Menghajar jalanan dipesisir pantai selatan

Muka kusam, kulit bertambah legam, mata merah tajam di hajar perjalanan panjang menggunakan kendaraan roda dua yang sebenarnya tidak di peruntukkan dikendarai berboncengan, trail. Memulai perjalan di malam jumat yang lalu, di pertengahan malam menuju subuh, kami mengejar sunrise di tepian laut selatan tepatnya di batu karas. Perjalanan tersebut hanya di rencanakan seminggu sebelumnya, dengan tekad yang cukup tulus memenuhi panggilan keinginan merambah jalanan yang tulus tanpa embel-embel pembuktian apapun. Dimulai dari hujung Soekarno-Hatta Bandung, kami mulai menghirup udara malam melewati Ranca Bolang, di kecepatan tinggi, motor tersebut kami pacu hingga harus memilih jalur bawah menuju Tasik setelah bertanya pada polisi agar tidak tersesat. Kami pun melaju melewati udara subuh yang mulai menyusup melalui rongga jaket tebal kami yang sudah kusam. Berpatokan pada catatan kecil kami melaju terus menuju pangandaran, karna kurang paham akan lintas yang kami tempuh jika harus mengambil jalan memotong, jalan tersebut memutar. Akhirnya di penghujung malam kami memutuskan untuk beristirahat di trotoar jalanan, mengebul menyeder pada aspal. Perjalanan kami teruskan di antar azan subuh yang mulai berteriak2 di langgar2 desa yang kami lalui pagi itu. Seiring roda berputar, sekali lagi kami menepi untuk mengisi kerongkongan dengan kopi dan roti lunak khas pinggiran jalan, kami tidak melihat rombongan yang kami tau juga bertujuan hampir sama dengan kami tadi dengan kecepatan yang cukup tinggi sebelumnya. Sebatang rokok dan semangat kami rasa sudah cukup menghalau kami kembali kejalanan untuk mengejar embun di tepi laut, akhirnya kami tiba dan menyapa ombak di Batu Hiu, tida seberapa jauh dari tujuan pertama kami Batu Karas. Kami cukup bergembira memainkan peran kami sebagai makhluk tuhan yang menikmati hamparan karya besarnya tersebut yang kami tau menyimpan makna besar dibalik penciptaannya. Karang-karang besar yang menjulang dan beradu pada pinggiran pantai, kami simpan pesona-nya pada kamera yang kami bawa, bersuka disana menikmati tamparan-tamparan ombak dibibir pantai batu itu. Kami kembali menyusuri jalan ditepian pantai tersebut untuk mengejar perhentian rasa tanya kami pagi itu meski sempat terhenti sejenak melihat aroma alam tidak jauh dari perhentian kami sebelumnya, gas dipacu kami pun melaju melewati pinggiran pantai yang mulai menguap mengundang panasnya daratan rendah. Menyusuri jembatan-jembatan yang dijambang penambatan kapal-kapal nelayan, kami sampai di Batu Karas menjelang 9. Mencari-cari tempat yang tepat mengistirahatkan pantat, kami akhirnya memutuskan untuk memilih warung sepi disana, memesan sarapan, dan saya memilih paduan sayur yang diramu menjadi gado-gado dan sedangkan beliau menyantap telur yang di goreng menjadi omlet dipiringnya sehingga menyebakan dia di panggil mesra oleh toilet disana.

Pernah kami bertemu dan cukup familiar wajahnya sang senior kami yang memutuskan untuk menjadi enterpreneur disana, beliau sedang mengambil gambar untuk TV komersial berlatar debur ombak pantai selatan yang membelai pantai batu karas, beliau lalu berselancar, dan saya menegur sekenanya, karna saya tak ingin menjelaskan identitas saya kembali pada orang yang saya yakin sudah bertemu dengan banyak orang tersebut dan sulit mengingatnya kembali satu-persatu, saya tidak terlalu peduli. Kemudian saat kami mulai membalut kaki kami dengan pasir pantai, seorang lagi membuat saya melayang mengingat bagaimana lucunya masa lalu, saat pasar Balubur yang baru masih terhampar sebagai wacana, iweng. Seniman lukis yang pernah menjadikan kaki-kaki jembatan layang sebagai kanvas tersebutlah yang kami temui disana, beliau punya galeri seni bertuliskan hal-hal lucu.

Kami berangkat, menuju target kedua kami, menjelang jumat, rasanya ingin segera tiba di Santolo, yang ternyata rutenya sama sekali berbeda dari yang kami perkirakan, kami menjengkal jalan yang hanya beberapa meter dari bibir pantai. Jalan yang terkadang bagus, dan terkadang mengantar perasaan kami seperti astronot yang berkendara di bulan, memperlihatkan pada kami desa-desa yang saya kira tidak bakalan kami temui ditengah modernisasi yang biasanya mengikis kebudayaan2 luhur jelata jawa, kami jelalatan, mengunci tiap inci metafora indahnya masa lalu dan damainya integrasi dengan alam yang di himpun pada desa-desa yang kami lalui tersebut, kami akhirnya memutuskan untuk melemparkan sauh pada pantai sepi yang namanya juga sulit melekat pada benak saya, saya tertidur, di pondok yang rasanya bukan dibuat untuk beristirahat pula disana, Indah nian pantai tersebut, kosong, apik, dengan pohon-pohon pantai sejenis mangrove yang kakinya tidak lembab karna masih jauh dari garis pantai, saya pulas.

Kami melaju kembali melewati mercusuar yang anggun milik asli si pantai itu, timbul keingin tahuan tentang siapa yang menjadi arsitek hebat bangunan tersebut, ah. biarkan, biarkan beliau menghimpun nyanyian gelombang dengan kebanggaan2nya menyelamatkan ratusan bahkan ribuan kapal dari murkanya karang-karang penjaga pantai. Kami kembali menyapa aspal menuju santolo, sejenak kemudian menjelang akhirnya merapat pada pantai santolo kami menemukan tempat yang menjadi markas peluncuran roket, keterkejutan itu kami abadikan kembali pada kamera yang kami bawa, paduan biru putih yang padan tersebut kami simpan di memori 2 giga dala kamera kami. Kami selamat hingga santolo.

Sebelum menikmati sunset yang masih jauh menyentuh horizon, kami mengisi bahan bakar tubuh kami dengan menikmati ikan tongkol besar utuh di warung pinggir pantai tersebut, masih tercium bau laut di helai2 dagingnya, kami Lahap dan kenyang. Sampailah niat kami untuk menyapa air asin ditemani surfboard rentalan yang kami sewa pada penyedianya. Kami riang, sungguh riang  dan tak peduli terhadap pertanyaan2 yang menghampiri mata2 pengunjung lain yang sepertinya bisa di hitung dalam setengah menit tersebut, pantai menyambut kami dengan gelombang2 sopannya, pasir pun kami jadikan karya dan peramu kebahagiaan kami waktu itu. Tuhan memang maha kuasa.

mengikuti saran kami melaju pulang dari santolo melewati pameungpeuk menuju garut, jalan terdekat menuju Bandung kembali, yang ternyata membuktikan bahwa kelok 44 yang di sumatra barat pernah kami lalui bersama tidak ada apa2nya dengan belokan2 yang terus sambung menyambung yang akhirnya hanya bisa kami hitung dengan jam. Lebih dari 2 jam kami di perngkap dalam liuk-liuk jalanan tersebut hingga akhirnya kami berhenti, untuk bertanya pada warung yang syukurnya ada muncul dijalanan yang kebanyakan tak berlampu dan seram tersebut, menawab pertanyaan kami akan benar atau tidaknya jauh yang kami tempuh sebelumnya menuju garut tersebut, akhirnya kami tersenyum, ya benar, tapi masih jauh kang. Kemudipun berpindah kembali ke teman saya hingga akhirnya lampu2 kota garut bisa kami sapa menjelang sembilan. Kami tak sempat makan, karan tak tau tempat yang cukup nikmat untuk menyapa santapan malam kami malam itu, kami pun sebenarnya tidak begitu lapar, lalu kami teruskan menuju nagrek dengan sebelumnya hampir salah memilih rute pada simpangan lima disana. kami sampai di nagrek dengan nyawa hampir terancam dengan hampir menabrak mobil yang memotong dari arah depan, dua kali.

Akhirnya kami tiba di sumedang, dan bersilaturrahmi dengan saudaranya teman saya yang ternyata sudah 5 tahun tidak dia temui, lalu setelah hampir 24 jam di jalanan, rambut dan muka bersisa pasir pantai yang hanya di basuh sekenanya di pantai santolo, kami tiba di Bandung pukul sebelas lebih sedikit. Bercampur lelah kami membicarakan rencana untuk lusanya meneruskan kesenangan ini di laut jawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s