Desain Interior

Desain interior tentunya bukan perbendaharaan kata-kata baru bagi kita. Tapi tidak semua orang paham benar tentang apa defenisi dan apa orientasi utama dalam mendesain interior.

Desain interior secara umum dipandang sebagai kegiatan menata ruangan, baik secara dekoratif ataupun teknis, pada dasarnya manusia dalam hal merespon ruang dengan produk yang mereka miliki akan melakukan hal ini, menyusun kursi dan meja sesuai dengan kenyamanan dan kebutuhannya, menempatkan lukisan pada dinding dan menata letakknya dan sebagainya, namun sebenarnya kegiatan mendesain interior lebih dari sekedar menata ruangan.

Image

Ada banyak hal yang pada dasarnya sangat penting untuk kita perhatikan untuk mencapai target teknis, ekonomi dan sosial pada suatu ruangan, hal-hal tersebut menjadi penting karna banyak ruangan identik dengan interaksi-nya dengan manusia dan secara tidak sadar ruangan secara dimensional dan interior dipengaruhi dan mempengaruhi manusia yang menggunakannya. Kualitas ruangan dapat membentuk keefektifan orientasi ruangan tersebut.

Kita dapat menemukan banyak sekali tentang pengertian desain interior di internet yang kesimpulannya menurut saya bahwa desain interior merupakan kegiatan perancangan ruangan secara menyeluruh sesuai dengan orientasi fungsi ruangan tersebut. Didalam desain sendiri, desain interior terletak antara arsitektur dan desain produk, ketika arsitektur berbicara tentang template ruangan yang kemudian dirancang penataannya oleh desain interior menggunakan produk-produk, karya seni, mekanika, elektronika dan ataupun grafis.

Agar kita dapat memahami lebih mendalam tentang apa yang harus diperhatikan dalam mendesain interior maka kita dapat melihat keuntungan yang harusnya menjadi output dari mendesain interior sebagai berikut ;

  1. Peruntukan ruangan ; Mungkin kita sering melihat distorsi penggunaan produk tertentu yang harusnya diletakkan pada ruangan yang lain, tapi digunakan pada ruangan yang tidak semestinya pada desain-desain ruang-ruang publik di desain-desain yang eksentrik, contohnya penggunakan kloset pada restoran, atau bathtube menjadi kasur pada hotel yang dikategorikan aneh. Namun desain-desain tersebut pada dasarnya mengambil salah satu fungsi dasar dari produknya tersebut untuk digunakan pada penataan ruangan. Kegiatan mendesain interior sesuai dengan proporsinya adalah memberikan tata ruangan yang merepresentasikan peruntukan ruangan tersebut, contohnya ; pada ruangan kamar diletakkan tempat tidur, pada ruangan kamar anak, diletakkan atau dibuat tempat tidur anak yang lucu, semakin spesifik lagi pada ruang kamar anak laki-laki diletakkan atau dirancangkan tempat tidur anak yang berbentuk mobil dan seterusnya sehingga kegiatan mendesain interior tersebut dapat merepresentasikan peruntukan ruangan yang didesainnya.
  2. Efesiensi ruangan ; Dalam sebuah ruangan sesuai dengan peruntukannya seringkali terdiri dari berbagai macam komponen pendukung agar kamar tersebut dapat diberikan identitas, contohnya pada ruang tamu ada sofa atau kursi dan meja, kemudian diberikan additional komponen seperti photo, elemen estetis, lampu dsb. Komponen-komponen ini ada yang dibeli jadi kemudian hanya ditata penempatannya, dan ada pula yang dirancang dari nol untuk mengejar efesiensi ruangan baik dari segi dimensional, bentuk, warna, sifat dsb. Desain interior yang baik menghasilkan efesiensi ruangan dalam perancangannya dan penataannya sehingga ruangan tersebut mendukung kegiatan pemakainya secara efektif, dengan kata lain tidak terasa sempit atau terlalu longgar, tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi pada penggunaan mebel atau furniturenya, memberikan efek psikologis yang di inginkan melaui warna dinding, palfon atau dindingnya, dsb.
  3. Ekonomis ; Budgeting sering kali menjadi pertimbangan penting dalam berbagai hal termasuk dalam mendesain interior, terlebih lagi jika ruang tersebut digunakan dalam kegiatan bisnis seperti restoran, hotel, kos-kosan dan sebagainya, tetapi bagi kalangan tertentu kualitas jauh lebih penting dari pertimbangan cost meskipun pada dasarnya desain interior juga berfungsi menyelaraskan antara budget yang dimiliki oleh kliennya untuk mendapatkan output desain interior yang maksimal. Locking budget atau excluding komponen pada desain umum terjadi pada proses mendesain interior terkait dengan hal ini. Perpaduan antara referensi visual, pengetahuan material, teknis pengolahan material, relasi workshop produksi dan pemahaman tentang proses produksi komponen desain interior menjadi bukti seberapa banyak pengalaman desainer interior tersebut sehingga memberikan hasil yang memuaskan dengan budget yang dimiliki oleh kliennya. Selain itu, dengan desain interior yang matang dapat ditentukan budget eksekusi produksi pada suatu ruangan sehingga dapat dilakukan pengalokasian dana yang tepat dalam investasinya.
  4. Waktu ; seringkali komponen desain interior merupakan gabungan dari beberapa kegiatan teknis produksi seperti furnishing, mechanical electrical, ceiling, perombakan arsitektural dasar, flooring dan sebagainya. Dengan perancangan desain interior dapat ditentukan proses produksi mana yang urgent, yang mana yang jadi prioritas, mana yang bisa diparalelkan dan pemilihan kontraktor yang tepat untuk spesifikasi pekerjaan tertentu.

Dari poin-poin yang disebutkan tadi dapat kita ambil kesimpulan bahwa pekerjaan desain interior memberikan gambaran orientasi output pekerjaan interior yang jelas pada kliennya, sehingga desainer interior harus memiliki setumpuk keahlian yang harus terus diasah sebagai berikut ;

  1. Ergonomi ; poin ini berkaitan erat dengan dimensi manusia, interaksinya dengan ruangan dan produk. Pengetahuan ini mutlak diperlukan bagi desainer interior agar dapat menghasilkan dimensi produk yang proporsional dengan target konsumennya, what should be first thing first dalam penataan produk dalam ruangan serta pemilihan produk yang tepat bagi ruangan yang dirancang.
  2. Material ; pengetahuan tentang material bukan hanya berkaitan dengan berbagai jenis material yang seiring waktu semakin banyak pilihannya dan semakin cepat distribusinya, namun juga sifat, tempat pengolahannya, harga hingga effort yang dibutuhkan dalam pengolahannya sehingga desainer interior dapat menentukan dengan tepat penggunaan material yang bukan hanya sesuai dengan kebutuhan klien dan ruangan tersebut, budgetingnya, namun juga dapat mengejar target produksinya serta tidak sulit mencari tempat pengolahaannya.
  3. Refferensi visual ; Hingga saat ini gaya desain secara keseluruhan khususnya desain interior berkembang sangat dinamis dan cepat, setiap gaya desain tersebut menyangkut pada kelas ekonomi klien, tingkat pendidikan dan latar belakang mereka. Refferensi visual ini menjadi sangat penting terutama dalam memberikan acuan desain kepada klien.
  4. Source ; Berkaitan dengan ketersediaan material, harga serta tempat produksinya, desain interior harus memiliki relasi-relasi dan source yang memadai untuk memproduksi desain yang sudah dibuatnya, atau menjadi koridor berfikir sejauh apa desainer dapat mendesain interior jika dikaitkan dengan source-source yang dimilikinya atau daerah tempatnya mengaplikasikan desainnya.
  5. Psikologi warna dan cahaya ; Desain interior tidak melulu berkutat pada produksi furnitur dan mebeleir, desain interior juga dituntut memiliki pengetahuan yang mendalam tentang luminasi cahaya dan psikologi warna karna dalam pengaplikasiannya pada desain maka hal tersebut dibutuhkan sesuai dengan peruntukan ruangan dan orientasi penggunaan ruangan tersebut, contoh yang paling mendasar adalah penggunaan dominan putih pada tempat-tempat perawatan orang sakit, kombinasi warna primer pada ruangan yang diperuntukan bagi anak-anak, dan sebagainya.
  6. Mechanical Electrical ; Instalasi listrik pada ruangan pada perancangan arsitektural sebenarnya harus dibicarakan dengan desainer interior agar terjadi kesinambungan penempatan dan tidak terjadi modifikasi berlebihan pada ruangan saat desainer interior melanjutkan pekerjaan arsitektural dalam perancangan interior. Penempatan saklar, fitting lampu dan sebagainya lebih lekat dengan pengerjaan desain interior dan besar keterkaitannya dengan ergonomi dan penataan furnishing.
  7. Skill gambar manual ; skill gambar manual merepresentasikan kecepatan pengolahan visual oleh otak kanan kita sebagai mekanisme biologis kreatifitas, gambar yang representatif, dapat memberikan gambaran awal pada klien orientasi perancangan desain interior desainer interior tersebut, sehingga dapat menunjang efisiensi pengerjaan pendesainan, walaupun perancangan manual tersebut juga harus melalui proses komunikasi dan konsultasi yang matang.
  8. Skill komputerisasi desain ; Pada saat ini skill komputerisasi desain digunakan dalam berbagai kepentingan, desain yang sudah dikomputerisasi dapat dijadikan alat presentasi desain yang efektif pada klien dan dapat pula menjadi sarana marketing yang efektif bagi bisnis sebelum desain tersebut diaplikasikan pada ruangan yang diinginkan. Software komputerisasi desain hingga saat ini berkembang sangat pesat, kita mengenal gambar CAD yang salah satu nya dihasilkan oleh software autcad, google Sketchup, Rhinoceros dsb.
  9. Pengetahuan umum ; Yang menjadi differensiasi terbesar antara desainer professional dan desainer dadakan adalah keahlian-keahlian diatas yang belum tentu didapat hanya dalam perkuliahan saja, namun harus terus diasah dengan pengalaman pengerjaan berbagai proyek desain hingga produksinya. Desainer merupakan konsultan bagi kliennya berkaitan dengan posisinya yang tidak jauh berbeda dengan planner, desainer tidak disarankan mengiyakan 100% permintaan kliennya, karna seharusnya desainerlah yang memiliki pengetahuan yang lebih luas tentang desain, namun pengetahuan dan pengalaman tersebut tidak boleh pula berdiri sendir tanpa komunikasi dengan klien, desain yang tepat harus dapat mengakomodir implementasi pengetahuan desainer dan kebutuhan dan kemauan kliennya.

Pekerjaan desain interior bukanlah pekerjaan yang mudah karna bukan hanya membutuhkan effort yang cukup besar dan kadang kala harus berkutat cukup intens dengan segala materi kuantitatif dan kualitatif seputar desain dan teknis produksi sehingga secara logis tentu saja semua effort, pengetahuan dan pengalaman tersebut tidak dapat dinominalkan zero, atau tanpa berbayar. Kita mungkin saja sering mendengar penggratisan desain khususnya desain interior, sehingga timbul pertanyaan apakah desainnya yang dikeluarkan oleh personal atau industri tersebut telah memenuhi kelayakan desain bagi kebutuhan anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s