Sign and After (a contemporary islamic art)

master piece

Sign and After exhibition

Mungkin bukan untuk pertama kalinya saya menghadiri pembukaan pameran seni seperti ini, dan sepenuhnya saya sadara bahwa tiap menghadiri pameran seni, memberikan impresi yang berbeda-beda dan seperti biasa sangat inspiratif, terutama bagi kita yang menggeluti estetika sebagai kebidangan profesional tentunya. Secara personal saya melihat bahwa ada satu perasaan yang muncul dari meresapi dan melihat karya-karya seni buah pikiran dan dedikasi para seniman-seniman senior dan ternama seperti pada Sign and After ini, saya melihat kedalaman makna dan ketelatenan yang berbeda dari seniman-seniman muda yang karyanya mungkin dapat dikatakan masih hangat dan exploratif, meskipun masih kita temukan karya-karya yang expresif seperti karya Tisna Sanjaya yang mengambil pemaknaan degradasi ketuhanan dimasa kini dan integrasinya dengan kondisi faktual dilapangan melalui photography yang dimodif diatas kanvas, namun hal tersebut tetapa saja tidak dapat menghapuskan kesan pemaknaan yang dalam seperti yang saya sebutkan sebelumnya serta ketekunan berkarya yang dapat kita lihat dari tiap goresan garis dan warna dalam karya-karya mereka tersebut.

Pameran ini mencoba merepresentasikan rangkaian tanda-tanda artistik mampu memaknai pergulatan kesadaran diri, identitas, serta sekaligus keduanya dalam keterbatasan budaya. Hal ini bermula dari pemahaman yang seperti Oliver Leaman sebagai peneliti islam mengangkat tentang keanehan dan masalah yang dia temukan seputar kesenian islam, beliau mengangkat bahwa masalah yang terjadi dalam kesenian islam tersebut adalah seni islam terus menerus dilihat melalui perspektif diluar nilai estetika itu sendiri yang menjadi dasar penilian dari karya seni, namun justru diangkat melalui hal-hal yang tidak begitu penting menjelaskan eksistensi seni tersebut melalui istilah-istilah politik, keagamaan, tasauf, atau ekonomi, seakan-akan seni islam itu sendiri tidak cukup kuat dalam istilahnya sendiri untuk dianggap seni yang sesungguhnya. Sehingga impresi yang muncul tentang kesenian islam adalah ekpresi yang muncul dari timur tengah, namun bagaimana dengan ekspresi seni yang muncul diluar kawasan tersebut, apakah karya-karya yang muncul dari tangan seniman-seniman yang beragama islam muncul sebagai gaya baru seni yang dapat diglobalkan sebagai seni islam meskipun sering mendapat pengaruh besar dari gaya-gaya yang hadir dari eropa ataupun barat, karna jika ditelusuri lagi hal tersebut justru menjadi masalah, karna jika kita mampu kembali kedasar perbedaan besar antara bentukan kesenian islam dan barat kita akan menemukan gap tentang bagaimana keduanya memaknai hidup, perbedaan keduanya bukan hanya termanifestokan dengan bagaimana bahasa digunakan atau tidak digunakan untuk membicarakan seni tapi terutama karna perbedaan keduanya dalam pendekataan terhadap nilai dan pengalamannya dunia secara umum seperti yang pernah dikatakan oleh Jale Nejdet Ersen, dalam persepsi kebudayaan islam misalnya terdapat kepercayaan bahwa hubungan antara manusia dengan dunia serta persepsi manusia terhadapnya adalah tidak bersifat tetap [codifiable] atau dapat di rangkum dalam penggunaan bahasa yang dapat menjelaskannya secara umum.

Sebenarnya kejayaan seni Islam tidak hanya dapat digeneralisir melalui corak-corak ekspresi kaligrafi atau pola hias arabes serta pola ornamentasi yang geometrik saja namun juga terbuka pada berkembangnya karya seni tersebut sebagai jawaban dari problematika estetik dan makna nilai perbedaan.  bagi banyak orang mungkin karya-karya yang bersifat figuratif dan naratif sering dianggap sebagai karya yang menjauhi watak islami, anggapan ini lahir dari pelarangan penggambaran sosok figur dan makhluk hidup, dalih ini padahal tidak sepenuhnya benar dan bersifat produktif hal tersebut sangat terlihat di modifikasi oleh karya-karya yang cendrung seperti itu seperti pada karya Ibnu Talha “cerita semusim”, Agus Zimo “rahmat untuk seluruh alam” dan karya Hilman Hendransyah “haritabasakeurayamaranehna”. jika kita amati dalam karya tersebut tidak sepenuhnya realistik dan lebih imajinatif dan bersifat khayal, hal ini ini menunjukan pentingnya transformasi bahasa visual yang biasa (fotografik atau naturalistik) menjadi bahasa yang intensional sehingga mampu meggerakkan imaginasi atau memberikan inspirasi nilai dan kesadaran.

Sebagai  penikmat seni, kita dibebaskan berimajinasi sedalam-dalamnya memaknai tiap karya, meskipun batas-batas topiknya merupakan preogratif sang seniman. hal tersebut akhirnya menjadi kebebasan sendiri bagi kita menyelami sedalam-dalamnya apa yang ingin disampaikan sang seniman melalui karyanya. Seperti pada karya yang saya temui dalam pameran ini, abstraksi yang di torehkan oleh Deden Sambas W.A.F dalam karyanya “maka jadilah” yang menampilkan miniatur-minatur simbol-simbol keagaaman, menyelipkan salib yang menjadi representasi keKristenan dalam bulan sabit yang merupakn simbol Islam. Beliau seakan-akan mengajak saya berdialog tentang kekuasaan Tuhan untuk menciptakan perbedaan di Dunia ini, dan didalamnya termasuk differensiasi keagamaan, atau saya diajak untuk tidak membahasakannya sebagai “perbedaan” namun justru “variasi”.

Pameran ini masih akan berlangsung hingga tanggal 22 agustus 2010 ini, di Galeri Lawangwangi di daerah Dago Bengkok, silahkan datang dan berimajinasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s