IKKON – Inovatif dan Kreatif Melalui Kolaborasi Nusantara

Desain merupakan kegiatan yang pada hakikatnya harus berintegrasi dengan banyak komponen. Produk yang dihasilkan desainer sejatinya hadir dari riset dan pengembangan yang matang yang pada akhirnya mampu menjawab kebutuhan pasar. Pada ranah nasional dan aplikasinya dalam meningkatkan daya saing produk berbasis budaya Skenario tersebut berlangsung karena kontribusi berbagai resource.

Atas dasar kesadaran tersebut BEKRAF dipimpin oleh ibu Poppy Savitri, Direktur Edukasi pada Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan menyelenggarakan IKKON 2016

Program yang diselenggarakan beberapa bulan ini menempatkan desainer, antropolog hingga dokumentator yang bekerja sama dengan 5 pemerintah daerah di Indonesia untuk mengembangkan dan mempublikasikan produk hasil kolaborasi tim yang ditempatkan oleh BEKRAF tersebut dengan masyarakat dan pengrajin setempat.
Program ini dimulai dengan pembekalan yang komprehensif oleh Pemateri dari berbagai spesialisasi bagi tim-tim sebelum dikirim ke daerah-daerah tersebut hingga pameran yang akan diselenggarakan di daerah hingga internasional.

“Tantangan tim-tim ini cukup berat, dalam waktu yang terbatas mereka harus benar-benar mampu Men decode artefak kebudayaan lokal dari daerah tersebut kemudian me-re-code nya menjadi produk-produk yang berdaya saing ekspor” kata pak Hastjarjo salah satu Steering Comittee program IKKON ini.

Salah satu keunikan dari program ini adalah mengikut sertakan antroplog didalam tim untuk benar-benar memahami karakteristik dari masyarakat pada daerah yang direncanakan, antropolog memiliki peran penting dalam menggali potensi tersembunyi dari struktur masyarakat dan kearifan lokal untuk kemudian di transformasikan menjadi produk-produk yang kaya akan konsep dan Value. Kemudian produk-produk tersebut juga ditinjau ulang bersama-sama untuk memenuni berbagai kriteria penting dalam rangka memastikan tercapainya goal yang di inginkan.

Daerah-daerah yang akan menjadi tuan rumah program ini meliputi ; Sawahlunto (Sumatra Barat), Pesawaran (Lampung), Lasem-Rembang (Jawa Tengah), Brebes (Jawa Tengah), serta Ngada (Flores). Daerah-daerah tersebut merupakan daerah-daerah yang terkenal akan produk textile nya, kekayaan budaya tersebut diharapkan menjadi salah satu inspirasi penting terhadap pengembangan produk baru yang akan di inisiasi oleh tim-tim yang di terjunkan didaerah tersebut. Agar pengembangan produk ini lebih fokus, Steering Comittee membatasi pengembangan desain pada produk-produk hospitality saja. Produk-produk hospitalitiy akan disinergikan dengan program pariwisata didaerah-daerah tersebut.

Keterangan Program :

Penyelenggara Badan Ekonomi Kreatif – BEKRAF
Deputi Abdur Rohim Boy Berawi
Riset, Edukasi dan Pengembangan
Direktur Poppy Savitri
Steering Comittee Hastjarjo B. Wibowo, Budi Pradono, Felix, Abdi Hasan
Pemateri Dwinita Larasati, Kandi Windoe, Lea Aziz, John Kudos, Tri Anugrah, Yuswohadi, Ari Juliano, Adhi Nugraha, Idham Bachtiar, Arbein Rambey, Rizky Adiwilaga, Tantyo Bangun, Beni Kadar, Eka Sofyan Rizal, Abdi Hasan, Nukman Luthfi, Erie Sudewo, Yusuf Kurniadi
Mentor Lenny Agustin, Asyraaf  Ahmadi, Hagung Kuntjara, Handoko Hendroyono, Arif Budiman
Tim Sawahlunto Sugeng Untung, M. Imam Tobroni, Atria, RR Bunga, Muhammad Alfatha, Evelyn Zhang, Lintang Maraya
Lampung Ratih Mahardika, Gugus Riyono, Chyntia, Febri Ichsan, Indah Amalia, Unira Daranca
Brebes Sylvie Arizkany Salim, Arif PSA, Nadia Mahatmi, Hanny Meiwita, Hanifa, Jowien Tyas N, Yohannes Mauritz, Dika Gusti Nugraha
Rembang Sarah Monica, Anton, Haris Satria, Yayak Suryo B, Alyza Bachmid, Yovitha Adeline, Dinna, Esther Prawira
Ngada Ni Nyoman Sri Ratih, Ika Yulianti, Siti Chadijah, Yoga, Savira LR, Sofia Sari, Dominggo Subandrio,

Workshop Desain Produk, Kemasan dan Fashion

This slideshow requires JavaScript.

Pengembangan Desain Produk dan Kerajinan Indonesia membutuhkan kerja keras dan dedikasi yang tinggi. Masih banyak hal yang harus dikerjakan agar produk-produk Indonesia mendapat tempat yang layak di negrinya sendiri dan internasional.

Topik berulang tentang kayanya sumber daya yang dimiliki Indonesia tidak semena-mena menjadi motivasi untuk melestarikan budaya tersebut, dibutuhkan peran serta berbagai pihak agar tujuan mulia yang kita inginkan terwujud. Kunci penting dari keberhasilan tersebut terletak pada pengetahuan, kesadaran dan motivasi yang kokoh merasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Semua potensi itu harus di gali, dilestarikan, di manage serta dipublikasikan dengan baik.

BEKRAF atau Badan Ekonomi Kreatif yang berusaha memupuk dan menyebarluaskan kesadaran berkreasi membuat berbagai program agar tujuan tersebut tercapai. Salah satunya dengan mengadakan workshop diberbagai daerah Indonesia untuk memperkaya pengetahuan peserta yang terdiri dari berbagai lapisan tentang pentingya kreatifitas sebagai modal memenangkan kompetisi ekonomi global. Salah satunya adalah workshop Desain Produk yang dilaksanakan di Palembang, Sumatera Selatan ini.

Workshop dan seminar singkat ini menjadi kesempatan bagi pembicara untuk menceritakan pengalamannya secara langsung tentang tantangan serta solusi yang digunakannya dalam menghadapi persaingan global. Peserta yang terdiri dari komunitas pengusaha kerajinan, pemerintah dan institusi pendidikan mendapatkan pencerahan tentang bagaimana cara mengembangkan desain produk kerajinan dan fashion selain itu juga tercipta interaksi yang positif antara peserta dan pembicara dalam membicarakan integrasi yang harus terjalin antar berbagai lapisan masyarakat.

Kegiatan positif ini merupakan awal yang baik dan menjadi benchmarking untuk tahap aplikasi pengembangan perekonomian nasional. Pengusaha, Institusi Pendidikan, Desainer dan Pemerintah yang terintegrasi dengan maksimal akan menumbuhkan kreator dan produsen-produsen produk kreatif yang mampu menembus pasar yang lebih luas.

Progress dari kerjasama yang terpantau dan selalu dievaluasi agar terjadi peningkatan mutu dan hasilnya perlu terus dilakukan agar Indonesia menjadi bangsa yang bukan hanya menjadi konsumen produk-produk yang import yang membanjiri pasar nasional, tapi juga ikut memiliki andil besar bersaing dengan kompetitif menyongsong pengembalian marwah bangsanya sebagai bangsa yang memiliki kepatutan dalam berkontribusi membuat dunia lebih baik.

Belajar dari Thailand

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Holiday in Thailand

Tidak seperti yang kami bayangkan sebelumnya Bangkok – Thailand ternyata memiliki pesona yang cukup signifikan dibandingkan Indonesia. Pertama kali mendarat di Bandara Don Muang, tempat tersebut terasa seperti China dengan aksara yang sama sekali tidak kami mengerti. Namun yang membuat kita mulai tersadar ada perbedaan besar dengan bangsa kita adalah attitude.

Melaui jendela taxi dari bandara kami melihat suasana kota yang bersih dan rapih, kemacetan-kemacetan yang dapat ditolerir karna memang kendaraan-kendaraan tersebut mengantri dilampu merah dengan disiplin serta supir taxi yang menggunakan iPhone.

Hotel yang kami pilih bukanlah hotel kelas menengah atau bahkan kelas atas, terdapat kekurangan disana-sini, namun benar-benar dapat dinikmati. Hotel juga menyediakan kendaraan listrik sejenis mobil golf untuk mengantar para tamu ke tempat-tempat yang terjangkau dari lingkungan hotel hingga stasion MRT terdekat.

Hampir menyerupai Jakarta, Seven Eleven merupakan convinience store yang membanjiri Bangkok namun dengan customer yang dipastikan berbaris dengan rapih saat membayar belanjaannya.

Dipagi hari kita dapat menikmati berbagai jajanan pasar dipasar tradisional yang sangat tertata, meskipun kelas warung bahkan kaki lima sekalipun barang dagangan di tata dengan sangat rapih, dan masing-masing menyediakan tempat sampah didekat tempat mereka jualan dan hampir tidak ditemui sampah disekitarnya.

MRT (Mass Rapid Transport), BST (Bangkok Sky Train), Bus, Tuk-tuk, Taxi dan Ojek merupakan moda transportasi umum yang dapat kita temui disana, selain itu di sungai juga terdapat kapal-kapal penumpang. Jika kita lihat transportasi umum tersebut sebenarnya tidak dapat kita bilang modern, bahkan bisa dikatakan sudah banyak yang berumur, namun menyangkut kebersihan, keamanan dan kedisiplinan kita tidak bisa tidak mengacungkan jempol. Anda akan sulit menemukan sampah di bus-bus setua bus kopaja disana, apalagi di moda transportasi modern mereka yaitu MRT dan BST. Orang-orang mengantri bahkan untuk Ojek. Kendaraan-kendaraan pribadi jumlahnya sangat dibatasi dan semua orang terlihat menghormati semua orang. Saat kami di Bangkok beberapa hari, kami hanya mendengar satu kali suara klakson.

Dari segi pariwisata ada banyak sekali yang dapat kita nikmati di Bangkok yang seperti Jakarta merupakan Ibu Kota negara. Ada banyak sekali jumlah kuil-kuil yang dibuka untuk umum dan dinikmati sebagai destinasi wisata, wisatawan pun dapat menikmati wisata belanja di mall-mall yang apik dan bersih, salah satunya adalah MBK. MBK seperti tanah abang atau pasar baru jika di Indonesia, berbagai barang dagangan memenuhi tempat tersebut, pedagangnya pun berasal dari berbagai negara namun ditata dengan baik, tanpa sampah dan memberikan keramah tamahan yang luar biasa.

Saat anda di Bangkok salah satu hal yang tidak boleh anda lewatkan adalah menonton pertandingan Muay Thai, atau Kick Boxing ala Thailand. Pertarungan dapat berlangsung berdarah-darah namun adegan pertarungan ini lebih merupakan budaya bagi mereka, dan budaya tersebut seperti tarian atau bahkan ibadah yang mereka lakukan bukan berdasarkan emosi tetapi adegan fisik yang mereka nikmati dan lestarikan.

Selain itu, BACC dan TCDC juga dapat anda jadikan destinasi wisata dimana anda bisa melihat perkembangan pesat kesenian dan desain-desain Thailand yang modern dan kontemporer, jika anda seniman maupun desainer, anda akan melihat kemirisan yang lahir dari komparasi situasi yang anda alami di Indonesia dengan Thailand.

Terakhir salah satu tujuan wisata lain adalah wisata pendidikan, jika di Indonesia kita kekebun binatang kita kebanyakan hanya akan menikmati suguhan binatang yang dikurung yang dilengkapi dengan deskripsi singkat tentang binatang tersebut, namun di Thailand salah satunya di Snake Farm kita disuguhi presentasi yang mengagumkan tentang berbagai jenis ular, asalnya, sifatnya dan lain sebagainya agar bisa kita mengerti dan pahami pengetahuan tentang binatang-binatang tersebut.

Sehingga saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa Thailand merupakan salah satu destinasi wisata yang memang sudah layak mendunia dan kita tertinggal sangat jauh, dengan kondisi pengetahuan, kesadaran, politik dan hal-hal kompleks dan komplikasi lainnya yang ada di Indonesia untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

Namun rasa pesimis tersebut harus kita singkirkan perlahan dengan berbuat baik dan terbaik untuk bangsa kita, Indonesia. Kita jelas memiliki potensi lebih banyak dari pada yang dimiliki oleh Thailand, tapi kerja keras, pendidikan, determinasi dan attitude adalah kunci utama agar kita dapat mengejar ketertinggalan tersebut.

Hiduplah Indonesia Raya…

Dokumentasi Pelatihan Dasar Kerajinan Rotan dan Kayu

Desain Produk adalah salah satu solusi dari beberapa solusi yang kita butuhkan agar dapat bersaing ditengah pasar global saat ini terutama MEA (Masyarakat Ekonomi Asia). Dengan desain produk dapat dihasilkan produk-produk yang berorientasikan pasar serta sesuai dengan kaidah-kaidah kebutuhannya. Hal ini bukan hanya berlaku pada produsen-produsen dengan skala manufacturing atau besar, tetapi juga pada produk-produk kerajinan.
Penerapan desain produk pada kerajinan dapat memberikan solusi yang dibutuhkan oleh para pengrajin, perpaduan antara skill dan pengalaman produksi para pengrajin dengan desain yang baik memberikan harapan agar produk hasil kerajinan mempenetrasi pasar didalam dan luar negri.
Pelatihan dasar kerajinan dan furniture rotan di Kalimantan Timur bersama UPTD P3UKM dibawah Desperindagkop (Departemen Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi) merupakan langkah awal yang tepat dari aplikasi solusi yang kita butuhkan dalam kondisi persaingan yang ada saat ini. Dengan pelatihan ini desainer produk dan pengrajin dapat bertukar pikiran dan membukan wawasan para pengrajin bagaimana caranya menentukan pasar yang akan dituju untuk produk-produk yang dihasilkan serta bagaimana menghasilkan produk-produk yang berkualitas dari berbagai hal.
Pendampingan para pengrajin pada pelatihan ini membuktikan bahwa input desain dan integrasi antara desainer produk dan pengrajin dapat menghasilkan wacana produk yang lebih luas dan output yang maksimal dari material yang digunakan yaitu rotan. Pelatihan ini perlu terus digiatkan dan dirancang sedemikan rupa agar memenuhi tahap-tahap tertentu agar tercipta hubungan yang langgeng antara desainer produk dengan pengrajin sehingga mendapatkan hasil yang diharapkan.
Pelatihan awal ini tentunya membutuhkan berbagai evaluasi yang nantinya dapat mendapatkan kualitas pelatihan yang lebih maksimal dikemudian hari. Beberapa evaluasi tentang pelatihan ini adalah sebagai berikut ;

  1. Koordinasi yang baik dan maksimal baik dari segi materi maupun waktu antara pembuat program pelatihan dengan pemberi materi pelatihan hingga instruktur pelatihannya.
  2. Mengetahui sasaran pelatihan dengan tepat dengan melakukan penelitian dan pendataan sehingga pelatihan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh peserta pelatihan.
  3. Mengetahui dengan tepat permasalahan yang dihadapi oleh para peserta pelatihan sehingga pelatihan dapat menjadi salah satu solusi yang dibutuhkan oleh para peserta pelatihan.
  4. Mengetahui dengan tepat kapabilitas dan capaian calon peserta pelatihan sehingga dapat dijadikan benchmarking untuk pengembangan yang dilakukan pada pelatihan.
  5. Khususnya pada pelatihan-pelatihan seperti ini, perlu adanya rancangan awal yang diberikan oleh para pelatih dan dikoordinasikan dengan pihak penyelenggara pelatihan sehingga penyediaan kelengkapan yang dibutuhkan saat pelatihan cukup lengkap seperti alat, mesin dan material yang dibutuhkan pada saat pelatihan
  6. Perlu adanya profil para peserta pelatihan dan pemberi pelatihan yang dikompilasikan pada sebuah dokumen untuk interaksi lebih lanjut setelah pelatihan selesai antara kedua-nya.
  7. Perlu adanya koordinasi lebih lanjut antara pemberi pelatihan dengan pelaksana pelatihan tentang tahap selanjutnya tentang pengembangan lebih lanjut setelah program yang dilakukan selesai.

Dengan interaksi, kerjasama serta hubungan yang baik dengan berbagai pihak, tujuan yang diharapkan dari pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh pemerintah seperti ini tentunya membuat kita dapat melihat masa depan yang lebih baik bagi perkembangan pengetahuan serta motivasi yang berimplikasi pada peningkatan taraf hidup masyarakat Indonesia.

Menghajar jalanan dipesisir pantai selatan

Muka kusam, kulit bertambah legam, mata merah tajam di hajar perjalanan panjang menggunakan kendaraan roda dua yang sebenarnya tidak di peruntukkan dikendarai berboncengan, trail. Memulai perjalan di malam jumat yang lalu, di pertengahan malam menuju subuh, kami mengejar sunrise di tepian laut selatan tepatnya di batu karas. Perjalanan tersebut hanya di rencanakan seminggu sebelumnya, dengan tekad yang cukup tulus memenuhi panggilan keinginan merambah jalanan yang tulus tanpa embel-embel pembuktian apapun. Dimulai dari hujung Soekarno-Hatta Bandung, kami mulai menghirup udara malam melewati Ranca Bolang, di kecepatan tinggi, motor tersebut kami pacu hingga harus memilih jalur bawah menuju Tasik setelah bertanya pada polisi agar tidak tersesat. Kami pun melaju melewati udara subuh yang mulai menyusup melalui rongga jaket tebal kami yang sudah kusam. Berpatokan pada catatan kecil kami melaju terus menuju pangandaran, karna kurang paham akan lintas yang kami tempuh jika harus mengambil jalan memotong, jalan tersebut memutar. Akhirnya di penghujung malam kami memutuskan untuk beristirahat di trotoar jalanan, mengebul menyeder pada aspal. Perjalanan kami teruskan di antar azan subuh yang mulai berteriak2 di langgar2 desa yang kami lalui pagi itu. Seiring roda berputar, sekali lagi kami menepi untuk mengisi kerongkongan dengan kopi dan roti lunak khas pinggiran jalan, kami tidak melihat rombongan yang kami tau juga bertujuan hampir sama dengan kami tadi dengan kecepatan yang cukup tinggi sebelumnya. Sebatang rokok dan semangat kami rasa sudah cukup menghalau kami kembali kejalanan untuk mengejar embun di tepi laut, akhirnya kami tiba dan menyapa ombak di Batu Hiu, tida seberapa jauh dari tujuan pertama kami Batu Karas. Kami cukup bergembira memainkan peran kami sebagai makhluk tuhan yang menikmati hamparan karya besarnya tersebut yang kami tau menyimpan makna besar dibalik penciptaannya. Karang-karang besar yang menjulang dan beradu pada pinggiran pantai, kami simpan pesona-nya pada kamera yang kami bawa, bersuka disana menikmati tamparan-tamparan ombak dibibir pantai batu itu. Kami kembali menyusuri jalan ditepian pantai tersebut untuk mengejar perhentian rasa tanya kami pagi itu meski sempat terhenti sejenak melihat aroma alam tidak jauh dari perhentian kami sebelumnya, gas dipacu kami pun melaju melewati pinggiran pantai yang mulai menguap mengundang panasnya daratan rendah. Menyusuri jembatan-jembatan yang dijambang penambatan kapal-kapal nelayan, kami sampai di Batu Karas menjelang 9. Mencari-cari tempat yang tepat mengistirahatkan pantat, kami akhirnya memutuskan untuk memilih warung sepi disana, memesan sarapan, dan saya memilih paduan sayur yang diramu menjadi gado-gado dan sedangkan beliau menyantap telur yang di goreng menjadi omlet dipiringnya sehingga menyebakan dia di panggil mesra oleh toilet disana.

Pernah kami bertemu dan cukup familiar wajahnya sang senior kami yang memutuskan untuk menjadi enterpreneur disana, beliau sedang mengambil gambar untuk TV komersial berlatar debur ombak pantai selatan yang membelai pantai batu karas, beliau lalu berselancar, dan saya menegur sekenanya, karna saya tak ingin menjelaskan identitas saya kembali pada orang yang saya yakin sudah bertemu dengan banyak orang tersebut dan sulit mengingatnya kembali satu-persatu, saya tidak terlalu peduli. Kemudian saat kami mulai membalut kaki kami dengan pasir pantai, seorang lagi membuat saya melayang mengingat bagaimana lucunya masa lalu, saat pasar Balubur yang baru masih terhampar sebagai wacana, iweng. Seniman lukis yang pernah menjadikan kaki-kaki jembatan layang sebagai kanvas tersebutlah yang kami temui disana, beliau punya galeri seni bertuliskan hal-hal lucu.

Kami berangkat, menuju target kedua kami, menjelang jumat, rasanya ingin segera tiba di Santolo, yang ternyata rutenya sama sekali berbeda dari yang kami perkirakan, kami menjengkal jalan yang hanya beberapa meter dari bibir pantai. Jalan yang terkadang bagus, dan terkadang mengantar perasaan kami seperti astronot yang berkendara di bulan, memperlihatkan pada kami desa-desa yang saya kira tidak bakalan kami temui ditengah modernisasi yang biasanya mengikis kebudayaan2 luhur jelata jawa, kami jelalatan, mengunci tiap inci metafora indahnya masa lalu dan damainya integrasi dengan alam yang di himpun pada desa-desa yang kami lalui tersebut, kami akhirnya memutuskan untuk melemparkan sauh pada pantai sepi yang namanya juga sulit melekat pada benak saya, saya tertidur, di pondok yang rasanya bukan dibuat untuk beristirahat pula disana, Indah nian pantai tersebut, kosong, apik, dengan pohon-pohon pantai sejenis mangrove yang kakinya tidak lembab karna masih jauh dari garis pantai, saya pulas.

Kami melaju kembali melewati mercusuar yang anggun milik asli si pantai itu, timbul keingin tahuan tentang siapa yang menjadi arsitek hebat bangunan tersebut, ah. biarkan, biarkan beliau menghimpun nyanyian gelombang dengan kebanggaan2nya menyelamatkan ratusan bahkan ribuan kapal dari murkanya karang-karang penjaga pantai. Kami kembali menyapa aspal menuju santolo, sejenak kemudian menjelang akhirnya merapat pada pantai santolo kami menemukan tempat yang menjadi markas peluncuran roket, keterkejutan itu kami abadikan kembali pada kamera yang kami bawa, paduan biru putih yang padan tersebut kami simpan di memori 2 giga dala kamera kami. Kami selamat hingga santolo.

Sebelum menikmati sunset yang masih jauh menyentuh horizon, kami mengisi bahan bakar tubuh kami dengan menikmati ikan tongkol besar utuh di warung pinggir pantai tersebut, masih tercium bau laut di helai2 dagingnya, kami Lahap dan kenyang. Sampailah niat kami untuk menyapa air asin ditemani surfboard rentalan yang kami sewa pada penyedianya. Kami riang, sungguh riang  dan tak peduli terhadap pertanyaan2 yang menghampiri mata2 pengunjung lain yang sepertinya bisa di hitung dalam setengah menit tersebut, pantai menyambut kami dengan gelombang2 sopannya, pasir pun kami jadikan karya dan peramu kebahagiaan kami waktu itu. Tuhan memang maha kuasa.

mengikuti saran kami melaju pulang dari santolo melewati pameungpeuk menuju garut, jalan terdekat menuju Bandung kembali, yang ternyata membuktikan bahwa kelok 44 yang di sumatra barat pernah kami lalui bersama tidak ada apa2nya dengan belokan2 yang terus sambung menyambung yang akhirnya hanya bisa kami hitung dengan jam. Lebih dari 2 jam kami di perngkap dalam liuk-liuk jalanan tersebut hingga akhirnya kami berhenti, untuk bertanya pada warung yang syukurnya ada muncul dijalanan yang kebanyakan tak berlampu dan seram tersebut, menawab pertanyaan kami akan benar atau tidaknya jauh yang kami tempuh sebelumnya menuju garut tersebut, akhirnya kami tersenyum, ya benar, tapi masih jauh kang. Kemudipun berpindah kembali ke teman saya hingga akhirnya lampu2 kota garut bisa kami sapa menjelang sembilan. Kami tak sempat makan, karan tak tau tempat yang cukup nikmat untuk menyapa santapan malam kami malam itu, kami pun sebenarnya tidak begitu lapar, lalu kami teruskan menuju nagrek dengan sebelumnya hampir salah memilih rute pada simpangan lima disana. kami sampai di nagrek dengan nyawa hampir terancam dengan hampir menabrak mobil yang memotong dari arah depan, dua kali.

Akhirnya kami tiba di sumedang, dan bersilaturrahmi dengan saudaranya teman saya yang ternyata sudah 5 tahun tidak dia temui, lalu setelah hampir 24 jam di jalanan, rambut dan muka bersisa pasir pantai yang hanya di basuh sekenanya di pantai santolo, kami tiba di Bandung pukul sebelas lebih sedikit. Bercampur lelah kami membicarakan rencana untuk lusanya meneruskan kesenangan ini di laut jawa.

Sign and After (a contemporary islamic art)

master piece

Sign and After exhibition

Mungkin bukan untuk pertama kalinya saya menghadiri pembukaan pameran seni seperti ini, dan sepenuhnya saya sadara bahwa tiap menghadiri pameran seni, memberikan impresi yang berbeda-beda dan seperti biasa sangat inspiratif, terutama bagi kita yang menggeluti estetika sebagai kebidangan profesional tentunya. Secara personal saya melihat bahwa ada satu perasaan yang muncul dari meresapi dan melihat karya-karya seni buah pikiran dan dedikasi para seniman-seniman senior dan ternama seperti pada Sign and After ini, saya melihat kedalaman makna dan ketelatenan yang berbeda dari seniman-seniman muda yang karyanya mungkin dapat dikatakan masih hangat dan exploratif, meskipun masih kita temukan karya-karya yang expresif seperti karya Tisna Sanjaya yang mengambil pemaknaan degradasi ketuhanan dimasa kini dan integrasinya dengan kondisi faktual dilapangan melalui photography yang dimodif diatas kanvas, namun hal tersebut tetapa saja tidak dapat menghapuskan kesan pemaknaan yang dalam seperti yang saya sebutkan sebelumnya serta ketekunan berkarya yang dapat kita lihat dari tiap goresan garis dan warna dalam karya-karya mereka tersebut.

Pameran ini mencoba merepresentasikan rangkaian tanda-tanda artistik mampu memaknai pergulatan kesadaran diri, identitas, serta sekaligus keduanya dalam keterbatasan budaya. Hal ini bermula dari pemahaman yang seperti Oliver Leaman sebagai peneliti islam mengangkat tentang keanehan dan masalah yang dia temukan seputar kesenian islam, beliau mengangkat bahwa masalah yang terjadi dalam kesenian islam tersebut adalah seni islam terus menerus dilihat melalui perspektif diluar nilai estetika itu sendiri yang menjadi dasar penilian dari karya seni, namun justru diangkat melalui hal-hal yang tidak begitu penting menjelaskan eksistensi seni tersebut melalui istilah-istilah politik, keagamaan, tasauf, atau ekonomi, seakan-akan seni islam itu sendiri tidak cukup kuat dalam istilahnya sendiri untuk dianggap seni yang sesungguhnya. Sehingga impresi yang muncul tentang kesenian islam adalah ekpresi yang muncul dari timur tengah, namun bagaimana dengan ekspresi seni yang muncul diluar kawasan tersebut, apakah karya-karya yang muncul dari tangan seniman-seniman yang beragama islam muncul sebagai gaya baru seni yang dapat diglobalkan sebagai seni islam meskipun sering mendapat pengaruh besar dari gaya-gaya yang hadir dari eropa ataupun barat, karna jika ditelusuri lagi hal tersebut justru menjadi masalah, karna jika kita mampu kembali kedasar perbedaan besar antara bentukan kesenian islam dan barat kita akan menemukan gap tentang bagaimana keduanya memaknai hidup, perbedaan keduanya bukan hanya termanifestokan dengan bagaimana bahasa digunakan atau tidak digunakan untuk membicarakan seni tapi terutama karna perbedaan keduanya dalam pendekataan terhadap nilai dan pengalamannya dunia secara umum seperti yang pernah dikatakan oleh Jale Nejdet Ersen, dalam persepsi kebudayaan islam misalnya terdapat kepercayaan bahwa hubungan antara manusia dengan dunia serta persepsi manusia terhadapnya adalah tidak bersifat tetap [codifiable] atau dapat di rangkum dalam penggunaan bahasa yang dapat menjelaskannya secara umum.

Sebenarnya kejayaan seni Islam tidak hanya dapat digeneralisir melalui corak-corak ekspresi kaligrafi atau pola hias arabes serta pola ornamentasi yang geometrik saja namun juga terbuka pada berkembangnya karya seni tersebut sebagai jawaban dari problematika estetik dan makna nilai perbedaan.  bagi banyak orang mungkin karya-karya yang bersifat figuratif dan naratif sering dianggap sebagai karya yang menjauhi watak islami, anggapan ini lahir dari pelarangan penggambaran sosok figur dan makhluk hidup, dalih ini padahal tidak sepenuhnya benar dan bersifat produktif hal tersebut sangat terlihat di modifikasi oleh karya-karya yang cendrung seperti itu seperti pada karya Ibnu Talha “cerita semusim”, Agus Zimo “rahmat untuk seluruh alam” dan karya Hilman Hendransyah “haritabasakeurayamaranehna”. jika kita amati dalam karya tersebut tidak sepenuhnya realistik dan lebih imajinatif dan bersifat khayal, hal ini ini menunjukan pentingnya transformasi bahasa visual yang biasa (fotografik atau naturalistik) menjadi bahasa yang intensional sehingga mampu meggerakkan imaginasi atau memberikan inspirasi nilai dan kesadaran.

Sebagai  penikmat seni, kita dibebaskan berimajinasi sedalam-dalamnya memaknai tiap karya, meskipun batas-batas topiknya merupakan preogratif sang seniman. hal tersebut akhirnya menjadi kebebasan sendiri bagi kita menyelami sedalam-dalamnya apa yang ingin disampaikan sang seniman melalui karyanya. Seperti pada karya yang saya temui dalam pameran ini, abstraksi yang di torehkan oleh Deden Sambas W.A.F dalam karyanya “maka jadilah” yang menampilkan miniatur-minatur simbol-simbol keagaaman, menyelipkan salib yang menjadi representasi keKristenan dalam bulan sabit yang merupakn simbol Islam. Beliau seakan-akan mengajak saya berdialog tentang kekuasaan Tuhan untuk menciptakan perbedaan di Dunia ini, dan didalamnya termasuk differensiasi keagamaan, atau saya diajak untuk tidak membahasakannya sebagai “perbedaan” namun justru “variasi”.

Pameran ini masih akan berlangsung hingga tanggal 22 agustus 2010 ini, di Galeri Lawangwangi di daerah Dago Bengkok, silahkan datang dan berimajinasi.