Pengelolaan mikro ekonomi yang tidak serius dan kebijakan makro yang mengada-ada

Dalam beberapa waktu belakangan, nilai tukar rupiah melemah cukup drastis dari mata uang asing lainnya, terutama dolar. Hal ini tentunya bukan sekali dua kali terjadi pada Indonesia. Inflasi yang melonjak tinggi hingga 8% lebih, harga merangkak naik, daya beli menurun, kebijakan peemerintah yang di elu-elu kan memihak pada rakyat tapi bohong belaka.
Kebijakan pemerintah untuk merespon kejadian ini tentu saja tidak dapat dipahami oleh banyak orang, terutama masyarakat awam yang hanya menjadi pelaku ekonomi mikro. Tidak salah juga kebijakan ekonomi makro dari pemerintah tentunya berkaitan erat dengan hubungannya dengan dunia global, tetapi apakah kebijakan tersebut bisa disebut pro perkembangan ekonomi domestik?
Tony Prasetiantono, salah satu praktisi ekonomi dari UGM memberikan statement menarik tentang lemahnya kondisi rupiah saat ini, beliau menyebutkan bahwa dinegara2 lain, kondisi nilai tukar yang rendah biasanya digunakan oleh negara tersebut untuk memperlancar ekspor, nilai tukar mata uang yang rendah membuat hpp produksi menjadi lebih rendah, sehingga dapat menjadi daya saing yang menarik bagi konsumen diluar negaranya. Namun selanjutnya juga beliau menyebutkan bahwa tentunya hpp tersebut harus didukung dengan multilayer financial penunjang hpp seperti sdm yang murah dan harga bahan baku yang murah, hal ini bisa kita lihat pada negara China. Namun lucunya yang terjadi di Indonesia, kita menggantungkan diri kita pada kebijakan import yang nyeleneh, bahan baku industri termasuk bahan baku untuk bahan pangan yang sangat fragile kita import dari negara lain sehingga kebutuhan dasar kita pun sangat dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi makro dari pemerintah, dan jika teliti lebih dalam lagi, kebijakan eksport kita juga menjadi sangat dipertanyakan. Mari kita perhatikan komoditas yang di eksport oleh negeri kita, komoditas tersebut dijual murah dibawah harga murah bahkan seringkali diselundupkan atau di curi oleh negara lain yang kemudian kita import kembali dengan harga yang lebih mahal dengan branding yang lebih bagus.
Selain itu mari kita lihat kebijakan jangka pendek yang di buat oleh SBY ;

Keempat langkah tersebut adalah sebagai berikut:

Paket pertama, pemerintah akan berupaya memperbaiki neraca transaksi berjalan atau current account defisit dan menjaga nilai tukar rupiah.

“Dalam upaya ini, pemerintah akan mendorong ekspor dengan memberikan additional deduction tax untuk sektor padat karya yang memiliki ekspor minimal 30% dari total produksi,” tutur Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa di Kantor Presiden, Jumat (23/8).

Paket kedua, pemerintah akan menjaga daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Caranya pemerintah akan memberikan insentif dengan tetap membuktikan bahwa fiskal dan defisit berada pada kisaran angka 2,38%. Dengan menjaga defisit pada batas aman ini, maka pemerintah memastikan pembiayaan APBNP 2013 dalam kondisi aman.Â

Paket ketiga, pemerintah akan menjaga daya beli masyarakat dan menjaga tingkat inflasi. Untuk itu, Pemerintah akan bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI).

Dari sisi pemerintah, untuk mengatasi inflasi atau harga yang bergejolak, pemerintah akan mengubah tata niaga. Ambil contoh, tata niaga daging sapi dan hortikultura dari pembatasan kuantitas atau menggunakan kuota menjadi mekanisme yang mengandalkan pada harga.

Paket keempat, percepatan investasi. Hatta bilang, untuk itu pemerintah akan mengambil langkah-langkah seperti menyederhanakan izin dengan mengefektifkan pelayanan satu pintu, menyederhanakan jenis-jenis perizinan investasi. “Saat ini sudah dirumuskan penyederhanaan izin migas dari 69 jenis perizinan menjadi hanya delapan jenis perizinan,” tegas Hatta.

Jika kita teliti tentu saja timbul banyak pertanyaan termasuk karna pemerintah ini suka menggunakan bahasa2 alien ; seperti apa itu neraca transaksi berjalan? Dan gimana caranya mereka menjaga nilai tukar rupiah itu sendiri, kan itu masalahnya? Okelah ada pengurangan pajak untuk eksport apalagi untuk industri yang padat karya, gimana caranya pemerintah menjaga fiskal dan defisit tetap diangka segitu? Ngasi BLT lagi?? Terus apa kerja sama pemerintah dengan BI?  (nanti kita lihat kebijakan BI), kalau ini adalah kebijakan pemerintah jangka pendek, bagaimana bisa melakukan perubahan tata niaga yang kompleks banget banget ini?? Dan yang terakhir adalah kebijakan investasi, yang sama dengan permodalan asing yang sama dengan hutang, yang sama dengan lagi mengingatkan perekonomian mikro kita pada asing.

Saya sepakat kebijakan2 ini merupakan kebijakan normatif atau lebih rendah lagi hanya pidato basa-basi dari SBY, tapi lebih jauh kenapa akhirnya kebijakan seperti masih saja keluar dari pemerintah kita? Bisa kah kita lihat kebijakan2 ekonomi ini semakin lama semakin liberal dan kapitalis, dimana semuanya di kontrol oleh bank dan globalisasi?

Kita akan bahas nanti..

Bersambung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s