan panjang contoh uji dikalikan 100 persen
    3. Lubang serangan bubuk – Amati ada tidaknya lubang serangan bubuk.
    4. Panjang Ruas – Ukur panjang ruas dalam satuan Cm minimal 3 ruas. Rata-ratakan hasilnya.
  4. Rotan Iratan Hati Berbentuk Bulat Rotan iratan hati berbentuk bulat adalah hasil proses iratan rotan bagian hati berbentuk bulat dengan garis tengah dan panjang tertentu. Cara menilaian cacat pada rotan iratan hati berbentuk bulat sama dengan penilaian pada rotan iratan kulit.

Bogor, Nopember 2005

Daftar Pustaka

  1. Alex Koamesakh, Pengenalan Cacat Rotan Indonesia, 1988
  2. Alex Koamesakh, Pedoman Pelaksanaan Pengujian Rotan Indonesia, 1989

    Sumber : Karmidi

Mengenal Rotan

PENDAHULUAN

Definisi

Rotan berasal dari bahasa melayu yang berarti nama dari sekumpulan jenis tanaman famili Palmae yang tumbuh memanjat yang disebut Lepidocaryodidae (Yunani = mencakup ukuran buah)

Umum

Indonesia memenuhi 80 % kebutuhan rotan dunia (terbesar). Dari 80 % rotan dunia tersebut, 90 % berasal dari hutan alam dan 10 % dari hasil budidaya.Luas areal yang ditumbuhi rotan sebesar 13,2 juta hektar dari 143 juta hektar hutan Indonesia (Inventarisasi Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan) yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan Jawa.

Indonesia memiliki 8 marga rotan yang terdiri dari 306 jenis. Dari 306 jenis ini 51 jenis diantaranya sudah dimanfaatkan.

Di Asia Tenggara terdapat kurang lebih 516 jenis yang berasal dari 8 negara, antara lain :

  1. Calamus sebanyak 333 jenis
  2. Daemonorops sebanyak 122 jenis
  3. Korthalsia sebanyak 30 jenis
  4. Plectocomia sebanyak 10 jenis
  5. Plectocomiopsis sebanyak 10 jenis
  6. Calopspatha sebanyak 2 jenis
  7. Bejaudia sebanyak 1 jenis
  8. Ceratolobus sebanyak 6 jenis

Dua diantaranya merupakan genera yang bernilai tinggi yaitu Calamus dan Daemonorops. Dari seluruh kebutuhan rotan di pasaran terdapat 68 % rotan berdaimeter besar dan 32 % rotan berdiameter kecil.

Pemanenan

Rotan yang dipanen adalah rotan yang masak tebang dengan ciri-ciri bagian bawah batang sudah tidak tertutup lagi oleh daun kelopak atau selundang, sebagian daun sudah mengering, duri dan daun kelopak sudah rontok.

Pemanenan dilakukan dengan memotong pangkal rotan dengan pengaitnya setinggi 10 sampai 50 cm. Dengan pengait, rotan ditarik agar terlepas dari pohon penopangnya. Rotan dibersihkan dari daun dan duri serta dipotong-potong menurut ukuran yang diinginkan. Kemudian diangkut ke tempat pengumpulan sementara atau ke tempat penumpukkan rotan dengan memikul, menggunakan perahu/sampan atau menggunakan bantuan tenaga kuda.

Dalam pemanenan biasanya terjadi adanya limbah, besarnya limbah pada saat pemanenan rotan adalah berbeda pada setiap tipe kegiatan pemanenan, yaitu :

  1. Pemanenan secara tradisional limbah sebesar 12,6 – 28,5 %
  2. Pemanenan dengan bantuan tirfor dan lir limbah sebesar 4,1 – 11,1 %
  3. Pada saat pengangkutan besarnya limbah sebesar 5 – 10 %.

PENGENALAN JENIS ROTAN

A. Sifat Dasar Rotan

1. Sifat Anatomi

Struktur anatomi batang rotan yang berhubungan dengan keawetan dan kekuatan antara lain besarnya ukuran pori dan tebalnya dinding sel serabut. Sel serabut merupakan komponen struktural yang memberikan kekuatan pada rotan. Dinding sel yang tebal membuat rotan menjadi lebih kuras dan lebih berat.

2. Sifat Kimia

Secara umum, komposisi kimia rotan terdiri dari Holoselulosa (71 – 76 %), Selulosa (39 – 56 %), Lignin (18 – 27 %) dan Silika (0,54 – 8 %).

Holoselulosa merupakan Selulosa yang merupakan molekul gula linear berantai panjang.

Selulosa berfungsi memberikan kekuatan tarik pada batang karena adanya ikatan kovalen yang kuat dalam cincin piranosa dan antar unit gula penyusun selulosa. Makin tinggi selulosa makin tinggi juga keteguhan lenturnya.

Lignin adalah suatu polimer yang kompleks dengan berat molekul yang tinggi. Lignin berfungsi memberikan kekuatan pada batang. Makin tinggi lignin makin tinggi juga kekuatan rotan.

Tanin dikategorikan sebagai “true artrigen” yang menimbulkan rasa sepat pada rotan. Tanin berfungsi sebagai penangkal pemangsa. Hasil purifikasi tanin digunakan sebagai bahan anti rayap dan jamur.

Pati (karbohidrat), terkandung 70 % dan berat basah. Makin tinggi kadar pati makin rentan terhadap serangan bubuk rotan kering.

3. Sifat Fisik

Sifat fisik dari rotan adalah sifat-sifat yang dapat diamati secara kasat mata. Sifat fisik rotan dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut :

a. Warna

  • Warna batang rotan selalu bervariasi tidak hanya pada jenisnya saja tetapi pada jenis yang sama juga.

Rotan yang baik dan berkualitas adalah batang rotan yang berwarna hijau daun pada saat masih hidup, hal ini menandai bahwa rotan tersebut sudah masak tebang. Batang rotan yang berwarna hijau daun akan berubah menjadi putih setelah selaput silikanya terkelupas dan akan makin putih setelah ada proses pemutihan (bleaching).

  • Yang dimaksud dengan warna rotan adalah warna setelah dicuci atau dirunti atau diasapi dengan belerang dan belum mendapat perlakuan pemutihan.

Pada umunya rotan berwarna kuning langsat atau kuning keputih-putihan kecuali beberapa jenis seperti Rotan Semambu (coklat kuning) dan Rotan Buyung (kecoklat-coklatan).

  • Selain warna kulit, perlu diperhatikan juga warna hatinya. Seperti Rotan Umbulu (putih bersih) dan Rotan Tohiti (keabu-abuan).

b. Kilap

Kilap dan suram dapat memberikan ciri yang khusus dari suatu jenis rotan serta dapat menambah keindahan dari rotan tersebut. Kilap rotan tergantung pada struktur anatomi, kandungan zat ekstraktif, sudut datangnya sinar, kandungan air, lemak dan minyak. Makin tinggi kadar air maka makin suram, makin tinggi lemak dan minyak maka makin suram.

c. Bau dan Rasa

Menggambarkan kesegaran dari rotan tersebut, pada rotan segar bau dan rasa tidak mencolok.

d. Berat

Berat rotan tergantung pada kandungan air, zat ekstraktif dan zat infiltrasi dalam rotan.
Kadar air dapat dikurangi dengan proses pengeringan yang mampu mengurangi dari 40 – 60 % menjadi titik jenuh serat (15 – 30 %).

e. Kekerasan/Elastisitas

Menunjukkan bahwa batang rotan mampu menahan tekanan/gaya tertentu. Sifat ini dipengaruhi oleh kadar air, umur saat dipungut, posisi batang yang digunakan (pangkal, tengah, ujung).

f. Diameter

Diameter rotan dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :

  • Berdiameter kecil, rotan yang berdiameter kurang dari 18 mm, seperti Rotan Sega, Irit/Jahab, Jermasin, Pulut Putih, Pulut Merah, Lilin, Lacak, Manau Padi, Datuk Merah, Sega Air, Ronti, Sabut, Batu, Tapah, Paku dan Pandan Wangi.
  • Berdiameter besar, rotan yang berdiameter l8 mm atau lebih, seperti Rotan Manau, Batang, Mantang, Cucor, Semambu, Wilatung, Dahan, Tohiti, Seel, Balukbuk, Bidai, Buwai, Bambu, Kalapa, Tiga Juru, Minong, Umbulu, Telang dan Lambang.

g. Kesilindrisan

Kesilindrisan dapat diperoleh dengan perbandingan antara diameter rata-rata pangkal ruas dengan diameter rata-rata ujung ruas.

h. Ruas

Ruas adalah bagian rotan yang terletak diantara dua buku. Panjangnya ruas dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu :

  • Ruas Pendek
  • Ruas Sedang
  • Ruas Panjang

i. Buku

Buku rotan dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu :

  • Buku Menonjol
  • Buku Agak Menonjol
  • Buku Tidak Menonjol

Arah buku juga diamati, yaitu :

  • Menceng
  • Agak Menceng

 

j. Selaput Silika

Hampir semua jenis rotan memiliki lapisan silika yang membalut kulit luarnya, ada yang spesifik dan tebal seperti Rotan Sega, Jermasin, Irit/Jahab, Buyung. Lapisan silika menampilkan kilap, pekerjaan mengeluarkan lapisan silika disebut “Runti”.

k. Parut Buaya

Parut buaya terlihat seolah-olah bekas parut yang menggores kulit kearah transversal. Selain parut buaya ada pula sifat fisik berupa getah. Rotan yang mengandung getah antara lain Rotan Getah/Sepat, Lacak, Jernang, dan Jermasin.

4. Sifat Struktur

Sifat struktur dari rotan belum banyak diketahui karena belum ada penelitian khusus terhadap sifat-sifat struktur tersebut. Yang dapat digunakan sebagai petunjuk identifikasi adalah pori. Pori rotan sangat sederhana dan dibedakan dalam beberapa bagian antara lain:

  • Ukuran
  • Bentuk
  • Susunan

5. Sifat Mekanis

Sifat mekanis rotan berkaitan dengan kemampuan menahan gaya dari luar, antara lain :

  1. Keteguhan Tekan, Patah, Kekakuan dan Keuletan.
    • Keteguhan Tekan adalah ketahanan terhadap kekuatan yang cenderung menghancurkan.
    • Keteguhan Patah adalah ketahanan terhadap kekuatan yang akan mematahkan.
    • Kekakuan adalah kemampuan untuk mempertahankan bentuk bila dilengkungkan.
    • Keuletan adalah kemampuan rotan untuk menahan kekuatan yang terjadi secara tiba-tiba dalam waktu yang singkat.
  2. Keteguhan Tarik
    • Keteguhan tarik adalah kemampuan rotan untuk menahan gaya yang cenderung memisahkan bagian-bagian dari rotan.
  3. Keteguhan Geser
    • Keteguhan geser adalah ketahanan terhadap gaya yang menggeser rotan.
  4. Keteguhan Belah
    • Keteguhan belah adalah ketahanan terhadap gaya yang membelah rotan.

 

6. Keawetan dan Keterawetan

  • Keawetan adalah daya tahan sesuatu jenis rotan terhadap berbagai faktor perusak rotan, tetapi biasanya yang dimaksud adalah daya tahan terhadap faktor biologis yang disebabkan oleh organisme perusak rotan yaitu jamur dan serangga.
  • Keterawetan adalah mudah atau tidaknya jenis rotan tersebut ditembus bahan pengawet jika diawetkan dengan proses tertentu sehingga rotan yang sudah diawetkan dengan suatu bahan kimia (pengawet) tahan terhadap serangan organisme perusak sehingga rotan tersebut awet.

Sumber : Karmidi

Rotan di Indonesia

Klasifikasi rotan :

  • Divisio : Spermatophyta
  • Sub Divisio : Angiospermae
  • Kelas : Monocotyledonae
  • Ordo : Spacaflorae
  • Famili/Suku : Palmae

Ada 14 Suku antara lain :

  1. Calamus (370 jenis)
  2. Daemonorops (115 jenis)
  3. Korthalsia (31 jenis)
  4. Plectocomia (14 jenis)
  5. Ceratolobus (6 jenis)
  6. Plectocomiopsis (5 jenis)
  7. Myrialepis (2 jenis)
  8. Calopspatha (2 jenis)
  9. Bejaudia (1 jenis)
  10. Cornera
  11. Schizospatha
  12. Eremospatha
  13. Ancitrophylum
  14. Oncocalamus

Di Indonesia terdapat 8 suku dengan jumlah jenisnya + 306 jenis, antara lain :

  1. Calamus
  2. Daemonorops
  3. Khorthalsia
  4. Plectocomia
  5. Ceratolobus
  6. Plectocomiopsis
  7. Myrialepis
  8. Calopspatha

Dengan penyebaran :

No Daerah Jumlah Jenis
1 Kalimantan 137
2 Sumatera 91
3 Sulawesi 36
4 Jawa 19
5 Irian 48
6 Maluku 11
7 Timor 1
8 Sumbawa 1

Jenis-jenis Rotan yang ada di Indonesia :

  1. Rotan Jernang Besar (Daemonorops draco Blume)
    • Nama Daerah : Jernang Besar, Jernang, Beruang (Sumatera Selatan), Getik Badag (Jawa Barat), Getik Warak (Jawa Tengah).
    • Penyebaran : Semenanjung Malaya, Sumatera, dataran rendah pada 300 mdpl. – Batang : Membentuk rumpun, diameter 12 mm, panjang ruas 18 – 35 cm, warna coklat kekuningan dan mengkilat, hati berwarna putih
    • Daun : Majemuk menyirip, anak daun berbentuk lanset seperti pita, bagian atas anak daun dan tulang daun tumbuh duri halus, duduk daun berhadapan-hadapan.
    • Bunga : Malai tersusun dalam tandan, kuncup diselubungi selundang yang berduri
    • Buah : Bulat, coklat merah, berbiji tunggal
    • Manfaat : Batang untuk bahan baku furniture, getah buah untuk pewarna dan farmasi (rotan jernang)
  2. Rotan Dahanan (Korthalsia flagellaris Miq)
    • Nama Daerah : Rotan Dahanan (Sumatera, Kalimantan)
    • Penyebaran : Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan. Pada rawa-rawa 50 mdpl.
    • Batang : Rumpun sampai dengan 20 batang, diameter 15 – 30 mm, panjang ruas 20 – 50 cm, warna coklat sebam dan kasar, keras agak sukar dibelah, panjang batang sampai dengan 50 meter.
    • Daun : Majemuk menyirip, anak daun bundar telur lanset sungsang, ujungnya bergerigi, bagian bawah anak dan tulang daun tumbuh duri halus, duduk daun berhadap-hadapan, warna coklat kekuningan.
    • Bunga : Malai tersusun dalam tandan, kuncup diselubungi selundang berduri – Buah : Bulat, coklat kemerahan, berbiji tunggal
    • Manfaat : Batang sebagai bahan baku furniture.
  3. Rotan Semambu (Calamus scipionum Lour)
    • Nama Daerah : Sumambu (Batak Karo), Simambo (Batak Toba), Simambu (Minangkabau), Semambu (Lampung), Semabu (Kalimantan Barat), Tantuwo (Dayak Kalimantan Tengah).
    • Penyebaran : Semenanjung Malaya, Sumatera Kalimantan. Pada 1000 mdpl.
    • Batang : Membentuk rumpun, diameter 30 mm, panjang ruas 20 – 30 cm, warna coklat kemerahan kalau kering, panjang batang sampai dengan 20 m, kasar dan ulet.
    • Daun : Majemuk menyirip dengan panjang 1 m, anak daun terdapat sulur panjat, pelepah dan tangkai daun berduri, duduk daun berhadapan, warna coklat kekuningan.
    • Bunga : ada 2 macam, bunga subur dan bunga mandul, bunga subur berbentuk cemeti dan berduri malai panjang.
    • Buah : Lonjong ukuran panjang 1,5 cm, warna coklat kemerahan, berbiji tunggal.
    • Manfaat : Batang untuk tongkat pendaki gunung, tongkat ski, rangka mebel.
  4. Rotan Jermasin (Calamus ecojolis Becc.)
    • Nama Daerah : Jermasin (Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera).
    • Penyebaran : Sulawesi, Sumatera, Kalimantan. Pada 10 – 100 mdpl, tanah berbatu, berpasir dan punggung gunung. – Batang : Rumpun 30 – 50 batang, diameter 6 – 10 mm, panjang ruas 15 – 40 cm, warna kekuningan kalau kering mengkilat, panjang batang sampai dengan 50 m. Kuat dan ulet.
    • Daun : Majemuk menyirip dengan panjang 1 m, anak daun bundar telur lanset, pada ujung terdapat sulur panjat, pelepah dan tangkai daun berduri, duduk daun berhadapan, warna hijau tua.
    • Buah : Lonjong sampai dengan 1,5 cm, coklat kemerahan, berbiji tunggal.
    • Manfaat : Batang sebagai bahan furniture.
  5. Rotan Buyung (Calamus optimus Becc.)
    • Nama Daerah : Buyung, Selutup, Sega Bulu (Kalimantan).
    • Penyebaran : Sulawesi, Kalimantan, Sumatera. Pinggiran sungai pada 100 – 300 mdpl. Pada tanah berbatu, pasir dan punggung gunung.
    • Batang : rumpun sampai dengan 60 batang, diameter 12 – 24 mm, panjang ruas 20 -30 cm, hijau kekuningan, bila kering mengkilat, panjang sampai dengan 40 m, kuat dan ulet.
    • Daun : Majemuk menyirip panjang 1 m, anak daun bundar telur lanset pada ujung daun terdapat sulur panjat, pelepah dan tangkai daun berduri, duduk daun berhadapan, hijau tua.
    • Buah : lonjong 1,5 cm, coklat kemerahan, berbiji tunggal.
    • Manfaat : Batang sebagai bahan furniture.
  6. Rotan Mantang (Calamus ornatus Blume)
    • Nama Daerah : Mantang (Jambi), Rotan Howe Kasur, Seuti (Jawa Barat), Manau/Salian (Kalimantan).
    • Penyebaran : Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Pinggiran sungai pada 100 – 300 mdpl, tanah berbatu, pasir dan punggung gunung.
    • Batang : Soliter, diameter 15 – 40 mm, panjang ruas 16 – 20 cm, hijau gelap, bila kering kekuningan mengkilat, kuat dan ulet.
    • Daun : Majemuk menyirip panjang 4 m, anak daun bundar telur lanset dan pada ujung daun ada sulur panjat, pelepah dan tangkai berduri tajam, warna hitam, duduk daun berhadapan hijau tua.
    • Buah : Bulat telur sampai dengan 3 cm, coklat kemerahan, berbiji tunggal.
    • Manfaat : Batang sebagai bahan furniture.
  7. Rotan Dandan (Calamus schitolantus Blume)
    • Nama Daerah : Rotan Dandan
    • Penyebaran : Sumatera, Kalimantan. Ketinggian sedang sampai tinggi , tidak terpengaruh pasang surut.
    • Batang : Soliter, diameter 3 – 6 mm, panjang ruas 15 cm, kuning mengkilat agak coklat, kuat dan ulet.
    • Daun : Majemuk menyirip 1 m, anak daun bundar telur lanset dan pada ujung daun ada sulur panjat, pelepah dan tangkai daun berduri tajam, warna hijau tua.
    • Buah : Bulat telur, coklat kemerahan, berbiji tunggal.
    • Manfaat : Batang sebagai tali pengikat, alat penangkap ikan, anyaman.
  8. Rotan Inun (Calamus scabridulus Becc)
    • Nama Daerah : Rotan Inun
    • Penyebaran : Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Pada 50 – 200 mdpl. Tidak terpengaruh pasang surut
    • Batang : berkelompok dan merambat, diameter 6 mm, panjang ruas 28 – 40 cm. Kekuningan agak coklat, kuat dan ulet.
    • Daun : Majemuk menyirip panjang 1 m, anak daun bundar telur lanset pada ujung daun terdapat suluh panjat, duduk daun berhadapan, hijau tua.
    • Buah : Bulat telur, coklat kemerahan dan berbiji tunggal, bunga malai sampai dengan 1,5 cm.
    • Manfaat : Batang digunakan sebagai tali pengikat, anyaman.
  9. Rotan Batang (Daemonorops robustus Warb)
    • Nama Daerah : Rotan Batang
    • Penyebaran : Sulawesi. Pada 10 – 900 mdpl
    • Batang : Berumpun sampai dengan 90 batang, warna hijau tua, bila kering warna abu-abu dan kemerahan, diameter 25 – 60 mm, panjang ruas 25 – 60 cm.
    • Manfaat : Sebagai rangka mebel.
  10. Rotan Manau (Calamus manan Miq)
    • Nama Daerah : Rotan Manau
    • Penyebaran : Sumatera dan Kalimantan pada 50 – 600 mdpl, beriklim basah, berpasir, tidak terpengaruh pasang surut.
    • Batang : Soliter diameter 25 – 60 mm panjang ruas sampai dengan 35 cm, warna hijau tua, bila kering kekuning-kuningan, kuat dan ulet, panjang sampai dengan 100 m.
    • Daun : Majemuk menyirip panjang 4 m, anak daun bundar telur lanset, ujung daun ada sulur panjat, duduk daun berhadapan warna hijau tua.
    • Buah/Bunga : Tandan, panjang buah sampai dengan 3 cm berbentuk lonjong.
    • Manfaat : Batang sebagai bahan kerangka mebel.
  11. Rotan Irit (Calamus trachycoleus Becc)
    • Nama Daerah : Rotan Irit
    • Penyebaran : Kalimantan. Endemik di Sungai Barito dan Kahayan, rawa tergenang pada 0 – 15 mdpl, beriklim basah.
    • Batang : Berumpun sampai dengan 100 batang, diameter 4 – 11 mm, panjang ruas 10 – 15 cm, warna hijau tua dan bila kering kekuningan/kuning telur, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 50 m.
    • Daun : Majemuk menyirip 1,5 m, anak daun bundar telur lanset pada ujung daun terdapat sulur panjat, duduk daun berhadapan, hijau tua.
    • Buah/Bunga : Dalam malai 1,5 m, panjang sampai dengan 1,5 cm berbentuk lonjong.
    • Manfaat : Anyaman, lampit, tirai, kursi antik.
  12. Rotan Taman (Calamus caesius Blume)
    • Nama Daerah : Rotan Taman (Kalimantan), Sego (Aceh), Segeu (Gayo), Sego (Sumatera).
    • Penyebaran : Pulau Kalimantan dan Sumatera, dataran rendah kering berbukit – Batang : Rumpun sampai dengan 100 batang diameter 4 – 11 mm, panjang ruas 15 – 30 cm warna hijau tua bila kering kekuningan/kuning telur mengkilap, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 50 m.
    • Daun : Majemuk menyirip 50 – 125 cm, anak daun bundar telur lanset dan di ujung daun ada sulur panjat, duduk daun berhadapan berwarna hijau tua.
    • Buah/Bunga : Malai 1,5 m, panjang buah sampai dengan 1,5 cm berbentuk lonjong.
    • Manfaat : Batang sebagai bahan baku anyaman, lampit, tirai, kursi antik.
  13. Rotan Lilin (Calamus javensis Blume)
    • Nama Daerah : Rotan Lilin
    • Penyebaran : Pulau Kalimantan dan Sumatera, dataran rendah sampai pegunungan pada 1200 mdpl, beriklim basah.
    • Batang : Berumpun, diameter 2 – 6 mm, panjang ruas 30 cm, warna kekuningan pada waktu muda dan bila kering coklat kekuningan, kuat dan ulet, panjang batang 50 m.
    • Daun : Majemuk menyirip dengan panjang 0,5 m, anak daun bundar telur lanset dan pada ujung daun ada sulur panjat, duduk daun berhadapan warna hijau tua. – Buah/Bunga : Malai 1 m, panjang buah 1,5 cm lonjong.
    • Manfaat : Batang sebagai bahan baku anyaman, keranjang, tali pengikat.
  14. Rotan Korod (Calamus heteroides Bl)
    • Nama Daerah : Rotan Lilin
    • Penyebaran : Jawa Barat, dataran rendah sampai pegunungan pada 200 – 1500 mdpl, beriklim basah.
    • Batang : Rumpun sampai dengan 5 batang, diameter 25 mm, panjang ruas 16 – 35 cm warna hijau tua dan bila kering kekuningan/kuning telur, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 40 m.
    • Daun : Majemuk menyirip panjang 0,5 m, anak daun bundar telur lanset dan pada ujung daun ada sulur panjat, duduk daun berhadapan.
    • Manfaat : Batang sebagai bahan baku anyaman, keranjang dan tali pengikat.
  15. Rotan Balukbuk (Calamus burkianus Becc)
    • Nama Daerah : Rotan Balukbuk
    • Penyebaran : Jawa Barat, dataran rendah sampai dengan pegunungan pada 50 – 800 mdpl, beriklim basah.
    • Batang : Rumpun sampai dengan 10 batang, diameter 25 mm, panjang ruas 50 cm, warna kekuningan muda bila kering coklat kekuningan, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 50 m.
    • Daun : Majemuk menyirip panjang 3 m, anak daun bundar telur lanset, pada ujung daun terdapat sulur panjat, warna hijau tua.
    • Buah/Bunga : Malai 1 m panjang buah sampai dengan 2,5 cm lonjong.
    • Manfaat : Batang sebagai bahan baku anyaman, keranjang dan tali pengikat.
  16. Rotan Pelah (Daemonorops rubra Blume)
    • Nama Daerah : Rotan Pelah
    • Penyebaran : Pulau Sumatera dan Jawa, dataran rendah sampai dengan pegunungan pada 100 – 800 mdpl, beriklim basah.
    • Batang : Rumpun 2 – 5 batang, diameter 2 – 6 mm, panjang ruas15 – 35 cm, warna kekuningan pada waktu muda dan bila kering coklat kekuningan, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 40 m.
    • Daun : Majemuk menyirip panjang 1,5 m, anak daun bundar telur lanset, terdapat sulur panjat pada ujung daun duduk daun berhadapan warna hijau tua.
    • Manfaat : Batang sebagai bahan baku anyaman, keranjang dan tali pengikat.
  17. Rotan Kirtung (Myrialepis scortechini Becc).
    • Nama Daerah : Rotan Kirtung
    • Penyebaran : Sumatera, dataran rendah sampai dengan pegunungan pada 1000 mdpl, beriklim basah.
    • Batang : berumpun dengan diameter 40 mm, panjang ruas 30 cm warna kekuningan bila kering coklat kekuningan, kuat dan ulet, panjang batang sampai 40 m.
    • Daun : Majemuk menyirip panjang 3 m, anak daun bundar telur lanset, pada ujung daun terdapat sulur panjat, duduk daun berhadapan, hijau tua.
    • Buah/Bunga : Dalam malai 1 m, panjang buah sampai dengan 3 cm lonjong – Manfaat : Batang sebagai kerangka kerajinan.
  18. Rotan Pulut Merah (Calamus sp)
    • Nama Daerah : Rotan Pulut Merah
    • Penyebaran : Pulau Kalimantan terutama Kalimantan Timur, dataran rendah pada tanah alluvial di pinggiran sungai
    • Batang : Berumpun sampai 50 batang, diameter 2 – 5 mm panjang ruas 40 cm warna abu-abu kemerahan, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 30 m.
    • Daun : Majemuk menyirip panjang, anak daun bundar telur lanset, ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan hijau tua
    • Buah/Bunga : Dalam malai
    • Manfaat : Batang sebagai bahan baku kerajinan kualitas tinggi.
  19. Rotan Getah (Daemonorops angustifolia Mart)
    • Nama Daerah : Rotan Getah
    • Penyebaran : Pulau Kalimantan dan Sumatera, dataran rendah beriklim basah
    • Batang : Berumpun, diameter 25 mm, panjang ruas 35 cm, warna kekuningan ketika masih muda dan bila kering warnanya coklat kekuningan, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 40 m
    • Daun : Majemuk menyirip panjang 3 m, anak daun bulat telur lanset, ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan, hijau tua
    • Manfaat : Sebagai bahan baku kerangka kerajinan.
  20. Rotan Umbul (Calamus symphysipus Mart)
    • Nama Daerah : Rota Umbul
    • Penyebaran : Pulau Sulawesi, dataran rendah sampai pegunungan pada 300 – 600 mdpl, beriklim basah
    • Batang : Soliter, diameter 15 – 30 mm, panjang ruas 20 – 30 cm, hijau bergaris kekuningan mengkilap, kuat dan ulet
    • Daun : Majemuk menyirip, anak daun bundar telur lanset, ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan, hijau tua
    • Manfaat : sebagai bahan kerangka kerajinan.
  21. Rotan Sego Ayer (Calamus axillaris Becc)
    • Nama Daerah : Rotan Ayer
    • Penyebaran : Pulau Sumatera dan Kalimantan, dataran rendah, beriklim basah.
    • Batang : Berumpun, diameter 13 mm, panjang ruas 15 cm, warna muda kekuningan bila kering coklat kekuningan, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 10 m. – Manfaat : sebagai bahan anyaman.
  22. Rotan Saloso (Calamus sp)
    • Penyebaran : Sulawesi Utara, dataran rendah beriklim basah
    • Batang : Berumpun dengan diameter 8 – 20 mm, panjang ruas 25 – 40 cm, warna hijau bila kering kuning, kuat dan ulet
    • Daun : Majemuk menyirip 3 m, anak daun bundar telur lanset, ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan, hijau tua, ujung daun kemerahan
    • Manfaat : Sebagai bahan anyaman dan tali pengikat
  23. Rotan Manau Riang (Calamus oxeleyanus T et B)
    • Penyebaran : Pulau Sumatera, dataran rendah beriklim basah
    • Batang : Berumpun dengan diameter 12 mm, panjang ruas 12 cm warna kekuningan
    • Daun : Majemuk menyirip panjang 3 m, anak daun bundar telur lanset, ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan, hijau tua
  24. Rotan Tohiti (Calamus inops Becc)
    • Nama Daerah : Rotan Tohiti
    • Penyebaran : Pulau Sulawesi, dataran rendah sampai pegunungan pada 300 – 600 mdpl beriklim basah
    • Batang : Soliter dengan diameter 15 mm, panjang ruas 20 – 35 cm, warna kuning mengkilap, kuat dan keras tidak mudah dibelah
    • Daun : Majemuk menyirip, anak daun bundar telur lanset dan ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan, hijau tua.
    • Manfaat : Kerangka kerajinan, mebel, kerangka beton, sandaran kapal.
  25. Rotan Seel (Daemonorops melanochaetes Blume)
    • Penyebaran : Pulau Sumatera dan Jawa, dataran rendah sampai pegunungan pada 10 – 500 mdpl beriklim basah.
    • Batang : Berumpun sampai 5 batang denagn diameter 22 – 25 mm, panjang ruas 22 – 28 cm hijau kekuningan bila kering warnanya kuning telur, kuat dan ulet
    • Manfaat : Tali pengikat, umbut untuk sayur.
  26. Rotan Loluo (Calamus sp)
    • Penyebaran : Pulau Sulawesi, dataran rendah sampai pegunungan pada 1000 – 2000 mdpl, punggung bukit dan lereng bukit
    • Batang : Soliter dengan diameter 25 – 40 mm, panjang ruas 25 – 40 cm, warna kemerahan bila kering kuning mengkilap, kuat dan ulet.
    • Daun : Majemuk menyirip, anak daun bundar telur lanset, ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan, hijau tua
    • Manfaat : Kerangka kerajinan
  27. Rotan Udang Semut (Kothalsia scaphigera Mart)
    • Nama Daerah : Rotan Pitet (Kalimantan Barat), Lalun (Dayak), Samut (Jambi)
    • Penyebaran : Sumatera dan Kalimantan, daerah yang tergenang air, tepi sungai berawa
    • Batang : Soliter dengan diameter kurang dari 4 mm, panjang ruas 10 – 20 cm, warna coklat kusam, bergaris membujur, inti berwarna kuning gading
    • Daun : Majemuk menyirip, anak daun belah ketupat agak lancip, duduk anak daun berselang seling, jumlah anak daun pada salah satu bagian 3 – 7 anak daun, panjang 20 cm dan lebar 10 cm
    • Manfaat : Bahan pengikat yang cukup kuat dan mudah dibelah dalam kondisi segar.
  28. Rotan Dahan (Korthalsia rigida Blume)
    • Nama Daerah : Rotan Belandang/Meladang (Bangka Belitung)
    • Penyebaran : Belitung, dataran rendah sampai pegunungan pada 1100 mdpl.
    • Batang : Soliter dengan diameter 20 – 25 mm, panjang ruas 20 cm, panjang batang kurang dari 20 m, bentuk tidak rata, buku menonjol berwarna coklat kusam inti berwarna coklat muda
    • Daun : Majemuk menyirip, anak daun belah ketupat menempel selang-seling panjang 1,5 m termasuk tangkai daun 10 cm dan sulur panjat 75 cm
    • Manfaat : Bahan keranjang.
  29. Rotan Meiya (Korthalsia echinometra Becc)
    • Nama Daerah : Meiya (Kalimantan), Rotan Uwi Hurang (Palembang), Rotan Siu (Kubu/Jambi)
    • Penyebaran : Kalimantan dan Sumatera, tanah berawa-rawa – Batang : Soliter dengan diameter 30 mm, panjang ruas 20 – 25 cm, panjang batang sampai dengan kurang dari 35 m, bentuk rata, warna coklat kusam beralur memanjang, inti berwarna coklat muda
    • Daun : Majemuk menyirip, warna anak daun bagian atas hijau gelap dan bagian bawah abu-abu keputih-putihan, panjang daun 1,8 m termasuk panjang sulur panjat 70 cm.
    • Buah : Bulat, panjang 2,5 cm dan lebar 1,5 cm, biji berukuran 1,5 cm lebar 1 cm. 3
  30. Rotan Lowa (Plepcomiopsis geminiflorus Becc)
    • Nama Daerah : Rotan Lowa, Huwi Pupuran (Lampung)
    • Penyebaran : Belitung, Kalimantan, Sumatera dan Malaysia, kawasan rawa gambut
    • Batang : Soliter dengan diameter 30 mm, panjang ruas 20 – 25 mm, panjang batang kurang dari 35 m, bentuk rata, berwarna coklat kusam beralur memanjang, inti berwarna coklat muda.
    • Daun : Majemuk menyirip, warna anak daun bagian atas hijau gelap dan bagian bawah abu-abu keputih-putihan, panjang daun mencapai 1,8 m termasuk panjang sulur 70 cm – Buah : Berbentuk bulat dengan panjang 2,5 cm dan lebar 1,5 cm, biji berukuran 1,5 cm dan lebar 1 cm.
  31. Rotan Sabut (Daemonorops hystrix (Griff) Mart)
    • Nama Daerah : Rotan Uwi Kalang Sintang (Palembang), Rotan Tahi Landak (Semenanjung Malaka) – Penyebaran : Pulau Sumatera
    • Batang : Berumpun kurang dari atau sama dengan 6 batang dengan diameter 8 – 15 mm, buku menonjol, panjang ruas 10 – 15 cm, kasar, agak mengkilat, sedikit beralur, kuning kecoklatan, panjang batang sampai dengan 25 m.
    • Daun : Panjang 2,5 m tangkai daun + 40 cm berduri 5 cm, anak daun lanset panjang 35 cm lebar 1,3 cm. Anak daun pada salahsatu tangkai 60 buah
  32. Rotan Pakak (Daemonorops periacantha Miq)
    • Nama Daerah : Uwi Landak (Palembang) Huwi Kapur Kapui (Lampung), Rotan Pakak (Belitung)
    • Penyebaran : Sumatera, Kalimantan pada 200 mdpl
    • Batang : Berumpun antara 2 – 3 batang, panjang batang 20 m dengan diameter 30 mm atau lebih (dengan pelepah), batang bersih berdiameter 10 – 17 mm, panjang ruas kurang dari 20 cm
    • Daun : Menyirip majemuk, pelapah berduri rapat berwarna hitam kecoklatan sepanjang 6 cm, bagian bawah tangkai tulang daun berduri, anak daun lanset jumlah anak daun sampai 30 buah, panjang daun 40 cm lebar 3 cm.
  33. Rotan Uwi Koroh (Daemonorops geniculata (Griff) Mart)
    • Nama Daerah : Rotan Uwi Koroh (Palembang)
    • Penyebaran : Sumatera Selatan pada 1000 mdpl.
    • Batang : Berumpun 5 batang, panjang batang 15 m dengan diameter 1,5 cm dalam keadaan bersih dari pelepah 30 mm, panjang ruas 6 – 10 cm, buku menonjol warna coklat kekuningan, inti berwarna kuning gading, keras dan mudah dibelah
    • Daun : Menyirip majemuk 3 m, tangkai daun 1 m atau lebih, ada sulur panjat pada ujung daun sepanjang 40 – 100 cm, anak daun lanset, duduk daun berhadapan, hijau gelap panjang 30 cm lebar 2 cm, pelepah dan diselimuti duri yang berbaris sejajar mengelilingi pelepah
    • Manfaat : Untuk tongkat berjalan, mebel, keranjang.
  34. Rotan Duduk (Daemonorops longipes (Griff) Mart)
    • Nama Daerah : Rotan Rundang, Tanah (Bangka), Rotan Mentulak (Belitung), Rotan Huwi Tikus (Lampung)
    • Penyebaran : Hutan Payau di Sumatera dan Kalimantan
    • Batang : Berumpun 5 – 10 batang, panjang batang 10 m diameter dengan pelepah 5 cm, bersih tanpa pelepah 15 – 35 mm, panjang ruas 20 cm, warna suram, inti berwarna coklat sebam dan lunak
    • Daun : Menyirip majemuk panjang 4,5 m atau lebih, tangkai daun 50 cm ada sulur panjat di ujung daun 125 cm, anak daun lanset selang-seling, jumlah anak daun pada satu bagian sampai 50 buah.
    • Manfaat : Bahan perabotan rotan
  35. Rotan Ulur (Calamus ulur Becc)
    • Penyebaran : Sumatera Bagian Selatan
    • Batang : Berumpun 6 – 8 batang panjang batang sampai dengan 40 m dengan diameter 25 mm dengan pelepah, bila bersih 10 mm, panjang ruas 20 cm berwarna coklat kekuningan, mengkilat, gelang warna gelap pada buku, inti berwarna kuning sebam, lemah, lentur, mudah dibelah, kuat dan ulet
    • Daun : Menyirip majemuk dengan panjang 1,75 m, sulur panjat 1 m,tangkai daun 5 cm, anak daun lanset berhadapan, panjang anak daun 35 cm lebar 2,5 cm.
    • Manfaat : Sebagai bahan keranjang batu bara (Sumatera)
  36. Rotan Manau Tikus (Calamus tumindus Furtado)
    • Penyebaran : Sumatera Barat, Semenanjung Malaysia
    • Batang : Soliter, panjang sampai dengan 60 m dengan diameter pangkal 1,2 cm dan ujung 2,5 cm panjang ruas 12 – 30 cm
    • Daun : Menyirip majemuk panjang 4 m, sulur panjat 1,5 m, anak daun lanset panjang 40 cm dan lebar 6 cm duduk berhadapan 25 pasang, pelepah berduri panjang tajam sampai dengan 4 cm dan lebar 7 cm
    • Manfaat : Sebagai bahan pembuatan mebel rotan.
  37. Rotan Manau Padi (Calamus marginatus Mart)
    • Nama Daerah : Rotan Manau Padi (Bangka), Rotan Besi (Palembang), Rotan Pehekan (Kalimantan Selatan)
    • Penyebaran : Sumatera dan Kalimantan
    • Batang : Soliter pada dataran rendah dengan panjang sampai 40 m dengan diameter 10 – 15 mm, panjang ruas 12 – 20 cm, kuning mengkilat, gelang-gelang hitam melingkari buku, inti berwarna kuning gading, padat, keras, kokoh
    • Manfaat : Mebel dengan kualitas yang tinggi
  38. Rotan Tunggal (Calamus laevigatus Mart)
    1. Penyebaran : Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malayadan Singapura pada 800 mdpl
    2. Batang : Soliter dengan panjang batang mencapai 30 m dengan diameter 2 cm kotor, bila bersih tanpa pelepah 8 – 10 mm, panjang ruas 25 cm.
    3. Daun : Berwarna hijau gelap (segar) bila kering hijau kecoklatan, menyirip majemuk, anak daun lanset.
  39. Rotan Dago Kancil (Calamus conirostris Becc)
    • Nama Daerah : Rotan Dalun Buku (Palembang)
    • Penyebaran : Sumatera dan Kalimantan, pinggiran sungai yang tidak tergenang air
    • Batang : Berumpun 3 – 6 batang, panjang batang 35 m dengan diameter 10 mm, panjang ruas 35 cm atau lebih, berwarna kuning sebam mengkilat, inti berwarna coklat muda, lemah, lentur, lunak, sukar dibelah, peralihan buku tidak rata.
    • Daun : Pelepah daun berduri panjang dan tajam, daun menyirip majemuk 2,5 m, tangkai daun 50 cm ada sulur daun, tangkai daun berduri pendek, sulur panjat 75 cm, anak daun berwarna hijau gelap, jumlah anak daun 35 buah, anak daun lanset panjang 40 cm lebar 2 cm
    • Manfaat : Bahan pengikat pada bangunan rumah, anyaman, keranjang kasar.
  40. Rotan Lita (Daemonorops lemprolepis Becc)
    • Nama Daerah : Rotan Lita (Wajo)
    • Penyebaran : Sulawesi Bagian Selatan pada rawa-rawa air tawar dan asin
    • Batang : Berdiameter 5 – 10 mm, panjang ruas 20 – 35 cm warna kuning cerah mengkilat, inti berwarna kuning gading
    • Manfaat : Bahan pembuatan keranjang. 

Sumber : Karmidi