Dan takkan ada rajuk, mes…
Dan takkan ada rajuk, meskipun bahagia tidak pernah jadi milik kita hanya untuk anda, anda dan anda. dengan cara seperti dahulu atau skenario ini, semoga kontribusi saya tidak pernah terasa kurang, walaupun rasa itu akan hilang, bagi anda. tapi takkan pernah bagi saya. lihat saja.
i promise
Indonesia, Negara tanpa cita-cita
Tidak ada alasan khusus mengapa akhirnya saya kembali ingin menuliskan sepercik pola pikir saya kembali tentang kenegaraan. Mungkin banyak orang beranggapan bahwa saya juga tidak memiliki kredibilitas yang sesuai untuk membuat jenis tulisan seperti ini. Saya juga tidak berusaha mengejar popularitas dengan komentar beragam atau membuat sebuah fenomena melalui tulisan ini. Namun saya yakin hak saya menyampaikan pendapat masih dapat saya pergunakan melalui tulisan ini, dan jika bagi sebagian orang tulisan ini bisa memberikan perspektif yang berbeda atau justru menjadi inspirasi, saya akan bersyukur.
Beberapa minggu ini, bahkan beberapa bulan ini mungkin menjadi waktu terberat saya dalam memutuskan apa yang terbaik bagi masa depan saya dan masa depan orang-orang yang saya cintai. Namun dalam menangani hal tersebut saya merasa benar-benar belum menemukan solusi yang padan, malah saya melakukan semuanya tanpa perencanaan seperti yang saya lakukan sudah-sudah, saya melakukannya secara random. Bukan hanya menjadi salah tapi, keadaan ini sangat mempersulit saya dalam berbagai hal, menghambat banyak rencana dan mengganggu visi yang selama ini saya rencanakan, dan tentunya mempengaruhi banyak hal disekeliling saya.
Bangun pagi tanpa pola, perjalanan tanpa orientasi yang jelas, menghabiskan tabungan untuk hal-hal yang tidak penting dan secara sadar hal ini harus segera di akhiri. Hal-hal kecil yang mengganggu saya sungguh terasa menjadi hambatan yang besar seperti negara yang selalu saya salahkan ini, Indonesia.
Sejak membuka mata, seperti survey-survey pop yang dilakukan banyak institusi, saya termasuk pelanggan berita online, yang singkat, variatif dan brainwashing. Memulai hari anda dengan kafein dan nikotin bahkan menjelang keputusan untuk menyegarkan diri dibawah shower menjadi kebiasaan yang terkesan biasa bagi banyak eksekutif muda, bahasa populer yang banyak digunakan orang-orang saat ini. Namun hal ini seperti biasa berubah menjadi hal yang tak lagi saya ingin pergunakan, hanya karna ini adalah pola yang dipergunakan banyak orang dan saya rasa tidak ada salahnya menemukan pola saya sendiri. Politik, internasional, ekonomi, desain dan seni serta teknologi adalah pilihan berita yang saya baca didepan monitor dipagi hari dengan harapan normal bahwa saya tidak akan ketinggalan update-an tentang dunia hari ini. Tetapi saya sering kali menghabiskan waktu lebih banyak untuk membaca berita tentang politik dan internasional yang tentu saja kita sepakat berita-berita tersebut kebanyakan bukanlah berita-berita yang menghibur. Sedang populer tentunya ditelinga kita saat ini soal program nuklir Iran, Palestina yang semakin di ujung tombak, krisis keuangan yang melanda Amerika dan Eropa, berita tentang Angelina Sondakh dan sebagainya. Berita-berita tersebut secara apik ditata dalam tulisan yang bertutur seakan jujur dengan hasil tentunya bahan bacaan tersebut menjerumuskan kita kepola pikir yang skeptis, semakin apatis dan kritis.
Semakin sering membaca berita-berita dengan jenis yang demikian, membuat kita terus berfikir bahwa memang banyak yang salah dengan dunia, khusus nya Indonesia. Diasah menjadi personal yang kritis dengan cara ini disatu sisi jadi bahan saya untuk bersyukur, karna saya rasa kritis lambat laun mengajarkan kita untuk berubah menjadi lebih baik, meskipun disatu sisi juga membuat apresiasi kita juga semakin berkurang dengan semakin beragamnya asupan informasi dan referensi visual yang kita dapat. Kita merasa kita tau lebih banyak, melihat lebih banyak dan jauh lebih hebat.
Tidak selamanya salah dan sekali lagi hal tersebut membentuk harmonisasi sendiri dalam pola kehidupan bermasyarakat kita. Berita yang muncul diberbagai media masa sering kali membuat kita mencibir tentang kesalahan-kesalahan orang lain, sehingga kita sendiri lupa bahwa kita merupakan satu kesatuan dalam menjalankan hakikat kehidupan ini. Sadar tidak sadar kita terus belajar menginovasi, memodifikasi atau menduplikasi entah itu salah atau benar, atau dengan cara yang salah atau benar.
Dengan regenerasi yang semakin instan, fenomena datang silih berganti, revolusi informasi tumpang tindih, lingkaran-lingkaran sosial terbentuk sangat banyak dan semakin terlihat bahwa rasa skeptis itu begitu pendek dan tidak membawa perubahan yang justru sangat kita butuhkan. Informasi yang datang sering kali dimanfaatkan bagi yang tau betul memanfaatkan momentum sebagai contekan untuk tidak diulangi dan menghindar dari jeratan-jeratan normatif atau bahkan hukum. Kita berbicara berbagai lapis strata masyarakat kita yang dibentuk hingga saat ini hanya untuk memecahkan masalah dengan solusi “untuk besok” saja bukan untuk sesuatu yang sustainable.
Saya terus terpaku dan masih saja mencari jawaban mengapa pemerintah masih berpikiran untuk menjual negaranya kepada investor-investor asing yang notabene mengulang siklus penjajahan dengan cara yang baru, mengejar keuntungan yang berlipat ganda dari proyek-proyek yang sejatinya dapat menaikkan harkat dan martabat bangsa-nya, daerahnya dan tentu saja dirinya tanpa membuat popularitas pribadi yang palsu dan dilanjutkan dengan menghabiskan jerih payah kebohongan mereka itu dengan membelanjakannya untuk hal-hal sepele dan murahan.
Masih terus saja heran dan mencaci maki, mengapa kita terus-menerus salah pilih orang untuk urusan kenegaraan. Orang-orang yang pintar mencari muka, membeli suara dan menaikkan pamor mereka dan membayar hutang angkat nama tersebut dengan menyepelekan kepentingan yang bukan hanya rakyat, tapi dirinya juga pribadi. Dan sangat jelas urutannya yang paling salah.
Selalu tidak habis pikir, kenapa kita masih saja bangga untuk jalan-jalan keluar negri, membeli brand kacangan yang padahal kebanyakan juga kita ekspor atas nama “keuntungan lebih besar”. Menikmati cuaca yang sejatinya hanya di image-kan menyenangkan oleh media-media internasional. Menceritakan keindahan alam yang merupakan sisa-sisa jerih payah mereka untuk dikonservasi. Merasakan masakan-masakan yang susah payah mereka temukan ragamnya atau membanggakan visual-visual yang dibangun hanya untuk kebutuhan kapitalisme dari jaman-kejaman. Sementara itu, mereka tidak habisnya melihat peluang dari kebodohan kita tersebut dengan memaksa kita menghabiskan penghasilan yang belum tentu halal tersebut dilumbung-lumbung denyut nadi negara mereka yang terus menerus kritis untuk mencari cara untuk survive dan tampil terdepan dimata kita, lalu saat pulang kita terus menerus diajarkan cara yang baik dan benar mengelola demokrasi dan membenarkan kultur mereka untuk mengekploitasi sebesar-besarnya dan meninggalkan penyesalan bagi kita dibelakang.
Coba bayangkan, apa yang tidak dapat kita bangun di tanah suci kita ini? apa yang tidak dapat kita peroleh dari kondisi alam yang menggugah ini? Mengapa kita tidak mulai merancangnya? untuk kita bersama, untuk anak cucu kita, untuk sejarah yang akan diceritakan puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun mendatang. Bukankah sudah saatnya kita diperhitungkan dan memimpin?!
Coba bayangkan, Singapura dengan luas hanya 710.2 km2 dengan Batam yang luasnya 1.5 kali wilayah Singapura memiliki pendapatan perkapita $57,238 yaitu 10 kali lipatnya Batam yang memiliki pendapatan perkapita $5.600. Dengan jarak hanya 12.5 mil atau 30 menit bahkan kurang antara Batam dan Singapura tidakkah kita dapat melihat sesuatu yang salah dengan kondisi yang ini? kita harus sepakat dengan jawaban “iya”. Dan ya banyak sekali persoalan disini tentunya. Tapi mari coba kita ambil kesimpulan pendek terlebih dahulu bahwa Batam memiliki potensi yang tidak jauh berbeda dengan Singapura jika dapat dikelola dengan baik mulai dari pemerintahnya.
Mari kita kesampingkan dahulu masalah kompleks yang terjadi dalam berbagai lapis jenis hubungan antara negara kita dengan Singapura dan kembali kita bayangkan bagaimana jika pemerintah otorita Batam membuka kesempatan hanya bagi investor dalam negri (Indonesia) untuk membuka terminal laut yang sama seperti Singapura? baiklah saya rasa akan banyak kontroversi disana. Bagaimana jika pemerintah Batam membuat skenario ekonomi yang sama dengan Singapura? tentu saja lagi-lagi sangat banyak kontroversi disana. Bagaimana jika dalam beberapa hari orang-orang Indonesia memutuskan hubungan dengan Singapura?? saya pastikan roda perekonomian Singapura mengalami gonjang-ganjing yang cukup parah.
Ada banyak hal yang harus dipersiapkan, tidak sedikit dana yang dikeluarkan untuk hal ini dan jelas kita butuh waktu untuk itu karna tentu saja dalam hukum kompetisi yang sehat mengalahkan sebuah negara butuh effort yang berlapis-lapis. Tapi…kita pasti menang, “PASTI” (dan Singapura sangat takut hal ini terjadi, dan menghalalkan berbagai cara agar “bahkan” kemungkinan ini tidak tercipta). Kita masih berbicara dalam koridor “kompetisi yang sehat”. Maka mulai banyaklah rakyat dan pemerintah Singapura menanam saham mereka di Indonesia khususnya Batam serta kota-kota satelitnya dan kita biarkan (atas nama kapital yang umurnya sangat pendek tersebut) tapi anehnya orang-orang kaya kita malah membeli apartemen dan tempat tinggal diSingapura yang harganya berkali-kali lipat dibandingkan membeli tanah kosong di Batam dan semerta-merta mereka bangga. Baiklah, kita tidak usah berbasa basi untuk ini, aneh maksud saya tadi jelas sekali refleksi dan pen sama dengan-an “bodoh”, dengan alasan apapun yang datang dari orang-orang itu (saya pikir termasuk urusan diplomatik).
bersambung..
more step that i take ahe…
more step that i take ahead, more i miss you.
airin
i’am really2 sorry, i ju…
i’am really2 sorry, i just can’t say no
bukankah embun membuat ki…
bukankah embun membuat kita cemburu
erat melekat didekat pekat
nya malambukankah kabut cukup terang membuka logika
kita
bendung gunung sayang bertapa untuk kita
dan kita tak pernah butuh bintang untuk tersenyum
lagilihat betapa menyenangkannya rasa takut
tergelincir dibatu licin melempar kita kemasa lalu
bagaimana kita bertemu
memadu tanpa haru seganbukankah nanti aku akan kembali meledak
ada tiadanya kau disini
ada tiadanya sejatikita akan bertengkar lagi soal semut
ya dan kau akan menangis lagi soal batu yang gosong
dan aku cukup lelah berargumen
dengan dewiambil aku sekali lagi, gelap
dan kita akan bersembunyi lagi untuk terjaga sepanjang kegembiraan
dan menghitung langkah diseberang pintu
untuk berlari sebelum mentari menangkapku
bukantahunpun akan hilang dikepala ini
tapi tak sedetikpun turun tanpa kisah kitawahai sang waktu
itu
rejected a million times …
rejected a million times and here it comes an opportunity after we surrender?
sometimes we know that we…
sometimes we know that we hide so many think when we talk and scream aloud in silent, sometimes we know that we’ve got to hide a lot of pain upon smiles, many times we got to get along with that..and nobody needs to know.
Menjadi pendengar dan pembicara
Lewat beberapa waktu sudah hingga kini bukan hanya urusan bisnis desain saja yang menyibukkan saya. Urusan keluarga dan silaturrahmi dengan teman ditambah dengan kesibukan baru yang semakin menyita tenaga dan pikiran.
Tidak salah lagi sejak dulu saya bergabung dengan kelompok yang sangat skeptis terhadap perpolitikan. Dunia tersebut saya anggap sangat menjemukan dan penuh dengan trik-trik licik saling menjatuhkan, menggunakan segala cara untuk menjadi pemenang dan berorientasi pengembalian modal dikalangan tikus-tikus belang brengsek. Politik yang terbayangkan oleh saya dan orang banyak merupakan panggung sandiwara pemerintahan untuk menggelincirkan anggaran-anggaran yang harusnya dapat lebih berguna. Persaingan didalamnya sering kali meruntuhkan moral dan menggiling logika. Namun, kali ini saya sadar bahwa setiap orang berpolitik untuk menggapai level tertentu dalam komunitas dan stratanya, meskipun dalam ruang lingkup strata berpikir.
Dahulu kala di bangku sekolah dasar, saya beberapa kali menjabat sebagai ketua kelas. Sistem penentuannya pun hanya melalui kewenangan wali kelas, meskipun pura-puranya ada suara seluruh kelas untuk menentukan siapa yang paling berpotensi dijadikan pemimpin disana, walikelas dengan kewenangan bak MPR lah yang menunjuk salah seorang dari kami menjadi wakil dan mata-mata nya dikelas tersebut. Akhirnya sorak sorai bocah SD terakumulasi dalam satu ruangan menyambut pemimpin barunya. tidak seperti pemimpin yang mengejar potensi keuntungan di usianya yang harusnya sudah mulai bertaubat dan fokus soal akhirat, sang ketua kelas SD tersipu2 malu berdiri didepan kelas menerima jabatan tersebut. Bertenggerlah akhirnya tugas-tugas yang sebenarnya merupakan tanggung jawab yang mulai diajarkan perlahan dijiwa kanak kanak kami tersebut. mulai dari menyusun struktur keorganisasian kelas hingga masalah sepele, mengambil kapur dari ruang guru atau TU.
Kejadian yang sudah lama berlalu tersebut mungkin jauh dari contoh padan politik yang sekarang makin kompleks ini, tapi bukankah rasa percaya diri, tanggung jawab serta ke visi -an tersebut dimulai dari sana?
Sekarang mungkin panggung yang kami desain ini bukanlah panggung untuk keseluruhan negara, lingkupnya pun hanya satu almamater. Kami tak lebih dari dalang publikasi untuk salah satu calon, tapi bukankah kemampuan besar melahirnkan tanggung jawab yang lebih besar pula?
Panasnya suasana perang urat saraf mungkin tidak sebesar orang2 yang melihat potensi mengejar sesuatu yang lebih besar mungkin, tapi tentunya professionalitasan dan kuantitas quality time pun akhirnya mempengaruhi animo untuk mendukung. mau tak mau kami harus fokus dan pol-polan untuk mendongkrak kans calon ini. tapi sekali lagi, bukankan ini masih waktu nya kami belajar? dan ada banyak sekali yang harus kami pelajari.
Dari sekian banyak hal yang sudah terjadi di wahana ini, ada hal yang sangat menjadi beban pikiran saya, adakah mereka mencoba menjadi pendengar atas masalah2 yang kita hadapi saat ini, atau hanya memilih solusi yang tepat dengan segala kesubjektifitasannya mereka? dan bukan hanya berbicara soal solusi, tapi juga opsi-opsi yang realistis.
Teh, sejarah khasiat yang tak pernah lekang dimakan jaman
Sebenarnya saya bukan termasuk pengamat teh, saya pun masih meminum teh yang instan dan lebih banyak minum teh yang dijual dipasaran. Namun bukan pula hanya karna saya harus presentasi pada industri teh pula saya menulis artikel ini, tapi lebih karna teh menimbulkan tanda tanya dikepala saya, kenapa tanaman yang satu ini begitu langgeng dalam putaran waktu, mari kita cari tahu lebih banyak.
Teh merupakan minuman yang tidak asing lagi di Indonesia, teh bahkan sudah jadi bagian budaya Indonesia, meskipun sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia, bahkan di Jawa Barat jika anda memesan air putih atau cai bodas dalam bahasa sunda serta merta yang muncul adalah teh tawar. Indonesia masih menjadi negara Industri teh no 5, walaupun kenyataanya Indonesia masih bukan negara penikmat teh terbesar didunia. Teh melati merupakan racikan teh yang paling dikenal di Indonesia. Teh merupakan minuman yang diseduh dengan air panas dan ternyata juga mengandung kafein seperti kopi, sehingga punya takaran maksimal boleh diminum berapa kali dalam sehari. Air teh dapat berasal dari rebusan daun, pucuk daun bahkan batang tumbuhan yang dalam bahasa latinnya Camellia dengan varietas Sinensis, assamica, Irrawadiensis yang prosesnya disebut infusi. Teh juga menjadi istilah dari minuman yang diseduh dari buah, rempah-rempah dan tanaman obat lainnya dan disebut teh herbal.
Melalui cara pengolahannya, teh memiliki grade-grade tersendiri dimata penikmat teh yang sebenarnya. Pada umumnya teh dibuat dengan mengeringkan daun teh yang telah dipetik sebelum layu dan mengalami oksidasi, daun teh yang mengalami terlalu banyak oksidasi menjadi semakin tidak baik, namun meskipun demikian, teh basi yang telah mengalami oksidasi misal karna telah ditinggal semaleman, justru baik untuk rambut karna yang di cari justru kafeinnya, meskipun jika terlalu lama basi bisa menyebabkan fermentasi dan ditumbuhi jamur sehingga bersifat karsinogenik. Proses oksidasi dihentikan pada tingkat tertentu dengan menguapkannya pada dengan uap air sehingga kadar air dalam daun ikut terbawa uap.
Karna dalam pengolahannya menyebabkan proses oksidasi yang berbeda pula, teh dibagi dalam jenis-jenis teh sebagai berikut ;
- Teh putih. Teh putih merupakan teh yang dibuat dari daun teh muda dan bunga teh yang tidak mengalami proses oksidasi sama sekali. Karna teh putih dibuat dari pucuk daun teh muda, teh ini mengandung jumlah kafein yang sedikit dibandingkan dengan teh yang dihasilkan dari daun teh yang lebih tua seperti teh hijau. Teh putih termasuk teh dengan grade tinggi karna tidak banyak diproduksi dan diolah diseluruh dunia, namun karna pertarungan Industri teh yang cukup ketat dan mesti menonjolkan keunggulan masing-masing, teh putih mulai diproduksi dalam kantung-kantung teh seduh.
- Teh hijau. Teh yang mulai populer di Indonesia berkat restoran Jepang yang makin menjamur di Indonesia ini, merupakan jenis teh yang diproses dengan menghambat oksidasinya karna secepat mungkin diproses setelah di petik. Teh hijau diolah dengan unik dengan di oseng oleh orang china, namun dijepang diproses dengan uap panas. Teh hijau yang paling terkenal di Indonesia adalah Ocha, meskipun sebenarnya ocha sendiri merupakan bahasa untuk teh di Jepang, sedangkan untuk teh hijau sendiri disebut dengan Ryokucha. Untuk teh hijau ini sendiri dibagi lagi dalam beberapa kelas berdasarkan kualitas dan asal teh dari bagian mana pada tanamannya ; Gyokuro (teh yang dibuat dari daun teh Tencha yang merupakan daun teh kelas atas ini dibuat dengan menghalangi sinar matahari dari teh yang menyebabkan aroma teh begitu kuat dan warna hijau nya menjadi lebih pekat pada saat diseduh), Matcha (teh bubuk yang biasa digunakan dalam upacara minum teh di Jepang ini dibuat dari daun teh berkualitas tinggi. Matcha juga digunakan untuk perasa dalam ice cream rasa teh hijau, Wagashi (kue tradisional Jepang) permen hingga coklat) Sencha (teh yang biasa diminum sehari-hari dan dibuat dalam skala industri dengan proses dan bahan yang tidak begitu menarik untuk dibahas) Kebusecha (teh ini dibuat dengan cara melindungi daun dari matahari sebelum dipanen untuk waktu yang cukup lama sehingga aroma nya lebih lembut dari Sencha) Bancha (teh jenis ini dibuat dari daun teh hasil panen kedua antara musim panas dan musim gugur, ukuran daun teh yang digunakan juga lebih besar dan umumnya tidak lebih harum dari Sencha) Genmaicha (teh ini merupakan teh berbentuk butiran yang dibuat dengan mengoseng beras dengan teh Bencha sehingga memiliki aroma beras gosong) Hojicha (adalah teh yang dibuat dengan cara dioseng diatas tungku panas) Kukicha (orang jepang menyebutnya adalah teh asal-asalan karna berasal dari campuran daun teh dan batang teh)
- Teh hitam. Sebenarnya ada perbedaan pandangan atas pemberian nama teh hitam, didunia bagian barat teh hitam merupakan teh tanpa campuran apapun seperti krim atau bahkan gula, dan disebut teh hitam karna daun teh kering hasil pengolahan berwarna hitam. Berbeda dengan belahan dunia bagian timur yang menyebut teh hitam dengan sebutan teh merah sedangkan bagi orang barat teh merah adalah teh yang bukan berasal dari daun teh dan disebut Tisane Roiboos teh yang berasal dari Afrika Selatan. Orang timur menyebutnya teh merah karna warna teh tersebut setelah diseduh. Bagaimanapun namanya di berbagai belahan dunia, teh ini merupakan teh yang paling umum yan anda temui di pasaran, teh ini diolah dengan memaksimalkan oksidasi dari 2 minggu hingga 1 bulan yang kemudian diolah dengan cara CTC (Crush, Tear, Curl yang dikenal sejak tahun 1932) atau dengan cara tradisional. Teh ini terkenal sering dicampur dengan krim atau susu sebelum diminum di daerah-daerah tertentu seperti Bangladesh, Sri Langka atau India. Teh jenis ini dibagi berdasarkan asal perkebunan, tahun produksi, dan periode pemetikan. Untuk jenis teh yang diolah secara tradisional sendiri masih di bagi-bagi lagi berdasarkan kualitas daun teh paska produksi sesuai dengan standar Orange Pekoe. klasifikasi teh untuk Pekoe sendiri adalah 2 pucuk daun teh paling ujung dan bunganya yang diambil dari tumbuhan teh yang baru tumbuh. Bagi orang Tionghoa teh Pekoe merupakan tunas teh yang tidak tergulung dan tidak tertutup bagian putih yang disebut Bai-ho atau Pak-Ho teh jenis ini dibawa ke eropa oleh Dutch East India Company termasuk keBelanda dan dihidangkan di Kerajaan atau “House of Orange” kesan kerajaan dipakai untuk minuman berkualitas maka ditambahkan “Orange” pada kata-katanya sehingga menjadi “Orange Pekoe”.
- Teh Oolong. teh jenis ini merupakan teh yang umum menemani makan dimsum bagi orang-orang Tionghoa, teh ini mengandung katekin yang cukup tinggi sehingga rasanya sedikit lebih pahit dari teh biasa, namun meninggalkan rasa sedikit manis setelah diminum. Teh ini diproses dengan proses oksidasi diantara teh hitam dan teh hijau yang memakan waktu maksimal seminggu.
- Teh Pou Lei atau Teh Pu Erh. Teh ini dibuat dengan cara pengomposan sehingga mengalami proses oksidasi mikrobiologi tahap kedua dengan dipress sehingga memiliki bentuk tertentu, kadang hingga 50 tahun, semakin lama pengomposan berlangsung, semakin tinggi grade teh Pu Erh. Teh ini dibagi menjadi dua jenis, matang dan mentah. Teh Pu Erh mentah merupakan teh dengan pengomposan alami sedangkan teh matang merupakan teh yang dituakan dengan alat sehingga menyerupai rasa teh Pu Erh mentah. Teh jenis ini sering digunakan untuk diet bagi kaum wanita, meskipun tidak kalah diminati oleh kaum pria.
- Teh Kuning. Teh ini merupakan teh yang disajikan dilingkungan kerajaan yang dibuat dari daun teh berkualitas tinggi dan tanaman muda dengan proses pengeringan yang diperlambat, sehingga aroma, rasa dan khasiatnya maksimal.
- Teh Bunga. Seperti namanya, teh bunga merupakan teh hijau atau teh Oolong yang dicampur dengan bunga, di Indonesia teh melati merupakan varian teh bunga yang paling diminati, namun selain melati, bunga mawar, leci, seroja dan seruni juga dapat digunakan.
Bagi yang mentaati aturan fengshui teh merupakan minuman penyeimbang yin dan yang, teh hijau meningkatkan yin sedangkan teh hitam meupgrade yang. Teh tertentu seperti Pu Erh dicampur bunga seruni agar keseimbangan yin dan yang terjaga.
Teh mengandung antioksidan yang disebut katekin. Jenis teh yang berbeda memiliki tingkat katekin yang berbeda pula sesuai dengan proses pengolahan dan oksidasi yang terjadi pada teh. Semakin segar daun teh nya, semakin tinggi pula tingkat katekinnya. Indonesia merupakan salah satu produsen teh dengan grade teh berkatekin yang tinggi, namun tingkat katekin yang tinggi menyebabkan rasa teh semakin pahit, hal ini pula lah yang menyebabkan teh produksi Indonesia masih kalah dari negara lain. oleh Industri produsen teh, teh Indonesia yang dipakai dan diramu menjadi teh siap minum, dicampur dengan gula atau yang lain, padahal pencampuran gula dan sejenisnya akan mengurangi khasiat teh itu sendiri.
Selain katekin dan Flavanol, teh juga mengandung berbagai zat alami yang sebagian besar baik untuk tubuh manusia seperti;
- Myrecetin, Quercetin, Kaempfrol yang berfungsi mengurangi kadar hormon stress dan mencegah kerusakan pembuluh darah.
- Polyphenol yang beruba Flavonoid dan Catechin bersifat anticarsynogenic, Cariostatic dan Hypocolesterolemic yang merupakan antioksidan kuat yang mampu mencegah pertumbuhan sel kangker dan mencegah kontraksi pembuluh darah yang berpotensi menaikkan tekanan darah. Antioksidan alami yang terdapat pada teh juga memerangi radikal bebas yang berpotensi mengurangi daya ingat. Orang dewasa yang meminum teh hijau hingga dua kali sehari sering tidak memiliki masalah kognitif yang dipengaruhi faktor usia.
- Vitamin E yang berjumlah hingga 200 IU merupakan kebutuhan tubuh dalam sehari dan kandungan vitamin E pada teh juga menjadi antiseptik alami yang baik untuk kulit.
- Teh juga mempercepat pembakaran kalori dalam tubuh, bahkan saat anda istirahat. Meminum teh sebelum dan sesudah olah raga memaksimalkan pembakaran lemak dan kalori didalam tubuh.
- Vitamin C yang menjaga imunitas tubuh.
- Vitamin A yang berbentuk Betacarotin yang cukup untuk tubuh dalam sehari.
- Kafein, kafein pada teh meyebabkan proses penyerapan nutrisi makanan jadi terhambat, namun hal tersebut terjadi jika anda mengkonsumsi teh hingga lima kali dalam sehari dengan total kafein hingga 750mg.
Banyak versi tentang asal teh, salah satunya adalah dari China yang ditemukan oleh Shen Nung, kaisar China dari tahun 2737 sebelum masehi. Konon daun teh jatuh kedalam air yang dijerang kaisar dikebunnya, air tersebut menjadi beraroma wangi meski diminum rasa nya sedikit sepat dan pahit. Kaisar ini melakukan penelitian terhadap teh dan menemukan beragam khasiatnya. Berdasarkan dongeng Jepang, teh pertama tumbuh dari kelopak mata Daruma yang dirobek agar beliau dapat bertapa dengan khusuk. Teh juga berperan penting dalam sejarah dunia, eksport teh dari Asia di jalur sutra pada masa tersebut menyebabkan perlombaan monopoli hingga perang seperti di Boston.
Dari sekian banyak penjelasan soal teh yang saya paparkan tentu saja masih banyak detail yang tertinggal, namun coba saya batasi hingga disini dulu, mungkin lain kali akan saya cari lagi lebih banyak tentang tanaman yang satu ini. Pengetahuan tentang teh ini bukan hanya menambah wawasan saya, tapi juga menambah penghargaan saya tentang vegetasi dunia.
Ref : dari berbagai sumber.
Mendesign System
Tak kenal, maka tak respect. Mungkin itu lah bahasa yang tepat untuk saya gunakan setelah melakukan beberapa kali silaturrahmi kebeberapa orang yang saya anggap senior dan telah malang melintang didunia perdesainan Indonesia.
Kegiatan bersilaturrahmi ini memberi saya sumber informasi, ide-ide serta pengalaman baru yang mungkin sebelumnya hanya terlintas dan tak didalami selanjutnya. Dari sini saya menyadari bahwa benar adanya, semua orang adalah buku yang memiliki kontennya sendiri, dan selayaknya buku, kita bisa rasakan kualitasnya setelah kita membaca buku tersebut.
Lama setelah saya lulus dari perkuliahan tidak lagi melakukan pembicaraan yang seru dan bertukar pikiran soal desain dengan dosen, meskipun usaha yang saya jalani merupakan usaha yang bergerak dibidang desain. Saya merasa semua sari pati ilmu tersebut harus terus diasah dan dibagikan kepada orang lain.
Ini merupakan kesekian kalinya kita melakukan silaturrahmi ke akademisi desain produk, meskipun sempat vakum untuk beberapa waktu lamanya, karna berbagai kesibukan pemuda-pemuda tanggung ini dalam mengejar cita-cita nya. Tepat beberapa hari yang lalu kita menyinggahi rumah dosen kita di daerah Sangkuriang Bandung. Sayangnya kami datang tidak seramai biasanya, hanya saya dan teman saya Mufti dari Greeneration Indonesia.
Beliau adalah Bpk. Dr. Dudy Wiyancoko. Dimasa saya kuliah terdahulu merupakan dosen sejarah desain dan studio tingkat 3. Jarang sekali ada diskusi ataupun obrolan tanpa intimidasi yang kami rasakan dari beliau dimasa kuliah dulu, sehingga kami selalu berpikiran skeptis tentang pandangan dan pola terapan yang beliau aplikasikan dalam kehidupan kampus serta impactnya. Tapi pandangan kami tersebut berubah sedemikian rupa setelah melakukan diskusi langsung dengan beliau.
Dengan nothing to lose dan posisi yang tidak terancam, kami merasa ada banyak hal positif yang muncul dari beliau. Kami menyadari, dengan ilmu dan pengalaman yang beliau miliki serta posisi yang cukup strategis dalam dunia desain produk beliau cukup pantas untuk merasa kecewa dengan kondisi saat ini, sehingga memberikan treatment yang sedemikian menjadi momok bagi kami terlebih dahulu.
Kami mulai sharing isi kepala kami tentang apa yang kami usahakan saat ini dalam dunia desain produk. Kami terangkan tentang usaha kami menginisiasi sebuah forum yang berusaha merangkul semua komponen desain produk lalu beliau membalas dengan tanggapan-tanggapan positif yang sebenarnya juga diluar sangkaan kami. Beliau barusaha membimbing kami untuk terus konsisten serta menghasilkan esensi serta output yang tidak tanggung-tanggung. Dari penjelasan beliau kami semakin mendapati posisi desainer desain produk yang kehilangan wadah dan gap-gap yang ada didalamnya. Mulai dari akademisi dengan praktisi, gap antar wilayah, hingga gap antara kampus.Kami sepakat hal tersebut sulit untuk dihilangkan, meskipun dapat dilakukan, dan kami sadar hal tersebut tidak membawa dampak positif jika terus terjadi.
Desain produk bukan sebuah profesi yang se setle keprofesian lainnya, desainer produk meskipun telah hadir di Indonesia hampir 40 tahun, masih terus berjuang untuk mendapatkan apresiasi serta pengenalan di masyarakat Indonesia. Keberadaan paguyuban atau asosiasi mestinya akan memberi perbantuan dalam hal mencapai itu semua, namun tidak demikian hal nya yang terjadi hingga saat ini. HDPI yang menjadi wadah tersebut tidak dapat mengakomodir keinginan-keinginan anggotanya, bahkan massa anggotanya pun jarang sekali terdengar dinegri ini, sehingga para designer produk kembali berjuang sendiri-sendiri menjelaskan jati dirinya, atau bahkan terhempas kenyataan harus menyentuh ranah desain lain untuk terus hidup. miris.
keberadaan desain produk di Indonesia selama itu, bukan berarti tidak memberikan impact apa-apa dalam hal branding keprofesian, desain produk mulai dikenali sesuai identitasnya di Industri2, mulai dirasakan manfaatnya dalam bisnis di Indonesia. muncul nya nama-nama besar seperti Bpk Singgih Kartono dan Josh memberikan secercah titik terang untuk desainer produk muncul di media dan lingkungannya. Meskipun demikian desainer produk tetap harus punya wadah untuk sharing dan berkeluh kesah, penting artinya bagi desainer produk dilindungi hak keyaan intelektualnya, hak-haknya dalam Industri hingga rate minimal yang semestinya. dan hal rasa setuju tercermin dari anggukan tanda sepakat dari kita semua dimeja saat itu.
Disamping itu, beliau juga menjelaskan posisi desainer produk dimasa saat ini harus mulai dan akan dipandang jika audience diberikan pengertian bahwa mendesain produk itu bukan hanya sekedar menggambar dan mencari bentuk yang sesuai dengan peruntukkannya, namun juga mendesain system yang melingkupi produk tersebut. Kita bukan hanya harus memperhatikan aspek-aspek ergonomis ataupun semantika sebuah produk, kita juga harus mengerti hulu dan hilirnya sebuah produk, dan hal tersebut juga harus didesain dan dideskripsikan dengan baik oleh desainer produk baik dalam presentasinya maupun dalam produknya itu sendiri. Beliau mengambil contoh, Magno, desain dari Bpk Singgih Kartono, secara sadar pak Singgih memulai sesuatu dengan harapan perubahan, sehingga mengambil material kayu yang biasanya digunakan untuk kayu bakar untuk dijadikan radio yang memiliki nilai estetis yang tinggi dan nilai ekonomis yang luar biasa, sehingga menghasilkan revenue yang baik, kemudian dengan revenue tersebut beliau menam pohon ribuan kali lipat dibandingkan dengan yang beliau gunakan, sehingga memberikan dampak positif bagi lingkungannya. Nah, inilah yang dimaksud dengan mendesain system, desainer produk bukan hanya mencari bentukm tapi juga mendesain overall proses dari produk tersebut.
Masih banyak sari dari perbincangan kami tersebut yang tidak sempat saya sampaikan disini, dan mungkin rasanya sedikit menggantung, saya harap bisa kita lanjutkan dikemudian hari. Semangat terus desainer produk Indonesia, sudah saatnya karya kita bisa lebih luas dan dirasakan manfaatnya oleh negri ini, mari terus berjuang.
Tradisi transisi
Tari saman dari aceh yang ditampilkan pada acara jurusan arsitek di unpar adalah salah satu dari banyak acara yang saya datangi belakangan. Penampilan ini cukup menyenangkan untuk saya perhatikan, dibandingkan band-band yang sejauh ini semakin saya menampilkan musik-musik yang semakin monoton, meskipun pada dasarnya saya masih menyukai dentuman drum yang keras melalui band-band metal, hardcore dan musik2 ear crusher lainnya.
Saya teringat telah jadi kebiasaan untuk saya menikmati nuansa tradisional indonesia belakanga.Mulai dari menyaksikan acara budaya yang diadakan oleh unit kebudayaan yang saya pioneer-i dahulu, yaitu UKMR ITB, yang menampilkan pentas budaya melayu, pementasan wayang dari unit kebudayaan jawa tengah itb hingga angklung dari sma 3 bandun, dan saya sangat menyukainya. tradisi-tradisi yang di tampilkan ini memberi saya semangat dan inspirasi untuk tetap berkarya tak mau kalah dari yang lebih muda dari saya, berkarya untuk Indonesia.
Tampaknya ini bukan akan jadi yang terakhir kalinya saya datang ke acara2 seperti ini, dan saya ingin sekali acara2 ini menjadi populer disini, ditanah kelahirannya sendiri hingga keluar nanti.
semoga Indonesia bisa bangkit, dan berjaya selama-lamanya.
Karimun Jawa
Setelah lebih dari satu tahun setengah tidak menemukan arti liburan plus essensi-nya, akhirnya saya bisa memperoleh perhatian dari alam, untuk sebentar bercengkrama kembali bersamanya. Berbeda dengan kebiasaan saya menantang puncak yang notabene saya sekarang berada di salah satu lerengnya untuk dijadikan tempat tinggal, kali ini saya memilih mematangkan warna kulit di Sagara Jawa, mereka menyebutnya Karimun Jawa.
Alkisah Dahulu kala dimasa Sunan Muria, beliau mengambil keputusan untuk berangkat bersama istri dan kerabatnya untuk perjalan panjang menuju Mekah demi menunaikan Rukun Islam yang kelima, naik haji. Menyadari bahwa perjalanan akan memakan waktu yang sangat panjang hingga berbulan-bulan di luar kebiasaannya menggunakan kemampuan menembus lipatan waktu menuju Mekah, beliau menitipkan pesantrennya di Kudus pada anaknya tercinta Sunan Nyemplong. Namun Sunan Nyemplong tidak begitu tertarik dalam hal ajar-mengajar, sehingga akhirnya sepeninggal Sunan Muria atau Sunan Kudus, Orang tua beliau tersebut, Sunan Nyemplong membubarkan pesantren tersebut. Sepulangnya Sunan Kudus ke kota tempat tinggalnya tersebut, beliau heran mengapa pesantrennya tersebut kosong tidak bermurid apalagi berkegiatan. Melihat bahwa amanahnya tidak dipegang dengan baik oleh sang anak, Sunan Kudus murka dan mengusir Sunan Nyemplong dari Kudus. Menerima titah ayahandanya, akhirnya Sunan Nyemplong berkelana menuju pantai utara pulau Jawa, namun sang Ibunda yang khawatir akan keselamatan anaknya menyuruh 4 orang punggawa untuk mendampingi Sunan Nyemplong Berkelana. Sesampainya Mereka di Pinggiran pantai utara Jawa tersebut, Sunan Nyemplong melihat dari sana keberadaan sebuah pulau besar ditengah lautan, beliau memutuskan untuk pergi kesana. Seorang punggawa diutus kembali ke Kudus untuk memberitahukan sang Bunda tentang keputusannya menuju pulau tersebut. Sunan Nyemplong bergegas menuju pulau tersebut dengan menggunakan rakit yang dibuatnya dari batang-batang kayu ulin, kayu yang sangat kuat di lautan. Setibanya Sunan Nyemplong di daratan pulau tersebut beliau berjalan disana lalu memutuskan untuk tidak lagi kembali kepulau Jawa sambil menancapkan tongkatnya di tanah tersebut dengan bersumpah, maka tongkat kayu tersebut tumbuhlah menjadi pohon yang hingga kini dikenal dengan Dewandaru. Keputusan Sunan Nyemplong tersebut membuat ibundanya prihatin, sehingga beliau menyusul kepantai Jepara, dari jauh beliau mencoba mencari keberadaan pulau tersebut seperti yang di tunjukan punggawanya, beliau berkata pulau tersebut “kremun-kremun” yang artinya dalam bahasa Jawa adalah “samar-samar” maka dari sanalah nama Pulau tersebut diberi nama “Kremun Jawi” atau “Karimun Jawa” di kemudian hari. Sang bunda yang gelisah tersebut teringat akan kesenangan anaknya akan masakan nasi dan lele, kemudian sang Bunda membuatkan nya untuk sang anak, nasi tersebut di bulat-bulatkan untuk akhirnya di lemparkan hingga ke Karimun Jawa, ternyata nasi tersebut hanya sampai di bibir pantai Karimun Jawa dengan bentuk yang sudah berceceran, maka pantai karimun jawa di bagian selatan ada yang berbentuk batu-batuan miring membentuk karang. Tentunya nasi tersebut di sangka sudah tiba di pulau Karimun, lalu beliau kembali melemparkan lele sebagai lauknya, namun dengan kondisi yang masih hidup, lele tersebut di lemparkan beberapa ekor hingga menghantam pantai sehingga kumisnya (patil) berantakan, menurut cerita warga Karimun, akhirnya di pulau Terdapat ikan-ikan lele tanpa kumis dan duri. Begitulah kira-kira urban legend yang saya dapat dari seorang kakek berperwakan besar berumur lebih dari 70-an dengan tangan besar-besar menjelang pulang ke Jepara. Belaiu menceritrakannya dengan semangat sembari menwarkan biskuit bersama kenalan saya dari swiss yang juga berwisata kesana.
berangkat di penghujung subuh, kami menaiki bus menuju Kudus pukul 5 pagi dari daerah Padjajaran Bandung, di hantar teman baik. Kami berangkat menuju Kudus, karna pukul sedemikian karna telat memesan tiket sebelumnya untuk berangkat lebih sore dan kehabisan. Bus melaju mengukur jalanan melewati Sumedang setelah beberpa kali berhenti untuk mengambil penumpang-penumpang menuju Cirebon, kami berhenti sebentar di antara Brebes dan Pekalongan untuk makan, makanan Padang, namun cukup nikmat. Kembali melanjutkan perjalanan, sang kekasih tertidur di pundak dengan lelapnya.
Tepat sebelum matahari mati di ufuk barat, kami menginjakkan kaki di tanah Kudus, saya yang pernah kekota tersebut dua tahun yang lalu menyarankan untuk ke arah masjid Sunan Kudus untuk menikmati Sate Kerbau yang cukup tersohor disana. Menaiki becak kita tiba tidak jauh dari menara masjid Sunan Kudus, terlihat sedang ada festival Dungdungan menyambut Ramadhan dan sangat ramai dengan pengunjung, kami berjalan menyusuri toko-toko dadakan tersebut sebelumnya singgah mengisi lambung dengan sate dan soto kerbau khas Kudus yang sangat nikmat dan hangat. Menjelang malam kami disibukkan berfikir mencari tempat menginap semalam, namun akhirnya tertambat di warnet yang memakai satu CPU untuk banyak komputer yang ternyata milik seorang bekas pastor mualaf dari salatiga, kami bercerita panjang menghabiskan malam sementara sang kekasih tertidur di bilik komputer didepan monitornya, kami bercerita mulai dari Indahnya alam-alam Indonesia, agama hingga perjalanan hidup beliau, sedang saya yang penuh rasa skeptis masih menyembunyikan identitas.
Hampir pagi pukul 4 waktu itu senen, kami akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut menuju Jepara menumpangi bus Mini selama hampir satu jam, dan untungnya di bangunin knek bus tersebut setibanya di pom bensin tak jauh dari Pelabuhan Kartini Dermaganya Jepara. Sang kekasih yang takut akan rentan lambungnya di perjalanan laut hanya mengisi perutnya sekenanya, saya sarapan mengopi dan menyundut rokok. Setelah sedikit masalah komunikasi dengan tour guide yang kami gunakan, akhirnya kami mendapatkan tiket menaiki kapal feri menuju pulau Karimun jawa, kapal tersebut bertolak dari dermaga tepat pukul sembilan dipagi hari senen tersebut. Dikapal tersebut kembali kami disapa oleh kenalan kami tadi malam di warnet tempat kami menginap yang adalah seorang tour guide karimun jawa juga bersama temannya yang belakangan kami kenal sebagai tiok.
Kelak kami menyadari bahwa dengan hanya bertiga saja menyamper ke pulau Karimun Jawa akhirnya membawa keberuntungan dengan banyak mengenal orang-orang baru disepanjang perjalanan, seperti pemilik warnet yang punya pengalaman hidup luar biasa bernama yusuf, tour guide yang kami temui di warnet yang bernama iqbal, chandra blek dan restu pasangan kekasih dari unpad, bule asal belanda yang berjanji akan mengirimkan karya-karya nya ke e-mail saya karna ternyata dia dan pasangannya juga merupakan desainer produk seperti saya, Jonathan dan godfahternya yang berasal dari swiss, iqbal dan aura pasangan kekasih jakarta bandung dan alumni ITB angkatan 84 yang menjadi warga negara Belanda dan membawa anak hasil perkawinannya dengan orang sana untuk berlibur di Pulau Karimun.
kami tiba hampir sore di dermaga pulau Karimun, pukul 3 lebih, di jemput alex, sang tour guide. Kami di hantar menuju home stay tak jauh dari lapangan yang meyediakan bakaran ikan paling lejat dan murah sedunia.
Tak lama sejak sampainya kami di daratan Karimun kami lansung di ajak oleh kenalan kami sang tour guide yang satunya iqbal dan tyox menuju pulau Menjangan Kecil menggunakan kapal nelayan yang disewa oleh erwin teman mereka tak jauh dari karimun jawa bertolak dari dermaga belakang lapangan, terburu-buru kami menaiki becak menyamperi mereka. hari pertama dengan perjalan tersebut kami duluan menikmati pantai pulau cemara hingga larut malam, lalu kempali ke dermaga. langsung saja kami memesan makanan unutk di santap dan untuk pertama kalinya kami menyantap makanan ikan yang luar biasa enaknya, berenam. namun tidak jauh dari angka seratus ribu, rasanya begitu nikmat, setelah bersenda gurau dan melewati pinggiran malam dengan menyantap ikan-ikan tersebut, kami memutuskan untuk mandi dan beristirahat di home stay kami menunggu pagi.
Pagi nya kami memulai pagi dengan mandi, lalu makan mie instan yang kami pesan di warung yang menyatu dengan rumah tersebut, tidak lama kemudian, jemputan menuju sagara datang, alex dan mobil mini bus sederhana menjemputkami menuju dermaga besar tempat feri ketika awal tiba di pulau Karimun menambatkan sauhnya. Kami berangkat dengan sebelumnya dipersiapkan berpakaian life vest. karna memang tujuan awal kami kali ini adalah untuk snorkling, kami menuju pulau yang diberi nama Pulau Tengah, turun dari kapal setelah menempuh perjalanan hampir satu jam kami menepi di dermaga yang cukup mempesona untuk istirahat diatas pasir, namun tidak lama kemudian minat untuk langsung mencobai snorkling muncul, kami memaksa alex yang mirip bucek depp tersebut memulai sesi melihat dan meneropong terumbu karang, kami sungguh bersemangat begitupun saya pribadi, lupa akan konsekuensinya belakangan, saya berenang kesana kemari dengan liar hanya menggunakan goggle untuk snorkling tanpa life vest, kami mengapung-apung diatas laut hampir satu jam, tanpa lupa bersesi photo-photo berlatar terumbu karang yang menawan, meskipun megap-megap karna nafas yang jarang dilatih, hati begitu puas melihat ikan-ikan bak burung melintas didepan mata di sela-sela terumbu karang, ada ikan badut disana, sang kekasih segera menemukannya.
Selanjutnya kami mencari rute yang aman menuju bibir pantai untuk istirahat dan menikmati ikan segar yang dibakar tanpa terlalu banyak bumbu-bumbu yang di gunakan, sungguh menyenangkan dan nikmat, makanan yang mengalas perut tersebut menjadikan kami sedikit santai menikmati butir-butir pasir yang putih di pantai itu, kami bermain, menimbun dan bercengkrama disana. Sosialisasi yang baru saja kami ciptakan serasa sudah layaknya perkenalan bertahun-tahun, mereka menghibur kami dengan polahnya, saya hanya tersenyum, menikmati mimik, menikmati tata bahasa yang terlontar dibibir-bibir mereka. Kami meneruskan tujuan snorkling kami yang kedua, kepulau kecil. disana sejenak sebelum kami menyenderkan kapal di dermaga, saya menemukan teman lama yang memprofesikan dirinya sebagai tour guide disana sedang bersama para turis-turis domestik yang seperti turis asing. saya menyapa sekenanya, lalu berlalu. Bersesi photo ria dan mengistirahatkan bokong di pasir pantai, sementara mereka ber santai, saya mulai lagi dengan sembarangan berguling menuju lokasi snorkling kedua ini, kami masih memiliki sisa semangat untuk bersnorkling, cuaca yang cukup bersahabat, meskipun tidak terlalu cerah mengudang kami untuk melihat arsitektural bawah laut ciptaan tuhan, rasanya cukup sering berphoto ria disana dan akhirnya kami berangkat lagi ke pulau Gosong untuk mengakhiri perjalan kami di laut jawa hari itu. Pulau gosong merupakan sebuah gundukan pasir putih ditengah laut. Saya berinisiatif untuk mencari kulit-kulit kerang yang rencananya dapat dijadikan souvenir asli nantinya, namun menghasilkan tidak begitu banyak. Menikmati matahari yang akan tenggelam, kami pulang kembali kepulau besar Karimun, menjelang petang. langit merah seperti terbakar dan indah sore itu. Kami bergembira.
Setelah tiba kembali di home stay tempat kami menginap, kami memutuskan untuk berbersih-bersih diri, dan tulang-tulang bahu mulai terasa kram karna yang biasanya yang dilatih bagian bawah dari tubuh, bukan pundak. selepas berbersih, sudah tersedia hidangan hangat ikan goreng dan sop ikan yang nikmat, meski kami memutuskan untuk menyambung bersantap kembali di lapangan didepan alun-alun pulau Karimun. Badan cukup letih hari itu, karna terlalu sibuk menikmati alam bawah laut disiangnya, setelah menikmati santap malam yang kedua dan bermain kartu. Kami pulang dengan keadaan gontai dan ingin segera mencium kasur. Untungnya pijitan sang kekasih mampu memulihkan rasa capek tersebut sebelum tidur, tangan-tanganya yang buntet namun telaten terasa sangat menghibur pundak yang kelelahan. kami terlelap untuk bersiap menunggu pagi di esok hari.
Pagi hari menjelang, dan kami melewatkan rencana kami kembali untuk menikmati sunrise di Pantai Nirwana, tak apalah. Selepas mengisi perut dipagi hari tersebut, kami dijemput dibawah rintik gerimis yang menyongsong siang, kami berlayar kembali kelautan untuk bersnorkling ria. Tempat pertama yang kami singgahi adalah tempat penangkaran hiu, meskipun awalnya ada rasa takut untuk merasakan sensasi tersebut, namun setibanya ditempat itu, perasaan terhibur langsung menutupi perasaan cemas tersebut melihat ikan kembung (fubu) yang di ambil dari penangkaran itu, ikan tersebut sangat lucu, langsung menggemuk ketika diangkat kepermukaan kami berphoto bersamanya di lanjut dengan berenang dengan hiu di penangkaran itu, perasaan yang tadi-nya cemas segera berubah menjadi perasaan penasaran untuk memegang tubuhnya, sayangnya penangkaran itu kemudian berubah menjadi keruh karna terlalu banyak yang tertarik untuk berenang disana, tidak masalah besar, hanya dokumentasinya jadi kurang. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Menjangan besar. Perjalanan di atas kapal cukup memakan waktu, setibanya disana kami langsung mengambil peralatan snorkling dan mengambang diatas laut, untuk kembali menikmati terumbu karang, dengan kondisi kulit yang mulai mengeling karna panas, semakin hari bersnorkling meski disusupi rasa capek, kami semakin tak kuasa menahan cinta yang membara pada negri ini, Indonesia. Dari Pulau menjangan besar, kami meluncur menuju pulau Burung, di pulau ini, semua orang seakan memiliki perasaan yang sama, pulau ini sangat indah, hanya ada satu gubuk disana, hamparan pasir putih yang halus, dan panorama yang memukau akhirnya menemani kami berphoto dan mengisi perut dengan ikan-ikan segar dan wangi laut. Dari pulau tersebut kami bertolak ketengah laut untuk menyambung snorkling, kami tidak menepi sama sekali kepantai, dari kapal, kami langsung berpijak didasar laut untuk menikmati snorkling terakhir, saya rasa mereka benar2 tau tempat untuk menikmati klimaksnya snorkling di Jarimun Jawa, Tempat itu tak jauh dari pulau Cemara, lautannya bisa di injek dengan kaki, kami kemudian berenang seperti kolam renang besar dengan dasar kolam yang putih dan air yang biru, sungguh mengagumkan, kami kemudian bersnorkling menuju tengah laut, yang terumbu karangnya semakin memukau, ditemani ikan-ikan hias yang beragam, sungguh merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Mengangakat sauh karna menjelang sore, kami beregerak ketujuan terkahir kami di Tanjung Gelam.
dari tersebut terhampar lautan luas yang di ujung horizonnya terdapat pulau yang seakan-akan hampir rata dengan lautan, namun kami tetap dapat melihat tanah tersebut menyembul keluar dari garis alam, dan pohon2nya yang menjadi siluet, tempat itu menjadi tempat terakhir yang kami nikmati Karimun Jawa, banyak yang kesana, namun, saya berinisiatif mencari tempat yang sedikit jauh dari kerumunan orang2, dan merasakan nikmatnya pesona sunset dari pantai batu berhamprkan pasir putih yang tenang. Sore itu Tuhan mengundang kami untuk tersenyum. Dia benar-benar luar biasa, matahari merah di ufuk horizon, tenggelam perlahan mencium laut dan pulau kecil disana, perasaan sungguh menjadi terpukau. Pesona Karimun jawa yang mungkin akan berubah 3-4-5 tahun mendatang.
menghajar jalanan dipesisir pantai selatan
Muka kusam, kulit bertambah legam, mata merah tajam di hajar perjalanan panjang menggunakan kendaraan roda dua yang sebenarnya tidak di peruntukkan dikendarai berboncengan, trail. Memulai perjalan di malam jumat yang lalu, di pertengahan malam menuju subuh, kami mengejar sunrise di tepian laut selatan tepatnya di batu karas. Perjalanan tersebut hanya di rencanakan seminggu sebelumnya, dengan tekad yang cukup tulus memenuhi panggilan keinginan merambah jalanan yang tulus tanpa embel-embel pembuktian apapun. Dimulai dari hujung Soekarno-Hatta Bandung, kami mulai menghirup udara malam melewati Ranca Bolang, di kecepatan tinggi, motor tersebut kami pacu hingga harus memilih jalur bawah menuju Tasik setelah bertanya pada polisi agar tidak tersesat. Kami pun melaju melewati udara subuh yang mulai menyusup melalui rongga jaket tebal kami yang sudah kusam. Berpatokan pada catatan kecil kami melaju terus menuju pangandaran, karna kurang paham akan lintas yang kami tempuh jika harus mengambil jalan memotong, jalan tersebut memutar. Akhirnya di penghujung malam kami memutuskan untuk beristirahat di trotoar jalanan, mengebul menyeder pada aspal. Perjalanan kami teruskan di antar azan subuh yang mulai berteriak2 di langgar2 desa yang kami lalui pagi itu. Seiring roda berputar, sekali lagi kami menepi untuk mengisi kerongkongan dengan kopi dan roti lunak khas pinggiran jalan, kami tidak melihat rombongan yang kami tau juga bertujuan hampir sama dengan kami tadi dengan kecepatan yang cukup tinggi sebelumnya. Sebatang rokok dan semangat kami rasa sudah cukup menghalau kami kembali kejalanan untuk mengejar embun di tepi laut, akhirnya kami tiba dan menyapa ombak di Batu Hiu, tida seberapa jauh dari tujuan pertama kami Batu Karas. Kami cukup bergembira memainkan peran kami sebagai makhluk tuhan yang menikmati hamparan karya besarnya tersebut yang kami tau menyimpan makna besar dibalik penciptaannya. Karang-karang besar yang menjulang dan beradu pada pinggiran pantai, kami simpan pesona-nya pada kamera yang kami bawa, bersuka disana menikmati tamparan-tamparan ombak dibibir pantai batu itu. Kami kembali menyusuri jalan ditepian pantai tersebut untuk mengejar perhentian rasa tanya kami pagi itu meski sempat terhenti sejenak melihat aroma alam tidak jauh dari perhentian kami sebelumnya, gas dipacu kami pun melaju melewati pinggiran pantai yang mulai menguap mengundang panasnya daratan rendah. Menyusuri jembatan-jembatan yang dijambang penambatan kapal-kapal nelayan, kami sampai di Batu Karas menjelang 9. Mencari-cari tempat yang tepat mengistirahatkan pantat, kami akhirnya memutuskan untuk memilih warung sepi disana, memesan sarapan, dan saya memilih paduan sayur yang diramu menjadi gado-gado dan sedangkan beliau menyantap telur yang di goreng menjadi omlet dipiringnya sehingga menyebakan dia di panggil mesra oleh toilet disana.
Pernah kami bertemu dan cukup familiar wajahnya sang senior kami yang memutuskan untuk menjadi enterpreneur disana, beliau sedang mengambil gambar untuk TV komersial berlatar debur ombak pantai selatan yang membelai pantai batu karas, beliau lalu berselancar, dan saya menegur sekenanya, karna saya tak ingin menjelaskan identitas saya kembali pada orang yang saya yakin sudah bertemu dengan banyak orang tersebut dan sulit mengingatnya kembali satu-persatu, saya tidak terlalu peduli. Kemudian saat kami mulai membalut kaki kami dengan pasir pantai, seorang lagi membuat saya melayang mengingat bagaimana lucunya masa lalu, saat pasar Balubur yang baru masih terhampar sebagai wacana, iweng. Seniman lukis yang pernah menjadikan kaki-kaki jembatan layang sebagai kanvas tersebutlah yang kami temui disana, beliau punya galeri seni bertuliskan hal-hal lucu.
Kami berangkat, menuju target kedua kami, menjelang jumat, rasanya ingin segera tiba di Santolo, yang ternyata rutenya sama sekali berbeda dari yang kami perkirakan, kami menjengkal jalan yang hanya beberapa meter dari bibir pantai. Jalan yang terkadang bagus, dan terkadang mengantar perasaan kami seperti astronot yang berkendara di bulan, memperlihatkan pada kami desa-desa yang saya kira tidak bakalan kami temui ditengah modernisasi yang biasanya mengikis kebudayaan2 luhur jelata jawa, kami jelalatan, mengunci tiap inci metafora indahnya masa lalu dan damainya integrasi dengan alam yang di himpun pada desa-desa yang kami lalui tersebut, kami akhirnya memutuskan untuk melemparkan sauh pada pantai sepi yang namanya juga sulit melekat pada benak saya, saya tertidur, di pondok yang rasanya bukan dibuat untuk beristirahat pula disana, Indah nian pantai tersebut, kosong, apik, dengan pohon-pohon pantai sejenis mangrove yang kakinya tidak lembab karna masih jauh dari garis pantai, saya pulas.
Kami melaju kembali melewati mercusuar yang anggun milik asli si pantai itu, timbul keingin tahuan tentang siapa yang menjadi arsitek hebat bangunan tersebut, ah. biarkan, biarkan beliau menghimpun nyanyian gelombang dengan kebanggaan2nya menyelamatkan ratusan bahkan ribuan kapal dari murkanya karang-karang penjaga pantai. Kami kembali menyapa aspal menuju santolo, sejenak kemudian menjelang akhirnya merapat pada pantai santolo kami menemukan tempat yang menjadi markas peluncuran roket, keterkejutan itu kami abadikan kembali pada kamera yang kami bawa, paduan biru putih yang padan tersebut kami simpan di memori 2 giga dala kamera kami. Kami selamat hingga santolo.
Sebelum menikmati sunset yang masih jauh menyentuh horizon, kami mengisi bahan bakar tubuh kami dengan menikmati ikan tongkol besar utuh di warung pinggir pantai tersebut, masih tercium bau laut di helai2 dagingnya, kami Lahap dan kenyang. Sampailah niat kami untuk menyapa air asin ditemani surfboard rentalan yang kami sewa pada penyedianya. Kami riang, sungguh riang dan tak peduli terhadap pertanyaan2 yang menghampiri mata2 pengunjung lain yang sepertinya bisa di hitung dalam setengah menit tersebut, pantai menyambut kami dengan gelombang2 sopannya, pasir pun kami jadikan karya dan peramu kebahagiaan kami waktu itu. Tuhan memang maha kuasa.
mengikuti saran kami melaju pulang dari santolo melewati pameungpeuk menuju garut, jalan terdekat menuju Bandung kembali, yang ternyata membuktikan bahwa kelok 44 yang di sumatra barat pernah kami lalui bersama tidak ada apa2nya dengan belokan2 yang terus sambung menyambung yang akhirnya hanya bisa kami hitung dengan jam. Lebih dari 2 jam kami di perngkap dalam liuk-liuk jalanan tersebut hingga akhirnya kami berhenti, untuk bertanya pada warung yang syukurnya ada muncul dijalanan yang kebanyakan tak berlampu dan seram tersebut, menawab pertanyaan kami akan benar atau tidaknya jauh yang kami tempuh sebelumnya menuju garut tersebut, akhirnya kami tersenyum, ya benar, tapi masih jauh kang. Kemudipun berpindah kembali ke teman saya hingga akhirnya lampu2 kota garut bisa kami sapa menjelang sembilan. Kami tak sempat makan, karan tak tau tempat yang cukup nikmat untuk menyapa santapan malam kami malam itu, kami pun sebenarnya tidak begitu lapar, lalu kami teruskan menuju nagrek dengan sebelumnya hampir salah memilih rute pada simpangan lima disana. kami sampai di nagrek dengan nyawa hampir terancam dengan hampir menabrak mobil yang memotong dari arah depan, dua kali.
Akhirnya kami tiba di sumedang, dan bersilaturrahmi dengan saudaranya teman saya yang ternyata sudah 5 tahun tidak dia temui, lalu setelah hampir 24 jam di jalanan, rambut dan muka bersisa pasir pantai yang hanya di basuh sekenanya di pantai santolo, kami tiba di Bandung pukul sebelas lebih sedikit. Bercampur lelah kami membicarakan rencana untuk lusanya meneruskan kesenangan ini di laut jawa.
Sign and After (a contemporary islamic art)
Mungkin bukan untuk pertama kalinya saya menghadiri pembukaan pameran seni seperti ini, dan sepenuhnya saya sadara bahwa tiap menghadiri pameran seni, memberikan impresi yang berbeda-beda dan seperti biasa sangat inspiratif, terutama bagi kita yang menggeluti estetika sebagai kebidangan profesional tentunya. Secara personal saya melihat bahwa ada satu perasaan yang muncul dari meresapi dan melihat karya-karya seni buah pikiran dan dedikasi para seniman-seniman senior dan ternama seperti pada Sign and After ini, saya melihat kedalaman makna dan ketelatenan yang berbeda dari seniman-seniman muda yang karyanya mungkin dapat dikatakan masih hangat dan exploratif, meskipun masih kita temukan karya-karya yang expresif seperti karya Tisna Sanjaya yang mengambil pemaknaan degradasi ketuhanan dimasa kini dan integrasinya dengan kondisi faktual dilapangan melalui photography yang dimodif diatas kanvas, namun hal tersebut tetapa saja tidak dapat menghapuskan kesan pemaknaan yang dalam seperti yang saya sebutkan sebelumnya serta ketekunan berkarya yang dapat kita lihat dari tiap goresan garis dan warna dalam karya-karya mereka tersebut.
Pameran ini mencoba merepresentasikan rangkaian tanda-tanda artistik mampu memaknai pergulatan kesadaran diri, identitas, serta sekaligus keduanya dalam keterbatasan budaya. Hal ini bermula dari pemahaman yang seperti Oliver Leaman sebagai peneliti islam mengangkat tentang keanehan dan masalah yang dia temukan seputar kesenian islam, beliau mengangkat bahwa masalah yang terjadi dalam kesenian islam tersebut adalah seni islam terus menerus dilihat melalui perspektif diluar nilai estetika itu sendiri yang menjadi dasar penilian dari karya seni, namun justru diangkat melalui hal-hal yang tidak begitu penting menjelaskan eksistensi seni tersebut melalui istilah-istilah politik, keagamaan, tasauf, atau ekonomi, seakan-akan seni islam itu sendiri tidak cukup kuat dalam istilahnya sendiri untuk dianggap seni yang sesungguhnya. Sehingga impresi yang muncul tentang kesenian islam adalah ekpresi yang muncul dari timur tengah, namun bagaimana dengan ekspresi seni yang muncul diluar kawasan tersebut, apakah karya-karya yang muncul dari tangan seniman-seniman yang beragama islam muncul sebagai gaya baru seni yang dapat diglobalkan sebagai seni islam meskipun sering mendapat pengaruh besar dari gaya-gaya yang hadir dari eropa ataupun barat, karna jika ditelusuri lagi hal tersebut justru menjadi masalah, karna jika kita mampu kembali kedasar perbedaan besar antara bentukan kesenian islam dan barat kita akan menemukan gap tentang bagaimana keduanya memaknai hidup, perbedaan keduanya bukan hanya termanifestokan dengan bagaimana bahasa digunakan atau tidak digunakan untuk membicarakan seni tapi terutama karna perbedaan keduanya dalam pendekataan terhadap nilai dan pengalamannya dunia secara umum seperti yang pernah dikatakan oleh Jale Nejdet Ersen, dalam persepsi kebudayaan islam misalnya terdapat kepercayaan bahwa hubungan antara manusia dengan dunia serta persepsi manusia terhadapnya adalah tidak bersifat tetap [codifiable] atau dapat di rangkum dalam penggunaan bahasa yang dapat menjelaskannya secara umum.
Sebenarnya kejayaan seni Islam tidak hanya dapat digeneralisir melalui corak-corak ekspresi kaligrafi atau pola hias arabes serta pola ornamentasi yang geometrik saja namun juga terbuka pada berkembangnya karya seni tersebut sebagai jawaban dari problematika estetik dan makna nilai perbedaan. bagi banyak orang mungkin karya-karya yang bersifat figuratif dan naratif sering dianggap sebagai karya yang menjauhi watak islami, anggapan ini lahir dari pelarangan penggambaran sosok figur dan makhluk hidup, dalih ini padahal tidak sepenuhnya benar dan bersifat produktif hal tersebut sangat terlihat di modifikasi oleh karya-karya yang cendrung seperti itu seperti pada karya Ibnu Talha “cerita semusim”, Agus Zimo “rahmat untuk seluruh alam” dan karya Hilman Hendransyah “haritabasakeurayamaranehna”. jika kita amati dalam karya tersebut tidak sepenuhnya realistik dan lebih imajinatif dan bersifat khayal, hal ini ini menunjukan pentingnya transformasi bahasa visual yang biasa (fotografik atau naturalistik) menjadi bahasa yang intensional sehingga mampu meggerakkan imaginasi atau memberikan inspirasi nilai dan kesadaran.
Sebagai penikmat seni, kita dibebaskan berimajinasi sedalam-dalamnya memaknai tiap karya, meskipun batas-batas topiknya merupakan preogratif sang seniman. hal tersebut akhirnya menjadi kebebasan sendiri bagi kita menyelami sedalam-dalamnya apa yang ingin disampaikan sang seniman melalui karyanya. Seperti pada karya yang saya temui dalam pameran ini, abstraksi yang di torehkan oleh Deden Sambas W.A.F dalam karyanya “maka jadilah” yang menampilkan miniatur-minatur simbol-simbol keagaaman, menyelipkan salib yang menjadi representasi keKristenan dalam bulan sabit yang merupakn simbol Islam. Beliau seakan-akan mengajak saya berdialog tentang kekuasaan Tuhan untuk menciptakan perbedaan di Dunia ini, dan didalamnya termasuk differensiasi keagamaan, atau saya diajak untuk tidak membahasakannya sebagai “perbedaan” namun justru “variasi”.
Pameran ini masih akan berlangsung hingga tanggal 22 agustus 2010 ini, di Galeri Lawangwangi di daerah Dago Bengkok, silahkan datang dan berimajinasi.
Kaulinan (permainan khas sunda), serunya mainan anak indonesia
Indonesia begitu kaya dengan khazanah budaya, hal tersebut bukan hanya tercitra pada karya-karya seni yang dimilikinya, bukan hanya ornamen-ornamen bernuansa klasik dari berbagai penjuru indonesia, namun didalamnya termasuk permainan dan sistem permainan didalamnya. Dari sabang sampai merauke mungkin ada ratusan bahkan ribuan, permainan-permainan tradisional yang khas dari daerah masing-masingnya, kita sempat menikmatinya, kita sempat memainkannya dimasa-masa kita dahulu, waktu pengaruh globalisasi belum terasa dampaknya, bagi kita-kita yang berumur diatas 20an merujuk ke satu dekade kebelakang, masih sering berinteraksi dengan bentuk-bentuk permainan yang tradisional tersebut, apalagi jika kita berlatar belakang kedaerahan. berlatar belakang kedaerahan yang saya maksudkan disini adalah mengahabiskan masa kecil di daerah-daerah yang belakangan atau telat tersentuh modernitas, daerah2 sub perkotaan, desa dan sebagainya. Saat anda bernostalgia melihat kembali sosok permainan itu dimasa sekarang, hal tersebut membangkitkan memori-memori tersendiri tentunya, mulai dari bagaimana membuatnya, bagaimana memainkannya, dengan siapa saja kita pernah bermain, dimana kita memainkannya dahulu, semuanya sangat memorable ternyata.
Seperti yang saya alami hari ini, ketika mengunjungi museum sri baduga untuk kesekian kalinya dalam rangka mengerjakan sebuah proyek disana, kebetulan di museum tersebut sedang dilangsungkan acara pameran benda-benda serta permainan-permainan tradisionil dari jawa barat yang biasa disebut disini sebagai kaulinan. Permainan-permainan tersebut lahir dari berbagai macam faktor serta erat kaitannya dengan interaksi anak-anak dengan
lingkungannya, hal tersebut bisa dilihat dengan material yang digunakan pada mainan yang dihasilkan atau berusaha dibuat pada saat itu, misalnya enggrang, pipit2an, atau ketapel yang sudah jarang kita temui dimasa ini.
Mungkin globalisasi adalah satu masalah ketika permainan-permainan tradisionil tersebut kehilangan eksistensinya dimasa sekarang ini, saat semuanya dibuat dengan material-material yang memang dapat lebih tahan lama dan mengeluarkan warna yang lebih ceria, disamping faktor digitalisasi yang ikut menjadi fenomena pembangkit keinstanan, semua benda pakai dalam permainan-permainan ala globalisasi ini mengajarkan pada manusia-manusia timur sifat kapitalis dasar, demand pada produk manufaktur dengan cara “harus membeli”, hal-hal tersebut dapat kita lihat dalam berbagai bentuk “toys” yang muncul untuk anak-anak dijaman sekarang, kebanyakan dari mainan-mainan tersebut dipasangi harga yang cukup tinggi sesuai dengan material yang digunakan, brand yang mengeluarkannya, serta seberapa erat teknologi di implementasikan pada produk-produk mainan tersebut, sehingga demand akan toys harus berujung pada bentuk pola pikir kapitalisme baru. tentu saja anak-anak seumuran yang membutuhkan produk-produk tersebut kebanyakan belum mampu menghasilkan kunci kapitalisme dasar yaitu uang,
uang tersebut datang dari orang tua mereka, semakin “canggih” mainan yang harus dibeli, semakin besar pula tuntutan untuk mengeluarkan uang bagi orang tua sang anak, dan anda sudah tau ujungnya, dengan pola marketing yang baik, mainan-mainan ini segera diminati anak-anak, serta permintaannya pun meningkat, dan seterusnya.
Dibalik poin-poin impact dari globalisasi itu sendiri ada keyakinan bahwa ternyata kesalahan itu juga bermula dari ketidak mampuan kita mempertahankan eksistensi permainan tradisional kita sendiri, atau memang kesadaran itu sangat telat muncul pada diri kita masing-masing, tidak seperti permainan-permainan importlainnya, permainan-permainan tradisional kita biasanya dibiarkan melempem tanpa pengembangan, baik itu dari segi material, fungsi, desain serta soundingnya di masyarakat yang terus berkembang, sehingga mainan-mainan tersebut hanyut dimakan zaman.
Padahal potensi permainan, permainan tradisional tersebut tidak kalah penting dan menariknya dengan mainan-mainan yang sudah ada sekarang ini, malahan mainan-mainan tersebut mulai dari proses penciptaannya saja sudah
mulai mendidik anak-anak untuk mandiri berkreasi, memilih material, serta dedikasi yang pada akhirnya dapat membentuk pola-pola yang positif pada perkembangan fisik dan mental anak-anak, sekecil dan semudah apapun bentuk permainan-permainan tersebut.
Hal yang penting, dan harus selalu kita ingat adalah, kebutuhan bermain anak-anak sangatlah besar, kebutuhan tersebut adalah market yang sangat potensial dalam penyusupan orientasi-orientasi berpikir yang ternyata bisa jadi menyimpang dan irrasional jika tidak kita secara efektif. Dan tidak kalah pentingnya adalah, dengan kebutuhan akan bermain tersebut, peranan mainan sebagai produk sangatlah penting dalam berbagai aspek, sehingga memilih permainan yang tepat sejak dini adalah hal yang krusial, permainan-permainan tradisionil yang berasal dari Indonesia menyimpan potensi besar untuk dikembangkan dan dikomersialisasikan, dan hal tersebut harus dikembangkan secepatnya, sebelum suatu saat permainan itu hilang terlindas dan termakan zaman, seperti budaya-budaya timur kita yang lain, dan benar jika bukan kita lalu siapa lagi? pencuri?
along the road
its 12
on the road
sitting
thinking
wind blow trough my face
cold
as cold as the moon
forgotten
frighten
i’ve share my lonelyness with this path
i get used to it
i used to it
this road
whose along this way
show me
how lonely i am
but usually i never worried
because there’s anybody when i get home
anybody whom i really love
eventhough i never show it to them
because i won’t let them know
i though i can be a good fellow
to let them do what ever they wanted
i just provide them whatever i could
whatever i should gave
so they could enjoy it
without any wrong impression
any responsibility to pay
because i dont want them to
it easy to made me happy
just appear
surround me
i’ll be so happy to see you all laughing, singing, thinking, talking
but now
at 12
when i deserve to get home
it was empty
somebody stole it
and now i’ve been thinking
is it my home
or its just a house
with all my fault
Kamini (product review)

rumput laut
- batik lereng manis
stands for kanaka darpa padmini (Sanskrit), which means the women’s pride. Kamini were created by three young designers from a city in Bandung-West Java, Indonesia. Kamini started on 2008 but renewed on 2010. Contemporethnic is the main concept of Kamini’s products. Kamini combines Indonesian ethnic textile with contemporary design style. So far, Kamini has prepared some items to be delivered to you, such as bags, jackets, and cushions. In the future, Kamini will explore more Indonesian textile to be applied on items that (we hope) you will love to use or wear. please visit their blog and buy some
it suppose to be a holiday
kemampuan berasumsi bercampur perasaan skeptis yang dimiliki seseorang mungkin tidak selamanya bisa berakibat positif, ditambah lagi banyak orang yang menyebutnya kebiasaan buruk menjadikan kedua sifat tersebut adalah pasangan serasi dalam membentuk kepribadian yang sulit dimengerti orang lain. namun saya yakin suatu saat kedua perasaan yang menurut orang lain tersebut adalah perasaan yang menyita waktu dan pikiran akan berubah menjadi hal yang positif sehingga dapat dibahasakan menjadi intuisi. dan secara teknis bentuk perasaan tersebut dapat berimpact pada banyak orientasi seseorang dalam menentukan keputusan, dan waktunya akan segera tiba.
Mengeksekusi rencana untuk mendegradasi bentuk hubungan personal yang baik dengan bersosialisasi menggunakan fasilitas yang didapat melalui integrasi kritis pertolongan jangka pendek adalah hal yang mungkin dilakukan untuk diaplikasikan bagi eksekutor bukan bagi planner.
perebutan otoritas melalui cara ini merupakan cara konvensional dan ortodok, meskipun demikian penyelesaian kerugian yang dihadapi oleh korban harus dieksekusi dengan baik meski dengan probabilitas yang nirlogis. satu hal yang dapat dipastikan dari permainan ini adalah, momentum dan perkalaan berperan sangat krusial.
hal ini bukan sebuah hal yang abnormal melihat gelagat yang dipasang dari awal oleh yang merasa memiliki influence penting dalam menentukan masa depan orang lain, memandang secara bijak arti sebuah hubungan sosialisi yang positif harus diaplikasikan dengan baik, dan orientasi yang baik dan finalisasi yang baik pula. saat perangkakan bukan waktunya mengeluh tentunya, apalagi merjauk dan larut dalam kekecewaan berkepanjangan, dengan niatan positif memasang subliminal karakter pada tiap tindakan adalah hal yang halal. suatu saat yang harus tau dan harus mengerti, akan sampai pada dasar ketikan yang terkesan absurd ini, karna pada kenyataannya tak ada bentuk absolut sebuah paradok, yang ada hanya bagaimana perspektif dipasang saat melihat awal-tengah-akhir apapun itu.








