Dokumentasi Pelatihan Dasar Kerajinan Rotan dan Kayu

Desain Produk adalah salah satu solusi dari beberapa solusi yang kita butuhkan agar dapat bersaing ditengah pasar global saat ini terutama MEA (Masyarakat Ekonomi Asia). Dengan desain produk dapat dihasilkan produk-produk yang berorientasikan pasar serta sesuai dengan kaidah-kaidah kebutuhannya. Hal ini bukan hanya berlaku pada produsen-produsen dengan skala manufacturing atau besar, tetapi juga pada produk-produk kerajinan.
Penerapan desain produk pada kerajinan dapat memberikan solusi yang dibutuhkan oleh para pengrajin, perpaduan antara skill dan pengalaman produksi para pengrajin dengan desain yang baik memberikan harapan agar produk hasil kerajinan mempenetrasi pasar didalam dan luar negri.
Pelatihan dasar kerajinan dan furniture rotan di Kalimantan Timur bersama UPTD P3UKM dibawah Desperindagkop (Departemen Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi) merupakan langkah awal yang tepat dari aplikasi solusi yang kita butuhkan dalam kondisi persaingan yang ada saat ini. Dengan pelatihan ini desainer produk dan pengrajin dapat bertukar pikiran dan membukan wawasan para pengrajin bagaimana caranya menentukan pasar yang akan dituju untuk produk-produk yang dihasilkan serta bagaimana menghasilkan produk-produk yang berkualitas dari berbagai hal.
Pendampingan para pengrajin pada pelatihan ini membuktikan bahwa input desain dan integrasi antara desainer produk dan pengrajin dapat menghasilkan wacana produk yang lebih luas dan output yang maksimal dari material yang digunakan yaitu rotan. Pelatihan ini perlu terus digiatkan dan dirancang sedemikan rupa agar memenuhi tahap-tahap tertentu agar tercipta hubungan yang langgeng antara desainer produk dengan pengrajin sehingga mendapatkan hasil yang diharapkan.
Pelatihan awal ini tentunya membutuhkan berbagai evaluasi yang nantinya dapat mendapatkan kualitas pelatihan yang lebih maksimal dikemudian hari. Beberapa evaluasi tentang pelatihan ini adalah sebagai berikut ;

  1. Koordinasi yang baik dan maksimal baik dari segi materi maupun waktu antara pembuat program pelatihan dengan pemberi materi pelatihan hingga instruktur pelatihannya.
  2. Mengetahui sasaran pelatihan dengan tepat dengan melakukan penelitian dan pendataan sehingga pelatihan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh peserta pelatihan.
  3. Mengetahui dengan tepat permasalahan yang dihadapi oleh para peserta pelatihan sehingga pelatihan dapat menjadi salah satu solusi yang dibutuhkan oleh para peserta pelatihan.
  4. Mengetahui dengan tepat kapabilitas dan capaian calon peserta pelatihan sehingga dapat dijadikan benchmarking untuk pengembangan yang dilakukan pada pelatihan.
  5. Khususnya pada pelatihan-pelatihan seperti ini, perlu adanya rancangan awal yang diberikan oleh para pelatih dan dikoordinasikan dengan pihak penyelenggara pelatihan sehingga penyediaan kelengkapan yang dibutuhkan saat pelatihan cukup lengkap seperti alat, mesin dan material yang dibutuhkan pada saat pelatihan
  6. Perlu adanya profil para peserta pelatihan dan pemberi pelatihan yang dikompilasikan pada sebuah dokumen untuk interaksi lebih lanjut setelah pelatihan selesai antara kedua-nya.
  7. Perlu adanya koordinasi lebih lanjut antara pemberi pelatihan dengan pelaksana pelatihan tentang tahap selanjutnya tentang pengembangan lebih lanjut setelah program yang dilakukan selesai.

Dengan interaksi, kerjasama serta hubungan yang baik dengan berbagai pihak, tujuan yang diharapkan dari pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh pemerintah seperti ini tentunya membuat kita dapat melihat masa depan yang lebih baik bagi perkembangan pengetahuan serta motivasi yang berimplikasi pada peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia.

Cacat pada Rotan

PENDAHULUAN

Dengan semakin ketatnya pemanfaatan hasil hutan baik kayu maupun bukan kayu dimana rotan termasuk didalamnya maka diperlukan pengawasan yang lebih intensif. Dari segi dunia usaha , bahan baku dan biaya biaya-biaya lain yang harus ditekan, antara lain pajak dalam rangka menekan biaya tentunya memerlukan pemikiran efisiensi bahan dan angkutan.Untuk menunjang kemampuan bersaing di bidang pemasaran, maka diperlukan adanya peningkatan pemahaman terhadap beberapa prinsip dasar antara lain :

  1. Ketepatan kegunaan
  2. Pelayanan yang baik
  3. Mutu yang mantap
  4. Harga yang wajar

Unsur penunjang terhadap ketepatan kegunaan adalah pemahaman terhadap selera konsumen, kejelian memanfaatkan rotan menurut jenis/mutu dan kemampuan dalam menerapkan teknologi desain produk. Pelayanan yang baik ditentukan antara lain kemampuan menyerahkan produk tepat waktu dan kontinyu sesuai perjanjian dan kemampuan memberikan jaminan kepercayaan bagi konsumen terhadap kemantapan mutu. Mutu yang mantap ditentukan dengan kemampuan menilai pengaruh cacat terhadap daya kegunaan produk dan kemampuan menetapkan mutu secara tepat berdasarkan peraturan pengujian yang merupakan titik temu antara produsen dan konsumen. Harga yang wajar ditentukan dengan penerimaan yang wajar dari setiap institusi sesuai dengan pengorbanan yang diberikan baik berupa barang dan jasa . Dengan pemahaman pengenalan cacat maka dapat dipastikan bahwa keberhasilan pembinaan dan peningkatan mutu tidak terlepas dari ketrampilan menetapkan nilai dan pengaruh cacat terhadap daya guna dan hasil guna produk dalam pemanfaatannya oleh konsumen. Dalam pengenalan cacat rotan lebih mendalam perlu dipelajari tentang penyebab cacat, variasi cacat, pencegahan cacat, nilai cacat dan pengaruh cacat. Tujuan dari Pengenalan cacat rotan adalah peserta diharapkan mampu: menjelaskan cacat rotan mengidentifikasi, mengukur dan menilai cacat rotan.

PENYEBAB CACAT ROTAN

  1. Faktor Genetis
    1. Batang tidak lurus – Pada umumnya batang rotan berbentuk silindris atau hampir silindris. Bila terjadi penyimpangan dari bentuk tersebut maka dinyatakan sebagai cacat. Batang yang bentuk batangnya tidak silindris dapat berupa tidak silindri sepanjang badan, atau hanya pada sebagian atau pada beberapa ruas saja. Contoh rotan yang bentuknya tidak silindris sepanjang batang adalah Rotan : Semambu, Tabu-tabu, Wilatung, Tanah dan Cemeti. Sedang yang tidak silindris dalam beberapa ruas adalah Rotan Mawi, Tarumpu dan Dahan.
    2. Buku menonjol – Pada umumnya rotan yang tidak silindris mempunyai buku yang menonjol sehingga ukuran diameter tiap ruas sepanjang batang tidak sama. Selain itu terdapat jenis rotan yang bentuk bukunya agak menonjol adalah Rotan : Batang, Manuk, dan Ampar bungkus.
    3. Ruas Pendek – Panjang ruas rotan sekitar 15 Cm atau lebih, bahkan ada yang mencapai 60 atau 100 Cm. Rotan yang mempunyai ruas kurang dari 15 Cm dikategorikan sebagai rotan yang cacat. Rotan tersebut meliputi Rotan : Batu, Tapah, dan Kooboo.
    4. Kulit mudah mengelupas – Rotan mempunyai kulit yang cukup kuat dan keras apabila dipanen telah masak tebang, tetapi Rotan Umbulu mempunyai kulit yang mudah mengelupas
    5. Ketebalan ruas yang berbeda – Ketebalan ruas semua rotan hampir berbeda, tetapi Rotan Irit dan Tohiti mempunyai ketebalan ruas yang perbedaanya menyolok.
    6. Panjang ruas yang berbeda – Rotan yang panjang ruasnya tidak sama sepanjang batang adalah Rotan Irit, sedangkan rotan lainnya hampir sama.
  2. Faktor Alami
    1. Keriput – Rotan yang dipanen setelah masak tebang akan menghasilkan rotan yang elastis, cerah dan keras, tetapi rotan yang ditebang selagi masih muda akan menghasilkan rotan yang lunak dan keriput. Hal ini disebabkan pada rotan muda batang rotan belum terisi zat infiltrasi dan ekstraksi yang berfungsi sebagai penunjang keteguhan serat dan elastisitas
    2. Ketemu buku – Cacat ketemu buku merupakan cacat yang spesifik dan justru mempunyai nilai dekoratif dan nilai jual yang cukup tinggi. Buku-buku yang berdempetan memberikan kesan bahwa ruas-ruas tidak ada. Penyebab terjadinya cacat ketemu buku ini diperkirakan karena adanya tekanan pada pertumbuhannya dan karena jumlahnya yang sedikit maka cacat ini banyak dicari.
  3. Faktor Biologis
    1. Salah warna – Penyebab salah warna yang utama adalah adanya serangan jamur biru ( blue stain ), yaitu dengan adanya perubahan warna dari warna aslinya menjadi kebiru-biruan dan jika dibiarkan akan menyerap air sehingga menyebabkan pelapukan atau rapuh/busuk.
    2. Lubang gerek kecil – Lubang gerek kecil disebabkan karena serangan serangga Ambrosia beetle. Serangan ini mudah terjadi pada rotan yang masih segar, baik yang masih dalam bentuk tegakan atau setelah ditebang dalam tumpukan.
    3. Mata pecah – Mata pecah adalah bentuk cacat yang disebabkan oleh serangan cacing ketika tanaman rotan masih hidup, dan ini merupakan ciri dari Rotan Manau.
  4. Faktor Mekanis
    1. Parut buaya – Parut buaya nerupakan cacat yang disebabkan karena batang rotan yang terlalu lama ditekuk saat panen sampai mencapai kering udara. Parut buaya banyak terjadi pada rotan diameter kecil ( Sega dan Roti) dan juga Rotan Tohiti.
    2. Hangus – Cacat hangus terjadi pada rotan yang mengalami penggorengan dalam rangka pengawetan dan pengeringan. Rotan diameter besar rata-rata memerlukan proses penggorengan, dan rotan diameter kecil yang biasa dilakukan penggorengan adalah Rotan Getah Putih dan Getah Merah. Penggorengan yang terlalu lama, atau yang kurang dibalik dapat menyebabkan hangus.
    3. Kulit tergores – Kulit tergores dapat disebabkan karena terjadi pada saat proses penebangan dan penarikan batang, pembersihan yang kurang hati hati, penumpukan yang kasar.
    4. Pecah buku – Pecah buku adalah pecah yang terjadi disekitar buku akibat kurang hati-hati dalam pembersihan atau perlakuan kikis buku. Kikis buku tidak menjadi persyaratan dalam proses pengolahan, sebab beberapa konsumen untuk jenis rotan tertentu justru mengharapkan tidak dilakukan kikis buku agar jenis rotannya tetap dikenali dan juga memberi nilai dekoratif yang lebih tinggi.
    5. Cacat ukuran Cacat ukuran dibedakan menjadi 2 yaitu :
      1. Bontos tidakiku Bontos tidak siku disebabkan karena kesalahan dalam memotong bontos sehingga bentuknya tidak siku. Hal ini akan mengakibatkan kesulitan dalam pengukuran panjang dan pengepakan.
      2. Salah potong Cacat salah potong disebabkan karena kesalahan memotong sehingga rotan mempunyai ukuran panjang kurang dari panjang bakunya. Akibat salah potong dapat menyebabkan turunnya mutu, karena mutu rotan juga dibatasi dengan ukuran panjangnya.

VARIASI CACAT

Cacat rotan berdasarkan penyebaran dan kombinasi cacat yang ada dibedakan menjadi 4 variasi, yaitu :

  1. Catat Tersebar – Cacat tersebar adalah cacat yang kadarnya kecil dan keberadaanya/eksistensinya sendiri-sendiri. Cacat ini dapat terdiri dari cacat-cacat ringan seperti :
    1. Cacat salah warna
    2. Cacat lubang gerek kecil
    3. Cacat kulit tergores
    4. Cacat mata pecah (khusus pada Rotan Manau)
    5. Cacat hangus
    6. Cacat parut buaya (rotan diameter kecil dan Tohiti)
  2. Cacat Mengelompok Cacat yang berada dalam beberapa ruas dan terdiri dari bermacam-macam jenis cacat.
  3. Cacat Menyeluruh Cacat yang terdiri dari satu macam atau lebih jenis cacat yang tedapat pada seluruh ruas sepanjang batang.
  4. Cacat Tidak Diperkenankan Cacat yang tidak diperkenankan meliputi cacat keriput dan cacat rapuh/busuk.

PENCEGAHAN CACAT

Untuk mencegah beberapa cacat yang diakibatkan oleh selain genetis dapat diupayakan dengan beberapa perlakukan.

  1. Faktor Alami
    1. Keriput
      • Pencegahan : Larangan pembelian rotan tebangan muda (prematur) dan tidak menebang rotan muda.
      • Penanggulangan : Rotan muda ditolak uji, dan pengusaha yang membeli rotan muda dikenakan sanksi.
    2. Ketemu buku
      • Pencegahan : Karena jumlahnya yang sedikit dan cacat ini banyak dicari maka tidak perlu ada pencegahan.
      • Penanggulangan : Rotan ketemu buku digunakan sebagai bahan baku pembuatan perabotan dengan nilai dekoratif yang tinggi
  2. Faktor Biologis
    1. Salah warna
      • Pencegahan : Hindari penumpukan ditempat yang lembab, segera di keringkan/dijemur, diawetkan/fumigasi. Jika setelah ditebang rotan tidak dapat segera diangkut maka rotan sebelum kadar air berkurang segera direndam di sungai untuk menunggu pengangkutan.
      • Penanggulangan : Cacat warna menyebar dihilangkan dengan menggosok, sedangkan cacat warna mengelompok dan menyeluruh yang digoreng, dikeringkan, atau difumigasi dapat dikurangi daya efektifitas cacatnya.
    2. Lubang gerek kecil
      • Pencegahan : Hindari penumpukan di tempat tebangan terlalu lama, segera bersihkan dari pelepah daun, kelopak batang, dan kotoran lainnya dan segera keringkan/diawetkan.
      • Penanggulangan : Rotan segera digoreng dan fumigasi agar serangga/kumbang yang ada didalamnya mati.
    3. Mata pecah
      • Pencegahan : Serangan cacing pada tanaman rotan budidaya lebih mudah dilakukan penyemprotan dengan pestisida, tetapi untuk rotan dari hutan/alam yang tumbuh dilereng-lereng sulit untuk dicegah.
      • Penanggulangan : Tidak diperlukan perlakuan khusus, sebab cacing akan pergi/menghindar saat rotan ditebang.
  3. Faktor Mekanis
    1. Parut buaya
      • Pencegahan : Jangan biarkan rotan sampai kering udara, segera diluruskan, dan rotan segera dipotong sesuai dengan ukuran yang dikehendaki.
    2. Hangus
      • Pencegahan : Lama penggorengan untuk setiap jenis rotan disesuaikan dengan lama optimal, jadwal penggorengan diletakkan disekitar tempat penggorengan, diperlukan ketrampilan tenaga penggoreng. Alat penggorengan memenuhi persyaratan, adanya penelitian komposisi minyak penggoreng, rotan dicuci terlebih dahulu.
      • Penanggulangan : Rotan gosong/ hangus tetap dinilai sebagai cacat dan nilainya sesuai dengan cacat yang melekat padanya.
    3. Kulit tergores
      • Pencegahan : Pelatihan ketrampilan dan menyediaan peralatan bagi para pengumpul.
      • Penanggulangan : Diolah menjadi rotan kupas halus untuk meningkatkan nilai ( dekoratif ).
    4. Pecah buku
      • Pencegahan : Pemberian ketrampilan bagi pengolah untuk menentukan perlu dilakukan kikis buku atau tidak.
      • Penganggulangan : Diolah menjadi rotan kupas/poles halus untuk meningkatkan nilai ( dekoratif ).
    5. Cacat ukuran
      • Pencegahan : Pemberian ketrampilan, pengetahuan tentang standarisasi, dan pemberian peralatan yang memadahi bagi tenaga kerja di bidang pembagi batang.
      • Penanggulangan : Rotan salah potong mutunya tetap disesuaikan dengan ukuran yang telah ditentukan/standar.

MACAM-MACAM CACAT PER SORTIMEN DAN PENGUKURANNYA

Cacat yang mungkin terjadi untuk setiap sortimen/tingkat pengolahan berbeda-beda. Cara pengukuran cacat adalah sebagai berikut.

  1. Rotan Asalan – Rotan asalan adalah batang rotan yang telah mengalami pembersihan dan peruntian, tetapi belum mengalami pencucian dan perlakukan pengolahan lebih lanjut. Jenis cacat dan cara pengukuran yang mungkin terdapat saat pengujian adalah :
    1. Cacat Ringan, terdiri dari alur kulit, lubang gerek kecil, kulit mengelupas, retak kulit, kulit tergores, parut buaya, dan jamur pewarna. Pengukuran :
      1. Cacat rotan yang termasuk cacat ringan masing-masing diukur panjangnya
      2. Jumlahkan panjang masing-masing cacat yang telah diukur.
      3. Persentase cacat ditetapkan dengan membandingkan panjang cacat dengan panjang rotan kali 100 prosen.
    2. Cacat Berat, terdiri dari keriput, lapuk, kulit mengelupas, mata pecah, pecah, dan patah. Pengukuran :
      1. Cacat rotan yang termasuk cacat berat masing-masing diukur panjangnya
      2. Jumlahkan panjang masing-masing cacat yang telah diukur.
      3. Persentase cacat ditetapkan dengan membandingkan panjang cacat dengan panjang rotan kali 100 prosen.
    3. Panjang ruas, panjang ruas diukur dengan satuan Cm penuh.
    4. Pengukuran ketebalan ruas, dilakukan dengan menghitung perbedaan diameter ruas pangkal dan ruas ujung. ( khusus Rotan bulat Sega mutu utama)
    5. Kesilindrisan, dipersyaratkan untuk rotan kupasan. Perbedaan diameter terkecil dengan terbesar dalam prosentase.
    6. Kekerasan/elastisitas, diukur dengan membengkokan salah satu ruasnya. Jika dibengkokkan rotan tidak retak, maka dikatakan rotan elastis, dan jika dibengkokkan retak maka dikategorikan rotan setengan elastis, dan jika dibengkokkan patah maka rotan masuk kategori lunak.
    7. Kecerahan diukur secara okuler, rotan dikatakan cerah apabila rotan mampu memantulkan cahaya dan jika tidak memantulkan maka dikategorikan sebagai rotan tidak cerah.
  2. Rotan Bulat – Rotan bulat adalah batangan rotan yang telah dibersihkan dan sudah mengalami proses pencucian dan pengawetan dengan asap belerang ( Washed & Sulfurized ) yang disebut Rotan Bulat W & S. Jenis cacat dan cara pengukuran yang mungkin terdapat saat pengujian adalah :
    1. Cacat Ringan, terdiri dari salah warna, lubang gerek kecil, serat terlepas, parut buaya, kulit mengelupas, pecah kulit, bekas mata pecah, gosong, kulit tergores, cerah tidak merata.
    2. Cacat Berat, terdiri dari mata pecah, keriput, pecah ujung, pecah tengah, pecah buku, alur kulit busuk, lapuk, patah, kulit mengelupas (selain R. Umbulu) , bontos tidak siku. Cara pengukuran sama dengan dalam pengukuran Rotan Asalan.
  3. Rotan Iratan Kulit Rotan iratan kulit adalah hasil proses pengiratan rotan bagian kulit berbentuk pipih dengan tebal dan panjang tertentu. Jenis cacat dan cara pengukuran yang mungkin terdapat saat pengujian adalah :
    1. Bercak/ Noda Warna – Ukur panjang bagian cacat yang disebabkan oleh noda warna abu-abu, hitam, atau coklat. – Bandingkan jumlah panjang bagian cacat dari contoh uji dengan panjang contoh uji dikalikan 100 prosen.
    2. Saluran Penggerek – Ukur panjang bagian cacat yang disebabkan oleh serangga penggerek. – Bandingkan jumlah panjang bagian cacat dari contoh uji dengan panjang contoh uji dikalikan 100 persen
    3. Lubang serangan bubuk – Amati ada tidaknya lubang serangan bubuk.
    4. Panjang Ruas – Ukur panjang ruas dalam satuan Cm minimal 3 ruas. Rata-ratakan hasilnya.
  4. Rotan Iratan Hati Berbentuk Bulat Rotan iratan hati berbentuk bulat adalah hasil proses iratan rotan bagian hati berbentuk bulat dengan garis tengah dan panjang tertentu. Cara menilaian cacat pada rotan iratan hati berbentuk bulat sama dengan penilaian pada rotan iratan kulit.

Bogor, Nopember 2005

Daftar Pustaka

  1. Alex Koamesakh, Pengenalan Cacat Rotan Indonesia, 1988
  2. Alex Koamesakh, Pedoman Pelaksanaan Pengujian Rotan Indonesia, 1989

    Sumber : Karmidi

Mengenal Rotan

PENDAHULUAN

Definisi

Rotan berasal dari bahasa melayu yang berarti nama dari sekumpulan jenis tanaman famili Palmae yang tumbuh memanjat yang disebut Lepidocaryodidae (Yunani = mencakup ukuran buah)

Umum

Indonesia memenuhi 80 % kebutuhan rotan dunia (terbesar). Dari 80 % rotan dunia tersebut, 90 % berasal dari hutan alam dan 10 % dari hasil budidaya.Luas areal yang ditumbuhi rotan sebesar 13,2 juta hektar dari 143 juta hektar hutan Indonesia (Inventarisasi Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan) yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan Jawa.

Indonesia memiliki 8 marga rotan yang terdiri dari 306 jenis. Dari 306 jenis ini 51 jenis diantaranya sudah dimanfaatkan.

Di Asia Tenggara terdapat kurang lebih 516 jenis yang berasal dari 8 negara, antara lain :

  1. Calamus sebanyak 333 jenis
  2. Daemonorops sebanyak 122 jenis
  3. Korthalsia sebanyak 30 jenis
  4. Plectocomia sebanyak 10 jenis
  5. Plectocomiopsis sebanyak 10 jenis
  6. Calopspatha sebanyak 2 jenis
  7. Bejaudia sebanyak 1 jenis
  8. Ceratolobus sebanyak 6 jenis

Dua diantaranya merupakan genera yang bernilai tinggi yaitu Calamus dan Daemonorops. Dari seluruh kebutuhan rotan di pasaran terdapat 68 % rotan berdaimeter besar dan 32 % rotan berdiameter kecil.

Pemanenan

Rotan yang dipanen adalah rotan yang masak tebang dengan ciri-ciri bagian bawah batang sudah tidak tertutup lagi oleh daun kelopak atau selundang, sebagian daun sudah mengering, duri dan daun kelopak sudah rontok.

Pemanenan dilakukan dengan memotong pangkal rotan dengan pengaitnya setinggi 10 sampai 50 cm. Dengan pengait, rotan ditarik agar terlepas dari pohon penopangnya. Rotan dibersihkan dari daun dan duri serta dipotong-potong menurut ukuran yang diinginkan. Kemudian diangkut ke tempat pengumpulan sementara atau ke tempat penumpukkan rotan dengan memikul, menggunakan perahu/sampan atau menggunakan bantuan tenaga kuda.

Dalam pemanenan biasanya terjadi adanya limbah, besarnya limbah pada saat pemanenan rotan adalah berbeda pada setiap tipe kegiatan pemanenan, yaitu :

  1. Pemanenan secara tradisional limbah sebesar 12,6 – 28,5 %
  2. Pemanenan dengan bantuan tirfor dan lir limbah sebesar 4,1 – 11,1 %
  3. Pada saat pengangkutan besarnya limbah sebesar 5 – 10 %.

PENGENALAN JENIS ROTAN

A. Sifat Dasar Rotan

1. Sifat Anatomi

Struktur anatomi batang rotan yang berhubungan dengan keawetan dan kekuatan antara lain besarnya ukuran pori dan tebalnya dinding sel serabut. Sel serabut merupakan komponen struktural yang memberikan kekuatan pada rotan. Dinding sel yang tebal membuat rotan menjadi lebih kuras dan lebih berat.

2. Sifat Kimia

Secara umum, komposisi kimia rotan terdiri dari Holoselulosa (71 – 76 %), Selulosa (39 – 56 %), Lignin (18 – 27 %) dan Silika (0,54 – 8 %).

Holoselulosa merupakan Selulosa yang merupakan molekul gula linear berantai panjang.

Selulosa berfungsi memberikan kekuatan tarik pada batang karena adanya ikatan kovalen yang kuat dalam cincin piranosa dan antar unit gula penyusun selulosa. Makin tinggi selulosa makin tinggi juga keteguhan lenturnya.

Lignin adalah suatu polimer yang kompleks dengan berat molekul yang tinggi. Lignin berfungsi memberikan kekuatan pada batang. Makin tinggi lignin makin tinggi juga kekuatan rotan.

Tanin dikategorikan sebagai “true artrigen” yang menimbulkan rasa sepat pada rotan. Tanin berfungsi sebagai penangkal pemangsa. Hasil purifikasi tanin digunakan sebagai bahan anti rayap dan jamur.

Pati (karbohidrat), terkandung 70 % dan berat basah. Makin tinggi kadar pati makin rentan terhadap serangan bubuk rotan kering.

3. Sifat Fisik

Sifat fisik dari rotan adalah sifat-sifat yang dapat diamati secara kasat mata. Sifat fisik rotan dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut :

a. Warna

  • Warna batang rotan selalu bervariasi tidak hanya pada jenisnya saja tetapi pada jenis yang sama juga.

Rotan yang baik dan berkualitas adalah batang rotan yang berwarna hijau daun pada saat masih hidup, hal ini menandai bahwa rotan tersebut sudah masak tebang. Batang rotan yang berwarna hijau daun akan berubah menjadi putih setelah selaput silikanya terkelupas dan akan makin putih setelah ada proses pemutihan (bleaching).

  • Yang dimaksud dengan warna rotan adalah warna setelah dicuci atau dirunti atau diasapi dengan belerang dan belum mendapat perlakuan pemutihan.

Pada umunya rotan berwarna kuning langsat atau kuning keputih-putihan kecuali beberapa jenis seperti Rotan Semambu (coklat kuning) dan Rotan Buyung (kecoklat-coklatan).

  • Selain warna kulit, perlu diperhatikan juga warna hatinya. Seperti Rotan Umbulu (putih bersih) dan Rotan Tohiti (keabu-abuan).

b. Kilap

Kilap dan suram dapat memberikan ciri yang khusus dari suatu jenis rotan serta dapat menambah keindahan dari rotan tersebut. Kilap rotan tergantung pada struktur anatomi, kandungan zat ekstraktif, sudut datangnya sinar, kandungan air, lemak dan minyak. Makin tinggi kadar air maka makin suram, makin tinggi lemak dan minyak maka makin suram.

c. Bau dan Rasa

Menggambarkan kesegaran dari rotan tersebut, pada rotan segar bau dan rasa tidak mencolok.

d. Berat

Berat rotan tergantung pada kandungan air, zat ekstraktif dan zat infiltrasi dalam rotan.
Kadar air dapat dikurangi dengan proses pengeringan yang mampu mengurangi dari 40 – 60 % menjadi titik jenuh serat (15 – 30 %).

e. Kekerasan/Elastisitas

Menunjukkan bahwa batang rotan mampu menahan tekanan/gaya tertentu. Sifat ini dipengaruhi oleh kadar air, umur saat dipungut, posisi batang yang digunakan (pangkal, tengah, ujung).

f. Diameter

Diameter rotan dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :

  • Berdiameter kecil, rotan yang berdiameter kurang dari 18 mm, seperti Rotan Sega, Irit/Jahab, Jermasin, Pulut Putih, Pulut Merah, Lilin, Lacak, Manau Padi, Datuk Merah, Sega Air, Ronti, Sabut, Batu, Tapah, Paku dan Pandan Wangi.
  • Berdiameter besar, rotan yang berdiameter l8 mm atau lebih, seperti Rotan Manau, Batang, Mantang, Cucor, Semambu, Wilatung, Dahan, Tohiti, Seel, Balukbuk, Bidai, Buwai, Bambu, Kalapa, Tiga Juru, Minong, Umbulu, Telang dan Lambang.

g. Kesilindrisan

Kesilindrisan dapat diperoleh dengan perbandingan antara diameter rata-rata pangkal ruas dengan diameter rata-rata ujung ruas.

h. Ruas

Ruas adalah bagian rotan yang terletak diantara dua buku. Panjangnya ruas dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu :

  • Ruas Pendek
  • Ruas Sedang
  • Ruas Panjang

i. Buku

Buku rotan dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu :

  • Buku Menonjol
  • Buku Agak Menonjol
  • Buku Tidak Menonjol

Arah buku juga diamati, yaitu :

  • Menceng
  • Agak Menceng

 

j. Selaput Silika

Hampir semua jenis rotan memiliki lapisan silika yang membalut kulit luarnya, ada yang spesifik dan tebal seperti Rotan Sega, Jermasin, Irit/Jahab, Buyung. Lapisan silika menampilkan kilap, pekerjaan mengeluarkan lapisan silika disebut “Runti”.

k. Parut Buaya

Parut buaya terlihat seolah-olah bekas parut yang menggores kulit kearah transversal. Selain parut buaya ada pula sifat fisik berupa getah. Rotan yang mengandung getah antara lain Rotan Getah/Sepat, Lacak, Jernang, dan Jermasin.

4. Sifat Struktur

Sifat struktur dari rotan belum banyak diketahui karena belum ada penelitian khusus terhadap sifat-sifat struktur tersebut. Yang dapat digunakan sebagai petunjuk identifikasi adalah pori. Pori rotan sangat sederhana dan dibedakan dalam beberapa bagian antara lain:

  • Ukuran
  • Bentuk
  • Susunan

5. Sifat Mekanis

Sifat mekanis rotan berkaitan dengan kemampuan menahan gaya dari luar, antara lain :

  1. Keteguhan Tekan, Patah, Kekakuan dan Keuletan.
    • Keteguhan Tekan adalah ketahanan terhadap kekuatan yang cenderung menghancurkan.
    • Keteguhan Patah adalah ketahanan terhadap kekuatan yang akan mematahkan.
    • Kekakuan adalah kemampuan untuk mempertahankan bentuk bila dilengkungkan.
    • Keuletan adalah kemampuan rotan untuk menahan kekuatan yang terjadi secara tiba-tiba dalam waktu yang singkat.
  2. Keteguhan Tarik
    • Keteguhan tarik adalah kemampuan rotan untuk menahan gaya yang cenderung memisahkan bagian-bagian dari rotan.
  3. Keteguhan Geser
    • Keteguhan geser adalah ketahanan terhadap gaya yang menggeser rotan.
  4. Keteguhan Belah
    • Keteguhan belah adalah ketahanan terhadap gaya yang membelah rotan.

 

6. Keawetan dan Keterawetan

  • Keawetan adalah daya tahan sesuatu jenis rotan terhadap berbagai faktor perusak rotan, tetapi biasanya yang dimaksud adalah daya tahan terhadap faktor biologis yang disebabkan oleh organisme perusak rotan yaitu jamur dan serangga.
  • Keterawetan adalah mudah atau tidaknya jenis rotan tersebut ditembus bahan pengawet jika diawetkan dengan proses tertentu sehingga rotan yang sudah diawetkan dengan suatu bahan kimia (pengawet) tahan terhadap serangan organisme perusak sehingga rotan tersebut awet.

Sumber : Karmidi