Mengingat kembali senjata-senjata tradisional Nusantara

Dimasa saya kecil, informasi tentang ini dapat ditemui pada ilustrasi poster yang sering dijual dipasar kemudian jadi salah satu pajangan dirumah dan biasanya tinggal pajangan tapi kontennya sudah terlupakan hingga usia kita saat ini. Isi poster tersebut seputar rumah, pakaian dan senjata tradisional Indonesia, dan ilustrasi itupun masih sering kita jumpai di pencarian google untuk sesuatu yang tradisional tentang Indonesia.

Menyiapkan bahan makanan, memotong, mengiris, membelah, membersihkan, bertani, mencari bahan makanan atau material lain di hutan, laut, gunung, dan sebagainya, berburu, berkelahi hingga berperang, defenisi alat sekaligus senjata akan melekat pada pisau dan alat-alat yang berfungsi menyerupainya dari dulu hingga sekarang. Dari alat-alat tersebut pula terkuak pencapaian leluhur kita dari waktu kewaktu, apa yang menjadi fokus mereka dimasa lalu, bagaimana mereka mengaplikasikan solusi dari masalah pada produk yang mereka buat hingga dampak multisektor yang dihasilkannya dengan peralatan tersebut.

Banyak artikel yang telah menuliskan topik yang sama di penjuru internet, namun demikian banyak pula yang harus diteliti keabsahannya sehingga perlu ditelusuri lebih lanjut. Adapun tulisan ini masih mengambil banyak referensi dari dunia maya untuk jadi landasan awal, dan saya yakin banyak pula yang mungkin keliru, oleh sebab itu jika pembaca mendapatkan keterangan dalam artikel ini tidak sesuai dengan informasi yang pembaca temui, dengan segala kerendahan hati penulis harapkan masukan dari saudara di kolom komentar. Tulisan ini adalah cerminan rasa cinta, latar belakang dan harapan kami agar ia menjadi referensi, inspirasi dan motivasi agar kita bisa mengapriasi budaya kita, dan tidak berhenti mengembangkannya dari waktu kewaktu.

Pada artikel pertama ini saya akan mencoba mengingatkan kembali tentang senjata tradisional Indonesia secara umum dengan tujuan menyegarkan kembali informasi yang dulu pernah kita dapat sebagai catatan untuk saya pribadi dan bagi pembaca dengan harapan memberikan beberapa inspirasi berkarya:

Senjata Sumatera

Sumatera

Di Pulau Sumatera masing-masing provinsi memiliki lebih dari satu jenis senjata tradisional, dan dibeberapa tempat variasi ini mencakup senjata yang di genggam, lempar dan tembak. Hal ini dipengaruhi oleh sejarah perang baik lokal maupun dengan penjajah yang datang dari luar pulau. Senjata tangan seperti pisau dan pedang mendapat pengaruh desain pula dari seni bela diri didaerah masing-masing terutama silat. Mengingat pembagian wilayah dalam bentuk provinsi baru dilakukan setelah kemerdekaan, bentuk dan nama dari senjata di beberapa daerah terdapat kesamaan. Berikut senjata tradisional yang ada dimasing-masing provinsi di Sumatera:

  1. Aceh. Aceh yang dahulu terkenal sebagai bandar dagang yang besar memiliki berbagai senjata untuk melengkapi kegiatan militer dan kegiatan sehari-harinya. Selain Rencong dan variannya, Aceh juga dikenal memiliki senjata tradisional lain seperti Siwah dan Pedeung. Pada jaman dahulu senjata-senjata tersebut dipergunakan bukan hanya untuk menjaga kedaulatan negeri Aceh, tapi juga sebagai aksesoris kerajaan dan kelengkapan ulee balang
  2. Sumatera Utara. Terkenal didominasi suku Batak, Sumatera utara diketahui memiliki beragam senjata tradisional mulai dari pisau, hingga tombak. Salah satu senjata yang terkenal dari daerah yang pernah di infiltrasi oleh Portugis ini adalah Piso Gaja Dompakselain itu ada pula Tunggal PanaluanHujur Siringis, Piso Silima Sarung, Piso Sitolu Sasarung, Piso Karo, Piso Gading, Piso Sanalenggam, Piso Toba.
  3. Sumatera Barat. Tanah kelahiran Tuanku Imam Bonjol dan Tan Malaka ini tidak kekurangan senjata tradisional yang mengagumkan. Salah satunya adalah Kerambit yang terkenal secara internasional, bahkan banyak yang sudah memodernisasinya. Selain itu masyarakat minang juga memiliki senjata tradisional yang lain seperti Karih, Ruduih, Kalawang, Piarik. Adapun daerah lain yang masih dalam wilayah provinsi Sumatera Barat yaitu Mentawai juga memiliki senjata unik tersendiri yang disebut Beladau.
  4. Bengkulu. Provinsi dengan Pantai Panjang dan Benteng Malborough yang indah ini memiliki beragam senjata tradisional yang unik, seperti Rudus yang disematkan pada logo Provinsi Bengkulu. Selain itu Bengkulu juga memiliki Pisau Dodong, Sewar, Rambai Ayam dan Keris yang lekuknya musti tertentu.
  5. Lampung. Kerajaan Tulang Bawang yang pernah berkuasa di daerah lampung memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan teknologi dan budaya daerahnya. Hingga saat ini letak lampung diujung Sumatera yang dekat dengan pulau Jawa menumbuhkan akulturasi budaya yang turut serta menyumbang pengetahuan daerah ini sehingga menghasilkan produk budaya senjata tradisional seperti Keris atau Terapang, selain itu Lampung juga terkenal dengan senjata tradisional yang lain seperti; Badik, Payan, Candung/Laduk dan lain sebagainya.
  6. Riau. Dengan kebudayaan Melayu-nya yang kental peninggalan Kerajaan Siak dan Bagan Siapi-api bandar dagang berpengaruh di Selat Malaka Riau mewariskan berbagai senjata tradisional seperti Pedang Jenawi, Keris, Kalawang, Beladau dan sebagainya. Sebagai bandar dagang dan memiliki angkatan laut yang kuat, senjata-senjata itu sering digunakan oleh para prajurit hingga kerajaan dalam mengemban tugasnya.
  7. Kepulauan Riau. Kepualauan Riau, Bangka Belitung dan Riau yang dahulunya masih dalam lingkup Kerajaan Malaka memiliki banyak persamaan termasuk pada produk senjata tradisionalnya, seperti Beladau, Pedang Jenawi dan Badik Tumbuk Lado.
  8. Jambi. Kebudayaan Provinsi Jambi sedikit banyak mendapat pengaruh dari Melayu dan Minang Sumatera Barat sehingga produk budayanya pun terdapat kesamaan seperti Badik Tumbuk Lado. Selain itu di Jambi dapat pula kita temukan senjata seperti Keris Si ginje/ginjai dan Senja Merjaya, Sumpit Suku Kubu, Tombak serta Pedang Jami
  9. Bangka Belitung. Bangka Belitung lahir dari pemekaran daerah Sumatera Selatan dan merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya di zaman dahulu kala. Belitong begitu mereka menyebut daerah ini menyimpan berbagai warisan budaya seperti senjata tradisional, dan dibeberapa tempat masih terus diproduksi seperti Parang Badau, parang ini masih diproduksi saat ini oleh beberapa tempat produksi di daerah Badau itu sendiri. Selain itu Babel juga memiliki Siwar seperti Bengkulu dan Kedik semacam sabit untuk pertanian.
  10. Sumatera Selatan. Kebesaran Kerajaan Sriwijaya di masa dahulu kala sebagai salah satu Kerajaan Maritim terbesar di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari kenyataan sejarah Sumatera Selatan. Menjadi pusat dagang di-zaman nya, Sumatera Selatan telah membuktikan diri memiliki marwah yang tinggi. Dari sekian banyak peninggalan Budayanya, di Sumatera Selatan ditemukan senjata-senjata khas seperti Tombak Trisula yang mendapat pengaruh Hindu, Skin yang tampak seperti Kerambit Sumatera Barat, Khudok dan Keris.
Senjata Jawa-01

Jawa

Saat ini pulau Jawa telah menjadi pulau berpenduduk paling banyak se Indonesia. Kekayaan alam dan pertumbuhan ekonomi membuat pulau Jawa semakin berkembang dari zaman dahulu. Perkembangan pulau Jawa tidak luput dari konflik sebelum dan sesudah kemerdekaan, sebelum kemerdekaan Pulau Jawa yang memiliki banyak Kerajaan dituntut untuk dapat melindungi daerahnya baik dari ancaman yang datang dari dalam maupun luar pulau Jawa. Sehingga senjata yang merupakan salah satu alat untuk pertahanan tersebut berkembang dengan pesat dipulau ini. Selain itu wilayah yang agraris juga memberikan efek pada jenis dan bentuk perkakasnya terutama senjata yang dijabarkan berdasarkan wilayahnya sebagai berikut:

  1. Banten. Provinsi yang berada paling barat pulau Jawa ini awalnya merupakan bagian dari Jawa Barat sehingga pengaruh adat Sunda pun masih dirasa cukup kental disebagian besar wilayah Provinsi Banten. Selain adat Sunda, adat Betawi yang berasal dari Jakarta atau Sunda Kelapa di zaman dahulu juga berpartisipasi dalam perkembangan kebudayaan di daerah ini. Senjata-senjata yang berasal dari provinsi Banten seperti Kujang merupakan senjata yang serupa dengan wilayah Jawa Barat sedangkan Golok atau Bedog juga dimiliki daerah dengan adat Betawi namun di Banten para Jawaranya terkenal menggunakan Golok Ciomas dan Sulangkar selain itu Banten juga memiliki varian senjata lain seperti Congkrang (Arit) dan Parang.
  2. Jawa Barat dengan Adat Sundanya terkenal dengan Kujang yang tersohor hingga kepelosok negeri. Namun demikian hingga kini masih banyak jadi perdebatan apakah Kujang termasuk senjata perang atau bukan. Selain Kujang di tanah Sunda ini banyak senjata lain yang hingga kini masih dipergunakan oleh masyarakatnya seperti BaliungBalincong, Patik, Bedok, Congkrang, Arit dan Sulimat. Jawa Barat yang subur dan indah ini memiliki pengaruh tersendiri pada perkembangan persenjataan, peralatan dan persenjataan tanah Sunda banyak terinspirasi dari pengolahan pertanian.
  3. Jakarta yang merupakah rumahnya orang Betawi sangat terkenal dengan Golok yang banyak variannya dan secara garis besar Golok dibagi dua, yang dipergunakan untuk pertanian dan Golok yang dipergunakan untuk bela diri. Selain Golok Betawi juga menggunakan Rotan sebagai senjata yang sering hadir dalam seni ketangkasan Ujungan, kemudian Piso Punta, Pisau Raut, Beliung Gigi Gledek, Cunrik, Kerakel, Siku dan Badik. Dengan berkembangnya Jakarta sebagai Ibu kota Indonesia, senjata-senjata tradisional ini ikut dilestarikan melalui beragam acara tradisional hingga internasional.
  4. Jawa Tengah yang kental dengan adat Jawa nya sangat populer dengan Senjata Keris demikian pula Yogyakarta, namun selain Keris, Jawa Tengah juga menyimpan beragam Senjata Khas yang lain seperti Wedhung yang lebih sering digunakan sehari-hari karna fungsionalitasnya di masyarakat, Tombak yang menjadi bagian penting dari prajurit Kesultanan, Thulup sejenis sumpit untuk berburu, Plintheng yang merupakan ketapel, konde yang digunakan perempuan Jawa untuk menjaga diri yang disebut  Condrosohingga Bandhil yang unik.
  5. Yogyakarta yang berbudaya kerabat dekat dengan Jawa Tengah juga memiliki berbagai senjata yang mirip dengan daerah Jawa Tengah dan Solo. Tetapi selain Keris, Wedhug, Tombak, Thulup, Plintheng dan Condroso, Yogyakarta juga menyimpan berbagai senjata tradisional yang lain seperti : Badhil, Cangkol, Cangah, dan Patrem. Yogyakarta yang sering kebudayaannya sangat dijaga sering mengadakan berbagai acara yang mengikut serta kan berbagai senjata tradisional dari daerah ini.
  6. Jawa Timur. Siapa dari kita yang tidak kenal Celurit? Senjata mematikan yang berbentuk bulan sabit ini bahkan tersohor secara internasional dan Celurit merupakan salah satu senjata tradisional yang berasal dari Madura-Jawa Timur. Selain digunakan sebagai senjata, Celurit juga dipergunakan sebagai alat bercocok tanam. Selain Celurit, provinsi asal Soekarno – Presiden pertama Indonesia ini juga dikenal berbagai senjata tradisional seperti Keris karna serumpun budayanya dengan suku Jawa yang berada di Jawa Tengah dan Yogjakarta, Bendo yang mirip dengan Bedog Buding yang berasal dari Banyuwangi serta Bionet yang berbentuk seperti pedang.
Senjata Kalimantan

Kalimantan

Sebagaimana yang kita ketahui Kalimantan atau dikenal pula dengan nama Borneo merupakan pulau terbesar dari gugusan pulau yang ada di Indonesia. Pulau besar yang berbatasan dengan Serawak Malaysia ini dikenal dengan satu suku yang tersebar hampir diseluruh kepulauannya yaitu suku Dayak, bahkan Serawak yang masih berada di pulau Kalimantan pun masih memiliki trah suku Dayak. Keberadaan suku Dayak di pulau Kalimantan memegan peranan penting dalam kebudayaan dan Senjata adalah satunya. Jika kita dapat menemukan Keris di hampir wilayah pulau Jawa, maka di Kalimantan kita akan mendapati Mandau hampir diseluruh wilayah Kalimantan. Selain Mandau berikut senjata lain yang dapat kita temui di Kalimantan.

  1. Kalimantan Barat. Provinsi terbesar di Kalimantan ini terkenal dengan ibukotanya Pontianak. Selain Mandau, di Kalimantan Barat juga dikenal Dohong sebagai senjata tradisional. Saat ini Dohong hanya digunakan pada berbagai upacara adat seperti pemotongan tali pusar bayi, namun zaman dahulu kala Dohong sering dibawa kemana-mana untuk beraktifitas oleh masyarakat Dayak.
  2. Kalimantan Selatan. Provinsi dengan ibukotanya Banjarmasin ini terkenal dengan senjata tradisionalnya yaitu Keris Bujak Beliung selain Mandau tentunya. Keris Bujak Beliung mirip dengan Keris pada umumnya dan dipergunakan dalam berburu dan Perang oleh masyarakatnya.
  3. Kalimantan Tengah. Kalimantan Tengah yang ibukota Palangkaraya terkenal dengan Dayak Ngaju. Selain Mandau dan Dohong, Dayak Ngaju juga terkenal akan keahlian menyumpin dengan alat sumpitnya yang disebut Sipet. Sipet yang memiliki panjang hingga 1.5 meter ini hingga saat ini masih dipergunakan untuk berburu dan berperang. Sipet dipergunakan dengan jarum yang sudah diberi racun.
  4. Kalimantan Timur. Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki Ibukota Samarinda juga terkenal dengan Mandau-nya. Selain Mandau, Kalimantan Timur juga dikenal memiliki senjata tradisional sejenis tombak yang disebut Buyak. Buyak dan Lonjo digunakan oleh suku Dayak setempat untuk berperang dan berburu. Menyerupai Mandau di Kalimantan Timur juga dikenal Gayang yang juga dibuat dengan ritual-ritual tertentu. Sebagai pelengkapnya Gayang disertai dengan Talawang, atau perisai dengan 6 sudut yang panjangnya bisa mencapai 2 meter.
  5. Kalimantan Utara. Provinsi Kalimantan Utara merupakan pecahan dari wilayah Provinsi Kalimantan Timur dengan ibukota Tanjung Selor juga mengenal Mandau sebagai senjata tradisionalnya.
Senjata Sulawesi

Sulawesi

Sulawesi merupakan pulau terbesar nomor 4 di Indonesia setelah Papua dan terbesar no 11 di dunia. Sulawesi juga disebut Celebes, gelar yang diberikan oleh Portugis untuk menyebut orang Sulawesi secara keseluruhan. Pulau tempat asal pahlawan nasional kita Hasanuddin ini dahulu dikenal dengan emas-nya dan kini masih menghasilkan berbagai barang tambang lainnya. Pulau tempat tinggal suku Bugis memiliki sejarah perjuangan yang panjang dan memiliki banyak senjata tradisional.

  1. Sulawesi Utara. Pada tahun 1590 Sulawesi Utara memiliki pahlawan yang terkenal bernama Hengkeng U Nang dari Timeno Kiawang Siau salah satu daerah disini. Pahlawan tersebut terkenal dengan keahlian bela diri termasuk memainkan Peda bahasa daerah Sulawesi untuk parang, Peda yang digunakan oleh Hengkeng U Nang cukup unik bentuknya dan disebut Peda Bara Sangihe. Peda ini digunakan oleh Hengkeng U Nang untuk bertarung. Selain Peda Bara Sangihe Provinsi yang ber ibukota Manado ini juga menggunakan Peda biasa dalam kesehariannya. Untuk bertarung melawan musuh, biasanya Peda dilengkapi dengan Perisai dari kayu yang diberi ukiran motif binatang dan dedaunan khas Sulawesi Utara.
  2. Sulawesi Tengah. Provinsi terbesar di Sulawesi dengan jumlah penduduk saat ini no 2 terbesar dipulau tersebut memiliki sejarah panjang sampai akhirnya dapat ditaklukkan oleh Hindia Belanda. Daerah yang menjadi rumah bagi lebih dari 20 suku asli ini memiliki beragam senjata tradisional yang terkenal seperti : Guma yang merupakan parang panjang, Pasatimpo dengan gagang yang membengkok, serta Kanjae dan Surampa yang merupakan pasangan tombak seperti trisula dan tamengnya.
  3. Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan adalah rumah bagi suku Bugis yang terkenal dengan kapal pinishi, dan pengetahuan mereka tentang maritim yang mendunia. Dari sekian banyak warisan budaya yang dimiliki Sulawesi Selatan senjata tradisional menempati posisi yang cukup penting sebagai bagian dari masyarakatnya, senjata yang paling terkenal milik suku Bugis adalah Badik yang terdiri dari beberapa jenis seperti : Badik Raja, Lagecong, Luwu, Salapu/Sonri atau Alamang, Lompo Battang dan Kul Buntet atau Pusaran
  4. Sulawesi Tenggara. Sebelum beribu kota-kan Kendari, Baubau pernah menjadi Ibu Kota Sulawesi Tenggara. Sejak dahulu kala, Sulawesi Tenggara juga telah dikenal memiliki benteng terluas sedunia yaitu Benteng Buton di kota tersebut dan menjadi lambang perlawanan rakyat Sulawesi Tenggara. Dalam masa penjajahan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Sulawesi Tenggara senjata tidaklah dapat dipisahkan dari berbagai kegiatannya. Beberapa senjata tradisional yang terkenal dari Sulawesi Tenggara mulai dari Keris Pusaka Emas Aru Palaka (La Tenritatta Arung Pakka Petta Malampe’E Gemme’na Daeng Serang Datu Marioriwawo) Miliki Aru Palaka yang merupakan Pahlawan dari Sulawesi, Keris & Tombak Meantuú Tiworo Liya, Parang Taawu yang hingga kini masih dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari dan dikenal pula sebagai Pade Taawu.
  5. Gorontalo. Provinsi yang lahir dari pemekaran sejak tahun 2000 ini diberi gelar dengan Bumi Serambi Madinah. Rumah bagi Pohalaá (Keluarga) banyak etnis ini memiliki beberapa jenis senjata tradisional seperti Wamilo seperti keris tanpa liukan sama seperti Bituó, Sabele seperti parang atau Lilang dan Travalla dengan total hingga 18 jenis yang pernah di teliti oleh salah seorang mahasiswa dari Universitas Gorontalo.
  6. Sulawesi Barat. Provinsi yang merupakan rumahnya orang Mandar ini beribu kota-kan Mamuju. Bentang alam yang indah, pantai yang mengagumkan ini ternyata menyimpan kekayaan budaya yang banyak pula. Senjata tradisional di Sulawesi Barat yang terkenal mulai dari Gayang Mandar yaitu pisau sejenis keris, Kandawulo atau parang yang kini masih dipergunakan masyarakatnya untuk bekerja dipertanian, Badik serta Jambia sejenis belati.
Senjata Papua-01-01

Papua

Papua dan Papua Barat terletak diwilayah Indonesia paling timur dan berbatasan dengan Papua New Guinea. Wilayah Indonesia ini menyimpan banyak sekali potensi sumber daya alam dan kebudayaan, salah satu kekayaan alam yang hingga kini menjadikan Papua tersohor hingga keseluruh dunia adalah Emas yang ditambang oleh perusahaan Amerika Freeport. Kebudayaan Papua memiliki originalitas tersendiri dan cukup jauh berbeda dengan kebudayaan Melayu Tua dan Melayu Muda diwilayah Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah Papua masih dikenal dengan konflik antar suku yang sering memakan korban dari pihak-pihak yang berkonflik. Dengan Kebiasaan tersebut serta budaya berburu masyarakat Papua dan Papua Barat maka tidak heran di pulau ini ditemukan berbagai senjata yang juga sangat otentik seperti Panah yang terbuat dari Bambu dan Rotan yang disebut sebagai Ukaa Mapeega, Belati yang terbuat dari tulang khususnya tulang Kasuwari burung endemik yang ada di pulau ini, Tombak Asmat yang unik berbahan kayu, tulang, bambu atau rotan serta Kapak Batu yang digunakan oleh masyarakat Papua untuk kegiatan sehari-hari.

Senjata Bali Maluku NT

Bali, Nusa Tenggara dan Maluku

Selain 5 Pulau besar, Indonesia juga memiliki banyak gugusan kepulauan yang terdiri dari beberapa provinsi membentang dari tengah hingga kewilayah timur Indonesia dengan kekayaan alam dan sejarah maritim yang kuat. Latar Belakang sejarah yang membentuk budaya masyarakat asli wilayah tersebut menghasilkan produk-produk budaya yang unik dan masih dipergunakan hingga saat ini. Oleh karena itu mari kita lihat senjata-senjata apa saja yang dimiliki daerah-daerah ini.

  1. Nusa Tenggara Barat. Kepulauan Nusa Tenggara Barat yang beribu kota Mataram ini dihuni oleh 3 suku utama seperti Sasak, Mbojo dan Sumbawa. Suku-suku ini tersebar di dua pulau besar yaitu Lombok dan Sumbawa. Kebudayaan Nusa Tenggara Barat mendapat pengaruh besar dari dua daerah yaitu Bali dan Sulawesi dengan Bangsa Bugisnya. Pengaruh ini terlihat pada senjata-senjata tradisionalnya seperti Sempari yang merupakan kerisnya Suku Mbojo di Sumbawa bagian Timur. Tulup yang berpeluru pelapah enau yang diberi racun, Kelewang pedang khas daerah Lombok serta Golok Suku Sasak yang juga berada di Pulau Sumbawa.
  2. Nusa Tenggara Timur. Provinsi Kepulauan Nusa Tenggara Timur memiliki lebih dari 550 pulau dengan 3 pulau utama seperti Sumba, Timor dan Flores. Nusa Tenggara Timur Beribu Kota Kupang. Senjata yang cukup terkenal dari Provinsi ini adalah Sundu yang menyerupai Keris, Kabeala sejenis Parang yang diikatkan kepinggang, Saweo, Pisau dan Kampak serta Senapan Tumbuk. Tidak tertinggal Pedang Surik yang terkenal dengan kesaktiannya.
  3. Bali. Siapa yang tak kenal dengan Bali? Salah satu provinsi yang tersohor hingga keberbagai belahan dunia ini adalah destinasi wisata pilihan bagi para pelancong yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus keluhuran budaya yang dimiliki oleh masyarakatnya. Di Bali terdapat berbagai senjata tradisional yang hingga kini jadi kebanggaan, dilestarikan dan banyak direproduksi seperti Keris Bali yang penuh dengan ornamen detail dan dikenal pula dengan Keris Tayuhan, Wedhung yang unik dan mirip dengan milik orang Cirebon, Tiuk, Taji untuk menyabung Ayam, Kendik sejenis kapak, Caluk, Kadik senjata tradisional Kapak dan Arit seperti Celurit milik orang Madura.
  4. Maluku dan Maluku Utara. Kepulauan Maluku terdiri dari 4000an pulau kecil  dengan ibu kotanya Ambon. Daerah perairan yang kaya dengan ikan, dan daratan yang penuh dengan sumber daya alam ini sangatlah indah. Masyarakat yang dikenal dengan Molucas ini terkenal dengan kemampuan menyanyi dan sangat menjaga kebudayaannya. Dalam tarian adat yang dikenal dengan Cakalele masyarakat menggunakan Parang Salawaku, yang terdiri dari sepasang Parang dan Tameng, selain itu masyarakatnya juga mengenal Kalawai yang hingga kini masih dipergunakan untuk menangkap ikan.

Senjata Tradisional Indonesi sangatlah banyak jenisnya, dan masing-masing jenis banyak pula turunannya. Sebagian besar senjata tradisional tersebut sangat sulit dikotak-kotakkan sesuai dengan provinsi yang saat ini ada karna pembagian wilayah yang kita kenal sekarang jauh berbeda dengan masa lalu. Oleh karena itu tidak perlu heran jika satu senjata dikenal diberbagai daerah, dan masing-masing provinsi memiliki banyak sekali senjata-senjata tradisional.

Pengetahuan tentang Senjata dapat memberikan kita berbagai insipirasi mulai dari sejarah dan filosofinya, bentuk, ergonomi, material hingga teknis penggunaannya baik dalam bela diri maupun dalam keseharian masyarakat. Oleh karena itu kita patut bangga sekaligus memiliki tanggung jawab untuk terus menjaga, mempelajari dan mengembangkan warisan budaya Indonesia yang luhur dan kita cintai ini.

Asyraaf & Hadian

Sumber : Adat Tradisional, Bagas Aji Harvian, Viking Sword, Describe Indonesia, Peti Antik, Galeri Badik Lampung, Agung Bhesemah, Tradisi Kita, Tanoh Aceh, Disini Aja, Garuda Militer, Lentera Hidup, Senjata Tradisonal Indonesia yang Unik, D Techno Indo, Kamera Budaya, Guru Honor, Blogg Bebass, Eces Wanfu Tatabi, Dunia Pusaka Gallery Keris, Pisau, Gps Wisata Indonesia, Baabun, Zona Bangka Belitung, Anggian Nauli, Pesona Wisata Indonesia, Banten Bangkit, Budaya Sunda, Hidup Simpel, Usahaku, Senjata Tradisional Indonesia yang Unik, Cah Mengger, Kawulala, Kabar-kabar, Cerita Center, Budaya Indonesia Beraneka Ragam, Wisatapedia, Warung Kopi, Tasik Cyber, Boombastis, Suka Sosial, Teluk Palu, Reynand, Budaya Indonesia, Inilah Muda, Akbar Ebheel, Umma Yustika, Dunia Kesenian, Melferina Wipa, RIP Kalam Kudus, Budaya Indonesia, Dunia Pusaka Keris, Dina Andriani, Wikipedia, Folres Smart, Ririn Nanda, Special Pengetahuan, Sport Turism,

Kayu Ulin – Pohon yang Memiliki Diameter Besar

Kayu Ulin adalah jenis kayu asli Indonesia. Tanaman yang memiliki nama latin Eusideroxylon zwageri Teijsm & binn ini merupakan tanaman khas Kalimantan yang tergolong kedalam suku Lauraceae. Pohon Ulin sendiri memiliki ketinggian hingga 50 meter dengan  diameter kayu sekitar 60-120 cm.

ec6acda5-d244-4fcb-877d-3b40cd66a915w

Jenis-Jenis Kayu Ulin

Di Kalimantan Barat telah ditemukan beberapa jenis Ulin di antaranya, Ulin Tando dengan ciri warna batang coklat kemerahan, Ulin Tembaga memiliki warna batang kekuningan, Ulin Lilin dengan batang cokelat gelap dan Ulin Kapur dengan warna batang cokelat muda.

Ulin Kapur merupakan jenis Kayu yang paling banyak digunakan sebagai bahan baku atap sirap. Sementara ketiga jenis Kayu Ulin lainnya banyak digunkan sebagai pondasi bangunan atau lantai rumah maupun kapal.

c78807b6-69d5-4e2e-9724-46bc3e170ad6w

Keunggulan Pohon Ulin di bandingkan dengan Pohon Lainnya.

Berbeda dengan jenis kayu Jati, Kayu Ulin sendiri memiliki pohon yang besar bahkan bisa mencapai ketinggian hingga 50 meter dengan diameter 120 cm. Kayu ini dapat tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian mencapai 5 – 400 meter diatas pemukaan laut, dengan medan datar hingga miring. Selain itu Pohon Ulin bisa tumbuh secara berkelompok di dalam hutan.

Kayu Ulin tahan terhadap Suhu, kelembaban dan pengaruh air laut, sehingga masa kayu Ulin ini bisa menjadi keras dan sangat berat. Bahkan pohon Ulin sendiri bisa tumbuh dengan baik di hutan tropis yang basah.

Sama seperti halnya Kayu Jati, Kayu Ulin juga memiliki kualitas yang bagus, dari segi kekuatannya. Kayu Ulin memang terkenal sebagai kayu dengan masa yang berat dan sangat kuat hingga awet untuk digunakan sebagai bahan baku dari pembuatan pondasi lantai rumah atau bahkan atap Sirap.

Kayu Ulin memiliki kandungan alami yang membuat kayu tersebut anti terhadap serangan rayap. Selain itu kayu ini juga tahan terhadap perubahan kelembaban, suhu dan air laut. Akan tetapi, karena tekstur kayu jenis ini yang sangat kuat, membuat kayu Ulin sulit untuk di paku atau digergaji.

pohon-ulin-225x300

Selain itu, keistimewaan Kayu Ulin ini, dapat tumbuh tinggi dengan diameter batang yang sangat besar pula, hingga mencapai ketinggian 50 meter dan diameter kayu mencapai 120 cm. Hal ini tentunya menjadi keunggulan Kayu Ulin dibandingkan  dengan kayu lainnya.

Kegunaan Kayu Ulin

Kayu Ulin memiliki ciri-ciri dengan kulit pohon yang licin, berwarna kuning dan batangnya lurus. Kayu Ulin yang sudah dipotong akan menghitam jika terlalu lama terendam air, namun hal itu tidak mempengaruhi kekuatan kayu.

Kayu ini sangat kuat membuat masyarakat menggunakannya sebagai bahan baku atap sirap dan pondasi hingga lantai rumah, namun tidak hanya itu, kayu Ulin sendiri pernah dijadikan sebagai perhiasan atau aksesori, hal ini banyak dijumpai di Banjarmasin. Biasanya mereka memanfaatkan kayu Ulin sebagai batu cincin serta perhiasan.

Kayu Ulin dengan tekstur yang kasar dan kuat, membuatnya banyak digunakan sebagai bahan konstruksi utama dalam pembagunan rumah khususnya bagi masyarakat Banjar di Kalimantan. Bahkan beberapa rumah panggung yang ada disana, khususnya rumah-rumah panggung yang berada di tepian sungai terbuat dari kayu Ulin sebagai bahan pokoknya.

Sumber : Wikipedia. Manfaat Kayu Ulin.

Kedik – Sebagai Alat Perkebunan di Bangka Belitung

Kedik adalah senjata tajam yang biasa digunakan masyarakat Bangka Belitung sebagai alat pertanian. Masyarakat di sini biasanya menggunakan Kedik terutama dalam perkebunan. Adapun jenis tanaman perkebunannya adalah Lada.

Sebagai senjata tradisional, Kedik pada umumnya hampir sama seperti senjata tradisional lainnya yang berada di pulau Sumatra. Banyak dipengaruhi oleh kebudayaan melayu. Hal tersebut tidaklah heran pasalnya mayoritas penduduk dari pulau Bangka dan Belitung ialah masyarakat melayu.

https://2.bp.blogspot.com/-J6ymaeXCZ7U/WnFv8FjrK6I/AAAAAAAAAWM/S28Zqw2qxjA56Vy3OSdWw64maFvE4ClmACLcBGAs/s1600/parang%2Bbangka%2Bsenjata%2Btradisional%2Bbangka%2Bbelitung.gif

Kedik sebagai alat pertanian

Senjata tradisional ini selain digunakan sebagai alat untuk mempertahankan diri dari serangan musuh dan sebagai pelengkap untuk acara adat, namun juga biasa digunakan sebagai senjata atau alat perkebunan. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk meringankan beban masyarakat dalam berkebun.

Bagi masyarakat Bangka ataupun Belitung, senjata tradisional Kedik ini lebih di kenal dengan sebutan Parang Bingkok, khususnya bagi masyarakat Belitung. Kedik sendiri biasa digunakan untuk membantu masyarakat dalam merawat perkebunan Lada. Mengingat perkebunan Lada yang ada di sana sangat banyak dan begitu luas, sehingga wajar jika banyak tumbuh ilalang atau rumput liar lainnya.

Alat ini digunakan dengan cara seperti meletakan di tanah dan memangkas berbagai jenis rumput liar atau ilalang yang tumbuh di kebun. Dalam penggunaannya, si pemilik atau pengguna harus menggunakannya dengan cara berjongkok dan bergerak mundur atau pun menyamping. Hal ini tentunya sangat efektif untuk membersihkan rumput-rumput liar di halaman perkebunan.

Terlebih pada zaman dahulu, belum ada mesin rumput yang bisa digunakan, sehingga dengan adanya Kedik ini sangat membantu pekerjaan masyarakat setempat. Dengan menggunakan Kedik masyarakat yang memiliki perkebunan lada sangatlah terbantu, sebab banyak rumput liar yang menjadi pengganggu pertumbuhan lada.

Bentuk Kedik

Kedik memiliki bentuk seperti Parang atau Golok. Namun Kedik memiliki bilah yang melengkung, atau bengkok. Oleh karena itu beberapa daerah di Bangka Belitung  lebih mengenal alat tersebut dengan sebutan Parang Bingkok. Bingkok sendiri memiliki arti yakni Bengkok.

Dilihat dari segi ukuran, alat ini tidak memiliki ukuran yang terlalu besar. Kedik memiliki panjang sekitar 38cm hingga 50cm, dan masa yang tidak terlalu berat, biasanya tidak lebih dari 2kg.

Bahan baku Kedik

Bahan Baku kedik sendiri tidak terlalu sulit dan mudah untuk di temukan. Pasalnya pembuatan Kedik sendiri sama seperti senjata tradisional lainnya yaitu Parang. Hanya membutuhkan besi sebagai bahan pembuatan mata pisaunya dan kayu sebagai hulunya. Hanya saja besi yang digunakan harus dibengkokan atau di bentuk sedikit melengkung pada bagian atasnya.

Sumber: Tradisi kita.

Keris Bujak Beliung – Senjata Tikam Asal Kalimantan Selatan

Keris Bujak Beliung adalah senjata tradisional dari Kalimantan selatan. Senjata tradisional jenis ini berupa senjata tikam yang digunakan dengan cara ditikamkan atau ditusukan pada musuh dengan jarak yang sangat dekat.

Kalimantan sendiri merupakan pulau terbesar di Indonesia dengan berbagai suku dan budaya dari masyarakat setempat. Suku yang terkenal sebagai penghuni pulau ini ialah suku Dayak. Seperti yang sudah banyak di ketahui bahwa suku dayak sendiri memiliki banyak sekali senjata khas  yang di yakini memiliki kekuatan magis atau kekuatan supranatural.

Keris Bujak Beliung sendiri merupakan salah satu senjata di Kalimantan Selatan yang di percaya dan diyakini oleh masyarakat setempat memiliki kekuatan magis. Sebagai senjata yang dianggap memiliki kekuatan magis, Keris Bujak Beliung ini dipercaya dapat memberikan manfaat tersendiri bagi si pengguna ataupun bagi orang yang memilikinya.

Pada masanya, Keris Bujak Beliung memang biasa digunakan sebagai salah satu senjata untuk melawan musuh dari dekat, atau sebagai bentuk pertahanan diri. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu kegunaan Keris ini sudah tidak lagi sebagai senjata untuk membunuh, namun banyak digunakan sebagai  pelengkap di berbagai upacara adat Kalimantan selatan.

Bentuk Keris Bujak Beliung

Bentuk senjata ini sama halnya seperti Keris pada umumnya yang ada di pulau Sumatera ataupun pulau Jawa. Namun luk yang dimiliki oleh Keris bujak Beliung ini tidak begitu banyak. maka tidak heran jika ukuran dari senjata ini ialah sekitar 30 cm.

Keris Bujak Beliung mempunyai ciri khas atau pembeda dengan keris lainnya yaitu terletak pada motif dan ukiran yang ada di bagian keris. Motif atau ukiran yang digunakan biasanya menceritakan tentang sejarah atau filosofi yang terkandung di dalamnya.

Bahan Baku Keris Bujak Beliung

Bahan baku untuk pembuatan Keris Bujak Beliung ini sama saja seperti bahan pembuatan Keris pada umumnya, yaitu terbuat dari logam mulia, besi atau bahkan emas. Namun, dalam hal ini Keris Bujak Beliung biasanya terbuat dari campuran besi dan logam. Dilihat dari segi ukuran, senjata ini memiliki panjang kurang lebih 30 cm.

Dalam proses pembuatannya tidaklah sembarangan. Terlebih jika Keris itu digunakan sebagai benda pusaka yang dianggap memiliki kekuatan magis. Besi atau logam yang digunakan untuk menjadi bahan baku pembuatannya, akan diberi petuah terlebih dahulu oleh sang empuh. Sehingga Keris tersebut dipercaya memiliki petuah bagi pengguna ataupun sang pemilik.

Di Kalimantan Keris Bujak Beliung juga dianggap memiliki petuah atau kekuatan magis. Sehingga untuk memiliki dan menggunakannya tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Begitupun untuk mendapatkannya tidak bisa secara gambang.

Keris Bujak Beliung yang asli oleh masyarakat setempat dianggap memiliki kekuatan spiritual. Namun, jika Keris Bujak Beliung itu palsu biasanya hanya digunakan sebagai bentuk hiasan semata.

Sumber: Bangtresna

Kayu Oak – Kayu yang Mudah Kering Jika Terkena Air

Ek atau yang lebih sering dikenal Oak merupakan istilah yang berasal dari bahasa Belanda Eik. Berdasarkan habitatnya pohon ini termasuk ke dalam tiga genus yaitu genus Quercus yang tumbuh di belahan bumi utara, genus Cyclobalanopsis tumbuh di daerah Asia yang dingin, genus Cork Oak yang tumbuh di Portugis, Maroko dan Spanyol.

Bagi masyarakat Amerika dan Eropa, pohon Oak merupakan pohon andalan yang bisa tumbuh di lingkungan sekitar rumah, baik di Desa maupun di Kota. Pohon ini bisa tumbuh dan bertahan hidup hingga ratusan tahun, sehingga banyak orang yang menanamnya.

tekstur kayu oak (1)

Karakteristik Kayu Oak

Kayu Oak memiliki sifat keras dan kuat. Selain itu tekstur serta pori yang dimiliki pohon ini cukup besar. Dari tampilah tekstur inilah yang membuat pohon ini terlihat unik. Apalagi jika dilakukan pengecatan yang tepat maka estetikanya bisa sangat menawan dibanding kayu yang lainnya.

Pohon ini memiliki daun yang rindang, batang dan cabangnya kuat, serta sistem akar yang besar. Selain itu Oak memiliki kebiasaan yang tak lazim yaitu tidak menggugurkan daunnya ketika musim gugur meskipun warnanya berubah kecoklatan. Namun ketika tunas-tunas daun muncul di musim semi, barulah pohon Oak ini menggugurkan daunnya

Dari segi tekstur kayu ini memiliki tingkat kekerasan yang tinggi sebagai kelas dua dalam hal kekuatan. Hal ini yang membuat banyak orang memilih kayu Oak sebagai bahan baku untuk alas tempat tidur dan lemari yang ada di dalam kamar. Konstruksi kayu ini juga fleksibel sehingga bisa digunakan untuk berbagai model perabot bergaya klasik maupun modern.

Kayu Pasang_agrosuksesDOTcom

Pori-pori dari kayu ini lebih lebar dari jenis kayu lainnya sehingga mudah kering jika terkena air atau bahan cair. Hal itu yang membuat kayu jenis ini lebih tahan terhadap cuaca dingin dengan tingkat kelembapan yang tinggi. Inilah kelebihan kayu Oak.

Namun selain kelebihan, kayu ini juga memiliki kelemahan yaitu tidak tahan terhadap cuaca panas. Jika kayu dijemur di bawah sinar matahari, maka akan mudah bengkok apabila proses penjemuran terlalu lama.

Untuk penempatan perabot berbahan dasar kayu Oak, disarankan agar meletakkannya di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Karena panas matahari ini akan membuat kayu menjadi melengkung dan tingkat keawetannya akan berkurang. Jenis kayu Oak ini hanya cocok untuk furniture interior saja dan tidak tahan lama jika digunakan untuk furniture eksterior.

Selain itu, kayu ini juga mudah retak jika dalam proses pengolahannya kurang hati-hati. Biasanya para pengrajin melakukan proses perekatan dengan lem dan paku bor untuk menyambung kayu agar tidak terjadi kerusakan. Tentu saja para pengrajin menghindari penyambungan kayu dengan cara dipaku tanpa melakukan bor terlebih dahulu, karena sifat kayu yang mudah retak.

Kelemahan lainnya yaitu harus selalu rutin untuk melakukan perawatan, yaitu dengan cara membersihkannya dan mengoles dengan minyak. Hal ini dilakukan  karena jika kondisi perabot selalu kotor dan tidak terawat, maka rayap mudah sekali menyerang kayu Oak.

oak_tree4

Jenis Pohon Oak

Kayu ini bisa dibedakan menjadi dua jenis. Pertama adalah Red Oak atau Oak Merah, sedangkan yang kedua adalah white Oak atau Oak Putih. Serat dan pori merupakan aspek terbesar yang bisa membedakan keduanya. Red oak secara umum memiliki pori lebih besar dengan pola panjang dibanding white Oak.

Biasanya pohon Oak yang ada di Indonesia adalah Oak Putih. Kayu Oak ini berwarna putih bersih. Selain itu ada juga yang putih kecoklatan dengan guratan kayu lurus, berombak dan banyak bercak hitam bekas inti batang.

Sumber : Dekoruang. Anti Jamur. Woodmanfloor.

Diluar negeri dikenal sebagai Rosewood, di Indonesia kita sebut Sonokeling

Spesifikasi Sonokeling

  • Sonokeling, Indian Rosewood, East Indian Rosewood
  • Distribusi : India, Sri Langka, Indonesia
  • Ukuran : Tinggi hingga 30 meter dan lebar hingga 1.2 meter
  • Berat Kering Rata-rata : 830kg/m³
  • Terdapat 2-3 pori berganda radial, baur dan soliter berjumlah 5 hingga 8 pori per mm²
  • Diameter tangensial sekitar 80-175 mikron dengan bidang perforasi sederhana berendapan merah kecoklatan
  • Berat jenis, sedang hingga berat sekitar 0,83 berada di antara 0,77-0,86
  • Kelas awet 1
  • Kelas kuat 2

Kayu Rosewood atau Kayu Sonokeling Banyak Terdapat di Indonesia

Kayu Rosewood atau Sonokeling sudah menjadi salah satu komoditi utama bagi para pengusaha mebel dan pengrajin kayu karena teksturnya sangat kuat serta memiliki daya tahan yang tinggi. Selain itu, kayu ini memiliki sisi keindahan dengan perpaduan urat kayu yang lurus dan bergelombang berwarna coklat serta bercak hitam. Rosewood adalah salah satu jenis kayu yang memiliki guratan dengan warna gelap sehingga terlihat unik dibanding bahan baku kayu pada umumnya.

Kayu Rosewood Sebagai Bahan Baku Berkualitas Tinggi

Sementara warna putih atau krem hanya terdapat pada pinggiran kayu dan bentuknya melingkar tepat berada di permukaan luar setelah kulit kayu dikupas. Lebar warna putih pada kayu ini hanya sekitar 1 sampai 5 cm membungkus bagian dalam dan tentunya akan hilang jika kayu sudah dipotong-potong. Kayu Rosewood merupakan salah satu kayu unggulan dan banyak disukai masyarakat yang memiliki minat akan seni serta keindahan.

Jenis kayu ini memiliki tingkat keawetan yang tinggi serta kebal terhadap serangan serangga maupun jamur perusak. Bobot kayu juga memang termasuk sebagai bahan baku yang agak berat dan banyak dimanfaatkan untuk pembuatan lemari serta meja kursi. Kebanyakan masyarakat Indonesia menggunakan kayu ini sebagai bahan utama furniture ruang tamu karena memberikan kenyamanan dan kehangatan ketika duduk di kursi tersebut.

  1. Furniture. Karena teksturnya yang keras sehingga termasuk sebagai kayu berkualitas tinggi dan fleksibel digunakan untuk berbagai macam barang. Banyak yang menggunakannya sebagai ornamen lantai karena berdasarkan tingkat kekerasannya dan juga segi keindahan dari kayu ini. Jika kita pernah melihat rumah Joglo masyarakat Jawa, maka sebagian besar bahan bakunya menggunakan kayu Rosewood kecuali pada tiangnya.
  2. Alat Musik. Pemanfaatan lainnya digunakan sebagai alat musik, seperti gitar akustik dan gitar elektrik karena bisa menghasilkan suara yang bagus. Banyak produsen gitar dan biola yang memilih kayu Rosewood sebagai bahan baku utama untuk keindahan suara dan corak warnanya yang sangat indah. Kayu Rosewood digunakan hampir pada semua ornamen kedua alat musik tersebut, dari ujung atau grid nada sampai kontruksi untuk badan gitar dan biola.
  3. Produk-produk kecil. Pengaplikasian kayu ini juga digunakan kebutuhan mode sebagai bahan untuk pembuatan jam tangan, pulpen, kerangka kacamata, pipa rokok dan lainnya. Barang lainnya yang menggunakan kayu ini antara lain kipas angin gantung, sisir, gelang dan rosario. Selain itu, dimanfaatkan untuk pembuatan alat olahraga, seperti bet tenis meja, pedang kayu atau bokken, dan bidak catur. Sekitar tahun 50an, pembuatan radio dan televisi juga menggunakan bahan baku kayu Rosewood sebagai tampilan luarnya sehingga terlihat lebih indah dipandang.
  4. Tableware. Untuk kebutuhan kuliner, ada beberapa alat yang menggunakan kayu ini seperti piring, sendok, nampan, sumpit serta gagang pisau. Sedangkan pada bidang otomotif juga dimanfaatkan untuk bahan baku stir mobil pada kendaraan Mercedez Benz dan juga pada bagian luar speedometer serta interior pintu bagian dalam dan juga AC mobil. Barang lainnya yang terbuat dari kayu ini antara lain tongkat, notebook kayu dan kerajinan kayu lainnya seperti pahatan patung, gapura pintu dan jendela.

Pohon Rosewood di Indonesia

Bagi masyarakat Indonesia, kayu Rosewood bukanlah barang asing karena di negeri ini banyak tumbuh jenis kayu tersebut dan biasa disebut dengan nama kayu Sonokeling. Pada saat musim kemarau, daunnya berguguran dan merupakan pohon asli Indonesia yang sudah ada sejak masa lampau. Pohon Sonokeling sebagian besar berada di daerah Jawa Tengah serta Jawa Timur. Pohon ini juga banyak tumbuh di negara India dan berada di kawasan hutan hujan tropis di daerah pegunungan. Kayu Sonokeling termasuk dalam daftar merah sejak tahun 1998 karena populasinya yang semakin menurun.

Umumnya para pengusaha kayu Sonokeling memanen pohon tersebut ketika sudah berusia lebih dari 10 tahun agar hasil kayu berkualitas dan harganya juga tinggi. Kayu Sonokeling dengan ukuran dan kualitas maksimal sebaiknya dipanen pada umur 20 tahun. Namun ada juga pengusaha yang memanen pohon Rosewood setelah berusia 5 tahun untuk digunakan sebagai bahan pembuatan barang-barang kerajinan. Pohon yang ditebang masih bisa tumbuh lagi sehingga bisa melakukan panen 2 kali karena bibit pohon dapat tumbuh di bekas tebangan pohon. Pohon Sonokeling atau Redwood ini cocok dijadikan kayu untuk investasi, dengan ketersediaannya yang kini bahkan lebih sedikit dibandingkan dengan kayu Jati, sedangkan karakternya yang mempesona bagi pencinta produk-produk kayu, harganya menjadi semakin meningkat. Investasi yang di maksud dapat berupa bahan baku setengah jadi serta hutan kayu-nya.

Kelebihan dan kekurangan kayu Sonokeling

  1. Warna kayu yang indah dan elagan. Kayu Sonokeling bewarna coklat hingga kehitaman dengan variasi tekstur yang menawan dan memberikan kesan yang eksklusif.
  2. Bagian gubal yang biasa dijadikan bahan baku, bersifat keras sehingga dapat dibuat menjadi produk-produk kecil yang detail. Karena termasuk kayu keras juga dapat di ukir kecil-kecil
  3. Meskipun keras, Kayu Sonokeling tidak mudah retak dan memiliki daya membal yang cukup baik, sehingga banyak juga yang digunakan sebagai popor senjata atau handle dari pistol.
  4. Karena keuatannya, kayu Sonokeling juga sering digunakan sebagai Booken, atau pedang kayu untuk latihan. Massa Jenis yang cukup berat lebih dekat massa yang dimiliki logam pada pedang samurai.
  5. Bagian gubalnya, dalam kondisi kering juga tahan terhadap serangan jamur dan rayap. Sedangkan kayu terasnya perlu treatment khusus supaya lebih awet, bagian teras ini bewarna lebih terang dibandingkan dengan gubalnya, dan sering dijadikan bahan kesenian karena masih menampakkan karakteristik ulir kayu Sonokeling.
  6. Sebagian orang dapat terdampak alergi dari serbuk kayu ini. Bagi yang memiliki alergi tersebut, serbuk kayu Sonokeling dapat menyebabkan ruam dan gatal-gatal.
  7. Redwood atau Sonokeling memiliki kadar air yang cukup tinggi hingga 15% sehingga perlu treatment seperti pengeringan alami atau buatan sehingga kadar air bisa mencapai 10%-12%

Bagi para pengrajin, kayu Sonokeling termasuk bahan yang sulit untuk dipotong secara manual karena teksturnya yang keras. Tentu saja proses pemotongan harus menggunakan gergaji mesin agar tidak terlalu banyak menghabiskan waktu dan hasil potongan juga lebih rajin. Selanjutnya para pengrajin hanya perlu melakukan proses finishing untuk segala kebutuhan barang yang menggunakan kayu Rosewood. Harga kayu ini dipasaran mulai dari Rp 1.300.000 perkubiknya untuk parket berukuran 180x90x1,5cm. Sedang dalam bentuk lembaran  berukuran 300x20x3cm bisa mencapai Rp 16.000.000/m³.

Keris dan Tombak Tiworo Liya

Keris dan Tombak Tiworo liya merupakan senjata tajam tradisional yang berasal dari Sulawesi Tenggara. Kedua senjata ini juga merupakan senjata yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, dan juga menjadi salah satu senjata yang sangat bersejarah bagi Pulau Sulawesi.

Sulawesi tenggara sendiri merupakan pulau di Indonesia yang memiliki banyak tempat bersejarah seperti Benteng keraton Buton yang bahkan menjadi benteng terluas di dunia, selain itu masih banyak tempat bersejarah lainnya, salah satunya ialah benteng Liya yang berokasi di Desa Liya Togo, beberapa tempat bersejarah di Sulawesi Tenggara tersebut merupakan saksi bisu dari kejayaan kerajaan pada zaman dahulu. Para kerajaan yang mempengaruhi senjata tradisional yang ada di Sulawesi Tenggara ini, sebab beberapa senjata tradisional yang ada di Sulawesi Tenggara ini merupakan peninggalan dari zaman kerajaan. Sebab kebudayaan yang ada pada masa lampaulah yang memberikan pengaruh erat akan bentuk dan kegunaan senjata tradisional tersebut, baik itu senjata yang di gunakan sebagai peralatan bercocok tanam, berburu bahkan untuk berperang melawan para musuh.

Lihat Juga : Alamang, Senjata Khas Sulawesi Selatan

Keris Meantu’u Tiworo Liya

Keris memang merupakan senjata tradisional yang sudah ada sejak dahulu kala, bahkan tidak hanya di Sulawesi Tenggara saja, kehadiran Keris sudah lama ada di beberapa pulau lainnya di Indonesia, misalnya di Pulau Jawa ataupun Sumatra, namun senjata tersebut tetap memiliki perbedaan yang di diwujudkan dari bentuk senjata tersebut, baik itu dari ukiran maupun motif yang terdapat pada keris tersebut, namun bukan hanya itu, sejarah atau pengaruh kerajaan menjadi perbedaan yang sangat mencolok dari setiap senjata tradisional, sebab dibalik bentuk senjata tersebut terdapat banyak cerita yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai asal usul dari senjata itu, bahkan tak jarang beberapa dari cerita tersebut membuat masyarakat percaya akan kekuatan magis yang terkandung dalam senjata tradisional tersebut.

Lihat Juga : Gayang – Benda Hidup yang Harus Dijaga Tuannya

Keris Triwolo Liya atau Keris Meantu’u Liya ialah senjata tajam yang digunakan untuk menikam atau menusuk musuh dari jarak dekat, keris ini sendiri digunakan sebagai senjata perang yang digunakan oleh para prajurit atau pun rakyat kerajaan pada masa pemerintahan Raja Liya. Pada masanya, keris ini merupakan keris yang dimiliki oleh Raja Liya atau Lakina Liya, keris ini dipercaya memiliki kekuatan yang sangat sakti. Raja Liya sendiri bertugas untuk mengamankan dan mengatur semua hasil panen rakyat pada masa kerajaannya.

Bentuk dan bahan baku Keris Tiworo

Keris Triwoloyo berbentuk tidak memiliki Luk layaknya keris yang banyak di kenal oleh masyarakat, keris ini memiliki panjang kurang lebih 30cm. dengan terbuat dari besi dan logam mulia.

Tombak Tiworo Liya

Jika Keris Tiworo Liya merupakan senjata tajam yang digunakan untuk menyerang musuh dengan jarak dekat, Tombak Tiworo Liya kebalikannya, senjata tradisional ini digunakan sebagai senjata berperang dari jarak jauh. Senjata ini juga sama seperti keris Tiworo Liya, yang juga dimiliki oleh petinggi kerajaan di masa pemerintahan raja Liya.

Bentuk dan Bahan Baku Tombak Tiworo Liya

Tombak Tiworo Liya ini berbentuk sama seperti tombak pada umumnya, hanya saja mata tombak yang terbuat dari besi, berukuran seperti segitia dengan ujung yang sangat runcing dan tajam. Tangkai atau tongkat tombak sendiri terbuat dari kayu yang sangat kuat.

Sejarah yang mempengaruhi senjata Keris dan Tombak Tiworo Liya

Sesuai dengan nama senjata ini, yakni Tiworo Liya, yang berasal dari nama salah satu pembesar pada masa Kerajaan Liya yakni Meantu’u Tiworo. Meantu’u Tiworo ialah salah satu pembesar yang berkuasa untuk mengamankan atau mengatur semua hasil tenanaman rakyat yang berada di pesisir pantai pada masa pemerintahan Raya Liya. Beliau adalah orang yang sangat sakti pada masanya, dan kesaktiannya sendiri salah satunya terdapat pada keris dan tombaknya. Tidak tanggung-tanggung kesaktian yang ada pada keris dan tombaknya ini bisa membunuh semua orang jahat yang ada di perairan laut Liya, seperti para bajak laut yang hendak menghampiri pantai Liya atau berada di kawasan perairan Liya. Senjata keris dan Tombak tersebut hanya di tancapkan pada Laut, dan semua orang jahat yang ada di sekitaran laut Liya akan meninggal dunia. Sehingga pada masa itu, setiap kapal atau perahu yang ada di tengah perairan laut Liya, selalu ditemukan banyak mayat yang ada di kapal tersebut. Cerita tentang kesaktian Meantu’u Tiworo ini deceritakan oleh salah satu keturunan beliau sendiri yang bernaa Haji Muhammad, beliau meninggal pada 18 Maret 2010 lalu di desa Wote’a lingkungan Benteng Keraton Liya. Tombak dan Keris Meatu’u Tiworo Liya sendiri masih ada hingga saat ini bahkan lengkap dengan Gendang (Tamburu)nya..

Sumber : Kerajaan Tiworo

Keris Aru Palaka Peninggalan Kerajaan Bone

Sesuai dengan namanya, Keris Pusaka Emas Aru palaka ini adalah salah satu senjata tradisional yang dianggap sebagai benda pusaka bagi masyarakat setempat. Keris ini sudah ada sejak masa kerajaan Buton dan juga merupakan senjata pusaka dari raja-raja di kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara.

Senjata keris ini, digunakan sebagai senjata untuk melawan musuh dengan cara ditikam atau di tusukkan dengan jarak yang dekat. Keris pusaka ini hanya dimiliki oleh anggota kerajaan saja, atau lebih tepatnya raja-raja di Kerajaan Buton. Bahkan kembaran daripada keris Pusaka ini pernah di berikan kepada Sulton Buton yang ke sembilan yakni Sultan Qaimuddin Malik sirullah Khalifatul Khamis oleh Aru Palaka pada tahun 1660, tepatnya di Bulan Oktober.

Lihat Juga : Alamang Senjata Tradisional Sulawesi Selatan

Keris Pusaka Emas Aru Palaka ini sangat memiliki nilai sejarah dan leluhur yang tinggi, sebab ia juga merupakan saksi bisu dari masa kerajaan sejak dahulu kala, selain itu nilai materi yang terkandung pada keris ini juga sangat tinggi, sebab sesuai dengan namanya, keris ini memang berlapiskan emas, wajar saja karena yang memiliki keris ini pada zaman dahulu hanya para raja di kerajaan Buton.

Bentuk Keris Pusaka Emas Aru Palaka

Keris ini memiliki bentuk seperti keris pusaka pada umumnya dengan luk yang ada pada bagian kerisnya, pada bagian hulu keris berlapis emas dengan dilengkapi permata yang menghiasi bagian dari keris pusaka itu. Lapisan emas dan permata juga terdapat pada sarung keris.

Lihat Juga :  Badik Lompo Battang

Bahan Baku Pembuatan Keris

Berbeda dengan keris biasanya, keris ini dibuat dengan bahan baku yang sangat mewah yakni dengan di lapisi emas dan batu permata di bagian sarung dan hulu keris.

Keris Pusaka Emas Aru Palaka, Peninggalan Pusaka Raja Arung Palaka

Banyak cerita tentang kejayaan Raja Aru Palaka atau Arung Palaka, yang mana merupakan Sultan Bone. Beliau ialah sosok raya yang sangat dihormati oleh rakyatnya, karena beliau sangat berpengaruh dalam kekuatan Maritim besar yang dimiliki suku Bugis di abad ke 17. Banyak sekali kisah menarik yang dimiliki oleh Aru Palaka. Begitu juga dengan peninggalan yang di tinggalkan oleh beliau yang dianggap sebagai senjata dan benda pusaka oleh masyarakat. Benda dan senjata pusaka yang ditinggalkan oleh beliau selalu di lapisi emas dan batu permata yang menghiasi tampilannya, salah satunya seperti Keris Pusaka Emas Aru Palaka. Keris ini menjadi senjata peninggalan dari kerajaan Buton, sebab di berikan oleh Aru Palaka sendiri kepada kekerajaan Buton, bahkan kembaran dari keris ini yang mana di serahkan lansung oleh Aru Palaka kepada Sultan Buton pada tahun 1660, yang di dampingi oleh istrinya yaitu Imangkawani Daeng Talele dan para sahabatnya yaitu Arung Apanang, Arung Belo, Arung Bila, Arung Kaju dan Arung Pattojo.

Selain dari Bentuk dan kemewahan yang dimiliki oleh Keris Pusaka Emas Aru Palaka, yakni dengan lapisan emas yang melapisi sarung dan hulu keris pusaka ini, kesaktian dari senjata pusaka yang dimiliki raja ini juga sangat mengagumkan. Konon katanya pada zaman dahulu, keris pusaka ini mampu memunuh lawannya hanya dengan sedikit goresan. Oleh karena itu, Keris ini sangat disayangi oleh sang raja, dan juga menjadi senjata andalan yang selalu di bawa oleh raja dalam setiap perperangan kerajaan. Bentuknya yang mewah juga menjadikan keris ini sebagai simbol kekayaan dari kerajaan di Sulawesi Tenggara.

Sumber : Tradisi Kita