Menentukan Karakter Produk Melalui Finishing Pada Kayu

Finishing produk kayu merupakan salah satu penentu pasar untuk produk kayu yang dihasilkan. Dalam hal ini bukan hanya subjektifitas atau selera dari market tersebut tapi juga meliputi faktor keamanan, dan kekuatan dari produk itu sendiri.

Pasar dunia pertama saat ini banyak yang menerapkan ketentuan keamanan dari produk melalui peminimalisiran bahkan penolakan bahan finishing kimiawi. Untuk itu produsen kayu harus mencermati kebutuhan dan selera dari pasar ini dalam menentukan pemilihan bahan untuk finishing.

Pada dasarnya finishing kayu terdiri dari dua jenis, yaitu finishing alami atau finishing buatan;

  1. Finishing alami dapat menggunakan bahan finishing yang terbuat dari material alami atau dengan teknik tertentu untuk menghasilkan permukaan yang diinginkan.
  2. Sedangkan finishing buatan pada dasarnya menggunakan material kimiawi.

Finishing juga ditentukan oleh jenis kayu, kekeringan, teknik serta kondisi lingkungan tempat finisihing. Faktor-faktor ini memiliki pengaruh cukup signifikan pada hasil finishing;

  1. Jenis kayu berkepadatan rendah seperti kayu dengan kelas 3 dan 4 memiliki pori-pori yang lebih besar dan banyak sehingga membutuhkan material finishing yang lebih banyak dan pengolahan yang lebih banyak dibandingkan kayu yang kelasnya lebih tinggi. Jenis kayu juga menentukan finishing seperti apa yang dapat digunakan.
  2. Tingkat kekeringan kayu juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas hasil finishing bahkan terhadap kayu itu sendiri. Finishing yang sifatnya menutup pori-pori kayu, yang di sebut coating atau film akan mendapat resistensi baik cepat atau lambat dari kayu yang tidak kering secara sempurna sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada finishing dari dari dalam kayu seperti bercak, retak atau pengelupasan yang menghasilkan kualitas produk akhir yang tidak maksimal.
  3. Teknik juga memberikan dampak yang signifikan pada hasil akhir finishing terutama terhadap teksturnya. Penggunaan kuas, kain bal, spray gun atau celup menghasilkan tekstur dan ketebalan finishing yang berbeda yang pada akhirnya juga mempengaruhi kuantitas material finishing serta durasi yang dibutuhkan dalam pengeringan. Selain menentukan tekstur yang dihasilkan, teknik yang digunakan juga tergantung pada material finishing yang digunakan. Teknik dan SOP finishing yang tepat menghasilkan finishing yang baik dan durabilitas yang lebih panjang.
  4. Faktor luar seperti lingkungan tidak kalah pentingnya dalam menentukan hasil finishing yang baik. Panas matahari atau buatan, kebersihan tempat serta cuaca dapat mempengaruhi hasil dan lama pengeringan hasil finishing. Kelembaban dan suhu tempat berperan penting dalam kekuatan hasil finishing dan durasi yang dibutuhkan dalam pengeringan. Material finishing memiliki reaksi kimiawi dalam suhu tertentu, sedangkan molekul air yang terdapat dalam udara dapat bercampur pada bahan finishing. Molekul padat seperti kotoran dan debu sangat mudah menempel pada material saat proses pengeringan sehingga hasil produk. Utamanya pada proses finishing secara outdoor atau diluar chamber, cuaca dapat mempengaruhi suhu dan kelembaban udara.

Material Alami yang umum digunakan untuk finishing kayu

Material alami yang digunakan dalam dunia pengolahan kayu pada dasarnya adalah material-material selain olahan pabrikan yang komposisinya sudah dimodifikasi dengan teknik-teknik tertentu. Material alami ini dapat kita temui pula disekitar kita walaupun tidak sedikit pula yang sudah dikemas dan dijual dipasaran. Material-material tersebut mengubah kayu secara visual, dan sifat dasarnya seperti ketahanan, bau dsb. Berikut beberapa material alami yang sering digunakan oleh perajin lokal maupun internasional.

  1. Beeswax. atau lilin lebah adalah bahan yang digunakan oleh lebah untuk membuat sarang, atau sarangnya itu sendiri. Beeswax dapat memberikan coating atau film pada bahan yang dilapisinya, terutama kayu sehingga lebih tahan terhadap pengaruh cuaca dan air.
  2. Tung Oil. Tung oil berasal dari pengolahan biji pohon Tung yang berpolimerisasi menjadi coating yang keras dan mengkilap.
  3. Shellac. Shellac sudah terkenal dari dahulu sebagai bahan pelitur yang alami bahkan diperbolehkan sebagai bahan pada makanan. Shellac adalah pelitur alami berbentuk pecahan kaca yang perlu di encerkan terlebih dahulu menggunakan tiner atau bahan etil alkohol dsb. Shellac atau Serlak merupakan resin alami yang dihasilkan oleh serangga Lac yang dapat menghasilkan finishing kayu yang agak gelap.
  4. Linseed Oil. Dikenal pula dengan minyak biji rami, linseed oil berpolimerisasi saat terpapar oksigen sehingga menghasilkan coating yang kuat. Minyak biji rami sudah dipergunakan sejak dulu dalam pertukangan kayu di Eropa dan kemudian dikembangkan untuk berbagai keperluan seperti polishing.
  5. Walnut Oil. Salah satu finishing bagi kayu yang awalnya digunakan oleh pengrajin Perancis untuk mengcoating adalah minyak Walnut. Minyak walnut memberikan ketahanan bagi kayu yang dipergunakan untuk wadah atau pengolahan makanan tanpa merusak rasa dari makanan tersebut. Minyak Walnut tahan baik terhadap air maupun terhadap alkohol.
  6. Minyak Kemiri. Olahan minyak kemiri banyak digunakan dalam industri cat, kemiri yang mengandung asam oleosetarat dapat mengering dengan cepat dan sempurna.
  7. Pewarna Makanan. Pengaplikasian pewarna makanan pada produk kayu pada dasarnya agar mendapatkan warna tertentu bagi kayu. Meskipun demikian, pengaplikasian pewarna ini biasanya menggunakan air, sehingga harus melalui proses pengeringan kembali agar kadar air pada kayu kembali menguap dan tidak menimbulkan retak pada kayu dimasa yang akan datang.
  8. Bumbu Dapur. Penggunaan bumbu dapur termasuk kopi sama halnya seperti pengaplikasian pewarna makanan. Warna yang dihasilkan tidak secerah warna cat, namun kesan alami ini kadang menjadi ciri khas tertentu pada pencinta kayu. Bumbu dapur seperti kunyit dan kopi juga meninggalkan bau yang khas.

Pernis merupakan salah satu finishing kayu paling populer di Indonesia. Selain bahan pernis alami seperti yang sudah disebutkan sebelumnya ada pula pernis-pernis sinteris yang merupakan enhancement dari penis alami atau benar-benar material finishing yang dibuat agar menambah durability dan ketahanan bahan tersebut. Berikut ini material finishing lainnya yang dapat kita temui di toko-toko material kayu:

  1. Melamine. Atau melamin tersedia dalam bentuk gloss dan doff. Melamine membentuk film dan menutupi pori. Film ini membutuhkan waktu untuk mengeras. Melamine mengandung formaldehyde yang berbahaya dan banyak negara dunia pertama tidak memperbolehkan mengimport produk dengan finishing ini.
  2. PU. Polyurethane menghasilkan lapisan film seperti plastik dan cukup tebal. Warnanya pun tersedia cukup cerah dan lebih baik dibandingkan melamin. PU pun lebih cepat mengering di bandingkan bahan finshing material yang lain.
  3. Lacquer. Merupakan pelitur sintetis yang berfungsi sebagai coating. Di Palembang, furniturenya dikenal dengan Laker yang awalnya menggunakan Shellac. Karna harga dan kekuatannya, mereka migrasi ke lacquer. Lacquer terdiri dari beberapa tipe seperti :
    1. Akrilik. Lacquer akrilik diformulasikan dengan polimer resin sehingga membentuk bahan seperti kaca. Biasanya digunakan pada furniture yang rawan terkena air seperti bar dan kitchen set.
    2. NC atau Nitrocellulose. Seperti akrilik hanya lebih banyak digunakan pada bahan selain kayu karna lebih lama keringnya.
    3. Solvent (Pengencer) alkohol, dll atau water base. Lacquer dengan pelarut air kini menjadi alternatif yang cukup banyak di minati pasar Amerika dan Eropa.

Selain material, kini dalam dunia pertukangan kayu juga banyak teknik yang digunakan untuk mendapatkan hasil akhir yang unik dan eye catching. Teknik-teknik ini kadang dipadukan dengan material-material yang sudah di sebutkan sebelumnya. Berikut teknik-teknik yang menarik yang dapat digunakan untuk finishing kayu:

  1. Burnt. Teknik finishing ini digunakan untuk mengekspos tekstur kayu melalui cara dibakar. Detail dari teknik ini ada berbagai macam, ada yang agar telihat benar-benar terbakar ada pula yang hanya sebagian.
  2. Distressed. Agar kayu memiliki tekstur tertentu, kayu dipukul-pukul seperti teknik ketok pada logam, atau menggunakan benda-benda lain sesuai tekstur yang di inginkan.
  3. Washed. Material cat yang digunakan pada teknik ini kebanyakan adalah water base yang kemudian di lap agar bagian paling atas terkelupas dan cat di ceruk kayu tertinggal.
  4. Weathered. Walaupun mirip dengan washed, material yang digunakan biasanya adalah cat dengan solvent. Tekniknya mirip namun ada kesan terkelupas yang lebih ekstrem.
  5. Faux. Teknik ini digunakan pada kayu yang teksturnya tidak terlalu menonjol atau tidak berurat sama sekali, sehingga dibuatkan urat dengan cara-cara tertentu dengan material finishingnya.
  6. Stained. Menggunakan perpaduan teknik burnt dan weathered atau washed untuk memberikan kesan retak dan old school sekaligus.

Selain material dan teknik yang telah disebutkan sebelumnya, masih ada banyak lagi yang bisa di jadikan karakteristik produk yang kita buat. Semakin unik produk yang dihasilkan berpadu dengan presentasi yang menarik, akan semakin besar pula peluang agar produk kita diminati oleh pasar.

Eksperimen dan eksplorasi terhadap penggunaan material dan teknik yang kita miliki akan memberikan kita pengetahuan yang menarik. Mari terus berkarya.

Advertisements

One comment

  1. Pingback: 16 Jenis kayu Indonesia yang perlu kita ketahui « Asyraaf Ahmadi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s