Menentukan Karakter Produk Melalui Finishing Pada Kayu

Finishing produk kayu merupakan salah satu penentu pasar untuk produk kayu yang dihasilkan. Dalam hal ini bukan hanya subjektifitas atau selera dari market tersebut tapi juga meliputi faktor keamanan, dan kekuatan dari produk itu sendiri.

Pasar dunia pertama saat ini banyak yang menerapkan ketentuan keamanan dari produk melalui peminimalisiran bahkan penolakan bahan finishing kimiawi. Untuk itu produsen kayu harus mencermati kebutuhan dan selera dari pasar ini dalam menentukan pemilihan bahan untuk finishing.

Pada dasarnya finishing kayu terdiri dari dua jenis, yaitu finishing alami atau finishing buatan;

  1. Finishing alami dapat menggunakan bahan finishing yang terbuat dari material alami atau dengan teknik tertentu untuk menghasilkan permukaan yang diinginkan.
  2. Sedangkan finishing buatan pada dasarnya menggunakan material kimiawi.

Finishing juga ditentukan oleh jenis kayu, kekeringan, teknik serta kondisi lingkungan tempat finisihing. Faktor-faktor ini memiliki pengaruh cukup signifikan pada hasil finishing;

  1. Jenis kayu berkepadatan rendah seperti kayu dengan kelas 3 dan 4 memiliki pori-pori yang lebih besar dan banyak sehingga membutuhkan material finishing yang lebih banyak dan pengolahan yang lebih banyak dibandingkan kayu yang kelasnya lebih tinggi. Jenis kayu juga menentukan finishing seperti apa yang dapat digunakan.
  2. Tingkat kekeringan kayu juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas hasil finishing bahkan terhadap kayu itu sendiri. Finishing yang sifatnya menutup pori-pori kayu, yang di sebut coating atau film akan mendapat resistensi baik cepat atau lambat dari kayu yang tidak kering secara sempurna sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada finishing dari dari dalam kayu seperti bercak, retak atau pengelupasan yang menghasilkan kualitas produk akhir yang tidak maksimal.
  3. Teknik juga memberikan dampak yang signifikan pada hasil akhir finishing terutama terhadap teksturnya. Penggunaan kuas, kain bal, spray gun atau celup menghasilkan tekstur dan ketebalan finishing yang berbeda yang pada akhirnya juga mempengaruhi kuantitas material finishing serta durasi yang dibutuhkan dalam pengeringan. Selain menentukan tekstur yang dihasilkan, teknik yang digunakan juga tergantung pada material finishing yang digunakan. Teknik dan SOP finishing yang tepat menghasilkan finishing yang baik dan durabilitas yang lebih panjang.
  4. Faktor luar seperti lingkungan tidak kalah pentingnya dalam menentukan hasil finishing yang baik. Panas matahari atau buatan, kebersihan tempat serta cuaca dapat mempengaruhi hasil dan lama pengeringan hasil finishing. Kelembaban dan suhu tempat berperan penting dalam kekuatan hasil finishing dan durasi yang dibutuhkan dalam pengeringan. Material finishing memiliki reaksi kimiawi dalam suhu tertentu, sedangkan molekul air yang terdapat dalam udara dapat bercampur pada bahan finishing. Molekul padat seperti kotoran dan debu sangat mudah menempel pada material saat proses pengeringan sehingga hasil produk. Utamanya pada proses finishing secara outdoor atau diluar chamber, cuaca dapat mempengaruhi suhu dan kelembaban udara.

Material Alami yang umum digunakan untuk finishing kayu

Material alami yang digunakan dalam dunia pengolahan kayu pada dasarnya adalah material-material selain olahan pabrikan yang komposisinya sudah dimodifikasi dengan teknik-teknik tertentu. Material alami ini dapat kita temui pula disekitar kita walaupun tidak sedikit pula yang sudah dikemas dan dijual dipasaran. Material-material tersebut mengubah kayu secara visual, dan sifat dasarnya seperti ketahanan, bau dsb. Berikut beberapa material alami yang sering digunakan oleh perajin lokal maupun internasional.

  1. Beeswax. atau lilin lebah adalah bahan yang digunakan oleh lebah untuk membuat sarang, atau sarangnya itu sendiri. Beeswax dapat memberikan coating atau film pada bahan yang dilapisinya, terutama kayu sehingga lebih tahan terhadap pengaruh cuaca dan air.
  2. Tung Oil. Tung oil berasal dari pengolahan biji pohon Tung yang berpolimerisasi menjadi coating yang keras dan mengkilap.
  3. Shellac. Shellac sudah terkenal dari dahulu sebagai bahan pelitur yang alami bahkan diperbolehkan sebagai bahan pada makanan. Shellac adalah pelitur alami berbentuk pecahan kaca yang perlu di encerkan terlebih dahulu menggunakan tiner atau bahan etil alkohol dsb. Shellac atau Serlak merupakan resin alami yang dihasilkan oleh serangga Lac yang dapat menghasilkan finishing kayu yang agak gelap.
  4. Linseed Oil. Dikenal pula dengan minyak biji rami, linseed oil berpolimerisasi saat terpapar oksigen sehingga menghasilkan coating yang kuat. Minyak biji rami sudah dipergunakan sejak dulu dalam pertukangan kayu di Eropa dan kemudian dikembangkan untuk berbagai keperluan seperti polishing.
  5. Walnut Oil. Salah satu finishing bagi kayu yang awalnya digunakan oleh pengrajin Perancis untuk mengcoating adalah minyak Walnut. Minyak walnut memberikan ketahanan bagi kayu yang dipergunakan untuk wadah atau pengolahan makanan tanpa merusak rasa dari makanan tersebut. Minyak Walnut tahan baik terhadap air maupun terhadap alkohol.
  6. Minyak Kemiri. Olahan minyak kemiri banyak digunakan dalam industri cat, kemiri yang mengandung asam oleosetarat dapat mengering dengan cepat dan sempurna.
  7. Pewarna Makanan. Pengaplikasian pewarna makanan pada produk kayu pada dasarnya agar mendapatkan warna tertentu bagi kayu. Meskipun demikian, pengaplikasian pewarna ini biasanya menggunakan air, sehingga harus melalui proses pengeringan kembali agar kadar air pada kayu kembali menguap dan tidak menimbulkan retak pada kayu dimasa yang akan datang.
  8. Bumbu Dapur. Penggunaan bumbu dapur termasuk kopi sama halnya seperti pengaplikasian pewarna makanan. Warna yang dihasilkan tidak secerah warna cat, namun kesan alami ini kadang menjadi ciri khas tertentu pada pencinta kayu. Bumbu dapur seperti kunyit dan kopi juga meninggalkan bau yang khas.

Pernis merupakan salah satu finishing kayu paling populer di Indonesia. Selain bahan pernis alami seperti yang sudah disebutkan sebelumnya ada pula pernis-pernis sinteris yang merupakan enhancement dari penis alami atau benar-benar material finishing yang dibuat agar menambah durability dan ketahanan bahan tersebut. Berikut ini material finishing lainnya yang dapat kita temui di toko-toko material kayu:

  1. Melamine. Atau melamin tersedia dalam bentuk gloss dan doff. Melamine membentuk film dan menutupi pori. Film ini membutuhkan waktu untuk mengeras. Melamine mengandung formaldehyde yang berbahaya dan banyak negara dunia pertama tidak memperbolehkan mengimport produk dengan finishing ini.
  2. PU. Polyurethane menghasilkan lapisan film seperti plastik dan cukup tebal. Warnanya pun tersedia cukup cerah dan lebih baik dibandingkan melamin. PU pun lebih cepat mengering di bandingkan bahan finshing material yang lain.
  3. Lacquer. Merupakan pelitur sintetis yang berfungsi sebagai coating. Di Palembang, furniturenya dikenal dengan Laker yang awalnya menggunakan Shellac. Karna harga dan kekuatannya, mereka migrasi ke lacquer. Lacquer terdiri dari beberapa tipe seperti :
    1. Akrilik. Lacquer akrilik diformulasikan dengan polimer resin sehingga membentuk bahan seperti kaca. Biasanya digunakan pada furniture yang rawan terkena air seperti bar dan kitchen set.
    2. NC atau Nitrocellulose. Seperti akrilik hanya lebih banyak digunakan pada bahan selain kayu karna lebih lama keringnya.
    3. Solvent (Pengencer) alkohol, dll atau water base. Lacquer dengan pelarut air kini menjadi alternatif yang cukup banyak di minati pasar Amerika dan Eropa.

Selain material, kini dalam dunia pertukangan kayu juga banyak teknik yang digunakan untuk mendapatkan hasil akhir yang unik dan eye catching. Teknik-teknik ini kadang dipadukan dengan material-material yang sudah di sebutkan sebelumnya. Berikut teknik-teknik yang menarik yang dapat digunakan untuk finishing kayu:

  1. Burnt. Teknik finishing ini digunakan untuk mengekspos tekstur kayu melalui cara dibakar. Detail dari teknik ini ada berbagai macam, ada yang agar telihat benar-benar terbakar ada pula yang hanya sebagian.
  2. Distressed. Agar kayu memiliki tekstur tertentu, kayu dipukul-pukul seperti teknik ketok pada logam, atau menggunakan benda-benda lain sesuai tekstur yang di inginkan.
  3. Washed. Material cat yang digunakan pada teknik ini kebanyakan adalah water base yang kemudian di lap agar bagian paling atas terkelupas dan cat di ceruk kayu tertinggal.
  4. Weathered. Walaupun mirip dengan washed, material yang digunakan biasanya adalah cat dengan solvent. Tekniknya mirip namun ada kesan terkelupas yang lebih ekstrem.
  5. Faux. Teknik ini digunakan pada kayu yang teksturnya tidak terlalu menonjol atau tidak berurat sama sekali, sehingga dibuatkan urat dengan cara-cara tertentu dengan material finishingnya.
  6. Stained. Menggunakan perpaduan teknik burnt dan weathered atau washed untuk memberikan kesan retak dan old school sekaligus.

Selain material dan teknik yang telah disebutkan sebelumnya, masih ada banyak lagi yang bisa di jadikan karakteristik produk yang kita buat. Semakin unik produk yang dihasilkan berpadu dengan presentasi yang menarik, akan semakin besar pula peluang agar produk kita diminati oleh pasar.

Eksperimen dan eksplorasi terhadap penggunaan material dan teknik yang kita miliki akan memberikan kita pengetahuan yang menarik. Mari terus berkarya.

Image

16 Jenis kayu Indonesia yang perlu kita ketahui

Butuh material kayu untuk furniture, bangunan, produk atau kerajinan, tidak salah lagi Indonesia adalah gudang dari berbagai kayu-kayu yang kelasnya mendunia. Iklim dan tanah nya yang mendukung untuk tumbuh suburnya berbagai vegetasi menyediakan banyak varian kayu kuat dan berurat bagus. Kita sudah sering mendengar tentang kekayaan alam ini secara turun temurun, dan kenyataannya exploitasi kayu di Indonesia sudah berlangsung bahkan jauh sebelum kemerdekaan dan menyisakan lahan-lahan yang kini sudah rusak karna kayu nya sudah dijarah. Meskipun demikian masih banyak kayu-kayu yang saat ini masih dapat kita temukan karna terus dibudidayakan atau distribusinya dikendalikan oleh pemerintah melalui peraturan-peraturan yang ketat, kayu-kayu tersebut dipergunakan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan dan sebagian dapat kita beli ditoko material kayu diberbagai tempat. Berikut adalah kayu-kayu asli Indonesia yang mungkin sering ada disekitar kamu dan wajib kamu ketahui ;

1. Jati

kayu-jati-di-banjarmasinSiapa orang Indonesia yang tidak pernah mendengar nama Kayu Jati? Kayu yang memiliki predikat kayu kuat ini sering kali menjadi patokan bahan kayu yang berkualitas bagi banyak orang. Kayu yang memiliki warna umum coklat ini memiliki urat bewarna coklat gelap yang berjarak antara satu dengan yang lainnya sedikit jarang. Kayu Jati sebenarnya dibawa ke Indonesia sekitar tahun 1800 oleh Belanda ke Indonesia dan tumbuh subur di beberapa daerah panas di pulau Jawa, dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Kayu Jati yang berkualitas tinggi biasanya di supply oleh daerah yang memiliki temperatur panas dan tanah yang berkapur seperti di Jawa Tengah.

Kayu Jati terkenal akan kekuatan dan kepadatannya, yang mempengaruhi durabilitas kayu ini. Minyak didalam Kayu Jati dianggap membuatnya menjadi lebih tahan rayap, dan pori-pori nya yang kecil menyebabkan kayu ini dapat di finishing sangat halus. Kepadatan Kayu Jati membuatnya menjadi kayu favorit untuk dibuat ukiran.

Kayu jati memiliki kekerasan antara 630-720 Kgs/M3

Kayu Jati saat ini juga sering diburu bekas-nya untuk menghasilkan produk berkesan rustic, dan dengan berbagai karakter yang disebutkan tadi Kayu Jati sangat cocok untuk di jadikan furniture berkelas dan bahan bahan ukiran.

2. Meranti

35

Kayu Meranti atau sering juga disebut Kayu Kalimantan merupakan kayu yang sering dipergunakan untuk membuat kusen, furniture dan panel. Mendapat julukan Kayu Kalimantan karna meskipun dapat tumbuh diberbagai daerah di Indonesia sebagai negara tropis, Kayu Meranti tumbuh paling baik di daerah Kalimantan. Batang Kayu Meranti dapat tumbuh hingga 70 meter dengan diameter bisa mencapai 4 meter lebih. Kayu Meranti yang bahasa latinnya Mahoni Philipina sering kita temui berwarna coklat kemerahan dan tanpa urat (grain), dijual di toko material sebagai papan atau kaso.

Kayu Meranti memiliki tingkat kekerasan antara 580-770 Kgs/m

Selain sebagai bahan bangunan dan furniture, Kayu Meranti juga dapat di jadikan Pulp untuk kertas dan buah Tangkawang dari beberapa jenis Meranti dapat dijadikan bahan baku untuk kosmetik.

Berdasarkan karakteristik dari Kayu Meranti, Kayu ini lebih cocok digunakan untuk bahan bangunan atau furniture yang finishingnya menggunakan cat.

3. Merbau

merbauflooring41

Kayu yang berasal dari Maluku dan Papua ini merupakan jenis kayu keras dan memiliki julukan sebagai Kayu Besi. Kayu Merbau telah menjadi primadona lokal dan eksport sejak lama karna kualitasnya yang superior. Kayu Merbau berwarna coklat abu gelap atau merah coklat gelap dengan arah serat yang hampir lurus. Kayu ini dapat tumbuh menjulang hingga 50 meter dengan diameter hingga 2 meter. Karna kekerasan dan durabilitasnya, Kayu Merbau banyak dijadikan sebagai parkit untuk lantai, tiang bangunan, bak truk hingga digunakan sebagai bahan konstruksi jembatan. Saat ini harga Kayu Merbau cukup bersaing dengan harga Kayu Jati.

Daya tahan Kayu Merbau yang tinggi juga dapat diaplikasikan sebagai material konstruksi laut. Dalam pengolahannya, Merbau tidak sulit untuk dipotong dan di finishing, tapi cukup sulit untuk dibubut dan di paku karna meskipun keras memiliki sifat getas karna serat-seratnya yang pendek.

Dengan karakteristiknya tersebut, Kayu Merbau dapat dijadikan andalan sebagai bahan bangunan dan konstruksi.

4. Albasia

sengon1Kayu Sengon atau Albasia merupakan kayu khas daerah tropis dan dapat dengan mudah ditemui diberbagai toko material dalam bentuk kaso atau papan. Kayu Albasia termasuk kayu yang lunak dan sulit untuk langsung di finishing, karakternya yang berbulu dan berpori-pori besar dan mudah patah membuat Kayu ini tidak dapat langsung dijadikan material pembuat produk. Meskipun demikian permintaan Albasia yang meningkat dari tahun ketahun memberikan bukti bahwa penggunaan dan manfaat yang disadari produsen atas kayu ini juga semakin luas. Kenyataannya kayu yang mudah untuk di oleh ini dipergunakan sebagai bahan utama pembuatan kayu olahan seperti triplex dan blockboard, stick ice cream, pensil, korek api hingga bahan baku untuk kertas.

Papan dan balok Kayu Albasia sering kita temukan menjadi material bangunan penyangga dan sementara, digunakan untuk packing pada shipping atau pallet untuk barang. Warna nya putih kotor bercampur coklat tampa urat, berpori-pori besar dan lunak.

5. Cendana

kayu-cendana

Wangi, itulah kesan pertama yang anda dapatkan pada kayu Cendana. Kayu yang sering digunakan sebagai bahan baku dupa dan produk-produk kerajinan ini sebenarnya bukan merupakan golongan pohon yang tinggi bahkan bisa disebut sebagai parasit. Pohon Cendana hanya tumbuh hingga 15 meter dengan diameter batang hanya 30 cm, sulit dibudidayakan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat dipanen namun sangat diminati dipasaran menjadikan kayu ini relatif cukup mahal, bahkan dijual dengan takaran kilogram. di Indonesia Kayu Cendana putih dapat tumbuh subur di daerah NTT (Nusa Tenggara Timur) dan telah menjadi komoditas eksport sejak lama.

Kayu Cendana yang diubah menjadi produk kerajinan dan furniture sebaiknya tidak di coating, tapi justru dibiarkan polos agar wangi dari Kayu Cendana ini dapat dinikmati saat berinteraksi dengan produk tersebut. Kayu ini sangat baik dan kokoh untuk dijadikan furniture dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi baik didalam maupun diluar negeri.

6. Ulin

Kayu-Ulin-komoditas-kayu-terbaik-di-Nusantara

Kayu Ulin merupakan salah satu kayu yang dapat dijadikan sebagai material pembuat kapal yang berasal dari Kalimantan dan Sumatra bagian selatan. Kayu Ulin dapat tumbuh hingga 50cm dengan diameter hingga lebih dari 1 meter. Kayu Ulin terkenal sangat tahan perubahan suhu, kelembaban, tidak mudah dimakan rayap dan pengaruh air karna bersifat berat dan keras.

Kayu Ulin dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan terutama konstruksi. Di daerah tempat ditemukannya banyak Kayu Ulin yaitu Kalimantan, kayu ini sejak dahulu kala dipergunakan sebagai bahan pembuat rumah panggung bagi penduduk lokal. Selain itu Kayu Ulin juga sering dimanfaatkan oleh penduduk lokal untuk digunakan sebagai bahan kerajinan seperti patung hingga perhiasan.

Kayu Ulin termasuk Kelas Kuat I dan Kelas Awet I dengan berat jenis 1.04.

7. Eboni

2204781_photostockkayuebony_page_3_upd

Kayu yang memiliki nama latin Diospyros Celebica ini, kini sudah cukup langka. Perpaduan warna hitam dan coklat dengan urat yang kontras pada kayu yang terkenal dengan nama Macassar Ebony dan Black Ebony ini membuatnya menjadi kayu yang sangat diburu oleh bangsa Jepang, Eropa dan Amerika. Kegiatan eksport kayu ini mencapai puncaknya pada tahun 1973 dengan jumlah mencapai 26.000 m3 dan terus menurun hingga kini ditetapkan oleh IUCN dan 2000 WCN (World Conservation Union) Red List of Threatened Species sebagai kayu yang dilindungi.

Pohon Kayu Eboni dapat tumbuh hingga 40m dengan diameter hingga 1 meter dan merupakan kayu kelas awet 1 dan kelas kuat 1 dengan berat jenis rata-rata 1.05 (0.90-1.14), dengan berat jenis ini kayu Eboni tergolong berat dan tidak dapat mengapung di air.

Kayu dengan urat yang eksotis ini kerap dijadikan bahan baku pembuatan alat musik seperti gitar, piano hingga biola. Kayu ini juga digunakan sebagai tongkat, ukir-ukiran, patung dan juga perhiasan.

8. Trembesi

3604992_tmpksmpiinga1

Beberapa waktu yang lalu, sebuah perusahaan rokok membuat program CSR dengan penanaman ribuan bibit pohon Trembesi, alasannya pohon Trembesi merupakan salah satu jenis pohon yang dapat menyerap hingga 28.5 ton gas CO2. Selain manfaatnya sebagai penyerap gas CO2 yang baik, Kayu Trembesi kini juga semakin diminati oleh pasar lokal dan Asia untuk dijadikan bahan baku furnitur, ukiran dan patung. Hal ini disebabkan oleh urat Kayu yang dimiliki Kayu Trembesi yang menawan.

Kayu Trembesi mudah tumbuh diberbagai daerah Tropis dan curah hujan yang tinggi mulai dari Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Maluku hingga Nusa Tenggara. Kayu Trembesi dapat tumbuh hingga mencapai 40m dengan diameter hingga 4.5 meter. Kayu Trembesi yang juga disebut Kayu Meh di daerah Jawa yang berarti “hampir menyerupai Kayu Jati ini sering diubah menjadi furniture indoor yang tebal-tebal dan lebar hingga 1.5meter, hal ini disebabakan kekuatannya yang kurang dan cukup lentur sehingga pengolahan kayu ini lebih condong dipotong lebih besar. Kepadatan atau Density Kayu Trembesi yang kurang membuatnya kurang cocok dijadikan bahan baku furniture outdoor. Selain menjadi bahan baku Furniture, Kayu Trembesi juga sering digunakan sebagai bahan pembuat veneer.

Kayu Trembesi memiliki berat jenis 0.60 dengan tingkat keawetan kelas IV dan Kelas Kuat III. Pohon Kayu. Kayu Trembesi kurang awet karna menghasilkan minyak kayu yang membuatnya tahan terhadap serangan rayap lebih sedikit dibandingkan dengan Kayu Jati.

9. Bangkirai

reywoodindonesia_woodtypes_Kayu-Bengkirai_002Kayu yang memiliki nama lain Yellow Balau atau Balau ini banyak ditemukan di Indonesia, Malaysia dan Filipina. Di Indonesia, Kayu ini banyak dipasok dari hutan Kalimantan. Kayu Bangkirai dapat tumbuh hingga 40 meter dengan diameter hingga 120 cm. Kayu ini bewarna kuning kecoklatan dengan kekerasan antara 880-990 kg/m3 hingga 1050 kg/m3 pada kekeringan 12%. Pada suhu normal Kayu Bangkirai dapat kering dalam waktu 12 hingga 1 bulan. Ikatan antar serat yang kuat dan mudah diolah menjadikan kayu ini cocok untuk decking, outdoor furniture, dan berbagai keperluan konstruksi lainnya namun pada beberapa jenis bangkirai seratnya cenderung mudah terbuka dam mudah melintir sehingga tidak disarankan dipergunakan pada konstruksi yang membutuhkan kestabilan tinggi.

Kayu Bangkirai cukup terkenal didunia perkayuan dengan tingkat keawetan dari kelas I hingga kelas III dan Kelas Kuat I dan II. Kayu Bangkirai memiliki berat jenis rata-rata 0.91.

10. Kamper

jual-kayu-kamper-singkil-oven-pd-harapan-bersamaDahulu kala penggunaan getah beberapa jenis Kayu Kamper menjadi kapur barus merupakan kegiatan bisnis primadona yang membuat Sumatera menjadi terkenal. Penggunaan kapur barus dapat ditemui pada buku History of Sumatera (1783) yang ditulis oleh William Marsden, Kimiya’Al-‘Ltr (Abad ke-9) yang ditulis oleh Al-Kindi dan Actius dari Amida (502-578) serta berbagai tulisan lainnya yang mempropagandakan penggunakan kamper/kapur barus, bahkan disebutkan pula bahwa pada abad ke 2 masehi terdapat bandar dagang yang terkenal menjual kapur barus bernama Barosai. Kini penggunaan kapur barus semakin meluas dan dibuat pula sintetisnya dengan terpentin. Selain wangi, kapur barus juga dipergunakan untuk mengawetkan mayat dan tidak disukai oleh hama. Demikian pula kayu kamper, kayu ini termasuk kayu yang tahan hama sehingga banyak diminati banyak orang.

Kayu Kamper berwarna coklat muda hingga coklat kemerahan dan hampir mirip dengan Kayu Mahoni. Kayu Kamper termasuk Kayu berkelas awet II, III dengan kelas kuat I dan II, Meskipun Kamper dapat ditemui diberbagai daerah, Kayu Kamper yang berasal dari Samarinda terkenal halus dibandingkan dengan daerah yang lain. Selain Kamper Samarinda, dipasaran dikenal juga Kamper Singkil, Kamper Kapur dan Kamper Banjar.

11. Sonokeling

dscn6293

Ini dia Rosewood-nya Indonesia, Sonokeling, Sonobrit, Sonosungu atau Sanakeling merupakan kayu yang memiliki corak yang indah, bewarna coklat gelap dengan alur-alur berwarna hitam membuat kayu ini terlihat sangat eksotis. Pohon Kayu Sonokeling dapat tumbuh hingga 40 meter dengan diameter mencapai 2 meter. Pohon ini dapat ditemui di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur terutama didaerah-daerah yang berbatu dan agak kering.

Kayu Sonokeling dimanfaatkan untuk membuat berbagai jenis produk, mulai dari furniture, alat musik, hingga alat-alat olah raga. Dengan Berat jenis 0.77-0.86 dengan kadar air 15%, Kayu ini juga termasuk kayu indah kelas 1, kelas awet I dan kelas kuat II. Karna Sonokeling termasuk kayu keras, maka kayu ini dahulunya sering digunakan sebagai bahan konstruksi dan bahan pembuat kusen-kusen mewah yang kuat. Kayu Sonokeling yang juga memiliki kadar air yang rendah serta cukup menghasilkan minyak kayu juga terkenal tahan akan serangan rayap dan jamur pembusuk kayu.

12. Sungkai

plinsungkai04

Kayu berwarna terang ini merupakan material Kayu yang sering digunakan oleh pengrajin untuk membuat furniture indoor. Kayu Sungkai juga diolah oleh industri menjadi veneer yang warna dan coraknya banyak diminati oleh pasar. Dengan corak Kayu perpaduan antri warna kuning, coklat muda dan kuning setelah kuning, Kayu Sungkai dapat mempertegas kesan segar dan compact pada furniture indoor.

Dipasaran harga Kayu Sungkai jelasnya lebih murah di bandingkan harga Kayu Jati atau Sonokeling, oleh karna itu pemakaiannya juga lebih luas dibandingkan Kayu Jati, Sonokeling atau Ulin yang kelasnya lebih tinggi. Dari segi kualitas, meskipun coraknya cukup menawan, kayu ini hanya termasuk kayu Kelas Kuat II dan III dan Kelas Awet II dan III juga. Massa jenis dan bobot Kayu Sungkai apalagi jika telah melalui proses Kiln atau pengeringan akan lebih berat sedikit di bandingkan Kayu Pinus, Oleh karna itu, penggunaannya disarankan bukan untuk keperluan outdoor kecuali dengan treatment khusus.

13. Pinus dan Cemara

spruce-316002_1280

Dari beberapa artikel yang saya baca, pada dasarnya Pohon Pinus dan Cemara memiliki ciri fisik dan nama latin yang berbeda pula, namun corak kayu nya tidak berbeda terlalu signifikan. Kayu Cemara memiliki warna yang lebih menonjol dibandingkan Kayu Pinus, Kayu Cemara terkesan lebih merah dan pekat dibandingkan warna Kayu Pinus yang lebih kuning dan terang. Selain itu Kayu Cemara memiliki banyak (mata) karna lebih banyak ranting dan cabang dibandingkan Kayu Pinus.

Pinus dan Cemara memiliki banyak manfaat, mulai dari segi religius (sering digunakan sebagai pohon natal) hingga kesehatan. Selain itu, Kayu nya juga dapat dimanfaatkan untuk banyak hal. Kayu Pinus dan Cemara terkenal lembek dan mudah rusak, kepadatan kayunya yang kurang justru dimanfaatkan untuk produk-produk kayu yang membutuhkan pengolahan ringan, disposable dan flamabelity yang tinggi seperti korek api dan palet kayu untuk shipping. Kayu Pinus dan Cemara termasuk Kayu dengan Kelas Awet dan Kuat level III. Kayu Pinus dan Cemara memiliki densitas/kepadatan 480-520 kg/m3 dan kadar air MC 12% dan butuh waktu 12-15 hari untuk pengeringan.

Meskipun Kayu Pinus dan Cemara kini sering digunakan untuk  furniture, sebaiknya perlu diingat bahwa kayu ini merupakan kayu dengan kekuatan dan keawetan rendah, warnanya mudah berubah dibawah sinar matahari. Disarankan jika dipergunakan sebagai furniture sebaiknya menggunakan ukuran yang tebal dan tidak terkena air.

14. Kelapa

93-thickbox_default

Diberbagai belahan dunia, kayu kelapa telah dipergunakan sebagai material untuk berbagai keperluan karna keberlimpahannya di alam. Mulai dari kerajinan hingga furniture, Kayu Kelapa menjadi Kayu yang hampir semua orang kenali. Kayu Kelapa telah digunakan sebagai tiang-tiang bangunan hingga jembatan karna kekuatannya. Kayu ini memiliki corak yang unik, perpaduan coklat tua dan coklat muda yang kontras yang berbentuk lurus-lurus. Serat-serat kayu kelapa cukup pendek sehingga pada papan olahan dari kayu kelapa terlihat seperti goresan-goresan pendek. Serat berwarna gelap merupakan serat yang lebih keras dibandingkan serat yang lebih terang.

Kayu Kelapa tergolong kayu Kelas Kuat II dan III dengan berat jenis dari 0,5 hingga 0,9 tergantung umur dari pohon tersebut. Densitas Kayu Kelapa rata-rata 400 kg/m3 dengan diameter batang hingga 50cm dan hampir lurus keatas.

Salah satu  produk akhir dari Kayu Kelapa yang saat ini menjadi produk andalan ekspor adalah parket Kayu Kelapa. Parket Kayu Kelapa saat ini menjadi primadona dipasar Eropa karna menjadi salah satu produk olahan Kayu yang mendapat predikat Eco Labelling.

Kayu ini dapat diolah dengan baik menggunakan mesin-mesin namun sulit untuk diberi bahan pengawet karna termasuk kayu yang padat. Kayu Sonokeling sejak tahun 1998 dicatat sebagai kayu yang dilindungi karna sudah terancam punah, oleh karna itu bijak menggunakannya dan memanfaatkannya secara efektif dan efisien adalah keharusan bagi pengguna nya.

15. Mahoni

kayu-mahogany

Butuh kayu untuk di bengkok-kan (bend) dan mampu bertahan lama dalam bentuk tertentu serta sangat baik difinishing duco atau alami maka Kayu Mahoni merupakan kayu yang tepat. Baik secara vertikal maupun secara horizontal Kayu Mahoni cukup baik dalam uji tekan sehingga dapat diaplikasikan penggergajian dari berbagai arah dengan baik. Karna kayu ini lebih lunak dibandingkan Kayu Jati, Kayu ini cukup mudah untuk di ukir dan dibentuk sesuai keinginan.

Kayu Mahoni cukup tahan terhadap serangan hama kayu, dan ketika di proses seperti pemotongan atau dipaku tidak mudah retak, dan cukup mudah untuk diampelas. Kayu ini tahan terhadap keretakan saat di steam pada proses pembengkokan. Kayu Mahoni memiliki ciri fisik berwarna merah pada bagian dalamnya, berpori-pori kecil dan plain (coraknya tidak terlalu kelihatan).

Pohon Kayu Mahoni dapat dipanen pada umur 7 hingga 15 tahun, dan dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis. Penggunaan Kayu Mahoni cukup luas karna kekuatan dan ketersediaanya yang cukup banyak sehingga banyak digunakan didunia konstruksi dan pertukangan. Pohon Kayu Mahoni dapat tumbuh hingga berdiameter 125cm dengan tinggi 35-45 m. Pohon ini sering ditanam dipinggir jalan karna ditengari dapat mengurangi polusi udara hingga 69% dan membantu penangkapan air serta berdaun lebat sehingga menjadi peneduh dipinggir jalan.

16. Kayu Aren

lodor dari kayu aren

Orang yang sakti dan punya ilmu kebal, jika ditusuk dengan ruyung tetap akan mati. Kepercayaan orang Sunda terhadap pepatah ini dapat ditemukan logikanya, Kayu Aren atau Ruyung terhitung keras dan jika disabet pinggirannya setajam sembilu.  Pengolahan Kayu Aren dapat merusak mesin pengolah seperti ketam mesin dan gergaji lebih cepat dibandingkan kayu yang lain, hal ini disebabkan Kayu Aren memiliki urat kayu yang berwarna hitam yang sangat keras. Karna masih dalam keluarga Palma, Kayu Aren memiliki corak seperti Kayu Kelapa, namun perbedaan yang kontras dapat terlihat dari warna-nya yang jauh lebih gelap dibandingkan Kayu Kelapa.

Aren, Enau, Hanau, Peluluk, Moka dan banyak lagi sebutan untuk tumbuhan aren ini memiliki pohon yang dapat tumbuh hingga 25 m dengan diameter hingga 65cm. Bagian batang Aren yang dapat digunakan sebagai papan adalah bagian agak luar hingga 10cm kearah dalam. Sedangkan bagian dalamnya lebih mudah rusak karna lebih lunak. Selain batang, Kayu Aren kita kenal sebagai penghasil gula merah, aren atau enau, dan penghasil kolang-kaling. Tidak sedikit yang mengubah air enau menjadi tuak diberbagai daerah di Indonesia karna air nira cepat terfementasi di udara.

Di negara Jepang, parket Kayu Aren yang berwarna hitam cukup disukai meskipun eksportir mengatakan bahwa biasanya mereka lebih meyukai warna-warna kayu yang terang. Di daerah seperti Sulawesi, Kayu Aren biasanya digunakan sebagai papan, gagang pisau, gagang cangkul dan empulurnya dijadikan untuk penyaluran air.

Selain berbagai jenis kayu yang sudah disebutkan tadi, Indonesia memiliki banyak jenis kayu endemik dan kayu-kayu yang berkualitas tinggi lainnya yang harus kita jaga keberlangsungan supplynya serta dapat kita manfaatkan untuk berkarya. Untuk itu yuk kita tingkatkan pengetahuan dan skill kita dalam memahami material ini agar kita dapat menghasilkan nilai tambah dari berbagai material mentah yang disediakan oleh alam seperti kayu.

Mau tau lebih banyak soal finishing kayu, lihat dulu artikel ini. 

Sumber ;

Wikipedia, Manfaat, Info Mebel Furniture, Rimba Kita, VEDC Malang, Blog Kayu Indonesia, Sari Jati, Kampuz Sipil, Investasi Duniamu, Kayu Albasia, Rumah Cahaya, Sekilas Web, CV. Maju Bersama, Taman Nasional Kutai, Kidnesia, Mebel Trembesi, Peluang Usaha, Baron Y, Tentang Kayu, O2 Indonesia, Alam Endah, Imania Desain, Fabelio, Duta Rimba, Kayu Pinus, Kayu Pinus Bandung, Kelapa Balok, Produk Kelapa, Sarana Bangunan, Kayu Aren

Dokumentasi Pelatihan Dasar Kerajinan Rotan dan Kayu

Desain Produk adalah salah satu solusi dari beberapa solusi yang kita butuhkan agar dapat bersaing ditengah pasar global saat ini terutama MEA (Masyarakat Ekonomi Asia). Dengan desain produk dapat dihasilkan produk-produk yang berorientasikan pasar serta sesuai dengan kaidah-kaidah kebutuhannya. Hal ini bukan hanya berlaku pada produsen-produsen dengan skala manufacturing atau besar, tetapi juga pada produk-produk kerajinan.
Penerapan desain produk pada kerajinan dapat memberikan solusi yang dibutuhkan oleh para pengrajin, perpaduan antara skill dan pengalaman produksi para pengrajin dengan desain yang baik memberikan harapan agar produk hasil kerajinan mempenetrasi pasar didalam dan luar negri.
Pelatihan dasar kerajinan dan furniture rotan di Kalimantan Timur bersama UPTD P3UKM dibawah Desperindagkop (Departemen Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi) merupakan langkah awal yang tepat dari aplikasi solusi yang kita butuhkan dalam kondisi persaingan yang ada saat ini. Dengan pelatihan ini desainer produk dan pengrajin dapat bertukar pikiran dan membukan wawasan para pengrajin bagaimana caranya menentukan pasar yang akan dituju untuk produk-produk yang dihasilkan serta bagaimana menghasilkan produk-produk yang berkualitas dari berbagai hal.
Pendampingan para pengrajin pada pelatihan ini membuktikan bahwa input desain dan integrasi antara desainer produk dan pengrajin dapat menghasilkan wacana produk yang lebih luas dan output yang maksimal dari material yang digunakan yaitu rotan. Pelatihan ini perlu terus digiatkan dan dirancang sedemikan rupa agar memenuhi tahap-tahap tertentu agar tercipta hubungan yang langgeng antara desainer produk dengan pengrajin sehingga mendapatkan hasil yang diharapkan.
Pelatihan awal ini tentunya membutuhkan berbagai evaluasi yang nantinya dapat mendapatkan kualitas pelatihan yang lebih maksimal dikemudian hari. Beberapa evaluasi tentang pelatihan ini adalah sebagai berikut ;

  1. Koordinasi yang baik dan maksimal baik dari segi materi maupun waktu antara pembuat program pelatihan dengan pemberi materi pelatihan hingga instruktur pelatihannya.
  2. Mengetahui sasaran pelatihan dengan tepat dengan melakukan penelitian dan pendataan sehingga pelatihan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh peserta pelatihan.
  3. Mengetahui dengan tepat permasalahan yang dihadapi oleh para peserta pelatihan sehingga pelatihan dapat menjadi salah satu solusi yang dibutuhkan oleh para peserta pelatihan.
  4. Mengetahui dengan tepat kapabilitas dan capaian calon peserta pelatihan sehingga dapat dijadikan benchmarking untuk pengembangan yang dilakukan pada pelatihan.
  5. Khususnya pada pelatihan-pelatihan seperti ini, perlu adanya rancangan awal yang diberikan oleh para pelatih dan dikoordinasikan dengan pihak penyelenggara pelatihan sehingga penyediaan kelengkapan yang dibutuhkan saat pelatihan cukup lengkap seperti alat, mesin dan material yang dibutuhkan pada saat pelatihan
  6. Perlu adanya profil para peserta pelatihan dan pemberi pelatihan yang dikompilasikan pada sebuah dokumen untuk interaksi lebih lanjut setelah pelatihan selesai antara kedua-nya.
  7. Perlu adanya koordinasi lebih lanjut antara pemberi pelatihan dengan pelaksana pelatihan tentang tahap selanjutnya tentang pengembangan lebih lanjut setelah program yang dilakukan selesai.

Dengan interaksi, kerjasama serta hubungan yang baik dengan berbagai pihak, tujuan yang diharapkan dari pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh pemerintah seperti ini tentunya membuat kita dapat melihat masa depan yang lebih baik bagi perkembangan pengetahuan serta motivasi yang berimplikasi pada peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia.

Cacat pada Rotan

PENDAHULUAN

Dengan semakin ketatnya pemanfaatan hasil hutan baik kayu maupun bukan kayu dimana rotan termasuk didalamnya maka diperlukan pengawasan yang lebih intensif. Dari segi dunia usaha , bahan baku dan biaya biaya-biaya lain yang harus ditekan, antara lain pajak dalam rangka menekan biaya tentunya memerlukan pemikiran efisiensi bahan dan angkutan.Untuk menunjang kemampuan bersaing di bidang pemasaran, maka diperlukan adanya peningkatan pemahaman terhadap beberapa prinsip dasar antara lain :

  1. Ketepatan kegunaan
  2. Pelayanan yang baik
  3. Mutu yang mantap
  4. Harga yang wajar

Unsur penunjang terhadap ketepatan kegunaan adalah pemahaman terhadap selera konsumen, kejelian memanfaatkan rotan menurut jenis/mutu dan kemampuan dalam menerapkan teknologi desain produk. Pelayanan yang baik ditentukan antara lain kemampuan menyerahkan produk tepat waktu dan kontinyu sesuai perjanjian dan kemampuan memberikan jaminan kepercayaan bagi konsumen terhadap kemantapan mutu. Mutu yang mantap ditentukan dengan kemampuan menilai pengaruh cacat terhadap daya kegunaan produk dan kemampuan menetapkan mutu secara tepat berdasarkan peraturan pengujian yang merupakan titik temu antara produsen dan konsumen. Harga yang wajar ditentukan dengan penerimaan yang wajar dari setiap institusi sesuai dengan pengorbanan yang diberikan baik berupa barang dan jasa . Dengan pemahaman pengenalan cacat maka dapat dipastikan bahwa keberhasilan pembinaan dan peningkatan mutu tidak terlepas dari ketrampilan menetapkan nilai dan pengaruh cacat terhadap daya guna dan hasil guna produk dalam pemanfaatannya oleh konsumen. Dalam pengenalan cacat rotan lebih mendalam perlu dipelajari tentang penyebab cacat, variasi cacat, pencegahan cacat, nilai cacat dan pengaruh cacat. Tujuan dari Pengenalan cacat rotan adalah peserta diharapkan mampu: menjelaskan cacat rotan mengidentifikasi, mengukur dan menilai cacat rotan.

PENYEBAB CACAT ROTAN

  1. Faktor Genetis
    1. Batang tidak lurus – Pada umumnya batang rotan berbentuk silindris atau hampir silindris. Bila terjadi penyimpangan dari bentuk tersebut maka dinyatakan sebagai cacat. Batang yang bentuk batangnya tidak silindris dapat berupa tidak silindri sepanjang badan, atau hanya pada sebagian atau pada beberapa ruas saja. Contoh rotan yang bentuknya tidak silindris sepanjang batang adalah Rotan : Semambu, Tabu-tabu, Wilatung, Tanah dan Cemeti. Sedang yang tidak silindris dalam beberapa ruas adalah Rotan Mawi, Tarumpu dan Dahan.
    2. Buku menonjol – Pada umumnya rotan yang tidak silindris mempunyai buku yang menonjol sehingga ukuran diameter tiap ruas sepanjang batang tidak sama. Selain itu terdapat jenis rotan yang bentuk bukunya agak menonjol adalah Rotan : Batang, Manuk, dan Ampar bungkus.
    3. Ruas Pendek – Panjang ruas rotan sekitar 15 Cm atau lebih, bahkan ada yang mencapai 60 atau 100 Cm. Rotan yang mempunyai ruas kurang dari 15 Cm dikategorikan sebagai rotan yang cacat. Rotan tersebut meliputi Rotan : Batu, Tapah, dan Kooboo.
    4. Kulit mudah mengelupas – Rotan mempunyai kulit yang cukup kuat dan keras apabila dipanen telah masak tebang, tetapi Rotan Umbulu mempunyai kulit yang mudah mengelupas
    5. Ketebalan ruas yang berbeda – Ketebalan ruas semua rotan hampir berbeda, tetapi Rotan Irit dan Tohiti mempunyai ketebalan ruas yang perbedaanya menyolok.
    6. Panjang ruas yang berbeda – Rotan yang panjang ruasnya tidak sama sepanjang batang adalah Rotan Irit, sedangkan rotan lainnya hampir sama.
  2. Faktor Alami
    1. Keriput – Rotan yang dipanen setelah masak tebang akan menghasilkan rotan yang elastis, cerah dan keras, tetapi rotan yang ditebang selagi masih muda akan menghasilkan rotan yang lunak dan keriput. Hal ini disebabkan pada rotan muda batang rotan belum terisi zat infiltrasi dan ekstraksi yang berfungsi sebagai penunjang keteguhan serat dan elastisitas
    2. Ketemu buku – Cacat ketemu buku merupakan cacat yang spesifik dan justru mempunyai nilai dekoratif dan nilai jual yang cukup tinggi. Buku-buku yang berdempetan memberikan kesan bahwa ruas-ruas tidak ada. Penyebab terjadinya cacat ketemu buku ini diperkirakan karena adanya tekanan pada pertumbuhannya dan karena jumlahnya yang sedikit maka cacat ini banyak dicari.
  3. Faktor Biologis
    1. Salah warna – Penyebab salah warna yang utama adalah adanya serangan jamur biru ( blue stain ), yaitu dengan adanya perubahan warna dari warna aslinya menjadi kebiru-biruan dan jika dibiarkan akan menyerap air sehingga menyebabkan pelapukan atau rapuh/busuk.
    2. Lubang gerek kecil – Lubang gerek kecil disebabkan karena serangan serangga Ambrosia beetle. Serangan ini mudah terjadi pada rotan yang masih segar, baik yang masih dalam bentuk tegakan atau setelah ditebang dalam tumpukan.
    3. Mata pecah – Mata pecah adalah bentuk cacat yang disebabkan oleh serangan cacing ketika tanaman rotan masih hidup, dan ini merupakan ciri dari Rotan Manau.
  4. Faktor Mekanis
    1. Parut buaya – Parut buaya nerupakan cacat yang disebabkan karena batang rotan yang terlalu lama ditekuk saat panen sampai mencapai kering udara. Parut buaya banyak terjadi pada rotan diameter kecil ( Sega dan Roti) dan juga Rotan Tohiti.
    2. Hangus – Cacat hangus terjadi pada rotan yang mengalami penggorengan dalam rangka pengawetan dan pengeringan. Rotan diameter besar rata-rata memerlukan proses penggorengan, dan rotan diameter kecil yang biasa dilakukan penggorengan adalah Rotan Getah Putih dan Getah Merah. Penggorengan yang terlalu lama, atau yang kurang dibalik dapat menyebabkan hangus.
    3. Kulit tergores – Kulit tergores dapat disebabkan karena terjadi pada saat proses penebangan dan penarikan batang, pembersihan yang kurang hati hati, penumpukan yang kasar.
    4. Pecah buku – Pecah buku adalah pecah yang terjadi disekitar buku akibat kurang hati-hati dalam pembersihan atau perlakuan kikis buku. Kikis buku tidak menjadi persyaratan dalam proses pengolahan, sebab beberapa konsumen untuk jenis rotan tertentu justru mengharapkan tidak dilakukan kikis buku agar jenis rotannya tetap dikenali dan juga memberi nilai dekoratif yang lebih tinggi.
    5. Cacat ukuran Cacat ukuran dibedakan menjadi 2 yaitu :
      1. Bontos tidakiku Bontos tidak siku disebabkan karena kesalahan dalam memotong bontos sehingga bentuknya tidak siku. Hal ini akan mengakibatkan kesulitan dalam pengukuran panjang dan pengepakan.
      2. Salah potong Cacat salah potong disebabkan karena kesalahan memotong sehingga rotan mempunyai ukuran panjang kurang dari panjang bakunya. Akibat salah potong dapat menyebabkan turunnya mutu, karena mutu rotan juga dibatasi dengan ukuran panjangnya.

VARIASI CACAT

Cacat rotan berdasarkan penyebaran dan kombinasi cacat yang ada dibedakan menjadi 4 variasi, yaitu :

  1. Catat Tersebar – Cacat tersebar adalah cacat yang kadarnya kecil dan keberadaanya/eksistensinya sendiri-sendiri. Cacat ini dapat terdiri dari cacat-cacat ringan seperti :
    1. Cacat salah warna
    2. Cacat lubang gerek kecil
    3. Cacat kulit tergores
    4. Cacat mata pecah (khusus pada Rotan Manau)
    5. Cacat hangus
    6. Cacat parut buaya (rotan diameter kecil dan Tohiti)
  2. Cacat Mengelompok Cacat yang berada dalam beberapa ruas dan terdiri dari bermacam-macam jenis cacat.
  3. Cacat Menyeluruh Cacat yang terdiri dari satu macam atau lebih jenis cacat yang tedapat pada seluruh ruas sepanjang batang.
  4. Cacat Tidak Diperkenankan Cacat yang tidak diperkenankan meliputi cacat keriput dan cacat rapuh/busuk.

PENCEGAHAN CACAT

Untuk mencegah beberapa cacat yang diakibatkan oleh selain genetis dapat diupayakan dengan beberapa perlakukan.

  1. Faktor Alami
    1. Keriput
      • Pencegahan : Larangan pembelian rotan tebangan muda (prematur) dan tidak menebang rotan muda.
      • Penanggulangan : Rotan muda ditolak uji, dan pengusaha yang membeli rotan muda dikenakan sanksi.
    2. Ketemu buku
      • Pencegahan : Karena jumlahnya yang sedikit dan cacat ini banyak dicari maka tidak perlu ada pencegahan.
      • Penanggulangan : Rotan ketemu buku digunakan sebagai bahan baku pembuatan perabotan dengan nilai dekoratif yang tinggi
  2. Faktor Biologis
    1. Salah warna
      • Pencegahan : Hindari penumpukan ditempat yang lembab, segera di keringkan/dijemur, diawetkan/fumigasi. Jika setelah ditebang rotan tidak dapat segera diangkut maka rotan sebelum kadar air berkurang segera direndam di sungai untuk menunggu pengangkutan.
      • Penanggulangan : Cacat warna menyebar dihilangkan dengan menggosok, sedangkan cacat warna mengelompok dan menyeluruh yang digoreng, dikeringkan, atau difumigasi dapat dikurangi daya efektifitas cacatnya.
    2. Lubang gerek kecil
      • Pencegahan : Hindari penumpukan di tempat tebangan terlalu lama, segera bersihkan dari pelepah daun, kelopak batang, dan kotoran lainnya dan segera keringkan/diawetkan.
      • Penanggulangan : Rotan segera digoreng dan fumigasi agar serangga/kumbang yang ada didalamnya mati.
    3. Mata pecah
      • Pencegahan : Serangan cacing pada tanaman rotan budidaya lebih mudah dilakukan penyemprotan dengan pestisida, tetapi untuk rotan dari hutan/alam yang tumbuh dilereng-lereng sulit untuk dicegah.
      • Penanggulangan : Tidak diperlukan perlakuan khusus, sebab cacing akan pergi/menghindar saat rotan ditebang.
  3. Faktor Mekanis
    1. Parut buaya
      • Pencegahan : Jangan biarkan rotan sampai kering udara, segera diluruskan, dan rotan segera dipotong sesuai dengan ukuran yang dikehendaki.
    2. Hangus
      • Pencegahan : Lama penggorengan untuk setiap jenis rotan disesuaikan dengan lama optimal, jadwal penggorengan diletakkan disekitar tempat penggorengan, diperlukan ketrampilan tenaga penggoreng. Alat penggorengan memenuhi persyaratan, adanya penelitian komposisi minyak penggoreng, rotan dicuci terlebih dahulu.
      • Penanggulangan : Rotan gosong/ hangus tetap dinilai sebagai cacat dan nilainya sesuai dengan cacat yang melekat padanya.
    3. Kulit tergores
      • Pencegahan : Pelatihan ketrampilan dan menyediaan peralatan bagi para pengumpul.
      • Penanggulangan : Diolah menjadi rotan kupas halus untuk meningkatkan nilai ( dekoratif ).
    4. Pecah buku
      • Pencegahan : Pemberian ketrampilan bagi pengolah untuk menentukan perlu dilakukan kikis buku atau tidak.
      • Penganggulangan : Diolah menjadi rotan kupas/poles halus untuk meningkatkan nilai ( dekoratif ).
    5. Cacat ukuran
      • Pencegahan : Pemberian ketrampilan, pengetahuan tentang standarisasi, dan pemberian peralatan yang memadahi bagi tenaga kerja di bidang pembagi batang.
      • Penanggulangan : Rotan salah potong mutunya tetap disesuaikan dengan ukuran yang telah ditentukan/standar.

MACAM-MACAM CACAT PER SORTIMEN DAN PENGUKURANNYA

Cacat yang mungkin terjadi untuk setiap sortimen/tingkat pengolahan berbeda-beda. Cara pengukuran cacat adalah sebagai berikut.

  1. Rotan Asalan – Rotan asalan adalah batang rotan yang telah mengalami pembersihan dan peruntian, tetapi belum mengalami pencucian dan perlakukan pengolahan lebih lanjut. Jenis cacat dan cara pengukuran yang mungkin terdapat saat pengujian adalah :
    1. Cacat Ringan, terdiri dari alur kulit, lubang gerek kecil, kulit mengelupas, retak kulit, kulit tergores, parut buaya, dan jamur pewarna. Pengukuran :
      1. Cacat rotan yang termasuk cacat ringan masing-masing diukur panjangnya
      2. Jumlahkan panjang masing-masing cacat yang telah diukur.
      3. Persentase cacat ditetapkan dengan membandingkan panjang cacat dengan panjang rotan kali 100 prosen.
    2. Cacat Berat, terdiri dari keriput, lapuk, kulit mengelupas, mata pecah, pecah, dan patah. Pengukuran :
      1. Cacat rotan yang termasuk cacat berat masing-masing diukur panjangnya
      2. Jumlahkan panjang masing-masing cacat yang telah diukur.
      3. Persentase cacat ditetapkan dengan membandingkan panjang cacat dengan panjang rotan kali 100 prosen.
    3. Panjang ruas, panjang ruas diukur dengan satuan Cm penuh.
    4. Pengukuran ketebalan ruas, dilakukan dengan menghitung perbedaan diameter ruas pangkal dan ruas ujung. ( khusus Rotan bulat Sega mutu utama)
    5. Kesilindrisan, dipersyaratkan untuk rotan kupasan. Perbedaan diameter terkecil dengan terbesar dalam prosentase.
    6. Kekerasan/elastisitas, diukur dengan membengkokan salah satu ruasnya. Jika dibengkokkan rotan tidak retak, maka dikatakan rotan elastis, dan jika dibengkokkan retak maka dikategorikan rotan setengan elastis, dan jika dibengkokkan patah maka rotan masuk kategori lunak.
    7. Kecerahan diukur secara okuler, rotan dikatakan cerah apabila rotan mampu memantulkan cahaya dan jika tidak memantulkan maka dikategorikan sebagai rotan tidak cerah.
  2. Rotan Bulat – Rotan bulat adalah batangan rotan yang telah dibersihkan dan sudah mengalami proses pencucian dan pengawetan dengan asap belerang ( Washed & Sulfurized ) yang disebut Rotan Bulat W & S. Jenis cacat dan cara pengukuran yang mungkin terdapat saat pengujian adalah :
    1. Cacat Ringan, terdiri dari salah warna, lubang gerek kecil, serat terlepas, parut buaya, kulit mengelupas, pecah kulit, bekas mata pecah, gosong, kulit tergores, cerah tidak merata.
    2. Cacat Berat, terdiri dari mata pecah, keriput, pecah ujung, pecah tengah, pecah buku, alur kulit busuk, lapuk, patah, kulit mengelupas (selain R. Umbulu) , bontos tidak siku. Cara pengukuran sama dengan dalam pengukuran Rotan Asalan.
  3. Rotan Iratan Kulit Rotan iratan kulit adalah hasil proses pengiratan rotan bagian kulit berbentuk pipih dengan tebal dan panjang tertentu. Jenis cacat dan cara pengukuran yang mungkin terdapat saat pengujian adalah :
    1. Bercak/ Noda Warna – Ukur panjang bagian cacat yang disebabkan oleh noda warna abu-abu, hitam, atau coklat. – Bandingkan jumlah panjang bagian cacat dari contoh uji dengan panjang contoh uji dikalikan 100 prosen.
    2. Saluran Penggerek – Ukur panjang bagian cacat yang disebabkan oleh serangga penggerek. – Bandingkan jumlah panjang bagian cacat dari contoh uji dengan panjang contoh uji dikalikan 100 persen
    3. Lubang serangan bubuk – Amati ada tidaknya lubang serangan bubuk.
    4. Panjang Ruas – Ukur panjang ruas dalam satuan Cm minimal 3 ruas. Rata-ratakan hasilnya.
  4. Rotan Iratan Hati Berbentuk Bulat Rotan iratan hati berbentuk bulat adalah hasil proses iratan rotan bagian hati berbentuk bulat dengan garis tengah dan panjang tertentu. Cara menilaian cacat pada rotan iratan hati berbentuk bulat sama dengan penilaian pada rotan iratan kulit.

Bogor, Nopember 2005

Daftar Pustaka

  1. Alex Koamesakh, Pengenalan Cacat Rotan Indonesia, 1988
  2. Alex Koamesakh, Pedoman Pelaksanaan Pengujian Rotan Indonesia, 1989

    Sumber : Karmidi

Bridge of Spies

Bridge of Spies

James Donovan yang diperankan oleh Tom Hank adalah seorang pengacara sebuah perusahaan asuransi yang pada suatu waktu diberikan tugas oleh negara menjadi pengacara bagi seorang mata-mata Russia Rudolf Abel yang ditangkap oleh CIA. James menjalankan tugasnya dengan baik dan melolosakan Abel dari kursi listrik, namun sayangnya dengan keberhasilan tersebut dia dianggap membelot dari negaranya.

Disatu sisi Francis Gary Powers yang bertugas memata-matai Russia ditembak jatuh pesawatnya dan ditahan di Russia, sehingga Abel dapat dijadikan pertimbangan untuk ditukar dengan Powers.

Akhirnya James ditugaskan untuk mengatur pertukaran tersebut dan berhasil membawa pulang Powers dan Frederic Priyor mahasiswa ekonomi asal Amerika yang berkuliah di Jerman.

Drama apik ini penuh intelegensia dan humanisme yang elegan, Stephen Spielberg berhasil merubah paradigma saya sebagai seorang produser yang bisa membuat film alien atau dinosaurus saja.