Mendesign System

Tak kenal, maka tak respect. Mungkin itu lah bahasa yang tepat untuk saya gunakan setelah melakukan beberapa kali silaturrahmi kebeberapa orang yang saya anggap senior dan telah malang melintang didunia perdesainan Indonesia.

Kegiatan bersilaturrahmi ini memberi saya sumber informasi, ide-ide serta pengalaman baru yang mungkin sebelumnya hanya terlintas dan tak didalami selanjutnya. Dari sini saya menyadari bahwa benar adanya, semua orang adalah buku yang memiliki kontennya sendiri, dan selayaknya buku, kita bisa rasakan kualitasnya setelah kita membaca buku tersebut.

Lama setelah saya lulus dari perkuliahan tidak lagi melakukan pembicaraan yang seru dan bertukar pikiran soal desain dengan dosen, meskipun usaha yang saya jalani merupakan usaha yang bergerak dibidang desain. Saya merasa semua sari pati ilmu tersebut harus terus diasah dan dibagikan kepada orang lain.

Ini merupakan kesekian kalinya kita melakukan silaturrahmi ke akademisi desain produk, meskipun sempat vakum untuk beberapa waktu lamanya, karna berbagai kesibukan pemuda-pemuda tanggung ini dalam mengejar cita-cita nya. Tepat beberapa hari yang lalu kita menyinggahi rumah dosen kita di daerah Sangkuriang Bandung. Sayangnya kami datang tidak seramai biasanya, hanya saya dan teman saya Mufti dari Greeneration Indonesia.

Beliau adalah Bpk. Dr. Dudy Wiyancoko. Dimasa saya kuliah terdahulu merupakan dosen sejarah desain dan studio tingkat 3. Jarang sekali ada diskusi ataupun obrolan tanpa intimidasi yang kami rasakan dari beliau dimasa kuliah dulu, sehingga kami selalu berpikiran skeptis tentang pandangan dan pola terapan yang beliau aplikasikan dalam kehidupan kampus serta impactnya. Tapi pandangan kami tersebut berubah sedemikian rupa setelah melakukan diskusi langsung dengan beliau.

Dengan nothing to lose dan posisi yang tidak terancam, kami merasa ada banyak hal positif yang muncul dari beliau. Kami menyadari, dengan ilmu dan pengalaman yang beliau miliki serta posisi yang cukup strategis dalam dunia desain produk beliau cukup pantas untuk merasa kecewa dengan kondisi saat ini, sehingga memberikan treatment yang sedemikian menjadi momok bagi kami terlebih dahulu.

Kami mulai sharing isi kepala kami tentang apa yang kami usahakan saat ini dalam dunia desain produk. Kami terangkan tentang usaha kami menginisiasi sebuah forum yang berusaha merangkul semua komponen desain produk lalu beliau membalas dengan tanggapan-tanggapan positif yang sebenarnya juga diluar sangkaan kami. Beliau barusaha membimbing kami untuk terus konsisten serta menghasilkan esensi serta output yang tidak tanggung-tanggung. Dari penjelasan beliau kami semakin mendapati posisi desainer desain produk yang kehilangan wadah dan gap-gap yang ada didalamnya.  Mulai dari akademisi dengan praktisi, gap antar wilayah, hingga gap antara kampus.Kami sepakat hal tersebut sulit untuk dihilangkan, meskipun dapat dilakukan, dan kami sadar hal tersebut tidak membawa dampak positif jika terus terjadi.

Desain produk bukan sebuah profesi yang se setle keprofesian lainnya, desainer produk meskipun telah hadir di Indonesia hampir 40 tahun, masih terus berjuang untuk mendapatkan apresiasi serta pengenalan di masyarakat Indonesia. Keberadaan paguyuban atau asosiasi mestinya akan memberi perbantuan dalam hal mencapai itu semua, namun tidak demikian hal nya yang terjadi hingga saat ini. HDPI yang menjadi wadah tersebut tidak dapat mengakomodir keinginan-keinginan anggotanya, bahkan massa anggotanya pun jarang sekali terdengar dinegri ini, sehingga para designer produk kembali berjuang sendiri-sendiri menjelaskan jati dirinya, atau bahkan terhempas kenyataan harus menyentuh ranah desain lain untuk terus hidup. miris.

keberadaan desain produk di Indonesia selama itu, bukan berarti tidak memberikan impact apa-apa dalam hal branding keprofesian, desain produk mulai dikenali sesuai identitasnya di Industri2, mulai dirasakan manfaatnya dalam bisnis di Indonesia. muncul nya nama-nama besar seperti Bpk Singgih Kartono dan Josh memberikan secercah titik terang untuk desainer produk muncul di media dan lingkungannya. Meskipun demikian desainer produk tetap harus punya wadah untuk sharing dan berkeluh kesah, penting artinya bagi desainer produk dilindungi hak keyaan intelektualnya, hak-haknya dalam Industri hingga rate minimal yang semestinya. dan hal rasa setuju tercermin dari anggukan tanda sepakat dari kita semua dimeja saat itu.

Disamping itu, beliau juga menjelaskan posisi desainer produk dimasa saat ini harus mulai dan akan dipandang jika audience diberikan pengertian bahwa mendesain produk itu bukan hanya sekedar menggambar dan mencari bentuk yang sesuai dengan peruntukkannya, namun juga mendesain system yang melingkupi produk tersebut. Kita bukan hanya harus memperhatikan aspek-aspek ergonomis ataupun semantika sebuah produk, kita juga harus mengerti hulu dan hilirnya sebuah produk, dan hal tersebut juga harus didesain dan dideskripsikan dengan baik oleh desainer produk baik dalam presentasinya maupun dalam produknya itu sendiri. Beliau mengambil contoh, Magno, desain dari Bpk Singgih Kartono, secara sadar pak Singgih memulai sesuatu dengan harapan perubahan, sehingga mengambil material kayu yang biasanya digunakan untuk kayu bakar untuk dijadikan radio yang memiliki nilai estetis yang tinggi dan nilai ekonomis yang luar biasa, sehingga menghasilkan revenue yang baik, kemudian dengan revenue tersebut beliau menam pohon ribuan kali lipat dibandingkan dengan yang beliau gunakan, sehingga memberikan dampak positif bagi lingkungannya. Nah, inilah yang dimaksud dengan mendesain system, desainer produk bukan hanya mencari bentukm tapi juga mendesain overall proses dari produk tersebut.

Masih banyak sari dari perbincangan kami tersebut yang tidak sempat saya sampaikan disini, dan mungkin rasanya sedikit menggantung, saya harap bisa kita lanjutkan dikemudian hari. Semangat terus desainer produk Indonesia, sudah saatnya karya kita bisa lebih luas dan dirasakan manfaatnya oleh negri ini, mari terus berjuang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s